
David dan Amel tiba di rumah Amel malam hari. Karena merasa haus, David memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah Amel sekedar untuk minum menghilangkan rasa hausnya.
Saat Amel sedang mengambilkan minum di dapur, tiba-tiba listrik di rumahnya mati.
"Aaaarhhh!!" teriak Amel.
David segera menyalakan senter ponselnya dan berlari menuju ke dapur karena khawatir mendengar teriakannya Amel.
"Ada apa Mel?" tanya David khawatir.
Amel langsung memeluk tubuh David begitu melihat David menghampirinya.
"Aku takut gelap Dav," sahut Amel sambil memeluk David erat.
"Tenang ada aku di sini, tidak perlu takut," ucap David. Ia menuntun Amel menuju ke ruang tamu. Namun sebelumnya ia minum terlebih dahulu karena benar-benar kering tenggorokannya.
"Kenapa bisa mati begini sih nggak ada angin nggak ada hujan," kesal Amel.
"Telat bayar listriknya kali, makanya di matiin sama PLN," celetuk David.
"Enak aja," sahut Amel mencubit lengan David.
"Mel, udah malam. Aku pulang ya?"
"Benar-benar ya kamu Dav, rumah pacar gelap gulita begini, malah mau pulang. Tega amat. Aku beneran takut gelap Dav. Di rumah lagi nggak ada orang. Temani aku please,"
"Tapi nanti kalau kita cuma berduaan di rumah dalam keadaan gelap-gelapan begini dan ketahuan satpam komplek bisa bahaya Mel,"
"Hehe kayaknya seru tuh, di gerebek sama satpam dan di suruh kawin. Bisa nikah gratis kita Dav,"
"Haddeh gesrek nih otak," David mengacak rambut Amel.
"Kenapa? kamu nggak mau ya nikah sama aku Dav?" Memasang wajah polos dan sedih.
"Bukan begitu Amel sayang, aku ingin menikahi kamu dengan cara terhormat. Bukan dengan cara seperti itu. Lagian kamu udah siap nikah sekarang juga?"
"Belum Dav, aku masih trauma dengan perpisahan papa mama, beri aku sedikit waktu," sahut Amel.
"Ya udah kalau begitu, buang jauh-jauh pikiran gesrek kamu itu,"
"Aku ikut kamu pulang ke apartemen aja ya Dav?"
"Belum waktunya kamu ikut aku pulang Mel,"
"Tapi Dav, waktu itu di Australia aja kita serumah Dev,"
"Itu beda Mel,"
"Waktu itu aja, aku mati-matian menahan hormon laki-lakiku Mel," batin David.
"Ayo biar aku periksa listriknya. Karena cuma rumah ini yang mati, mungkin ada sedikit masalah," ajak David.
Amel hanya mengikuti David dengan terus memegang tangan laki-laki tersebut menuju ke MCB PLN (mini circuit breaker).
David melihat tombol off pada MCB dan mencoba menaikkannya menjadi on. Akhirnya lampu menyala.
"Sekarang udah nyala kan lampunya? aku pulang ya?" pamit David.
Amel mengantar David sampai depan pintu.
"Tapi nanti kalau mati lagi gimana? Bawa aku pulang aja ya Dav, aku takut," rengek Amel sambil menggoyang-goyangkan lengan David.
"Nggak papa, nggak ada masalah. Tadi MCBnya hanya perlu sedikit pendinginan. Dan sekarang sudah tidak masalah, tidak usah khawatir,"
"Tapi Dav,"
"Nanti kalau mati lagi, telepon aku, aku akan segera datang. Sekarang masuklah, istirahat lebih awal, besok masih harus bekerja," David mencium kening Amel dan melangkahkan kakinya menuju ke mobil.
"Besok pagi aku jemput!" seru David tanpa menoleh ke arah Amel.
Amel segera masuk dan menutup pintu rumahnya begitu mobil David menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"Mau jemput? padahal kan rumah ku lebih jauh ke kantor dari apartemennya, berati harus bolak-balik dong? bodo amatlah," batin Amel lalu menuju ke kamarnya.
Sampai apartemen, David menerima telepon dari seseorang tentang pelaku yang mengambil gambar Anes dan Rangga, ternyata orang itu hanya seorang anak remaja di bawah umur, dan dia bilang hanya iseng kerena kebetulan berada di cafe yang sama waktu itu.
