
Alex terus memandangi photo hasil USG anaknya. Ia mengambil ponselnya dan memotretnya. Sungguh ia tak percaya, tidak lama lagi akan menjadi seorang ayah.
"Mas pulang aja yuk," ucap Anes tiba-tiba.
"Nggak jadi jalan-jalan?" tanya Alex.
"Enggak ah, aku mau pulang aja. Tapi mampir ke supermarket dulu sebentar, aku mau beli buah-buahan. Pengen buat salad buah," balas Anes.
"Beli saja bagaimana?"
"Enggak, aku mau membuatnya sendiri. Nanti mas yang makan, kan mas suka yang asem-asem,"
"Oke oke baiklah, terserah nyonya muda Parvis saja, pak mampir ke supermarket sebentar," ucap Alex.
"Baik tuan muda," sahut pak Anton. mobil pun melaju ke sebuah supermarket besar.
๐ผ๐ผ๐ผ
Di kantor....
David tampak sedang di sibukkan dengan segudang pekerjaan seperti biasa, eh tidak kali ini luar biasa, pasalnya akhir-akhir ini bosnya yang selalu rajin datang ke kantor itu menjadi sedikit pemalas. Jadi, dia harus menghandle semuanya.
"Huh akhir-akhir ini bos Alex menjadi pemalas. Tidak seperti biasanya, apa dia sudah tidak butuh uang lagi sekarang sehingga merasa tidak perlu bekerja keras," keluh David melihat setumpuk dokumen yang sudah mengantri untuk diperiksanya.
Untung David memiliki jiwa loyalitas yang sangat tinggi kepada bos dan juga perusahaannya tersebut.
"Ini semua harus selesai hari ini, tapi rasanya tidak mungkin aku bisa memeriksa semuanya secara cepat dan tergesa-gesa," David langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.
"Halo bos, apakah Anda bisa datang ke kantor sekarang? Ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani sekarang juga," ucap David.
"Antarkan saja dokumennya ke rumah, aku akan memeriksanya di rumah," sahut Alex yang kini sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan ke rumah.
"Tapi saya masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai dan harus selesai hari ini juga bos,"
__ADS_1
"Jangan seperti orang susah, minta antar kurir atau karyawan lain untuk mengantarkannya ke rumah. Aku tidak bisa pergi sekarang, aku harus menjaga istriku," jawab Alex.
"Apa nona Anes sakit?"
"Tidak, tapi dia sedang hamil," sahut Alex.
"Kalau begitu selamat untuk saya, akhirnya saya akan segera mendapat ponakan, senangnya," ucap David.
"Ck, harusnya kasih selamat karena aku akan jadi Daddy, bukannya menyelamati diri sendiri. Ini anakku, bukan anakmu," ketus Alex. Membuat Anes yang bersandar manja di lengannya menjadi gemas. Sedangkan David terkekeh puas telah membuat Alex kesal.
"Jadi bagaimana bos? Anda tidak bisa ke kantor lagi?" David memastikan.
"Telingamu masih normal kan Dav? atau perlu ke THT?" dengan Alex.
"Baiklah kalau begitu bos," David langsung mematikan ponselnya.
"Nona Anes hamil, tapi seperti orang sakit aja, harus di jaga 24 jam. Apa dia tidak bisa membedakan sakit dan hamil? " desah David dalam hati.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Mas, aku hamil dan aku baik-baik saja. Jangan perlakukan aku seperti seorang yang kesakitan dan harus di awasi 24 jam," Anes mulai kesal berdebat.
"Tapi sayang,"
"Nggak ada tapi-tapian, sampai rumah, mandi dan berangkat ke kantor. Masa depan Parvis Group ada di tangan mas Alex, kalau mas malas-malasan terus bagaimana bentuk pertanggung jawaban mas kepada almarhum papa Arya yang sudah susah payah membangunnya dari nol," mulai pasang mode galak.
"Iya iya mas akan ke kantor, jangan marah, ntar debaynya jadi takut kalau mommynya bertaring, Kalau takut dan nggak mau keluar bagaimana? masa kamu mau membawanya di perut terus" goda Alex.
"Tahu ah!"
Alex langsung menarik Anes ke dalam pelukannya.
