
Anes terlihat sedang berdiri di balkon kamarnya. Semenjak David membawa Amel pergi dari acara reuni tadi, Anes berusaha menghubungi Amel dan David namun tidak di jawab. Bagaimanapun juga, ia merasa khawatir dengan mereka, apalagi jika ingat ekspresi David tadi di sana, membuat Anes menggedikkan bahunya.
Alex yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu untuk ibu hamil menyusulnya ke balkon.
"Sayang, ayo masuk! Mas udah buatin susu buat kamu. Jangan melamun di sini, mikirin apa sih istri mas ini?" Alex meraih dan memegang kedua tangan Anes.
"Aku kepikiran Amel sama Abang mas, dari tadi aku hubungi mereka nggak di angkat," ucap Anes.
"Udah nggak usah di pikirin, mereka pasti akan segera menyelesaikan masalah mereka. David tidak akan menyakiti Amel, apalagi sekarang ingatannya udah pulih," jelas Alex.
"Mas serius? Kok aku nggak tahu sih, kenapa kalian nggak kasih tahu aku kalau Abang sudah sembuh, jahat deh,"
"Hehe maaf maaf, mas belum sempat kasih tahu kamu. Udah ya? Sekarang tidur, kasihan anak kita, pasti juga capek mau bobok. Iya kan sayang? Maaf ya Daddy akhir-akhir ini sibuk jarang ada waktu buat kamu," Alex mengusap-usap perut Anes.
"Iya Daddy, dedek kangen tahu, Daddy nggak pernah mendongeng buat dedek lagi," balas Anes dengan menirukan suara anak kecil.
"Oh, anak Daddy kangen ya? Mau ketemu Daddy? Baiklah, dengan senang hati, Daddy akan mengunjungi kamu sayang," Alex langsung membopong tubuh Anes.
"Mas ih turunin!" Anes menepuk-nepuk bahu Alex.
Alex mendudukkan Anes pelan di tepi tempat tidur. Ia mengambil susu yang tadi ia buat.
"Ini minum dulu, baru mulai," ucap Alex.
"Mulai apa mas?" Anes tak mengerti.
"Katanya tadi kangen sama mas?" ucap Alex dengan senyum menggoda.
"Bukan gitu maksudnya, mas mah gitu. Apa-apa langsung nyangkutnya ke arah sana, bisa nggak pikiran tuh jernih sedikit, nggak buthek yang isinya ngamar terus,"
"Lah tadi bilang dedek kangen bukannya kode ya sayang?"
"Kode apa mas? nggaklah! Aku capek mas," balas Anes sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Kalau kamu capek, biar mas aja yang main, kamu diam aja gimana?" goda Alex. Ia mulai mendaratkan tangannya di dada Anes.
"Mas Alex! Jangan buat aku berdosa karena menolak,"
__ADS_1
"Hehe bercanda sayang, mas tahu kamu capek. Udah ah! ayo tidur," Alex merebahkan Anes dan menarik selimut menutupi kaki Anes.
Alex naik ke tempat tidur, dan langsung memeluk Anes.
"Dongeng dong mas buat anak kita," pinta Anes. Ya, kebiasaan baru Alex dimana ia harus mendongeng si perut Anes sebelum tidur.
"Em baiklah," Alex menggeser badannya sehingga wajahnya mendekat ke perut Anes dan mulai mengelus perut Anes dan mengajak anak yang ada dalam kandungan Anes bicara. Lalu ia mulai mendongeng hingga Anes terlelap.
Alex memandangi wajah sang istri yang menurutnya semakin hari semakin cantik saja seiring bertambahnya usia kandungannya, ia tersenyum lalu mengecup kening Anes.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya...
Alex bangun terlebih dahulu, Dilihatnya Anes masih pulas. Malah wanita tersebut semakin meringkuk menikmati alam mimpinya. Alex tidak membangunkannya, ia hanya membenarkan selimut yang menutupi Anes lalu pelan-pelan turun dari tempat tidur.
Setelah membasuh muka, Alex menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan buat Anes.
"Itu pak Alex ngapain bi di dapur?" tanya Dila yang tidak sengaja melihat Alex di dapur.
"Oh, itu nona. Tuan muda sedang memasak, membuatkan sarapan untuk nyonya muda," jawab bibi.
