
"Nona Anes, apakah Anda baik-baik saja?" David segera bertanya kepada Anes ketika hanya tinggal dia, Amel dan Anes disana.
"Eh iya saya baik-baik saja, pak David jangan khawatir," jawab Anes.
"Baiklah kalau begitu saya permisi Nona" pamit David.
"Eh tunggu pak David!" Anes menghentikan David yang baru 2 langkah meninggalkannya dan Amel.
"Iya Nona?" David berhenti dan menoleh kearah Anes.
"Tolong jangan bilang sama pak Alex masalah tadi, aku tidak ingin dia marah atau khawatir," pinta Anes.
"*K*alau mas Alex tahu bisa berabe!" batin Anes.
"aAkan saya usahakan, tapi saya tidak janji Nona," jawab David sambil tersenyum lalu melangkahkan kakinya kembali dengan tangan ia masukkan ke saku celana.
"Pak David, pleaseeee!" Anes sedikit berteriak.
David tidak menanggapinya, ia hanya mengangkat kedua bahunya dan terus berjalan.
"*Ha*h, percuma juga memohon padanya, dia pasti akan lebih memilih mengatakannya pada mas Alex apalagi itu masalah yang menyangkut bosnya itu," desah Anes dalam hati.
Sementara Amel, sejak kejadian ia di tahan pak David agar tidak jatuh tadi, hanya diam dan terus menatap David dengan kagum hingga pria itu menghilang dari pandangannya. Ia kehilangan kata-kata, menurutnya apa yang dilakukan pak David tadi itu sangat keren.
"Ayo Mel" ajak Anes, namun Amel masih diam melamun menatap jejak yang di lalui pak David.
"Ehem!" Anes berdehem dan membuat Amel sadar dari lamunannya.
"Eh apa Nes?"
"Cieeee, biasa aja kali nngelihatinnya Mel, sampai mau lepas gitu tu mata. Bay the way any way busway, dia masih jomblo loh Mel" goda Anes.
"Sumpah keren banget pak David, serius dia jomblo?" tanya Amel.
Anes menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Pas kan, kalian sama-sama jomblo, cocok!"
"Eh siapa bilang sekarang aku jomblo?" sahut Amel.
"Maksud kamu? kamu punya pacar?" tanya Anes penasaran.
"Yups, lebih tepatnya baru jadian sama Dimas" jawab Amel ceria sambil berjalan.
"Serius kamu Mel, aaahhh selamat Amel sayang, akhirnya nggak sia-sia perjuanganmu menunggu Dimas selama ini buat nembak kamu, kapan kalian jadian kok nggak bilang-bilang sih?" Anes mensejajarkan langkahnya dengan Amel menuju ke lift.
__ADS_1
"Baru beberapa hari yang lalu, dan belum sempat kasih tahu kamu Nes," timpal Amel.
"Sekali lagi selamat ya Mel, aku ikut senang, semoga Dimas yang terbaik buat kamu dan bisa bahagiain kamu, jangan lupa pajak jadiannya" Anes memeluk Amel.
"*W*alaupun sebenarnya aku merasa tidak yakin kalau Dimas itu laki-laki yang baik, tapi semoga perasaanku salah," batin Anes.
"Terima kasih Anes sayang, semoga kamu juga bahagia terus bersama pak Alex," balas Amel.
" Yah, padahal aku tadinya mau comblangin kamu sama pak David, tapi nggakpapa yang penting kami bahagia."
"Belum tentu juga kan pak Davidnya mau Nes, kalau dia mau sama aku mah, aku nggak nolak," ucap Amel.
"Ya, terus Dimasnya mau dikemanain Oneng?"
"Bercanda kali Nes, aku nggak serakus itu, meskipun pak David ganteng tapi aku setia sama satu laki-laki, lagian pak David tu sebelas dua belas sama pak Alex, dingin dan cuek sama perempuan," sahut Amel.
"Iya juga sih," timpal Anes.
"Tapi mas Alex ada sisi romantisnya yang tak terlihat publik sih," batin Anes sambil senyum-senyum.
Akhirnya, mereka mengakhiri obrolan mereka dan berpisah menuju ruang kerja masing-masing.
🌼🌼🌼
"Kring...kring" telepon yang terhubung langsung dari ruangan Presdir berbunyi.
"Keruangan saya sekarang!"
"Baik Pak," Anes meletakkan gagang teleponnya dan beranjak menuju ruang Presdir.
Anes membuka pintu ruangan Alex, dilihatnya disana sudah ada David yang berdiri di samping meja kerja Alex, sementara Alex duduk di kursi kebesarannya, dengan wajah serius, sambil memainkan bolpoin yang di pegangnya.
