
"Sayang, kamu pergilah ke kamar duluan. Nanti mas menyusul. Ada yang ingin mas bicarakan sama papa," kata Alex sambil mengusap lembut kepala Anes.
"Baiklah, nikmati waktu kalian. Aku ke kamar dulu," sahut Anes. Kemudian mengambil langkah meninggalkan pak Arya dan di ruang keluarga.
"Kenapa dia tidak bertanya di mana kamarnya? apa dia sudah tahu kamarku di sebelah mana?" batin Alex.
"Sayang tunggu!" Alex menghentikan langkah Anes.
"Apa kamu tahu di mana letak kamar kita?" tanya Alex memastikan.
"Hehe belum tahu mas," jawab Anes cengengesan.
"Ya udah ayo mas tunjukin kamar kita. Pa, Alex antar Anes ke kamar dulu."
"Pergilah, papa akan menunggu di sini. Papa masih ingin mengobrol sama kamu," sahut pak Arya.
"Kalau belum tahu, kenapa nggak tanya dulu sih? main pergi aja! dasar!" ucap Alex sambil memencet hidung Anes gemas.
"Melihat mereka berdua, mengingatkan waktu aku dan ibunya ketika masih muda dulu. Sayang, apa kamu lihat dari atas sana? anak kita sekarang terlihat jauh lebih baik dan bahagia. Hah aku harap mereka segera memberi kita cucu-cucu yang lucu," gumam pak Arya dalam hati. Memorinya tentang ibunya Alex terlintas jelas di kepalanya.
Meskipun sudah lama meninggal dan pak Arya sudah menikah lagi, tapi ibunya Alex masih memiliki tempat tersendiri di hati pak Arya. Tidak di pungkiri bahwa ia juga sangat mencintai Rania. Akan tetapi, wanita yang telah memberikan dia seorang anak yang bernama Alex itu tidak akan tergeser dari tempatnya. Ia dan Rania memiliki tempat masing-masing di hati pak Arya.
"Ini kamarku, kamu masuklah duluan. Mas akan menemani papa ngobrol sebentar," ucap Alex ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamar Alex.
Anes mengangguk, kemudian berkata ,"Ya udah mas pergi sana. Kalau mas udah pergi baru aku masuk,"
"Nggak! kamu yang masuk duluan sayang, baru mas pergi," sahut Alex keras kepala.
"Hah baiklah aku akan masuk duluan," ucap Anes sambil membuka handle pintu.
"Tunggu!" seru Alex.
Ia langsung menarik Anes dalam pelukannya dan mencium bibir Anes.
Rania yang kebetulan baru saja dari kamarnya melihat sepasang suami istri tersebut sedang berciuman. Rasa marah, kecewa dan sakit hati bercampur aduk dalam diri Rania. Matanya nanar dan penuh kebencian. Tak lupa tangannya sendiri menjadi pelampiasannya. Rania mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kemudian, ia pergi meninggalkan pemandangan yang sangat menyakitkan baginya tersebut.
"Kenapa? kenapa Lex? apa istimewanya perempuan itu sehingga kamu begitu tergila-gila sama wanita itu?" batin Rania dengan terus berjalan menuju tempat suaminya berada.
Alex dan Anes tidak menyadari keberadaan Rania yang memperhatikan mereka sesaat tadi. Mereka hanyut dalam aktivitas ciuman mesra mereka.
Kita lanjutkan nanti, tunggu mas ya? sudah sana masuk!" ucapan Alex ketiak menyudahi ciumannya.
__ADS_1
Anes langsung masuk ke dalam, sedangkan Alex menuju ke ruang keluarga lagi setelah memastikan Anes sudah masuk ke kamar.
๐ผ๐ผ๐ผ
Begitu sampai di ruang keluarga, Alex melihat Rania sudah berada di sana. Ia hanya menatap acuh kepada Rania.
"Sayang, kamu tidak keberatan kan kalau aku mengobrol empat mata dengan Alex?" ucap pak Arya yang menyadari ketidak nyamanan Alex atas keberadaan Rania di sana.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamar," sahut Rania yang merasa di usir secara halus oleh suaminya.
Kemudian, Alex dan pak Arya mengobrol berdua. Mulai dari masalah pekerjaan hingga kehidupan mereka masing-masing tak luput dari obrolan mereka. Alex juga membahas kondisi kesehatan pak Arya akhir-akhir ini sedikit tidak baik.
"Nak, apa tidak sebaiknya kamu dan Anes tinggal di sini saja? rumah ini terlalu besar untukku dan Rania. Pasti rumah ini akan lebih hidup jika kalian tinggal di sini. Apalagi nanti kalau kalian sudah memiliki anak," Pak Arya mencoba membujuk Alex supaya mau tinggal dengannya, walaupun ia tahu kalau Alex pasti akan menolaknya.
Benar saja, dengan tegas dan tanpa basa-basi Alex langsung menolak permintaan pak Arya.
"Aku tidak mungkin membiarkan Anes berada satu rumah dengan wanita itu," batin Alex.
"Apa karena Rania kamu menolak tinggal bersama papa lagi?" pak Arya menduga-duga alasan Alex menolak.
Alex diam. Ia tidak mengiyakan ataupun menyanggah ucapan pak Arya. Sehingga pak Arya menyimpulkan sendiri alasan Alex menolak.
"Ternyata kamu masih belum bisa menerima keberadaan Rania Lex. Harus berapa kali papa bilang, kalau mama kami akan tetap memiliki tempatnya sendiri di hati papa. Sampai kapan kamu akan membenci Rania?" pak Arya menghela nafasnya panjang.
