
Karena waktu sudah lewat jam makan siang, akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di restoran tkyang letaknya dekat dengan rumah sakit.
Amel tidak ikut makan di sana, ia hanya membungkus makanannya dan kembali ke rumah sakit. Amel ingin makan siang sambil menemani David.
Amel masuk ke ruang perawatan David dengan menenteng paper bag berisi makan siangnya. Dilihatnya David sedang memejamkan matanya.
Amel meletakkan paper bag itu dibatas meja, lalu ia mendekati David yang entahlah dia beneran terlelap atau hanya sekedar memejamkan matanya saja.
Dipandanginya terus wajah laki-laki yang baru saja melupakannya tersebut. Tak henti-hentinya Amel bersyukur karena dapat melihat kekasihnya masih hidup.
Amel mendekatkan wajahnya ke arah wajah David, ia ingin mencium pipi David, tapi David keburu membuka matanya sebelum Amel berhasil mendaratkan sebuah ciuman di pipinya. Untuk beberapa detik, mereka bersitatap dengan Amel membulatkan matanya karena merasa terciduk oleh David.
"Amel! Apa yang kamu lakukan?" tanya David sedikit gugup, mengingat posisinya kini sahabat dekat dengan Amel.
"Aku cuma mau mastiin, kamu tidur beneran atau tidak. Takutnya koma dan nggak bangun lagi," jawab Amel asal. Kalau dia jujur bilang mau mencium David, pasti David akan marah, pikirnya.
"Saya cuma ketiduran, dan masih tetap hidup! Jauhkan wajahmu dariku!" David melengos tidak ingin menatap wajah Amel terlalu lama.
Amel langsung menjauh dari David.
"Ih, kalau kayak gini mending kamu koma lagi deh Dave, biar aku bisa cium kamu sepuasnya," gumam Amel.
"Apa kamu bilang?" David mengernyitkan dahinya.
"Ah enggak kok, nggak apa-apa hehe. Kamu lanjut aja tidur nggak papa aku mau makan siang dulu," ucap Amel.
David kembali mengernyitkan dahinya mendengar Amel memanggilnya hanya aku kamu.
Amel mengerti arti perubahan ekspresi wajah David.
"Ah terserah kamu ya Dav, mau bilang aku nggak ada sopan-sopannya sama kamu karena bicara tidak formal atau apalah, yang jelas aku udah nyaman dengan itu, kamu sendiri yang memintaku buat bicara secara bebas sama kamu, secara kamu itu pacar aku, ya walaupun sekarang kamu sedang lupa sih, tapi aku tidak peduli, dan berhenti menatapku seperti itu ketika aku bicara informal kepadamu. Sorry aku tidak menerima protes! Aku mau makan, lapar, ingat nggak kalau aku lapar, otakku suka nggak fokus, ah sudahlah pasti kamu juga hal itu," ucap Amel lalu duduk di sofa dan mengambil makanan yang ada di dalam paper bag.
David hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Amel. Apalagi ketika melihat Amel makan dengan lahapnya, bagaimanapun juga ini adalah kali pertama Amel merasa berselera untuk makan, sebelumnya ia tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Kalau tidak berpikir untuk bertahan hidup, mungkin dia tidak akan makan.
"Yakin dia pacarku? Gadis seperti itu? Atau mungkin mereka mau mengerjai ku? Hah benar-benar tidak lucu," batin David.
"Lebih baik kamu pulang saja Mel, daripada di sini tapi berisik," ucap David kemudian.
"Nggak mau!" tolak Amel dengan tegas.
"Nanti pacarmu marah, kalau tahu kamu di sini nungguin saya," ucap David.
"Berapa kali aku harus bilang Dave? Pacarku itu kamu, hati-hati tuh mulut bicara nanti aku punya pacar lain beneran, baru tahu rasa kamu," sahut Amel.
"Pacarmu Dimas kan? Kenapa bisa jadi aku? Aneh!" ucap David.
"Nih orang ya, kalau nggak ingat baru sadar dari koma udah aku perkosa kamu Dave, bikin esmosi aja. Dengar baik-baik dan coba di ingat, aku udah putus lama sama Dimas, bahkan kamu yang menghiburku waktu itu Tuan Davidku sayang," ucap Amel di telinga David dengan penuh penekanan dalam kalimatnya.
"Mel,"
"Apa?"
