MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 79


__ADS_3

Selesai meeting, Alex langsung bergegas pulang. Pasalnya dari tadi Anes terus menghubunginya. Ia khawatir kalau terjadi sesuatu. Ia berusaha menghubungi Anes tapi tidak di jawab.


Sampai di apartemen Alex langsung ke kamar mencari keberadaan Anes. Di lihatnya Anes sedang tidur. Ia mendekati istrinya dan membelai pipi Anes lembut.


"Syukurlah kamu baik-baik saja," Alex bernafas lega.


"Mas udah pulang?" Anes mulai mengerjapkan-ngerjapkan matanya.


"Iya mas baru saja sampai. Selesai meeting mas lihat ponsel ada begitu banyak panggilan dari kamu. Mas khawatir kamu kenapa-napa, makanya mas buru-buru pulang. Maafin mas, karena baru pulang jam segini,"


"Nggak papa kok mas, tadi aku nelepon mas karena aku mau di belikan bakso yang ada di perempatan jalan dekat kantor itu. Maaf ya udah bikin mas khawatir,"


"Kamu mau bakso? biar nanti mas beliin,"


"Nggak usah mas, sekarang aku udah delivery makanan kok untuk makan malam," sahut Anes.


" Ngomong-ngomong di mana Amel?" tanya Alex karena dari tadi ia tidak melihat batang hidungnya.


"Oh itu. Amel udah pulang sore tadi," jawab Anes


"Beraninya dia pulang dan ninggalin kamu sendiri, harusnya dia nunggu aku pulang kalau mau pulang," Alex menaikkan rahangnya.


"Aku yang menyuruh dia pulang mas, lagian aku kan udah sembuh, udah sehat. Lihat!" Anes melompat-lompat di atas tempat tidur untuk menunjukkan betapa sehatnya di sekarang.


"Tadi Dimas menyusulnya ke sini, ya dari pada mereka pacaran di sini. Kan, kalau ada orang berduaan yang ketiga itu setan. Dan aku nggak mau jadi setannya," Anes kembali duduk.


"Hah kamu ini ada-ada aja. Kamu beneran udah sehat?" Alex memastikan.


"Iya beneran, besok juga udah bisa kerja lagi,"


"Kalau begitu bisa dong mas minta jatah malam ini," goda Alex, ia langsung memeluk dan menghujani Anes dengan ciuman.


"Ih mas Alex! bau! mandi dulu sana!" Anes mencoba melepaskan pelukan Alex.


"Lagian istri baru sembuh udah minta gituan, mau di bikin sakit lagi apa?" Anes memanyunkan bibirnya.


"Ya nggaklah, justru mau aku bikin enak biar tambah sehat, ayolah ya ya ya?" goda Alex. Sebenarnya ia bercanda.


"Ting tong!" suara bel berbunyi.


"Tau ah gelap! udah sana mandi, aku mau bukain pintu dulu. Itu pasti makanan yang aku pesan udah datang. Selesai mandi langsung turun ke bawah, aku tunggu," Anes melempar bantal ke muka Alex dan langsung ngeloyor keluar dari kamar.

__ADS_1


"Ck. Benar-benar udah sehat. Udah punya tenaga buat ngomel," Alex tersenyum senang.


🌼🌼🌼


Anes sudah selesai menyiapkan makan malam, ia duduk untuk menunggu suaminya selesai mandi. Setelah beberapa saat Alex tak kunjung turun. Ia memutuskan untuk memanggil suaminya ke atas.


Ketika Anes hendak membuka pintu, Alex sudah terlebih dahulu membukanya dari dalam.


"Huh lama amat sih mas, kirain mas pingsan di kamar mandi," ucap Anes.


"Maaf-maaf tadi ada panggilan alam dulu soalnya," sahut Alex meringis.


"Ya udah ayo cepetan, aku udah lapar. Dari kemarin makan bubur melulu, bosan. Mas kan tahu aku nggak begitu suka bubur. Karena mas yang buat dengan penuh cinta aja makanya aku mau makan. Ayo cepetan nanti keburu dingin." Anes menarik tangan Alex dan terus mengoceh hingga sampai di meja makan.


Selesai makan Anes membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur.


"Biar mas aja yang nyuci, kamu duduk aja di sini," Alex mengangkat tubuh Anes dan mendudukkannya di samping wastafel. Anes mengayun-ayunkan kakinya sambil memperhatikan Alex yang sedang mencuci piring. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Alex.