Ia menghampiri Alex dengan melirik curiga kearah David. David yang merasa di di lirik tajam oleh Anes pun hanya diam dengan wajah datarnya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Anes, sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab, jelas-jelas tadi Alex menelepon dan menyuruhnya ke ruangan Presdir.
"Apa ada masalah?" Alex membalas pertanyaan Anes dengan sebuah pertanyaan juga. Ia tampak serius dan ada sedikit kekesalan diwajahnya.
"*P*asti dia sudah bilang, huft dasar ember!" batin Anes sambil melirik David kesal.
"Mmm semuanya baik-baik saja Pak," jawab Anes setenang mungkin.
"Kamu yakin? apa mereka menyakitimu? apa kamu ada yang luka?" Alex tampak khawatir.
__ADS_1
"*L*uka?maksudnya?"
"Tidak Pak, saya baik-baik saja, sangat baik tidak sakit apalagi terluka sedikitpun."
"Tapi, tadi David bilang mereka menyerang kamu dan menuduhmu yang bukan-bukan."
"*H*ei, apa sih yang dikatakan si jomblo itu, luka? apa dia bilang aku adu tinju sama mereka?" lirikan Anes semakin tajam. David merinding melihatnya, seolah-olah lirikkan itu mampu membunuhnya.
"Tidak mas, mereka hanya salah paham saja, dan semua sudah baik-baik saja, percaya sama aku" ucap Anes yang sudah tidak memakai bahasa formal lagi. Toh disana hanya ada mereka bertiga pikirnya.
"Kamu yakin? aku akan memecat mereka karena berani menyebar gosip dan menuduhmu yang bukan-bukan," tegas Alex.
"Jangan pecat mereka mas, mereka nggak salah, lagian itu cuma gosip, dan mereka tidak tahu yang sebenarnya pasti akan segera berlalu, tadi pak David juga udah memperingatkan mereka, tidak perlu sampai memecat mereka, kasihan mereka."
"Tapi, mereka menyakitimu."
"Enggak mas, mereka nggak menyakiti aku sama sekali," sanggah Anes.
"Fisik kamu emang enggak, tapi hati kamu?"
"tu kan jadi panjang, jangan lebay deh!" batin Anes.
Anes lebih mendekat kearah Alex, tepatnya ia kini berada persis disampingnya Alex. Ia memegang pundak Alex lembut dan sedikit membungkukkan badannya.
"Percaya sama aku mas, jangan memperpanjang masalah ini lagi ya?" ucap Anes lembut di telinga Alex. Tentu saja hal itu membuat Alex luluh. Ia memegang tangan Anes dan menariknya hingga Anes duduk dalam pangkuannya. Sebenarnya, Anes merasa malu karena mereka di kantor dan ada David disana. Tetapi ia malah sengaja mengalungkan tangannya ke leher Alex dengan posisi duduk menyamping di pangkuan Alex lalu melirik kearah David berharap laki-laki itu gigit jari melihat kemesraan mereka berdua, secara dia kan jomblo. Anes mencium pipi Alex dan itu sukses membuat David menelan salivanya.
"Ck,baru melihat cium pipi udah salting, apalagi melihat ciuman bibir." cibir Anes dalam hati.
Alex melihat David dengan tatapan mengisyaratkan agar ia pergi dari sana. David yang tidak ingin melihat keintiman dari mereka berdua pun mengerti maksud tatapan Alex.
"*A*ku juga tidak ingin melihat kalian bermesraan," batin David.
"Kalau begitu saya permisi dulu bos, ada yang harus saya kerjakan," pamit David segera meninggalkan ruangan bosnya tersebut.
"*L*ama-lama di dalam bisa gila aku melihat mereka, ya Tuhan tolonglah hambaMu yang jomblo ini," batin David seraya membuka pintu ruangan Alex.
Setelah David tak nampak lagi punggungnya, Alex langsung melingkarkan tangannya di pinggang Anes yang duduk di pangkuannya.
"Apa tidak sebaiknya kita umumkan saja setatus pernikahan kita, aku nggak mau gosip itu semakin menyebar," ucap Alex kemudian membenamkan wajahnya di dleher Anes dan menciumnya.
"Aku belum siap mas, aku hanya ingin bekerja secara profesional," jawab Anes.
"Selalu itu alasan kamu, ingin profesional" desah Alex.
"Jangan marah dong, nanti juga ada waktunya mereka tahu," ucap Anes.
__ADS_1
"Kapan?"
"Entahlah," jawab Anes singkat kemudian beranjak dari pangkuan Alex, tapi langsung ditarik oleh Alex. Alex langsung mencium bibir Anes. Anes yang juga merindukan bibir suaminya tersebut membalas ciuman Alex dengan penuh gairah. Kalau tidak mengingat mereka sedang di kantor, mungkin Alex akan menuntut lebih dari sekedar ciuman dan meninggalkan kissmark di dada Anes.