"Bukan begitu nona, itu memang kebiasaan tuan muda sejak dulu, kalau ada waktu luang beliau akan masak buat nyonya muda. Bukan nyonya muda yang menyuruhnya. Biasanya juga nyonya yang masak buat tuan. Tuan muda bukannya suami yang takut istri, tapi beliau memang seperti itu, tipe suami idaman kalau menurut bibi mah, beliau itu selalu memanjakan nyonya, apalagi saat ini nyonya sedang mengandung calon pewaris keluarga Parvis. Tapi nyonya muda juga tahu hak dan kewajibannya sebagai istri. Bahkan nyonya muda juga memanjakan tuan muda dengan cintanya. Selalu bisa menempatkan diri untuk tuan muda, istri idaman lah pokoknya. Mereka itu sangat manis sekali satu sama lain, saling mencintai. Pelakor mah lewat, tidak akan mampu mematahkan cinta mereka," ucap bibi panjang lebar sambil melirik tidak suka dengan Dila yang sudah menjelek-jelekkan Anes.
"Lagian biasanya kalau kayak gini, nyonya pasti kecapean makanya belum bangun. Ya, capek di buat oleh tuan muda pastinya tadi malam, maklum mereka itu selalu romantis, bibi aja suka iri lihatnya. Tuan muda bukan hanya memanjakan nyonya dari segi materi, tapi juga dengan cinta yang luar biasa, " lanjut bibi berniat bikin Dila tambah meradang dan iri.
Dila hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan bibi, kenapa semua orang memuji Anes sih pikirnya.
Dila melangkah hendak menuju ke dapur namun di cegah oleh bibi.
"Nona mau kemana?" tanya bibi cepat.
"Ambil minum!" jawab Dila sewot.
"Sebaiknya kalau tuan muda sedang di dapur, nona jangan ke sana, jangan ganggu beliau. Atau nona akan menerima kemarahan tuan muda," bibi memperingatkan.
"Huh!" gumam Dila, ia tak jadi pergi ke dapur dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Ih dasar, tanda-tanda bibit pelakor! Mau jadi parasit? di pikir gampang apa buat merebut hati tuan muda? Yang ada di bikin peyek situ sama tuan," batin bibi sambil menatap jengah punggung Dila yang menjauhinya.
Tak lama kemudian, Anes menyusul Alex di dapur. Di lihatnya Alex telah selesai membuat sarapan.
"Maaf mas, aku telat bangunnya. Kenapa mas nggak bangunin aku tadi?" ucap Anes merasa bersalah.
"Mas sengaja nggak bangunin kamu sayang, kamu pules banget, sampai anak kita gerak-gerak aja kamu nggak bangun," ucap Alex tersenyum. Ia melepas celemek khusu miliknya dan mengajak Anes sarapan.
"Bi, tolong buatin sarapan buat Dila dan antar ke kamarnya ya," pinta Anes.
"Baik nyonya,"
"Tumben, biasanya kamu ngajak dia makan bareng?" tanya Alex.
"Kalau Dila aku ajak makan bareng, dan dia mau, pasti mas langsung pergi," jawab Anes.
"Lagian aku nggak mau berbagi masakan mas sama perempuan lain, apalagi berbagi suami, jangan harap!," Sambung Anes. Ia ingin lebih waspada terhadap gadis bernama Dila tersebut.
Alex senang karena sepertinya Anes sudah mulai paham akan situasi yang ada di rumah tersebut.
"Kalau tak ingin berbagi, kenapa nggak suruh angkat kaki saja dari sini?"
"Pikirin perasaan Abang mas, baru juga dia mau happy-happy jangan ganggu usik pikiranny dulu,"
"Aku yakin, benteng cinta mas buat aku tak serapuh itu untuk di terobos wanita lain," lanjut Anes tersenyum.
"Sayang,"
"Hem?" mengalihkan pandangan dari piring di depannya ke wajah suaminya.
"Makin cinta deh!"
"Aku juga," balas Anes sambil mengedipkan satu matanya menggoda Alex.
"Astaga! Mancing nih! Sarapan mas ganti aja ah. Ke kamar yuk!" Alex balik menggoda Anes.
Mereka pun terkekeh bersama sambil menikmati sarapan dan saling mengobrol.
__ADS_1
🌼🌼🌼