
Dengan langkah yang malas, Anes masuk ke rumah. Pikirannya masih di penuhi dengan kata-kata menyakitkan yang ia dengar tadi pagi.
"Nyonya muda sudah pulang? Tapi tuan muda belum pulang nyonya," sambut bi Ina yang kini sudah menjadi kepala asisten rumah tangganya yang sudah berbaris rapi bersama asisten rumah tangga lainnya, menyambut kedatangan Anes.
"Iya bi saya tahu kok. Saya cuma kangen saja sama rumah ini makanya saya pulang," sahut Anes dengan lesu.
Mendengar Anes bicara dengan tidak semangat, membuat para asisten rumah tangga saling melempar pandang.
"Tolong bawa koper saya ke kamar ya bi, saya mau ke taman belakang sebentar," pinta Anes.
"Baik nyonya," sahut Bu Ina yang langsung menyuruh salah satu anak buahnya membawa koper Anes ke kamar utama.
Anes sampai di taman belakang. Ia duduk di kursi sambil melihat pemandangan bunga-bunga yang menyejukkan matanya. Setidaknya pikirannya bisa sedikit fresh berada di taman hasil karya tangan terampilnya tersebut.
Dua orang pelayan berdiri agak jauh dari Anes, mereka standby di sana untuk melayani Anes jika nyonya mudanya tersebut membutuhkan sesuatu.
Melihat ada salah satu tanaman bunganya yang layu, Anes langsung bangkit dari duduknya dan mendekati bunga tersebut. Ia menyentuh bunga tersebut lalu memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
"Bi, sini!" panggil Anes.
"Duh gimana ini Bi? pasti nyonya muda marah karena kita mengawasinya dari sini. Beliau kan tidak suka kalau seperti ini," ucap salah satu asisten rumah tangganya sambil berbisik.
"Sepertinya sekarang masalahnya bukan itu bi, lihat itu! Bukannya itu Bunga yang layu itu? Nyonya muda pasti marah gara-gara itu," sahut bibi yang satunya.
"Semoga saja tidak keduanya ya Bi? Nyonya kan jarang, hampir tidak pernah marah kalau kita salah. Beliau selalu memaafkan dan bersikap baik kepada kita,"
"Cepat bisa sini! Kok malah pada ngobrol di situ?" Anes sedikit meninggikan suaranya.
"I iya nyonya, ada yang bisa bibi bantu nyonya?" tanya bi Mira, asisten rumah tangga yang mendekat.
"Kenapa ini bisa layu seperti ini? Apa selama saya tidak di rumah kalian tidak merawatnya dengan baik? Kerja kalian ngapain saja? Merawat ini saja tidak bisa!" bentak Anes.
Bi Mira kaget dengan reaksi Anes yang menurutnya berlebihan karena tidak biasanya nyonya mudanya tersebut bersikap atau bicara kasar.
"Maaf nyonya muda, ini salah kami. Kami mohon maaf karena lalai menjaga amanah nyonya," sahut Bu Mira gugup.
"Ah sudahlah! sudah terlanjur juga, ini juga tidak akan bisa segar seperti sedia kala lagi," Anes meninggalkan tanaman bunga yang layu tersebut dan juga bisa Mira yang masih mematung di tempatnya berdiri, menunduk dan masih sedikit syok dengan sikap Anes yang menurutnya tidak seperti biasanya.
"Ada apa Bi?" tanya asisten rumah tangga yang usianya lebih muda dari Bi Mira.
"Nyonya muda sepertinya sedang ada masalah. Tidak biasanya beliau bicara dengan nada tinggi seperti itu," sahut Bi Mira.
"Mungkin karena lagi kangen sama tuan muda Bi,"
"Mungkin saja, tapi tetap saja terasa aneh,"
"Sudahlah bi, lebih baik kita singkirkan ini saja dari pada nanti nyonya melihatnya dan marah lagi,"
"Iya Bi,"
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ
Anes menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Huh ada apa denganku? Kenapa harus marah sama bibi? Jelas-jelas itu bukan salah dia. Mereka pasti merawat bunga-bunga itu dengan baik," gumam Anes sambil memejamkan matanya. Kekesalannya terhadap ibu-ibu kompleks yang suka nyinyir itu ternyata berimbas kepada moodnya sore ini. Alhasil asisten rumah tangganya pun menjadi pelampiasannya.
Tanpa sadar Anes tertidur dan bangun-bangun hari sudah gelap. Ia mengambil ponselnya melihat apakah ada telepon dari Alex, tapi ternyata tidak ada. Ia meletakkan kembali ponselnya dan bergegas ke kamar mandi.
Selesai mandi ada seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?" tanya Anes setelah membuka pintu dan ternyata bi Ina yang mengetuk pintunya.
"Makan malam sudah siap. Nyonya mau makan di bawah atau mau bibi Antar ke sini makanannya?" bi Ina memberi dua pilihan kepada Anes.
"Antar ke sini saja Bi," sahut Anes.
"Baik nyonya,"
Anes kembali menutup pintu kamarnya dan mengganti handuk kimono yang ia kenakan dengan piyama.
Tak lama kemudian bi Ina datang mengantar makan malam untuk Anes.