"Mas hanya bercanda, kamu tenang saja, mas nggak mungkin lepas dari tanggung jawab terhadap Parvis Group. Mas tidak akan buat papa kecewa," ucap Alex serius.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Alex langsung mengumpulkan seluruh penghuni rumah ke ruang tamu, untuk memberikan kuliah.
"Dengarkan semuanya, sekarang istri saya sedang hamil, jadi kalian harus lebih memperhatikan semuanya, mulai dari keamanan, kebersihan dan juga kenyamanan nyonya muda, pastikan kalian tidak membuatnya marah sekecil apapun. Asupan gizi nyonya muda juga harus kalian jaga dan perhatikan dengan benar. Kalau nyonya muda ingin memasak, kalian harus siapa siaga membantunya. Ingat kalau terjadi sesuatu terhadap nyonya muda, meskipun bukan kesalahan kalian, kalian yang akan terima akibatnya. Saya tidak akan menerima penjelasan ataupun pembelaan apapun, mengerti?" ucap Alex dengan lantang dan tegas. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk istrinya tercinta.
"Mengerti tuan muda," sahut mereka serentak seperti seperti di komando.
"Bagus, hari ini saya akan ke kantor, kalian jaga istri saya baik-baik," ucap Alex lalu meninggalkan barisan para pembantunya tersebut.
"Kalian tidak usah setegang itu, mungkin mas Alex hanya merasa bingung mesti bagaimana, karena ini pengalaman pertamanya untuk menjadi seorang ayah, kalian lakukan saja pekerjaan seperti biasa, tidak perlu berlebihan dalam memperlakukan saya," ucap Anes kepada kepala-kepala yang sedari tadi menunduk tidak berani mendongak tersebut.
"Baik nyonya muda," sahut mereka serentak. Anes langsung menyusul Anes ke dalam kamar.
"Mas nggak perlu sampai segitunya, mereka malah tidak akan fokus bekerja nanti, karena memikirkan takut melakukan kesalahan. Mereka akan terbebani karena ancaman mas,"
"Mas cuma mau yang terbaik buat kamu dan anak kita sayang, kalian harta yang paling berharga dalam hidup mas. Hanya kalian yang mas punya," sahut Alex.
"Aku tahu," Anes memeluk suaminya tersebut. Karena memang dia dan anaknya yang di miliki oleh Alex saat ini. Bukannya Alex tidak memiliki kerabat atau saudara dari kedua orang tuanya, tapi mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sangat jarang berkumpul, paling hanya momen-momen tertentu. Seperti acara pernikahan Alex dan meninggalnya pak Arya waktu itu. Alex juga tidak terlalu dekat dengan mereka. Terutama kerabat dari Bu Widya. Karena, keluarga bu Widya sejatinya tidak menyetujui pernikahannya dengan pak Arya. Jadi, Alex juga tidak pernah mengungkit atau mempertanyakan keberadaan keluarga sang ibu.
Alex segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ke kantor.
"Masih merasa mual? kalau mual minum vitamin yang di berikan dokter Irene," ucap Anes sambil memakaikan dasi kepada Alex.
"Hem, nanti mas akan meminumnya," sahut Alex.
"Udah bilang sama pak David kalau mas akan ke kantor? takutnya nanti pak David sudah menyuruh orang mengantar dokumennya ke rumah," Anes mengambil dan memakaikan jas kepada Alex.
"Tadi mas sudah menghubunginya, kamu jangan khawatir," ucap Alex, ia sangat senang karena istrinya tersebut selalu memikirkan sesuatu secara detail dan terperinci.
"Baiklah, mas berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah, tunggu mas pulang dan jangan pergi kemana-mana sendiri, minta pak Anton mengantar, atau perlu mas memperkerjakan seorang pengawal atau asisten pribadi buat selalu menjaga dan menemani kamu?" pesan Alex lalu mencium puncak kepala Anes.
"Tidak perlu mas, mas tahu kan aku nggak suka, aku malah akan merasa tidak nyaman kalau seperti itu, aku juga butuh privasi mas," tolak Anes.
Alex pun berpamitan kepada Anes dan tidak lupa memberi kultum lagi kepada para pelayannya sebelum ia pergi.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