MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 224


__ADS_3

Malam harinya..


Amel masih saja terus merutuki dirinya yang dengan tidak tahu malunya melamar David untuk menjadi suaminya, padahal dia perempuan, kenapa dia senekat itu dan begitu tidak tahu malu. Apalagi David menolak permintaannya secara halus tadi. Mau di taruh dimana mukanya setelah ini?


Amel terus saja menangis, di satu sisi dia malu dengan tingkah konyolnya tadi, tapi di sisi lain dia juga marah terhadap David yang menolaknya. Sebagai perempuan dia sudah merendahkan harga dirinya untuk berani mengajak menikah duluan, karena David tidak kunjung melamarnya.


"David tega, jahat, bodoh bodoh bodoh, hiks hiks, aku benci benci benci!" teriak Amel sambil terisak.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Amel tak menghiraukan ketukan pintu yang ia dengar tersebut, ia sedang malas untuk bertemu siapapun.


" Non, di luar ada den ganteng non! " teriak asisten rumah tangga Amel dari luar kamar.


"Ngapin dia kesini?" batin Amel.


"Saya capek mbak, nggak mau di ganggu siapapun, bilang sama dia kalau saya sudah tidur!" balas Amel dari dalam kamarnya.


"Tumben non Amel nggak mau di ganggu pacarnya, ih sayang tahu non ganteng gitu di anggurin," batin embak.


"Baik Non, o ya sekalian saya mau pamit pulang, ini sudah malam. Nyonya tadi telepon katanya besok pagi sekali beliau akan pulang ke rumah, beliau mencoba menghubungi ponsel nona tapi katanya tidak aktif," ucap embak, biasanya sore dia sudah pulang, tapi karena tadi dia datang sudah siang jadi, malam baru pulang.


"Ya mbak, pulang aja nggak apa-apa, ponsel saya lowbat mbak dan ini lagi di charge!" balas Amel. Sebenarnya ia sengaja mematikan ponselnya.


"Baik non," ucap embak dan langsung berbalik badan.


Embakpun turun ke lantai bawah dan mengatakan kalau Amel sudah tidur karena capek. Akan tetapi, David tak percaya begitu saja, ia tahu pasti Amel sengaja tidak mau menemuinya karena marah.


David langsung nyelonong menaiki tangga untuk menuju ke kamar Amel, bagaimanapun juga malam ini dia harus menemui kekasihnya tersebut.


"Aduh aden mau kemana? Non Amel sudah tidur!" teriak embak khawatir.


David menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah asisten rumah tangga Amel tersebut.


"Saya tahu Amel belum tidur," ucap David.


"Ta tapi nggak di susul ke kamar juga kan Den? Takutnya nanti..."


David melihat guratan kecemasan di wajah embak.


"Mbak nggak usah khawatir, saya tidak akan macam-macam sama Amel, mbak pulang saja nggak apa-apa,"


"Tapi den..?"

__ADS_1


"Percaya sama saya mbak, nama baik saya taruhannya" ucap David, ia tahu art Amel khawatir jika David akan berbuat macam-macam kepada majikannya.


"Baik den, kalau begitu saya permisi," pamitnya kemudian.


David melanjutkan langkahnya hingga akhirnya sampai di depan pintu kamar Amel. Ia mengetuk pintu kamar tersebut.


"Mbak, kalau mau pulang, pulang aja nggakpapa, aku juga mau tidur!" teriak Amel tanpa berniat untuk membuatkan pintu karena ia tak ingin terlihat habis menangis, ia pikir ARTnya yang mengetuk pintu kamarnya.


"Mel, ini aku," ucap David agak keras.


Amel langsung melongo mendengar suara yang sangat ia kenali tersebut. Amel tak ingin menyahut dan pura-pura sudah tidur, namun kepalang tanggung, ia tadi sudah berteriak.


"Ngapain kamu kesini Dave? Pulanglah, aku mau istirahat," ucap Amel kemudian.


"Buka pintu ya Mel, aku ingin bicara," sahut David yang kini bersandar aa da pintu kamar Amel.


"Besok saja kita bicara, sekarang pulanglah!" Amel yang tadinya tiduran, kini berganti posisi menjadi duduk bersila sambil memeluk bantal gulingnya.


"Cepat buka pintunya atau aku dobrak!" teriak David tidak sabar.


Akhirnya Amel mengalah dan membuka pintunya, ia tak ingin ada keributan antara dia dan David di rumahnya malam-malam.