"Taruh saja di meja bi," pinta Anes sambil menunjuk meja yang ada di dalam kamarnya.
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi dulu," pamit bi Ina setelah meletakkan bawaannya di meja.
"Iya Bi, terima kasih,"
"Bi, tunggu!" Anes menghentikan langkah bi Ina.
"Ya nyonya?"
"Anes boleh curhat sedikit sama bibi?"
"Tentu saja boleh nyonya?" bi Ina beringsut mendekati Anes.
"Duduk sini bi!" Anes menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Tapi nyonya?"
"Udah nggak apa-apa, sini Bi!" menepuk lagi.
Bi Ina pun patuh. Ia duduk di samping nyonya mudanya tersebut.
Anes mulai bercerita tentang yang terjadi tadi pagi secara detail. Tanpa terasa air matanya kembali membanjiri wajahnya.
Bercerita kepada bi Ina mungkin akan lebih baik pikirnya. Kalau Anes cerita kepada ibunya, ia takut akan membuat ibunya kepikiran dan khawatir.
"Jahat sekali mulut mereka. Kalau tuan di sini pasti beliau sudah murka sama mereka. Nyonya yang sabar ya, bibi yakin cepat atau lambat nyonya Muda pasti akan memiliki momongan. Jangan di pikirkan kata-kata mereka. Yang mereka tahu hanya luarnya saja jadi bebas berkomentar. Tuan muda sangat mencintai Nyonya, tidak mungkin beliau akan berpaling. Nyonya lihat bibi, sampai saat ini bibi belum juga punya anak. Anak-anak bibi yang sekarang adalah anak angkat bibi semua Noynya, tapi bibi dan suami bibi tetap bahagia. Nyonya muda jangan patah semangat,"
__ADS_1
"Iya bi, terima kasih. Sekarang jadi lebih tenang. Bibi boleh melanjutkan pekerjaan bibi. Terima kasih sudah mau mendengarkan curhat saya bi,"
"Sama-sama nyonya muda, kalau begitu nyonya muda makan dan istirahat, bibi permisi dulu," pamit bi Ina.
"Iya bi,"
๐ผ๐ผ๐ผ
Anes hanya melirik makanan yang terletak di atas meja makan, ia sama sekali tidak memiliki selera untuk makan malam ini. Ia hanya menyuap beberapa sendok sebagai pengganjal perutnya.
Anes mengambil ponselnya dan langsung tersenyum karena tepat saat ia mengusap layar ponselnya, ada panggilan masuk dari Alex.
"Halo mas, baru saja aku mau telepon mas, eh mas udah telepon duluan. Mas sibuk ya tadi? Kok nggak telepon lagi? Aku nungguin tahu, mau telepon duluan takut ganggu. Sekarang mas sedang apa? Kangen nggak sama aku? Aku kangen banget sama mas. Hiks," cerocos Anes begitu mengangkat telepon.
"Sayang, satu satu dong tanyanya mas bingung mau jawab yang mana dulu ni," sahut Alex.
"Terserah mas aja mau jawab yang mana dulu,"
"Ya udah mas jawab intinya aja ya? Mas juga kangen. Kangen kangen kangen banget sama nyonya muda Parvis ini," ucap Alex sambil terus berjalan. Semua yang melihatnya pun menunduk dan memberi hormat.
"Tuan?" sapa ni Ina. Ia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Tuan mudanya sudah kembali secepat ini.
Alex menempelkan jari telunjuknya sebagai kode agar bi Ina diam. Tentu saja bi Ina langsung bungkam.
"Istri mas yang cantik ini lagi ngapain? Sudah makan?" tanya Alex sambil tetap berjalan pelan.
"Lagi liatin photo mas Alex," jawab Anes yang memang sedang berdiri memandangi wajah tampan suaminya yang ia pindahkan dari apartemennya. Sebenarnya Alex menolak untuk membawa photonya tersebut, tapi Anes memaksa karena menurutnya photo tersebut sangat tampan dan juga itu adalah kenangan ketika keluarga Alex datang ke rumahnya pertama kali untuk membicarakan perjodohan mereka.
"Kenapa nggak liatin orangnya aja secara langsung? Emang puas kalau cuma lihatin photonya?" Alex sudah menyandarkan bahunya di daun pintu kamarnya tanpa Anes sadari.
"Nggak mungkinlah lihat orangnya langsung, mas kan jauh di sana. Pol-polan juga video call bisa lihat wajahnya,"
"Kalau sekarang kamu bisa lihat mas secara langsung, mau apa?" tanya Alex sambil tersenyum dan terus memperhatikan kelakuan istrinya yang sekarang naik ke atas tempat tidur dan membelai pipi Alex dalam photonya.
"Huh, kalau ada keajaiban mas sekarang juga ada di sini, aku akan peluk mas, cium mas dan..."
"Dan apa?"
"Dan akan menghukum mas karena sudah buat aku rindu berat!"
"Sekarang lakukan yang ingin kamu lakukan!" ucap Alex dengan suara lantang.
"Eh tunggu, suara mas kenapa..." Anes menoleh dan....
"Mas Alex!" teriak Anes dan langsung berlari ke arah si pemilik nama tersebut.
Alex sudah merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