MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 94


__ADS_3

"Pyok!" seseorang menyiram Anes dengan kasar menggunakan jus strawberry yang ada di depan Anes sebelum Anes menyelesaikan ucapannya. Sontak Anes langsung berdiri karena kaget.


"Dasar wanita penggoda tidak tahu diri!" hardik seorang wanita yang menyiram Anes tersebut. Dia menggandeng seorang anak kecil bersamanya.


"Hei! apa-apaan Anda? datang main siram dan ngatain temen saya? situ waras?" umpat Amel kepada wanita tersebut.


"Diam! kamu jangan ikut campur urusan saya dengan teman kamu yang Seorang penggoda suami orang ini!" sahut wanita tersebut dengan nada tinggi.


Anes masih terlihat syok dengan perlakuan yang baru saja di terimanya. Setelah beberapa saat ia bisa menguasai dirinya kembali.


"Maksud Anda apa berkata seperti itu? atas dasar apa Anda mengatakan saya menggoda suami Anda dan siapa suami Anda?" tanya Anes sambil mengelap mukanya menggunakan tisu yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya. Anes merasa tidak nyaman dengan wajah dan rambutnya yang lengket akibat siraman jus strawberrinya.


"Jangan pura-pura bodoh kamu! dasar wanita ******! kamu itu cantik, kamu bisa mendekati laki-laki manapun yang kamu mau, tapi kenapa harus menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang?" suara wanita tersebut bisa terdengar jelas sampai ke setiap sudut cafe. Anak kecil yang di gandengannya sampai ketakutan mendengar kemarahan wanita tersebut. Sungguh hal yang memalukan bagi Anes dan Amel saat itu.


"Orang ketiga dalam rumah tangga orang? nggak mungkinkan ini istrinya mas Alex? Tapi sepertinya wanita dan anak ini tidak terlalu asing buatku," batin Anes.


"Nona, jaga sikap dan mulut Anda! jangan sembarangan kalau menuduh!" Amel tak kalah kerasnya dengan wanita tersebut.


"Saya bilang kamu tidak usah ikut campur urusan saya sama dia!" menunjuk muka Anes dengan jari telunjuk dan muka garang.


"Nona, kenapa dari tadi Anda menuduh saya menjadi seorang penggoda? apa maksudnya semua ini? dan tolong pelankan suara Anda, lihatlah kita menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung cafe ini," Anes masih berusaha setenang mungkin, walaupun sebenarnya dalam hatinya ia terus merutuki wanita yang ada di depannya tersebut.


Wanita tersebut mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut cafe dan benar saja, para pengunjung cafe memperhatikan mereka sambil bisik-bisik.


"Kenapa harus malu? menjadi pelakor saja tidak malu kok. Biar semua yang ada di sini mendengar kalau wanita yang ada di depan saya ini adalah seorang pelakor. Hah predikat yang sangat cocok bukan? buat seorang wanita yang menjadi kekasih suami dan ayah orang lain? lihat! ini adalah anak kandung Dimas, darah daging Dimas! Apa kamu tidak punya perasaan sehingga tega menjadi selingkuhan suami saya ha?" ucap wanita tersebut menggebu-gebu.


Mendengar kata Dimas, membuat Anes bisa menangkap situasi yang ada saat ini. Ya, wanita di depannya ini salah sasaran. Anes dikiranya adalah Amel dan ternyata benar Dimas sudah memiliki seorang istri dan juga anak.


Sementara Amel seperti di sambar petir di siang bolong, mendengar penuturan wanita tersebut. Tenggorokannya tercekat hingga tidak bisa berkata-kata. Apakah benar wanita di depannya ini adalah istri Dimas kekasihnya? kalau benar, berati selama ini Dimas sudah membohonginya dan lebih parahnya lagi selama ini berati dia menjadi seorang pelakor tanpa ia sadari. Itu yang berkecamuk dalam pikirannya saat ini. Bahkan untuk menangis rasanya ia belum bisa karena terlalu syok.


" Jadi wanita ini kira aku adalah Amel, sepertinya dia tidak memiliki informasinya gadis lengkap tentang siapa sebenarnya kekasih suaminya itu,pantas aku seperti pernah melihatnya, jadi dia wanita yang waktu itu bersama Dimas?" batin Anes.

__ADS_1


"Tidak! tidak bisa membiarkan wanita ini terus menuduh Anes, karena sebenarnya yang menjadi sasaran kemarahannya adalah aku," batin Amel.


"Nona sebenarnya Anda salah, bukan di pacar Dimas tapi,,,,"


"Ya, saya memang kekasih Dimas!" Anes memotong kalimat Amel. Anes tahu bagaimana perasaan Amel saat ini, biar dia yang menjadi kambing hitam di sini.


"Tapi ne,,,,," lagi-lagi kalimat Amel di potong oleh Anes. Ia menggelng-gelengkan kepalanya kepada Amel.


"Oh jadi kamu mengakui kalau kamu adalah seorang pelakor? ha? apa segitu tidak lakunya kamu sampai laki-laki yang sudah beristri saja kamu dekati? dasar tidak tahu malu!"


