
Pagi hari di Australia....
Dua orang yang masih belum jelas statusnya tengah duduk bersebrangan di meja makan. Siapa lagi kalau bukan David dan Amel.
"Sebenarnya pak Alex kirim aku ke sini buat apaan sih?" batin Amel.
"Kalau sedang makan jangan melamun," David membuyarkan lamunan Amel.
"Ah iya," Amel langsung melanjutkan makannya.
"Hari ini kamu mau ngapain?" tanya David di sela-sela makannya.
"Em saya belum tahu pak mau ngapain? Saya sendiri masih bingung kenapa pak Alex mengirim saya ke sini tapi tidak memberi saya pekerjaan," sahut Amel sambil garuk-garuk kepalanya.
"Ya udah terserah kamu mau ngapain. Aku pergi dulu," David menyelesaikan makannya karena akan berangkat bekerja.
"Tunggu pak David!"
"Apa?"
"Em itu, apa saya boleh ikut ke kantor? Saya bisa bosan kalau cuma berdiam diri di apartemen ini. Mau jalan-jalan juga takutnya nyasar,"
"Kalau kamu ikut ke kantor, bisa-bisa aku tidak konsentrasi saat bekerja," batin David sambil memepertimbangkan permintaan Amel.
"Em baiklah," sahutnya kemudian.
"Yes! sebentar, saya ambil tas dulu," Amel langsung berlari menuju kamarnya.
sekitar 20 menit kemudian, mereka Samapi di kantor.
"Kamu bisa duduk di situ," menunjuk sofa yang ada di ruangannya.
"Oh ok,"
"Waaah ini ruangan pak David? Sepertinya di sini dia memiliki posisi yang penting. Nggak bisa bayangin bagaiman ruangan pak Alex selaku pemilik perusahaan," batin Amel setelah menjatuhkan pantatnya di sofa dan mengedarkan pandangannya.
"Ingat, saya di sini bekerja, jadi jangan protes kalau saya sibuk dan nyuekin kamu. Jangan ganggu dan jangan berisik, cukup duduk tenang di sana. Kalau bosan kamu bisa jalan-jalan sekitar kantor,"
"Iya baiklah," sahut Amel.
David mulai bekerja, sesekali ia melirik ke arah Amel yang sedang asyik memainkan ponsel pintarnya.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Di Jakarta....
"Mas, bangun!" Anes membangunkan Alex dengan membuka selimutnya.
"Apa sih sayang? Masih pagi, mas masih ngantuk. Sini tidur lagi," Alex menarik Anes hingga terhuyung jatuh ke samping Alex.
"Mas, itu ponsel mas dari tadi berdering terus, cepat angkat siapa tahu penting," menggoyang-goyangkan tubuh Alex supaya bangun.
"5 menit lagi, itu paling si David yang telepon, mau ngomongin pekerjaan. Hah nggak tahu apa dia, kalau di sini masih subuh," Alex menarik selimutnya dan kembali memejamkan matanya.
"Mas angkat dulu dong, siapa tahu penting," Anes tetap berusaha, entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak.
"Kamu aja yang angkat, aku mau tidur lagi," tetap tidak mau angkat.
Anes meraih ponsel Alex dan melihat layar depannya.
"Asisten pribadi papa Arya?" gumam Anes begitu melihat nama si pemanggil.
"Jangan-jangan ada yang penting," Anes langsung mengangkat panggilannya.
"Halo tuan muda, ini saya. Sekarang tuan besar sedang di rumah sakit, dan keadaan beliau kritis, tolong tuan muda secepatnya datang ke sini," ucap asisten pak Arya.
"Eh iya nyonya muda, Dari semalam saya mencoba menghubungi tuan muda beberapa kali namun tidak ada jawaban. Tolong beritahu beliau supaya cepat ke sini nyonya muda," ucap asisten pak Arya begitu mendengar suara Anes.
"Baiklah, saya akan sampaikan sama mas Alex dan kami akan segera ke sana," Anes menutup teleponnya.
"Mas cepat bangun! Papa Arya masuk rumah sakit," Anes membangunkan Alex dengan nada cemas.
Mendengar ucapan Anes, Alex langsung terkesiap. Rasa kantuknya mendadak hilang.
