
"Hehe nggak kebayang aku kalau Sandra tahu siapa kamu sebenarnya Nes, kenapa tadi nggak jujur aja sih sama dia Nes?," ucap Amel sambil melepas tas dari bahunya dan meletakkan di atas meja. Ia dan Anes baru saja tiba di cafe langganan mereka.
"Apa yang perlu aku ceritain Mel, yang kaya kan suami aku. Lagian aku nggak suka orang Mandang aku cuma gara-gara siapa suami aku dan seberapa kaya suami aku," jawab Anes yang baru saja duduk.
"Benar juga sih Nes, banyak orang munafik sekarang, yang kaya dan terhormat akan di elu-elukan, di sanjung-sanjung tapi yang biasa aja akan di cibir, hah miris sekali," timpal Amel.
"Sebenarnya Sandra itu orang baik, hanya saja mulutnya pedas kayak cabe," lanjut Amel lagi.
"Sudah cepat pesan, masa ke sini cuma mau nongkrong cantik doang," ucap Anes sambil melambaikan tangan memanggil pelayan cafe.
Setelah mereka memesan beberapa camilan dan minuman, mereka melanjutkan ngobrol.
"Ngomong-ngomong kita datang nggak ya ke acara reunian itu?" tanya Amel.
"Datang aja yuk Mel, kangen juga pengen ngumpul bareng teman-teman satu almamater," sahut Anes.
Tampak pelayan cafe menyela obrolan mereka dengan menaruh minuman yang mereka pesan di atas meja.
"Kamu mah enak tinggal datang sama pak Alex, lah aku? iya kalau ingatan David udah pulih, kalau belum? alamat gigit jari kan akunya, masa datang ke sana sendiri," amel.mengaduk-aduk minuman yang baru saja di suguhkan di depannya itu.
"Kalau pak David menolak, ajak Juna aja Mel ,pasti mau!"
"Nggak ah Nes, yang benar aja, tahu sendiri pak Juna kayak gimana, gesrek-gesrek begitu menghanyutkan," Amel menolak ide yang di berikan oleh Anes.
"Kalau begitu ya usaha buat ajak Abang aja," Anes mengambil kentang goreng dan mencocokkannya ke saos.
"Lihat nantilah Nes," sahut Amel tak bersemangat.
"Abang bagaimana kalau di kantor sama kamu Mel? Masih cuek?" tanya Anes.
"Ya gitu deh, kadang cuek kadang juga sedikit baik. Setiap kali dia cuek dan aku mau nyerah, eh dia perhatian. Nggak asyik banget kan Nes, main tarik ulur seenaknya, aku kan juga punya perasaan. Nggak ngerti deh apa yang dia inginkan," jawab Amel.
"Yang sabar ya Mel, aku yakin sebenarnya bang David tuh bingung sama hatinya, pikirannya menolak ingat, tapi hatinya tak bisa berbohong, masih ada nama kamu di sana," ucap Anes.
"Ya semoga saja, kadang aku pikir juga mau putus aja Nes sama dia. Pengen tahu apa dia merasa kehilangan atau tidak kalau kita putus," ucap Amel terlihat putus asa.
"Jangan gegabah Mel, dalam mengambil keputusan. Pikirkan matang-matang apa yang akan menjadi pilihan terakhir kami, apakah tetap akan bertahan dan memperjuangkan cinta Abang, atau akan benar-benar menyerah,"
"Tahunlah Nes, aku sendiri bingung,"
"Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin. Biarin aja mengalir layaknya air, biarkan waktu menuntun ingatan bang David ke kamu,"
"Hem," sahut Amel.
Di tengah-tengah obrolan mereka berdua, datang seorang laki-laki tampan yang menghampiri mereka.
"Hai tante-tante, ternyata benar ini kalian berdua, tadi aku sempat ragu karena waktu itu aku melihat kalian dalam keadaan amburadul," ucap laki-laki tersebut.
"Kamu siapa? Apa kita kenal? dan Tante? nggak lihat muka baby face kita? maen panggil tante-tante aja," cebik Amel.
"Kalian nggak ingat sama aku? yakin? oh my God! semudah itu kalian lupa sama aku?" ucap laki-laki itu tak percaya.
"Nggak usah ribet deh, emang kita lupa. Kalau merasa kenal di ingetin dong," balas Amel.
"Iya, kami benar-benar tidak ingat, kamu siapa ya?" sambung Anes.
