MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 123


__ADS_3

"Maaf sayang, kamu harus menunggu lama," Alex datang menghampiri Anes yang sudah menunggunya di meja makan dan langsung memberikan kecupan di bibir Anes.


"Baunya bikin mual lagi," batin Alex ketika


mencium aroma wangi sang istri.


"Bagaimana? masih mual?" tanya Anes.


"Sedikit," sahut Alex sambil menarik kursi untuk duduk. Ia berusaha menahan mualnya.


"Kalau begitu nggak usah bekerja hari ini, nanti aku panggilkan dokter," ucap Anes.


"Tidak perlu, lagian mas harus tetap ngantor hari ini," tolak Alex.


"Mas yakin?"


"Hem, nanti agak siangan mas ke kantornya," sahut Alex.


Anes hendak mengambilkan nasi untuk Alex, tapi Alex mencegahnya. Ia tidak tahan dengan bau parfum Anes, jika Anes dekat-dekat dengannya.


"Biar mas ambil sendiri sayang," ucap Alex.


Anes merasa aneh, tumben suaminya itu bisa mengambil nasi sendiri, biasanya kalau tidak di ambilkan tidak akan makan.


Alex hanya menatap masakan yang sudah berjajar dan siap untuk di santap di depannya.


"Kenapa cuma dilihatin mas? mas mau makan sama apa? Sini biar aku ambilkan," tawar Anes.


"Sayang, sepertinya mas tidak berselera makan ini semua," ucapan Alex membuat Anes tertegun. Susah payah ia masak itu semua, tidak biasanya suaminya itu menolak makan masakannya. Bahkan kalau Anes menaruh racun sekalipun, pasti akan dia makan.


"Mas mau makan yang banyak wortelnya, sepertinya enak," lanjut Alex.


"Wortel? Bukannya mas paling anti makan itu?"Anes semakin bingung.


"Iya, tapi sekarang mas pengen banget makan, terserah apa yang penting yang banyak wortelnya," sahut Anes.


"Apa dia kerasukan jin kelinci?" batin Anes menduga-duga.


"Baiklah, mas tunggu di sini aku akan masak sop yang cepat," ucap Anes lalu berdiri.


"Sayang," panggil Alex lirih.


"Apa mas? ini lagi mau otw ke dapur, buatin sop wortel buat kelinciku yang ganteng," sindir Anes.


"Ia love you too!" seru Alex sambil tersenyum.


"Orang ngomong apa, jawabnya apa, aneh," gumam Anes sambil menghilang di telan dapur.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


Di kantor...


"Ah akhirnya meetingnya selesai, bisa pulang nih, Meeting hari ini selesai sangat cepat," ucap Alex senang.


"Bos sudah mau pulang? tumben?" David tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya, aku sangat merindukan istriku," jawab Alex membayangkan wajah sang istri yang pasti akan senang jika ia pulang cepat hari ini.


"Bukannya baru beberapa jam yang lalu bos bertemu nona Anes? mungkin 2 atau 3 jam yang lalu bos berangkat ke kantor," David mengenakan satu alisnya.


"Ah berisik kamu, jomblo kadaluwarsa seperti kamu mana tahu," sarkas Alex.


"Dasar bucin akut," batin David.


"Siapa bilang saya jomblo," gumam David penuh percaya diri.


"Emang situ sudah punya pacar? udah segel si Amel?" selidik Alex setelah mendengar gumaman David.


David menggeleng.


"Hahaha terus siapa wanita yang mau menjadi pacar kamu itu?"


"Amel," jawab David.


Alex semakin terkekeh mendengar David menyebut nama Amel.


"Memang saya belum menyegelnya, tapi sudah dekat bahkan berciuman, itu bukannya sama saja sudah pacaran," David terang-terangan. Maksud kata segel menyegel buat mereka adalah meresmikan hubungan dan meresmikan sebagai milik mereka.


"Wah parah kamu Dav, berani menciumnya tapi tidak meresmikannya jadi pacar. Pelanggaran, itu namanya hubungan tanpa status atau teman tapi mesra atau apalah. Sama saja kamu masih jomblo. Hahaha,"


"Jangan mainin anak orang, kasihan tuh," lanjutnya.


"Saya tidak mempermainkan dia, saya serius, bahkan saya pernah mengajaknya menikah," ucap David


"Hah? Really?"


David mengangguk mantab.