"Astaga!" David terkejut dengan penampilan Amel saat membuka pintu kamarnya. Bagaimana tidak, saat ini Amel masih mengenakan gaun berwarna putih yang ia kenakan di acara pernikahan Juna siang tadi. Rambutnya acak-acakan dan make up yang belum di hapus namun sudah membuat lukisan abstrak di wajahnya akibat sapuan tisu yang di gunakan untuk mengelap ingusnya yang keluar karena terus menangis.


"Apa dia terus menangis sejak pulang dari pernikahan tuan jna tadi? Sampai lupa membersihkan dan merawat diri seperti ini?" batin David. Ia sudah menduga pasti Amel akan kecewa dan terus menangis.


"Benarkah ini Amelku? Atau mbak kunti?" Ucap David sedikit meledek.


"Apa maksud kamu Dave? Mbak kunti mbak kunti! Sudahlah kalau mau ngelawak bukan waktu yang tepat, sana pulang dan istirahat," balas Amel.


David tersenyum, dalam hatinya sebenarnya ia tak tega melihat Amel sampai begini.


"Maafkan aku!" ucap David sambil mengusap pipi Amel yang masih ada sisa air mata di sana.


"Buat apa minta maaf, ini bukan slah kamu. Akunya aja yang nggak tahu malu," ucap Amel jutek.


"Baiklah, nanti akan aku jawab pertanyaan u tadi siang, tapi sekarang kamu mandi dulu, dan dandan yang cantik," ujar David sembari metapikan rambut Amel yang berantakan.


"Tidak perlu, aku tahu jawabannya pasti masih sama kayak tadi tidak akan berubah, dan aku nggak mau mandi, aku maunya tidur, jadi sebaikany kamu pulang, embak sudah pulang, tidak enak jika kita hanya berdua, takut ketangkap," sahut Amel.


"Bukankah kamu suka kalau kita ketangkap oleh keamanan?" goda David.

__ADS_1


"Dave nggak lucu!"


"Aku tidak ngelawak, jadi biarin aja nggak lucu, cepat mandi dan dandan yang yang cantik, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat,"


"Enggak mau!"


"Harus mau, jangan membantah atau mau aku mandiin? Tapi aku tidak jamin kamu bakal keluar kamar mandi bisa berjalan dengan normal,"


"Maksudnya?"


David tk menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum mesumnya kepada Amel. Amel yang melihatnya menjadi menggedik.


"Dasar mesum!" cebik Amel, ia langsung menuju ke kamar mandi, daripada harus menghadapi kemesuman David yang sebenarnya ucan David hanya untuk menggertaknya saja.


Di kamar mandi, Amel yang melihat penampilannya saat ini dari pantukan cermin langsung berteriak.


"Aaarrggghh!!!" teriaknya yang syok melihat wajahnya sendiri.


"David!!! Kenapa kaku nggak bilang kalau aku seseram ini!!" teriaknya. Betapa malunya Amel, tadi ia tidak menyadari penampilannya di depan David. Pasti laki-laki itu sekarang sedang menertawakannya, pikir Amel.


"Duh malunya double hari ini, bagaimana bisa aku menampakkan wajah horor ini di depan David? Jatuh deh image beautiful gue", batin Amel.


Benar saja, David otomatis terkekeh mendengar teriakan Amel. Kemudian, David kembali ke ruang tamu, ia menunggu Amel di sana.


Selesai mandi dan memoles diri, Amel turun dan menghampiri David. David yang melihat Amel langsung berdiri dan tersenyum.


"Jangan meledekku, aku tahu tadi aku menakutkan," Ucap Amel yang salah mengartikan senyuman David.


"Siapa yang meledek, aku cuma mau bilang kamu cantik. Sudahlah jangan di bahas, lagian nanti aku akan terbiasa melihat wajahmu dalam keadaan apapun," ucap David penuh arti.


"Tapi aku berharap semoga hanya wajah bahagia yang akan selalu aku lihat nanti," gumam David dalam hati.


"Maksudnya?"


"Bukan apa-apa. Ayo jalan!" David memposisikan tangannya untuk di gandeng Amel.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Amel yang masih tak mengerti tujuan David mengajaknya keluar, untuk makan malam romantiskah? Karena David juga mengenakan setelah jas yang mewah yang mana membuat kadar ketampananya semakin bertambah. Kalau saja Amel tidak ingat ia sedang kesal, pastidia sudah memuji David habis-habisan.


"Bertemu bos dan nona, nona akan melahirkan," ucap David dengan santainya


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


💠 Maaf baru up, author sedang tidak enak badan dari kemarin. Jangan lupa like, komen dan votenya ya sayang, terima kasih 🙏🙏 salam hangat author❤️❤️💠


__ADS_2