David geram, tidak mungkin dia menggunakan kekerasan untuk menangani anak yang masih di bawah umur. Apalagi anak itu perempuan.
"Tidak mungkin hanya iseng, nomor ponsel bos Alex tidak banyak yang tahu, orang itu pasti sengaja," gumam David.
Karena lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, akhirnya dia memutuskan istirahat.
๐ผ๐ผ๐ผ
Keesokan harinya di kantor, tepatnya di ruangan Presdir.
"Bos, pelaku pengambilan gambar nona Anes waktu itu sudah ditemukan. Tapi,,," David kehilangan fokus biscaranya ketiak melihat jempol jari Alex yang memakai kutek berwarna pink.
"Astaga jempolnya," batin David.
"Lanjutkan!" perintah Alex tanpa menyadari tatapan aneh dari David.
"Anak itu masih berusia remaja bos, masih anak di bawah umur, dan dia tidak mau mengaku di suruh oleb siapa. Dia beralibi kaatanya dia iseng melakukannya. Sepertinya anak itu di ancam untuk tidak mengaku. Kedua orang tuanya juga sedang sakit," lanjut David sambil menahan tawa gelinya.
"Terus?"
"Tapi rasanya tidak mungkin dia hanya iseng. Karena tidak ada keuntungan baginya berbuat seperti itu. Apa kita perlu lapor polisi?"
"Tidak perlu, aku yakin anak itu pasti di ancam, apalagi kamu bilang orang tuanya sedang sakit. Mungkin dia butuh uang untuk berobat orang tuanya. Yang penting terus awasi dan pelan-pelan dekati dia, yakinkan dia kalau dia pasti aman, tidak perlu takut dengan ancaman siapapun. Kamu pasti lebih tahu apa yang harus di lakukan tanpa menyakiti anak itu dan keluarganya," ucap Alex.
"Baik bos," sahut David.
"Menurutmu kira-kira siapa Dav, dan apa tujuannya?" tanya Alex kemudian.
"Menurut asumsi saya, kemungkinan pelakunya adalah nyonya Rania, mungkin tujuannya untuk menghancurkan rumah tangga Anda, sehingga dia pikir bisa merebut Anda kembali," David menjeda ucapannya.
"Dan kemungkinan kedua bisa jadi itu adalah ulah Dimas bos. Dia ingin balas dendam dengan atap yang telah kita lakukan terhadapnya waktu itu. Dia tahu nona Anes adalah kelemahan Anda. Makanya dia mencoba untuk untuk menghancurkan rumah tangga Anda. Dengan begitu, Anda tidak fokus dalam pekerjaan dan itu kesempatan buat dia untuk menghancurkan perusahaan,"
"Ketiga, kemungkinan pelakunya adalah tuan Rangga sendiri, dia kelihatan sangat jelas masih memiliki perasaan terhadap nona Anes. Dan tujuannya sudah pasti untuk merebut nona dari Anda. Itu semua masih sebatas asumsi saya bos," David mengakhiri kalimatnya dengan menarik nafas dan membuangnya pelan.
"Baik bos, sebentar lagi rapat akan di mulai, para karyawan sudah menunggu Anda di ruang rapat," sahut David.
"Baiklah, ayo!" Alex beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului David.
"Tapi bos, jempol Anda," ucap David mengingatkan, tapi Alex tak mendengarkannya. Dia terus berjalan menuju ruang rapat dimana ia sudah di tunggu.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex memerhatikan para karyawan maju dan presentasi satu persatu bergiliran. Ketika presentasi berjalan setengah tiba-tiba ponsel Alex bergetar. Ia langsung mengangkat teleponnya begitu tahu yang menelepon adalah Anes.
Alex mengangkat satu tangannya sebagai isyarat untuk berhenti sebentar presentasinya.
"Mas, Sekarang pulang, aku mau makan, tapi pengen nasi goreng seafood buatan mas Alex nggak mau yang lain," ucap Anes di seberang telepon.
"Tapi sayang, sekarang mas sedang memimpin rapat," sahut Alex.
"Nggak mau tahu mas, aku lapar, tapi maunya mas yang masak," rengek Anes dengan manjanya.
