
"Nona Amel!" David menghampiri Amel di meja kerjanya.
"Pak David? kenapa Bapak ke sini? apa ada masalah?" tanya Amel penasaran.
"Anda bisa ikut saya ke rumah Presdir sekarang?" nada bicara David seperti seorang polisi yang sedang menyambangi seorang tersangka kejahatan.
"Ke, kenapa saya harus ke sana?" tanya Amel.
"Bos meminta Anda untuk menemani nona Anes yang sedang tidak enak badan selama kami meeting nanti," sahut David.
"Tapi, pekerjaan saya....?" Amel menatap berkas-berkas yang ada di depannya.
"Biar di handle yang lain, Anda hanya perlu ikut dengan saya dan jangan banyak bicara lagi," David balik badan dan melangkahkan kakinya.
"Cepat, saya tidak punya waktu untuk bermain-main!" imbuh David sambil terus berjalan.
"Lah siapa juga yang mau main-main?"
"Iya sebentar!" Amel sedikit berteriak sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lalu berlari menyusul langkah David.
"Duduk depan!" perintah David sambil membuka pintu mobil untuk Amel.
"Yakin di depan pak?" Amel menggaruk-garuk kepalanya.
"Kalau mau di belakang, silahkan Anda cari taksi saja! saya bukan sopir Anda," kesal David.
"Ni orang kenapa sih? perasaan dulu nggak sejutek ini, lagi dapet kali ya?" batin Amel.
"Baik pak," Amel masuk ke dalam mobil.
David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Buru-buru pun percuma karena bosnya juga masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Pikir David.
"Emang Anes belum sembuh pak? kirain cuma demam biasa, parah ya? sampai-sampai pak Alex meminta saya menemaninya?" tanya Anes.
"Nanti Anda bisa tanyakan sendiri kepada nona Anes setelah sampai di sana!" sahut David tetap fokus pada kemudi mobil.
Amel bungkam. Rasanya ia ingin bicara banyak sekali, ngobrol bisa gitu. Tapi, sangat malas kalau cuma di balas acuh oleh David.
__ADS_1
"Kenapa diam? apa tenggorokan Anda sakit?" David heran.
"Ah tidak, sedang malas aja bicara," jawab Amel sekenanya.
"Apa? malas? apa dia malas berbicara kepadaku?" David mengernyitkan dahinya.
"Mmm bagaimana hubungan Anda dengan kekasih Anda? apa masih baik-baik saja?" David merutuki apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Sepertinya karena sedang duduk di dekat Amel, ia jadi ketularan gadis itu.
"Em itu maksudnya..." David berusaha meralat omongannya secepat mungkin. Tapi, dia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk mengalihkan ucapannya.
"Kenapa Bapak tanya hal pribadi kepada saya? dan juga dari mana Bapak tahu kalau saya memiliki pacar? wah diam-diam Bapak kepo ya sama saya?" Amel menatap David curiga.
"Jangan salah paham, saya hanya pernah melihat Anda dengan seorang laki-laki di cafe dan dari itu saya menyimpulkan kalau dia adalah kekasih Anda," David terjebak dengan kalimatnya sendiri.
"Terus kenapa tadi tanya apakah masih baik-baik saja? apa yang Anda harapkan? hubungan kami tidak baik-baik saja begitu? jahat ih! emang pak David mau menggantikan dia kalau saya sama dia ada masalah dan putus?" Amel memukul lengan David manja.
"Please bersikaplah biasa nona, jangan seperti itu. Saya jadi tidak bisa konsentrasi menyetir,"
"Lebih baik kalau putus. Saya siap menggantikannya. Sepertinya laki-laki itu bukan laki-laki yang baik," gumam David lirih. Lagi-lagi ia merutuki mulutnya yang asal bicara itu. Bagaimana bisa di bicara seperti itu.
"Sepertinya otakku sedang kongslet. Kenapa dari tadi ngawur terus bicaranya. Dan lagi perasaan apa ini? kenal dekat dengan gadis ini saja tidak, tapi setiap kali dekat dengannya aku seperti sedang lari maraton, wah tidak benar ini. Dia pacar orang,"
"Ah tidak, saya tidak bicara apa-apa. Lupakan!"