"Jangan lihatin mas kayak gitu, ntar tambah cinta lagi, kalau kebanyakan cinta dari kamu bisa-bisa mas over dosis,"


"Ih mas bisa aja," Anes memukul lengan Alex.


"Ampun deh! tetep ya, nggak lupa sama yang satu itu?" Anes menepuk jidatnya sendiri.


"Ya nggaklah, enak kok di lupakan. Yang ada ketagihan. Yang harus di lupakan tuh mantan, karena nggak enak kalau di ingat-ingat. Lebih baik di buang pada tempatnya,"


"Dari mana coba suami aku ini belajar kata-kata seperti itu?" Anes geleng-geleng kepala.


"Curhat nih mas? percaya yang punya mantan," sahut Anes


"Nggak bukan begitu sayang, jangan salah paham," wajah Alex mulai terlihat khawatir. Takut kalau dia Salang ngomong dan buat Anes marah.


"Hahaha biasa aja kali tuh mukanya mas, lagian aku nggak marah gara-gara kayak gitu doang,"


"Ya udah ayo kita ke kamar. Mas kangen," bisik Alex di telinga Anes.


"Gendong!" rengek Anes.


"Dasar manja! ayo naik" Alex membuat posisi kuda-kuda di depan Anes.


"Biarin manja. Sama suami sendiri ini. Kalau manja sama suami orang, itu namanya cari masalah," Anes naik ke atas punggung Alex.

__ADS_1


Dengan pelan tapi pasti Alex mulai berjalan. Ia menikmati setiap langkah kakinya.


"Lambat amat sih mas, cepetan kenapa?"


"Udah nggak sabar ya, pengen cepat sampai kamar? nggak usah buru-buru nanti juga sampai." Alex sengaja melambatkan langkahnya.


Anes mencubit pipi Alex karena gemas.


"Sayang, sepertinya kamu perlu sedikit diet," ucap Alex ketika menaiki anak tangga.


"Maksud mas aku gendut gitu? iya?" sewot Anes.


"Nggak, bukannya gitu. Hanya tambah sedikit berisi aja," Alex mencari alasan.


"Nggak papa juga sih tambah gendut. Itu tandanya kamu bahagia hidup sama mas, dari pada tambah kurus, ntar di kota mas nggak kasih kamu makan lagi," imbuh Alex.


"Yakin nggakpapa kalau aku gendut? kalau makin hari aku makin bahagia, berati makin gendut dong,"


"Ya jangan terlalu gendut juga kali sayang, ntar mas nggak kuat kalau gendong kamu."


"Terus aku harus bagaiman? katanya gendut tanda bahagia. Tapi, nggak boleh gendut-gendut. Intinya aku harus bahagia atau sedih nih?"


" Udah nggak usah di pikirin. Tadi mas cuma bercanda. Intinya kamu harus bahagia sayang, sebisa mungkin mas akan selalu bahagiain kamu. Soal gendut atau kurus itu bukan sebagai tolak ukur kebahagiaan seseorang. Itu hanya pendapat sebagian orang saja. Bisa jadi hanya untuk menutupi kesedihannya karena di katain gendutan atau yang lainnya. Sedangkan yang kurus juga bukan berati tidak bahagia kok. Kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dengan seberapa gendut atau seberapa kurusnya seseorang," ucap Alex panjang lebar hingga sampai di depan kamar.


"Sayang, sayang, kok diam?" Alex memanggil Anes tapi tidak di jawab.


"Yassalam! malah tidur," Alex menoleh ke belakang, ternyata Anes sudah tertidur di atas punggungnya.


"Di kira lagi mendongeng kali ya sampai tertidur begini,"


Pelan-pelan Alex menurunkan Anes ke tempat tidur. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Anes hingga batas dadanya.


"Amel awas ya, jangan rebut mas Alex dariku. cari sendiri kalau mau yang seperti dia. Itu pun kalau kamu bisa menemukannya. hihihi. Mas Alex itu punyaku, aku nggak mau berbagi suami meskipun sama sahabat sendiri tahu! hihihi," Anes mengigau.


Alex tersenyum mendengar Anes mengigau seperti itu.


"Ck. Dasar! tadi ngomongin apa sih sampai ke bawa mimpi begitu," Alex membelai pipi Anes. Membuat Anes memiringkan tubuhnya dan memeluk erat tangan Alex. Mungkin di kotanya bantal guling kali ya.


Pelan-pelan Alex melepas tangannya dari pelukan Anes. Lalu mematikan lampu dan menyusul Anes ke dalam selimut untuk tidur.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2