Para karyawan yang hadir di rapat tersebut saling cekikikan menahan tawa karena melihat kutek di jempol tangan Alex. Sedari tadi mereka tidak menyadarinya, tapi begitu Alex mengangkat panggilan Anes, jempol berwarna pink tersebut terlihat jelas oleh mereka.
"Oke oke sayangku, cintaku, honey bunny sweety setelah ini mas akan pulang ya?"
"Bos, jika Anda tidak ingin kehilangan muka, sebaiknya Anda sembunyikan jempol Anda sekarang juga," bisik David di telinga Alex.
Alex yang menyadari kalau para keryawan menertawakannya langsung memindah ponselnya ke tangan yang satunya.
"Pokoknya mas pulang sekarang ya, aku tunggu," ucap Anes.
"ba..."
"Bos," David menyela ucapan Alex.
"Apa lagi?" menatap tajam David.
__ADS_1
"Segera akhiri saja panggilannya, itu jempol pink semua, kanan dan kiri," ucap David berbisik.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" sarkas Alex kepalang malu.
"Mas Alex! kenapa bentak-bentak aku seperti itu? Kalau nggak mau pulang ya udah!"
"Tidak sayang bukan begitu, mas nggak ngomong sama kamu, tapi sama..."
Tut....Anes mematikan panggilannya.
Para karyawan semakin tertawa lirih sambil saling berbisik. Melihat Presdir mereka begitu tunduk kepada istrinya.
"Ehek Hem! Apa yang kalian tertawa kan? Ada yang lucu?" tanya Alex dengan nada tinggi.
Semua menelan tawanya dan menyimpannya di tenggorokan, kemudian menunduk tanpa ada yang berani bersuara.
"Dav, catat siapa saja yang tadi tertawa, potong gaji mereka bulan depan!" ucap Alex. Dia langsung berdiri dan meninggalkan ruang rapat.
"Rapat selesai sampai di sini, kalian bisa bubar sekarang," ucap David tegas lalu menyusul Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Sial, kenapa bisa lupa menghapus ini sih? Hancur sudah reputasiku sebagai laki-laki sejati," hardik Alex begitu sampai di ruangannya.
David hanya mampu menahan tawanya.
"Apa kamu tertawa, kenapa tidak mengingatkanku tadi"
"Tadi saya sudah berusaha mengingatkan bos, tapi Anda tidak mendengar. Dan masalah laki-laki sejati, tidak perlu khawatir. Hasilnya sudah terbukti. Anda sudah berhasil membuat nona Anes hamil," ucap David.
"Ah kamu benar Dav, cepat carikan penghilang cat kuku ini, aku jadi geli melihatnya," titah Alex.
"Tapi seperti itu kelihatan lucu dan imut bos," ledek David.
"Sial, cepat cari penghilangnya, apa itu namanya aku lupa,"
"Baik bos," David langsung keluar mencari Amel. Mungkin kekasihnya itu membawa yang di minta oleh Alex.
"Mel,"
"Apa Dav? kangen ya sama aku? baru juga tadi berangkat bareng,"
"Itu, kamu punya penghilang cat kuku nggak?" tanya David.
"Aseton maksudnya?" tanya Amel.
"Iya apalah namanya, punya enggak?"
"Kebetulan aku bawa, nih mau buat apa?" Amel menyodorkan botol aseton kepada David.
"Buat ngilangin cat kuku bos Alex," jawab David.
David langsung mengambilnya dan pergi.
Amel menatap kekasihnya itu dengan heran.
"Pak Alex pakai cat kuku?" gumam Amel tak mengerti.
"Ini bos," David menyerahkan aseton kepada Alex. Alex langsung membersihkan cat kukunya.
"Bos, apa tidak sebaiknya Anda pulang sekarang? sepertinya tadi nona Anes meminta Anda untuk pulang," ucap David mengingatkan.
"Ah sial, kenapa malah sibuk dengan jempol ini sih. Ada yang lebih penting sekarang, meminimalisir amukan calon macan,"
"Maksud bos?" David tak mengerti.
"Calon mommy cantik," sahut Alex langsung pergi keluar ruangannya untuk pulang.
David geleng-geleng kepala sambil tersenyum memikirkan sepasang suami istri itu.
"Memikirkan rumah tangga mereka saja bisa senyum-senyum sendiri begini, apalagi memikirkan rumah tanggaku sendiri nanti," gumam David dalam hati.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