"Huh selamat, selamat! untung dia nggak dengar." batin David lega.
"Padahal aku berharap tidak salah dengar tadi, aku kira dia bilang lebih baik aku putus dan dia mau menjadi gantinya. Kenapa aku senang ya kalau memang dia ngomong begitu, padahal kan aku cinta sama David. Ih jahat banget sih Mel," Amel bicara sendiri dalam hatinya. Ia membuang muka ke arah jendela. Suasana menjadi hening, dengan pikiran mereka masing-masing.
🌼🌼🌼
"Pak David, kenapa sih kalau bicara sama saya terlalu formal? jadi kaku gitu kesannya. Usia kita juga tidak beda jauh, bisalah menjadi teman. Biasa aja gitu ngomongnya biar kelihatan lebih akrab," Anes kembali memukul manja lengan David untuk mencairkan suasana yang hening tadi.
"Apa iya aku sekaku itu? tapi kan itu profesional dalam bekerja namanya."
"Saya hanya berusaha profesional saat sedang bekerja nona," David membenarkan sikapnya.
"Hish terserah pak David ajalah. Tapi, bisa tidak panggil saya Amel saja nggak usah pakai nona nona, dan ganti kata Anda sama kamu gitu biar tidak terlalu kaku,"
__ADS_1
"Baiklah saya akan mencobanya." David senang, ia bisa sedikit lebih dekat dengan gadis yang membuatnya sedikit penasaran itu.
"Krucuk-krucuk!" David menoleh ke arah Amel karena mendengar bunyi perut Amel.
"Kamu belum sarapan?" David sudah merubah gaya bicaranya.
"Iya, memang lebih enak di ucapkan dan di dengar. Pantas bos selalu memintaku buat bicara biasa saja sama dia. Mungkin dia merasa aneh dan jauh kali ya ketika aku bicara terlalu formal. Padahal kan notabennya kita sahabat,"
"Hehe iya pak, tadi buru-buru jadi nggak sempat sarapan," Amel tersenyum menampakkan giginya yang tersusun rapi.
"Tuh kan, lebih enak kalau nyebutnya kamu, nggak kaku kayak robot!" imbuh Amel.
"Itu di dashboard ada roti. Kamu bisa memakannya," David menghentikan mobilnya karena lampu merah.
Tanpa basa basi, dan nggak perlu jaim sok menolak, Amel langsung mengambil roti tersebut karena memang ia merasa lapar. Ya, Amel bukan tipe orang yang suka jaim dan malu-malu tapi sebenarnya mau.
"Seret pak, apa ada minum juga?" Amel susah payah berusaha menelan rotinya.
"Tidak ada!" jawab David singkat sambil melajukan mobilnya kembali karena lampu sudah berubah menjadi hijau. Ia menepikan mobilnya dan melepaskan seatbeltnya yang ia pakai
"Kamu tunggu di sini, saya akan membeli minum," kata David sambil membuka pintu mobilnya.
"Ternyata baik juga, perhatian. bahkan Dimas aja kalau aku nggak minta di beliin pasti nggak bakal berinisiatif buat beliin. Jadi baper. Kalau belum punya Dimas, mau kali jadi nyonya David," Amel senyum-senyum sendiri.
Tak berselang lama, David kembali ke dalam mobil.
"Ini minumlah!" menyodorkan botol air mineral kepada Amel.
Amel mencoba membuka tutup botol tersebut, tapi kesusahan.
"Tidak bisa buka pak," Amel menyodorkan kembali botol minum tersebut.
"Huh menyusahkan!" sahut David sambil memutar tutup botol tersebut dengan mudahnya.
"Hehe terima kasih," Amel menyunggingkan senyumnya.
"Dasar gadis manja, apakah kebanyakan perempuan seperti ini? ah entahlah buat apa juga aku mikirin hal itu. Lagian gadis ini punya pacar. Jangan sampai ada label Pebinor padaku," David menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
Mobil terus melaju, Amel terus mengajak bicara David hingga mereka sampai di parkiran apartemen Alex. Ini pertama kalinya mereka benar-benar mengobrol bukan soal pekerjaan. David merasa senang dan merubah pemikirannya tentang Amel. Menurutnya gadis itu cukup menarik.