"Ini aku, Al..." laki-laki itu menggantungkan kalimatnya, berharap Anes dan Amel akan mengingat namanya.
"Al siapa? Anak lumutan? Aladin? Atau almarhum?" tanya Amel.
"Astaga jahat banget, masak ganteng, sehat waras begini di bilang almarhum sih. Aku Aldo Pratama, aktor dan juga penyanyi terkenal yang waktu itu menolong kalian, yang mengantar kalian ke rumah sakit, saat pacar Tante ini di tusuk orang," jelas Aldo.
Anes dan Amel tampak berpikir, mengingat-ingat laki-laki yang kini berdiri di depan mereka tersebut.
"Oh ya, aku ingat! Sorry kami lupa, habis waktu itu kan kami sedang berduka," ucap Anes yang sudah ingat siapa Aldo.
__ADS_1
"Huh, emang ya tante-tante, maklumlah udah tua, jadi memorynya lemot," canda Aldo.
"Siapa yang Tante? sembarangan manggil orang! jangan pikir karena kamu pernah menolong kami, jadi bisa seenaknya begitu ya?" kesal Amel.
"Helen baperan, bercandaku mbak. Kalian emang kelihatan masih muda dan cantik. Eh btw kenalan dong, waktu itu kan belum sempat tahu nama kalian," Aldo mengulurkan tangannya ke arah Anes.
"Anes," jawab Anes menyambut ukuran tangan Aldo.
"Wanita ini cantik sekali ternyata, waktu itu aku tidak menyadarinya. Ah tapi dia udah punya suami. Apa kata para fans gue kalau misalnya aku pepet istri orang. Lagian dia lagi hamil kan ya? Atau kembung tuh perut ya? tahu ah, aku juga udah punya Fani," batin Aldo terus menggenggam tangan Anes.
Anes berusaha melepas tangan Aldo yang masih melamun.
"Lepasin woi!!" seru Amel, Aldo langsung melepaskan tangannya.
"Sorry mbak, aku terlalu mengagumi kecantikanmu," ucap Aldo jujur.
"Kalau Mbak siapa namanya?" beralih mengulurkan tangan ke Amel.
"Amel," sahut Amel menyambut ukuran tangan Aldo dengan jutek.
"Jangan jutek-jutek mbak, nanti lama-lama cinta loh kalau jutek-jutek," goda Aldo.
"Terlali narsis! lagian dari tadi tante-tante, sekarang mbak, nggak enak banget, paling kita juga seumuran," Amel menolak tua.
"Aku baru 20 tahun mbak, emang mbak berapa? 20 tahun juga? Terus mbak Anes ini nikah muda begitu?"
"Oh brondong ternyata, kita udah 25 tahun," sahut Amel.
"Berati nggak salah dong aku panggil mbak," Aldo merasa menang.
"Ya ya ya, terserahlah!"
"Boleh duduk di sini nggak nih?" tanya Aldo
"Silahkan!" sahut Anes.
"Makanya aku pakai Hoodie buat menyamar," ucap Aldo. Memasang tadi waktu datang ia memakai jaket hoodie dan juga masker, tapi kini sudah di lepasnya.
"Kebetulan aku ada syuting di sebrang sana, dan sekarang sedang break, jadi aku memutuskan untuk minum sejenak di cafe ini, eh nggak tahunya ketemu kalian. Ngomong-ngomong gimana pacar kamu mbak? masih hidup kan? Belum jadi almarhum kan?" Aldo melihat ke arah Amel.
Amel mengerutkan dahinya, bisa-bisanya mulut bocah tengil bin ajaib ini tanya begitu.
"Dia masih hidup, dan sekarang udah sembuh," jawab Amel dengan malas.
"Syukurlah kalau begitu. Eh mbak Anes, nggak ngidam gitu ketemu artis kayak aku? pengen di elus-elus perutnya atau minta photo bareng gitu misalanya, kamu lagi hamil kan bukan kembung itu? Atau bising lapar?" beralih ke Anes.
"Hem, sayangnya kau nggak ngidam tuh Aldo, dan ini beneran hamil ya, bukan busung lapar," jawab Anes ramah.
"Hehe kirain," Aldo cengengesan.
"Dasar nggak ada akhlak!" Amel mencebikkan bibirnya.
Mereka bertiga pun mengobrol terus, dan ternyata Aldo orangnya sangat ramah, meskipun dia seorang artis terkenal.