"Mulutmu, minta di ruwat sepertinya," ucap David.
"Dengan bibirku kan Dave, ngeruwatnya?" balas Amel sambil tersenyum menggoda, membuat buku kuduk David berdiri.
"Ada ya wanita seperti ini," batin David.
"Semoga aku bisa sabar menunggu ingatanmu Dave, kalaupun kamu nggak ingat, aku akan buat kamu jatuh cinta ke dua kalinya sama aku, dan aku pastikan saat kamu ingat ataupun jatuh cinta padaku lagi, kamu akan lebih bucin lagi dari sebelumnya," batin Amel yang kini sudah kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makan.
๐ผ๐ผ๐ผ
Di restoran..
Sambil menikmati makan siang yang udah telat waktunya tersebut, Alex dan lainnya bercengkerama sambil bercanda ria, rasanya ia lega sekali karena David sudah sadar, beban dalam dirinya seakan berkurang, membuatnya bisa bernafas lega.
"Aku masih penasaran deh, tadi kamu apain David Jun?" tanya Anes.
Ada deh pokoknya, rahasia yang penting kan berhasil," sahut Juna bangga.
"Ck.dasar, tapi terima kasih Jun, apapun yang kamu lakukan secara tidak langsung membuat David mau membuka matanya.
"Terima kasih aja nih Lex? Nggak terima cek gitu?" canda Juna.
__ADS_1
"Dasar perhitungan amat jadi teman," Brian menjitak kepala Juna.
"Usaha Bray,"
"Usaha, usaha punya banyak perusahaan masih aja mata duitan," sarkas Brian.
"Tapi nggak sebanyak milik Alex Bray, siapa tahu dia mau ngasih satu anak perusahaannya buatku,"
"Nyebut Jun, nyebut! harga nggak di bawa mati, kalau udah koma kayak David kemarin mau apa? tinggal nunggu panggilan kan? beruntung David bisa sadar," ucap Baim.
"Panggilan apa Im?" tanya Juna.
"Panggilan Tuhan," jawab Alex Brian dan Baim serentak.
"Ih, amit amit jabang bayi," ucap Juna sambil mengetuk-ngetuk kepala dan beralih ke meja di depannya.
"Udah-udah kalian ini ribut aja, tapi yang jelas terima kasih banyak Jun, mungkin juga kebetulan sih tadi kamu pas di sana, mungkin juga David embah waktunya sadar," ucap Anes.
"Benar banget tuh," timpal Brian.
"Apapun itu, aku akan kasih kamu tiket honeymoon kemanapun kamu mau pergi kalau kamu nikah nanti Jun," ucap Alex.
"Beneran Lex? sekalian biaya pestanya ya?"
"Ya elah Jun, di kasih hati minta jantung!" hardik Brian.
"Usaha Bray, usaha," lagi-lagi kata-kata khas Juna keluar dari mulutnya.
"Tidak masalah," balas Alex.
"Yes! kawin kawin!" ucap Juna kegirangan.
"Nikah Jun, bukan kawin!" Baim mengingatkan.
"Tapi pertanyaannya, siapa yang mau nikah sama kamu Jun? udah ada calonnya?" tanya Anes
"Belum hehe," semua yang ada di sana pun terkekeh.
"Nikah sama kambing sana, yang penting kan perempuan," celetuk Brian.
"Calonnya akan segera ku temukan, lihat saja nanti! eh Lex, Evelyn tadi boleh juga, minta nomor hapenya dong," ucap Juna.
Anes langsung melihat ke arah Alex dengan tajam.
"Mas nggak punya nomornya sayang, jangan cemburu," ucap Alex yang sudah merasa auara-aura tidak mengenakkan dari Anes.
"Emang apa hubungan kalian sebelumnya? kenapa Anes harus cemburu?" tanya Juna.
"Diam dan lanjutkan makan! jangan banyak bicara lagi,"" ucap Alex dingin.
Juna, Brian dan Baim hanya saling melempar pandang dan mengangkat bahu mereka masing-masing.
๐ผ๐ผ๐ผ
Rumah sakit...
Tok tok tok," Permisi tuan, saya membawakan obat untuk tuan, setelah ini Anda bisa meminumnya," ucap perawat yang baru saja masuk.
"Hem," sahut David singkat. Amel hanya memperhatikannya dari sofa.