"Terus? di terima?"


"Di tolak,"


"Senang kan mendengar kata di tolak dari mulut si jomblo sejak lahir ini?"


"Huh, aku ikut sedih. Tenang jangan khawatir, masih banyak kok cewek yang ngantri buat bisa jadi pacar bahkan istrimu," Alex menunjukkan simpatinya.


"Di tolak, bukan karena dia tidak mau, tapi karena waktunya yang tidak tepat. Saya mengajaknya menikah ketika dia sedang patah hati, waktu dia di labrak istrinya Dimas,"


"Yang salah sasaran waktu itu?" tanya Alex.

__ADS_1


"Hem," sahut David.


"Hahaha dasar kamu, pantas saja dia menolaknya, kalau aku di posisi Amel, aku juga akan dengan tegas menolaknya. Orang lagi sedih malah di ajak bercanda,"


"Tapi saya serius bos," David membela diri.


"Iya kamu serius, tapi pasti Amel menganggapnya konyol!"


David terdiam, benar juga. Lamar melamar bukanlah hal yang sepele. Semuanya harus dipersiapkan dengan matang.


"Hah, aku merasa ada yang aneh dalam diriku hari ini," desah Alex, giliran dia curhat.


"Ck, baru nyadar kalau aneh, aku loh udah tahu dari dulu," ingin sekali kata-kata itu di lontarkan dari mulutnya, namun, hanya mampu keluar sampai tenggorokan dan nyangkut di sana, terjebak tidak bisa masuk lagi maupun meneruskan keluar.


"Maksud Anda?"


"Aku ingin dekat-dekat dengan Anes terus, pengennya di manja terus. Tapi, kalau dekat mencium bau parfumnya aku tidak kuat, mual mau muntah, serba salah," Alex mendesah bingung dengan kelainannya hari ini.


"Ya tinggal suruh nona Anes tidak usah pakai parfum saja bos," David menanggapi.


"Kenapa nggak kepikiran ya?" Alex langsung mengambil ponselnya dan menelepon Anes.


"Halo sayang i Miss you so much! Sebentar lagi mas pulang, kamu mandi yang bersih, pastikan bau parfum tidak menempel lagi di tubuh kamu, biar nanti mas saja yang menempeli kamu. Jangan pakai parfum lagi setelah mandi. Ok love you too," Alex langsung mematikan panggilannya.


"Aku yakin nona Anes sedang merutuki si bos di sana," batin David.


dan curhatan kedua laki-laki dewasa tersebut berlanjut beberapa saat, sampai akhirnya Alex benar-benar tidak bisa menahan rasa rindunya kepada Anes.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Anes benar-benar merutuki suaminya yang baru saja telepon, ia gemas sekali. Bagaiman mungkin Alex menyuruhnya untuk mandi lagi dan dia bilang akan segera pulang. Apalagi Alex tak memberinya kesempatan bicara di telepon tadi, ingin sekali dia membanting ponselnya, tapi sayang kalau rusak mengingat harganya yang mahal.


Namun, karena tak ingin berdebat, akhirnya Anes hanya menuruti perintah Alex. Ia mandi lagi dan tidak menempelkan parfum sedikitpun di tubuhnya.


Entah kenapa, ia juga merasa lebih sensitif, buktinya tadi setelah Alex berangkat kerja ia menangis karena mengingat perubahan sikap Alex sejak pagi tadi. Dan sekarang lagi? Anes benar-benar menanhis di bawah guyuran shower.


Sekitar 30 menit kemudian, Alex benar-benar sampai rumah. Anes menyambutnya dan langsung memberikan pelukan hangat kepada Alex.


"Mas bau sayang, mas mau mandi dulu. Keringat mas sangat menjijikkan, rasanya mas pengen muntah kalau mencium bau mas sendiri,"


"Mas nggak bau, dan mas nggak berkeringat,"


"Sedikit. Sedikit berkeringat sayang, tapi mas nggak tahan baunya, bikin pusing ,mau pingsan rasanya," Alex segera menuju ke kamar mandi.


Anes menepuk jidatnya sendiri.


"Allahu Akbar, hal konyol apalagi ini? biasanya dia paling membanggakan wangi maskulin dari tubuhnya itu, aku aja sangat menyukainya," gumam Anes yang tak mengerti dengan segala keajaiban suaminya tersebut.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


__ADS_2