๐ผ๐ผ๐ผ
Di sana, ia melihat ada photo Alex dengan ukuran yang cukup besar yang di pasang tepat di atas tempat tidur.
"ganteng sekali!" serunya dalam hati.
Dan di sudut lain, ia melihat ada photo Alex dengan mengenakan kaos basket. Ada juga photo yang memperlihatkan Alex sedang memegang gitar. Di kamar yang sangat luas tersebut juga terdapat beberapa lukisan terkenal yang Anes perkirakan harganya pasti sangat mahal.
"Ternyata mas Alex memiliki banyak bakat. Aku bahkan tidak tahu kalau dia bisa main basket."
Kemudian, setelah puas memandangi gambar sang suami, Anes duduk di di tepi tempat tidur dan mengambil sebuah photo yang di letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
__ADS_1
Di photo tersebut ada gambar pak Arya waktu masih muda bersama seorang anak laki-laki tampan yang di perkirakan oleh Anes itu adalah Alex waktu masih kecil dan juga seorang perempuan cantik.
"Ini pasti mamanya mas Alex." Anes menunjuk photo wanita cantik tersebut.
"Cantik sekali. Tidak heran jika mas Alex memilik wajah di atas rata-rata. Pasti karena perpaduan yang sempurna antara papa Arya yang sampai sekarang masih sangat terlihat dengan jelas kadar ketampanannya dan juga mama Widya yang sangat cantik. Tapi, sifatnya yang dingin, cuek dan datar terhadap orang lain itu menurun dari siapa ya?" Anes tampak berpikir keras mencari jawaban
"Papa Arya? nggak banget, beda jauh. Papa orangnya sangat ramah dan baik. Sepertinya, mustahil juga menurun dari mama Widya. Dari photo ini aja, udah kelihatan banget sifat lembut dan keibuannya. Atau, jangan-jangan mas Alex anak angkat?" ucapnya lagi sambil menutup mulutnya sendiri, tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Anes berbicara sendiri sambil memandangi photo tersebut. Tanpa ia sadari kalau Alex sudah berdiri tak jauh dari tempat Anes duduk dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam celananya. Ia hanya tersenyum gemas mendengar istrinya berbicara sendiri.
"Hiks, lalu bagaimana sayang kalau suami kamu ini sebenarnya memang anak angkat, dan tidak memiliki hak waris atas Parvis Group? apa kamu akan pergi meninggalkan mas?" ucap Alex dengan wajah memelas.
"Mas Alex!" Anes kaget mendengar suara Alex.
"Maaf mas, bukan begitu maksud aku. aku hanya asal bicara. Pasti mas anak kandung papa sama mama Widya kok. Walaupun seandainya mas anak angkat, aku tetap akan mencintai mas Alex dan tidak akan meninggalkan mas Alex. Percaya sama aku, aku mencintai mas Alex tulus apa adanya bukan karena ada apanya," ucap Anes dengan polos dan jujur tanpa dibuat-buat.
"Hiks, sebenarnya memang aku hanyalah anak angkat dari keluarga ini sayang," Alex menyandarkan kepalanya di bahu Anes.
"Apa? jadi ternyata benar? walaupun benar seharusnya tadi aku tidak bicara asal seperti itu, sehingga mas Alex tidak mendengarnya dan tidak mengingat-ingat fakta yang ada. Kenapa sih ni mulut asal aja kalau bicara." Anes merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Sudah mas enggak usah sedih. Yang penting kan papa sama mama, mereka sangat menyayangi mas Alex seperti anak mereka sendiri. Maaf karena ucapan ku mas Alex jadi sedih begini," ucap Anes sambil mengucap kepala Alex dengan lembut.
"Harusnya mas yang minta maaf sayang, karena seharusnya kan yang di jodohkan sama kamu anak kandung dari papa, bukannya aku hiks,"
"Ssst mas jangan bicara seperti itu, bagaimanapun, mas kan juga anak papa Arya. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu mas, aku tulus mencintai mas Alex."
"Hahahaha," tiba-tiba tawa Alex pecah memenuhi kamar tersebut.
"Kok malah tertawa sih? hanya karena mengingat fakta kalau dia anak angkat, tidak membuat mas Alex jadi gila kan?" batin Anes.
"Kamu percaya kalau aku anak angkat sayang? lihatlah, wajahku saja sangat mirip dengan mereka. Ketampanan suami kamu ini sudah jelas karena di wariskan oleh mereka. Tentu saja aku anak kandung mereka. Bagaimana bisa kamu berpikir sekreatif itu, berpikir kalau aku anak angkat. Lihat kan, aku sangat mirip dengan papa sama-sama ganteng. Ya, walaupun aku lebih ganteng sih," ucap Alex dengan bangga.
"Dasar!" Alex menyentil jidat Anes.
"Ah mas Alex ngerjain aku ya? aku pikir mas beneran anak angkat tahu! aku udah baper dan merasa bersalah karena tadi bilang kalau mas anak angkat dan ternyata mas mendengar dan membenarkan. Jahat deh!" Anes memukul-mukul dada Alex.
"Hehehe maaf-maaf, mas cuma bercanda," Alex menarik Anes ke dalam pelukannya.
" Ish dasar! O ya, kenapa mas sudah kembali ke kamar? tadi katanya mau ngobrol-ngobrol dulu sama papa," tanya Anes.
"Karena mas kangen sama istri mas yang menyebalkan ini," sahut Alex sambil memencet hidung Anes.
__ADS_1
Kemudian, Alex langsung merebahkan tubuh Anes dan menarik selimut untuk menutupi mereka berdua. Dan apa yang terjadi di balik selimut yang terus bergerak tersebut? Tentu saja, Alex meminta jatah satu Minggu full yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
๐ผ๐ผ๐ผ