"Apa? papa masuk rumah sakit?" bertanya untuk memastikan. Ia berharap salah mendengar.
"Iya, dari tadi yang menelpon asisten papa, dia bilang kondisi papa Arya kritis," mulai menitikkan air mata.
"Ah sial! kenapa dari tadi aku mengabaikan teleponnya!" Alex menyibakkan selimutnya. Ia langsung bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Syok, panik dan khawatir, takut dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada papanya.
"Mas, sebaiknya minta di antar pak Anton saja. Dalam keadaan begini jangan mengemudi sendiri," ucap Anes.
Alex hanya menurut, pikirannya hanya fokus memikirkan kondisi pak Arya saat ini.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Alex dan Anes langsung menuju ruangan ICU tempay pak Arya di rawat. Di depan ruangan sudah ada asisten pribadi pak Arya dan juga Rania yang terus menangis. Entah benar-benar sedih atau hanya berpura-pura.
"Apa yang terjadi sama papa? kenapa bisa sampai begini?" mencengkeram kerah kemeja asisten pak Arya.
"Mas tenang dulu," Anes mencoba menenangkan Alex.
"Tu tuan muda tenang dulu. Tadi malam nyonya Rania menelepon saya dan meminta saya untuk datang ke rumah karena pak Arya pingsan tak sadarkan diri," mencoba menjelaskan.
"Hiks, iya Lex, tadi malam ketika aku kembali ke kamar dari dapur buat minum, papa kamu sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Aku panik, dan langsung menghubungi asisten papa kamu, hiks," Rania ikut bersuara sambil terisak.
"Jadi, papa di bawa ke sini sudah sejak semalam? Dan kamu baru menghubungi aku pagi ini? Dasar tidak berguna!" hardik Alex, ia melepaskan cengkeramannya pada kerah asisten pak Arya dengan kasar.
"Maaf tuan, saya sudah beberapa kali menghubungi tuan muda, tapi tidak ada jawaban. Tadi tuan besar sudah sadar dan sekarang dokter sedang memeriksanya,"
"Mas, tenang dulu, sekarang papa sedang diperiksa dokter, berdoa semoga semuanya baik-baik saja," ucap Anes.
"Ah sial!" Mata Alex tertuju pada Rania.
"Semua pasti gara-gara kamu, katakan apa yang sudah kamu lakukan sehingga papa bisa begini?" ucap Alex dengan kasar sambil menunjuk benci Rania.
"Aku juga tidak tahu Lex, tahu-tahu papa kamu sudah tidak sadar. Hiks hiks," sahut Rania.
"Mas, tolong tenangkan diri mas dulu, sekarang kita duduk dulu," Anes memapah Alex untuk duduk.
Alex menunduk, menyisir rambutnya dengan kedua tangannya frustasi.
"Sayang, mas takut kalau papa,,,"
"Sssst mas jangan ngomong begitu, papa pasti baik-baik saja, kita berdoa yang terbaik buat papa," mencoba menenangkan. Anes tahu bagaiman perasaan Alex saat ini. Takut kehilangan itu pasti, pasalnya pak Arya adalah satu-satunya orang tua yang ia punya saat ini. Dan kemungkinan buat orang sakit hanyalah dua, sembuh atau kembali kepada Sang Pemilik kehidupan.
Dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan pak Arya. Alex langsung berdiri dan menghampirinya.
"Bagaiman kondisi papa saya dok?" tanya Alex dengan tidak sabar.
"Tuan Arya sudah sadar. Beliau sudah melewati masa kritisnya. Sekarang beliau minta Anda untuk menemuinya di dalam, tapi tolong jangan di ajak banyak bicara dahulu," pesan dokter. Alex langsung masuk ke dalam ruangan pak Arya tanpa mempedulikan yang lain.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter.
"Baik dok, terima kasih," sahut Anes. Ia sedikit lega karena pak Arya sudah sadar.
Sedangkan Rania? dia seperti memikirkan sesuatu yang membuatnya kelihatan cemas.
__ADS_1
💠Kalau pak Arya sadar, kenapa Rania cemas? mencurigakan ya? jangan lupa like komen n votenya❤️❤️💠