MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 191


__ADS_3

Di kantor...


"Eh lihat itu wajah tuan David, serem!" bisik salah satu karyawan yang ikut rapat pagi ini.


"Iya, apa yang membuat dia seperti itu? Apa mungkin Amel?" bisik yang lain.


"Entahlah, wajahnya muram begitu, bikin takut deh. Nih rapatnya mau di mulai kapan kalau pak David kayak gitu terus?"


Temannya hanya mengangkat kedua bahunya sambil menghela napas.


Ya, sejak pagi datang ke kantor, David sudah terlihat sangat muram. Dia ingin segera menemui Amel, tapi karena kesibukannya, ia belum bisa melakukannya.


Alex yang baru saja masuk ke dalam ruang rapat, melihat para karyawan yang akan membahas kinerja perusahaan sebulan terkahir, saling berbisik dan berhasil ngeri melihat David yang dari tadi diam dan memasang wajah tak bersahabat.


"Dave, kenapa rapatnya belum di mulai?" Alex menepuk pundak David untuk membuyarkan lamunannya.


"Eh bos, maaf bos. Rapatnya akan segera kita mulai!" seru David kemudian.


"Kamu kenapa? kalau kamu pasang muka seram begitu, mereka bisa kabur dari sini. Mereka pikir kamu akan memakan mereka," bisik Alex kalau menatap ke arah para karyawan.


"Tidak apa-apa bos. Ayo kita mulai rapatnya," sahut David, kemudian ia memulai untuk memimpin rapat akhir bulan tersebut.


Selama rapat, David tidak begitu berkonsentrasi, ia terus memikirkan Amel. Ia tak sabar ingin memberi tahu kalau dia sudah ingat dan ingin hubungan mereka kembali seperti dulu lagi.


Sementara di kubikelnya, Amel terus saja melihat ke arah ponselnya. Ia sudah tidak memblokir nomor ponsel David, namun laki-laki-lqki itu belum juga menghubunginya. David belum mengetahui kalau Amel sudah tidak memblokirnya.


"Dia bilang ada yang mau di bicarakan, tapi sampai sekarang belum menghubungi aku. Nggak nyamperin aku ke sini juga," gumam Amel kesal. Ia sempat ingin mengirim pesan terlebih dahulu kepada David, namun karena gengsi, ia urungkan niatnya.


Waktu makan siang pun Amel tak melihat David, karena memang laki-laki tersebut sedang sangat sibuk, ia dan Alex tidak sempat keluar untuk makan siang. Amel semakin kesal, ia pikir David memang tidak ada usahanya untuk hubungan mereka.


Hingga akhirnya jam kantor pun berkahir, Amel buru-buru membereskan meja kerjanya dan memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam tas. Ia mematikan komputer di depannya lalu meninggalkan kubikelnya. Amel ingin segera pulang dan bersiap-siap ke acara reuni sekolahnya bersama Anes.


Anes sudah memberitahunya untuk ke rumahnya terlebih dahulu dan berangkat bersama dari rumah Parvis, karena Alex harus lembur di kantor dan kemungkinan tidak bisa ikut datang ke acara reuni tersebut.Tentu saja Amel senang, karena ia juga tidak memiliki pasangan untuk datang.


Di ruangannya, David melihat sekilas ke arah jam tangannya. Dia kaget karena sudah sore, udah waktunya jam pulang kantor. Dan dia belum sempat untuk menemui Amel.

__ADS_1


David segera berlari untuk menuju ke kubikel Amel, tapi di lihatnya sudah kosong. Dengan tergesa-gesa David keluar mencari Amel, berharap wanita tersebut masih ada di area kantor.


David melihat Amel sedang berdiri di depan kantor, mungkin sedang menunggu taksi pikir David. Ia berjalan cepat menghampiri Amel, namun keburu taksi datang.


Saat Amel membuka pintu taksi, David menahan tangan Amel supaya tidak masuk ke dalam taksi.


"Mel,"


Amel menoleh, "David?"


"Jangan pulang dulu, ada yang mau aku omongin sama kamu, penting Mel," ucap David serius.


"Tapi Dave,"


"Sebentar saja," pinta David.


Tiba-tiba ponsel David berdering, David tidak bisa mengabaikan panggilan yang masuk karena itu dari Alex. David melihat ke arah ponselnya dan beralih ke arah Amel.