"Dengar penjelasan saya dulu," ucap Anes.


"Apa? apa yang mau jelaskan, sudah ketahuan masih saja mencoba membela diri!"


"Saya tidak membela diri, tapi kenyataannya adalah saya memang tidak bersalah. Selama ini Dimas selalu bilang kalau dia masih lajang dan belum memiliki istri apalagi anak. Saya tidak tahu kalau dia membohongi saya. Jadi seharusnya Anda menjaga suami Anda itu dengan baik, biar tidak mencari wanita lain di luar. Atau mungkin memang sudah watak suami Anda seperti itu? Saya minta maaf atas ketidak tahuan saya selama ini. Tapi, percayalah! saya tidak tertarik sama sekali sama suami orang apalagi ingin merebutnya. Kalau dari awal saya tahu Dimas sudah punya istri, saya juga tidak sudi ia dekati!" ucap Anes panjang lebar.


"Hah kamu bodoh atau bagaiman? apa Dimas tidak terlihat sudah memiliki istri? apa kamu tidak bisa membedakan mana laki-laki yang sudah menikah dan belum?"


"Hah kamu terlalu banyak bicara! Aku tidak peduli, yang jelas kamu adalah orang ketiga dalam rumah tanggaku. Sepertinya jus tadi tidak cukup, kamu harus diberi pelajaran!" wanita itu melayangkan tangannya ke udara hendak menampar Anes. Namun, sebelum mendarat di pipi Anes, tangannya sudah di cegah oleh seseorang.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya seseorang yang memegang tangan wanita itu yang tak lain adalah suaminya sendiri, Dimas.


"Aku hanya ingin kasih wanita ini pelajaran supaya berhenti mengganggu rumah tangga kita!" sahut wanita itu.


"Gawat! sepwrtinya istriku salah sasaran! bagaimana ini, kalau pak Alex tahu bisa berimbas ke perusahaanku yang tidak ada apa-apanya dengan Parvis Group. Cari mati apa ha?" batin Dimas. Dia merasa cemas karena istrinya cari masalah dengan istri pimpinan Parvis Group.


"Apa kamu tidak tahu siapa dia?" tanya Dimas.


"Ya, aku tahu dia kan wanita penggoda yang menjadi selingkuhan kamu selama ini?"


"Bodoh! dia bukan selingkuhanku tapi dia adalah istri dari Tuan Alex pimpinan Parvis Group!"

__ADS_1


"Apa? tidak mungkin!" wanita tersebut tercengang tak percaya. Dia baru saja mencari perkara dengan istri seorang pengusaha besar dan sangat berpengaruh.


"Anes, aku minta maaf atas perlakuan istriku, dan Amel nanti aku akan jelaskan semua sama kamu," ucap Dimas melihat ke arah Anes dan beralih ke arah Amel yang kini sudah di banjiri air mata tapi masih belum bisa berkata-kata.


"Dim, cepat bawa pergi istri kamu dari sini! Kasihan anak kamu, tidak seharusnya dia melihat semua ini. Dan kamu! jangan pernah menampakkan wajah kamu lagi di depan Amel. Atau aku akan buat perhitungan sama kamu!"


"Sekali lagi aku minta maaf Nes,"


"Seharusnya kamu minta maaf sama Amel, bukan sama aku!"


"Aku tahu, ini semua salahku. Aku minta maaf , Aku bisa jelasin semuanya sama kamu Mel."


"Cukup Dimas! Cepat pergi dari sini! aku tidak mau lihat wajah kamu lagi!"


"Tapi Mel?"


"Pergi!" Amel mengacungkan jari telunjuknya untuk mengusir Dimas.


"Oh jadi kamu Amel yang sebenarnya? dasar...."


"Cukup! ayo kita pulang dan selesaikan masalah ini di rumah! Kamu melakukan semua ini di depan anak kamu, apa kamu.tidak waras hah?" Dimas menggendong anaknya dan menarik tangan istrinya.


"Aku hanya ingin kasih dia pelajaran Dim," ucap wanita itu yang tertatih jalannya mengikuti langkah seribu Dimas.


"Diam, aku yang salah, bukan dia!" sahut Dimas dengan terus berjalan meninggalkan Anes dan Amel.


"Apa? dia istri pimpinan Parvis Group? gawat! aku harus minta maaf padanya, kalau tidak perusahaan Dimas bisa kena masalah, dan bagaiman dengan masa depanku dan anaknya?"


"Dim, tunggu aku mau minta maaf sama dia!"


"Tidak perlu, meminta maaf pun akan sia-sia kamu sudah sangat tidak sopan dan bersikap arogan sama dia. Suaminya sangat mencintainya jadi pasti dia tidak akan tinggal diam jika tahu istrinya di perlakukan seperti itu. Berdoa saja semoga dia masih bermurah hati dengan tidak menghancurkan perusahaan ku yang tidak ada apa-apanya di banding Parvis Group,"

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2