"Nona Amel pasti senang ya, kekasihnya sudar sadar dan tinggal menunggu pilih," ucap perawat menoleh ke arah Amel.
"Hehe iya sus, tentu saja saya sangat bahagia," sahut Amel sambil tersenyum.
"Dia bukan pacar saya sus, jangan asal bicara," David masih belum bisa terima di katakan pacar Amel.
"Bagaimana mungkin tuan? Jelas-jelas nona Amel yang selalu menunggui Anda selain tuan muda Parvis.
"Suster bisa keluar kalau sudah selesai, nanti obatnya akan saya minum," ucap David tidak ingin basa-basi.
"Eh iya tuan, maafkan saya yang lancang,"
"Udah sus, otaknya emang sedang sedikit bermasalah, suster pergi saja, daripada nanti di makan sama dia," Amel menunjuk ke arah David.
__ADS_1
Perawat itu pun langsung pergi karena ngeri mendengar perkataan Amel.
"Mel,"
"Apa lagi Dave?"
"Pulang sana, di sini hanya bikin rusuh aja,"
"Nggak mau! dan tidak terima protes!"
"Terserahlah!" David memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Di minum obatnya Dave," Amel sudah berdiri di samping ranjang David.
"Nanti saja," jawab David tanpa menoleh.
"Aku tahu kamu paling nggak bisa minum obat kan? Mau aku bantu?"
"Caranya?" tanya David yang kini sudah melihat kearahnya.
"Dengan ini," Amel menunjuk bibirnya sendiri sambil menyeringai.
"Dasar stres!" umpat David.
"Siapa yang stres pak David?" tanya Anes yang baru saja masuk bersama Alex. Sedangkan tiga sahabatnya langsung pamit setelah makan dan tidak kembali ke rumah sakit lagi.
"Eh nona, bos. Nona bisa minta tolong tidak?"
"Minta tolong apa pak David?"
"Ajak Amel pulang," jawab David.
"Tapi pak David,"
"Tolong nona, saya hanya ingin istirahat, bos ajak nona pulang, sekalian bawa Amel," ucap David.
"Segitunya kamu nggak mau lihat aku Dave," batin Amel merasa sakit di dadanya. Namun dengan segera ia menyembunyikan kesedihannya.
"Oke, oke aku akan pulang Dave, tapi kamu harus minum obat dulu, sini aku bantu," Amel mengambil air putih dan obat di atas nakas.
David langsung ingat tadi Amel bilang akan membantunya menggunakan mulutnya, sontak ia langsung menutup mulutnya sendiri.
"Kau kenapa Dave?" tanya Alex.
"Tidak apa-apa bos, Mel biar nanti saya minum sendiri obatnya," ucap David.
"Tidak usah panik gitu, aku tidak akan meminumkannya melalui mulutku seperti waktu itu, aku hanya mau bantu menggerus obat ini supaya kamu bisa meminumnya," balas Anes.
Alex dan Anes saling menatap mendengar ucapan Amel.
",Dulu Amel pernah meminumkan obat dengan cara seperti itu ya," Anes tersenyum membayangkannya.
"Jangan dengarkan dia nona, dia hanya omong kosong," ucap David.
Anes dan Alex hanya terkekeh mendengarnya.
"Cepat buka mulutmu dan minum," pinta Amel yang sudah selesai menggerus dan memberi sedikit air ke obat yang ada di sendok.
"Cepat Dave, nurut saja!" pinta Alex.
"Karena bos yang menyuruh maka aku lakukan," ucap David yang langsung membuka mulutnya.
"Udah sana pulang!"
"Iya, iya! yuk Nes kita pulang," ajak Amel setelah mengambil tasnya di sofa.
"Jangan galak-galak sama Amel Dave, nanti kalau ingatanmu udah pulih dan Amel udah nyerah saat itu, baru nyahok kamu," bisik Alex sebelum ia meninggalkan David.
David mengernyit, dari mana bosnya itu menemukan kata nyahok yang menurutnya aneh tersebut. Sepertinya David harus bertanya sama Mbah Google setelah itu, tapi ngomong-ngomong di mana ponselnya? David celingukan mencari ponselnya yang ternyata di bawa oleh Amel.
"Aku pulang dulu antar mereka pulang, nanti malam aku ke sini lagi," ucap Alex sebelum membuka pintu untuk keluar.
"Hem," sahut David.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ
๐ Ayo ayo vote vote vote๐๐๐๐