"Angkatlah, kita bisa bicara lain kali. Aku harus pulang sekarang, aku ada urusan penting setelah ini," Amel melepas genggaman tangan David menggunakan tangannya yang satu.


Amel tidak menghiraukannya, ia tetap masuk dan menutup pintu mobil lalu menyuruh sopir taksi melajukan mobilnya. David hanya melihat taksi tersebut semakin menjauhinya.


"Apa ini karma buat aku Mel? Karena aku sudah menyakiti perasaan kamu," gumam David.


Kemudian, ia mengajar telepon dari Alex dan kembali masuk ke dalam kantor.


"Halo bos,"


"Dave, aku sudah selesai meeting, apa kamu bisa meninggalkan pekerjaan sebentar dan jemput aku untuk kembali ke kantor? Tadi aku ke sini di antar pak Anton, dan sekarang dia kembali ke rumah karena akan mengantar Anes pergi," ucap Alex di seberang telepon.


"Baik bos," David menghentikan langkah kakinya dan berbalik menuju ke parkiran mobil untuk menjemput Alex.


🌼🌼🌼


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, Anes tampak sedang bersiap-siap ke acara reuni. Setelah selesai memakai baju dan berdandan, ia menghubungi Alex untuk video call. Ia ingin meminta pendapat sang suami atas penampilannya.

__ADS_1


"Sayang," sapa Alex, yang sedang duduk bersandar di kursinya dengan wajah yang sudah kusut karena lelah, kemeja yang ia kenakan di lipat sebatas siku.


"Mas, capek ya?" ucap Anes yang melihat suaminya sedikit berantakan namun tetap tampan menurutnya.


"Sedikit. Bagaimana? apa kamu sudah siap mau berangkat?" tanya Alex tersenyum.


"Em sebentar lagi mas, lagi nunggu Amel. O ya, bagaiman penampilan aku? Apa ini terlihat bagus? Aku kurang percaya diri mas, udah nyoba beberapa dress juga," Anes meletakkan tabletnya di atas meja lalu ia berdiri memperlihatkan seluruh penampilannya dari atas sampai bawah. Ia berputar beberapa kali.



"Astaga kenapa dia berpakaian seperti itu? Pundaknya terekspose begitu, aku nggak rela! Tapi kalau aku suruh ganti pasti dia ngambek, udah untung ada baju yang mau dipakai, sabar Lex sabar, istrimu sedang hamil," batin Alex, ia sungguh tidak rela Anes menjadi pusat tatapan liar mata para tamu laki-laki di acara reunian tersebut. Ia segera menepis rasa cemburunya itu.


kemudian, Anes kembali meraih tabletnya dan duduk di sofa di dalam kamarnya.


Alex tersenyum melihat tingkah sang istri, rasa capeknya mendadak hilang setelah Anes menghubunginya. Alex tak pernah menyangka, sekarang Anes begitu peduli dengan penampilannya, dulu dia akan cuek berpakaian seperti apapun akan tetap percaya diri. Tapi karena kehamilannya, membuat rasa percaya diri wanita itu sedikit menurun karena perut buncitnya.


"Sayang, kamu mau jawab jujur atau bohong?" tanya Alex tanpa berhenti tersenyum.


"Terserah mas aja, Yoh juga sama saja, kalau jujur ya berati jujur, kalau bohong ya berati jawabannya sebaliknya, sama aja kan?" Anes malas berdebat.


"Oke,oke, jujur kamu itu cantik, Perfect!" puji Alex. karena memang kenyataanya, walaupun sedang hamil Anes tetap cantik, bahkan kadar kecantikannya bertambah setelah hamil, aura keibuannya semakin terlihat.


"Mas nggak bohong kan?" Anes masih tak percaya.


"Beneran sayang, lagian kamu hanya perlu cantik buat mas, tidak usah pedulikan orang lain. Tapi jujur, kalaupun mas buka suami kamu, mas tetap akan tertarik sama kamu, pasti itu," sahut Alex.


"Mas bisa aja, eh itu bibi membagikan, kayaknya Amel sudah datang, Aku pergi dulu ya,"


"Hem, hati-hati dan jangan macam-macam di sana," pesan Alex.


"Siap 86, i love you emmuah," Anes langsung mematikan panggilannya.


Alex tersenyum mendengarnya, "I love you more," gumamnya lalu meletakkan ponselnya kembali di atas meja.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2