Anes dan Amel di buat tertawa berkali-kali, mereka merasa nyaman ngobrol dengan Aldo. Hingga masalah David yang sedang lupa ingatan pun terlontar dari mulut Amel.
"Hem kasihan ya kamu mbak, mau aku bantu nggak?" tawar Aldo.
"Maksudnya?"
"Aku kan aktor jago akting, bagaimana kalau kita-kita pura-pura dekat buat manas-mansin pacar mbak itu, siapa tahu dia cemburu dan sadar kembali akan perasaannya,"
"Ogah ah, nanti kalau kita dekat, yang ada aku di cakar-cakar sama fans kamu, serem!" tolak Amel.
"Gampang itu bisa di atur, biar nggak ketahuan mereka dan aman dari media," sahut Aldo
__ADS_1
"Emang kamu ada waktu buat bantu Amel? bukannya kamu sibuk?" tanya Anes.
"Ya sekali-kali mbak, sekalian aku mau mengasah kemampuan akting aku," jawab Aldo, tak ada kebohongan dari ucapannya.
"Ah aku nggak suka brondong," ucap Amel sinis.
"Aku juga udah punya pacar, dan nggak suka sama yang lebih tua. Ribet, yang ada nanti nuntut buat cepat-cepat di nikahi. Aku masih ingin bebas. Ya kalau mau sih aku bantu, Ya kita berteman aja mbak nggak usah pura-pura menjadi pacar kalau mbaknya nggak nyaman, kadang jalan gitu sebagai teman. Serius aku nggak ada niatan apapun, cuma mencoba membantu. Kalau mau ini kartu namaku. Aku pergi dulu, waktu break sudah habis. Bye!" Aldo menaruh kartu namanya di meja dan membalik badannya setelah memakai masker dan hoodienya kembali.
"Jangan panggil kita mbak!" ucap Amel sedikit berteriak.
Aldo tak menggubris, dia hanya menatap lurus ke depan menuju mobilnya.
"Ada yang artis begitu? Serius deh aku belum pernah melihatnya di televisi," celetuk Amel.
"Ya kan yang kamu lihat tuh cuma Lee min ho, ji chang Wook, DJ push, Mark prince, mik thongraya,"
"Hehe, benar juga sih,"
"Tapi Aldo orangnya baik ya? Apa nggak terima aja tawarannya Mel?"
"Hah buat apa Nes? iya kali David cemburu, kalau nggak? tensin kan aku, sampai segitunya buat menggapai cinta David. David oh David, kamu membuatku gila!"
"Atau kamu coba dekat sama Juna aja?"
"Nggak ah Nes, nggak mau main api, takutnya pak Juna udah baper beneran, eh akunya masih stuck sama David.
"Iya juga sih," Anes mengangguk-anggukan kepalanya.
🌼🌼🌼
Di tempat lain.
Selesai main golf, Alex dan tuan Yokohama membahas masalah pekerjaan.
Semua berjalan lancar, hingga akhirnya Alex dan David pamit.
"Terima kasih atas kerja samanya tuan Parvis, kami sangat senang sekali bisa bekerja sama dengan Parvis group," ucap tuan Yokohama.
"Sama-sama tuan Yokohama, kalau begitu kami permisi dulu. saya harus menjemput istri saya," pamit Alex.
"Ternyata dia punya istri?" bisik salah satu Caddy, temannya hanya menggedikkan bahunya sebagai tanda tidak mengerti.
"Kita mau kemana sekarang bos, apa langsung pulang?" tanya David yang kini sedang menyopiri Alex, karena Alex tidak membawa mobil sendiri.
"Ke cafe Ss Dave, jemput Anes dan Amel di sana," sahut Alex.
"Baik bos,"
Mobil pun melaju ke cafe dimana Anes dan Amel berada.
Sesampainya di depan cafe, Alex menelepon Anes, ia mengatakan kalau di sudah menunggu. Anes dan Amel segera keluar dari cafe menuju ke mobil David. Di sana, Alex sudah menunggu di samping mobil, sementara David tetap berada di dalam.
Alex membukakan pintu belakang mobil untuk Anes, dan Amel membuka pintu mobil sisi satunya.
Setelah menutup pintu mobil kembali, Alex mengitari mobil dan mengetuk kaca pintu mobil di mana Amel masuk tadi.
"Ada apa pak?"tanya Amel tak mengerti.
"Duduk depan! Temani pacarmu! Biar saya yang di belakang dengan Anes,"
"Baik pak," Amel segera pindah ke samping David.
"Dave, antar aku dan Anes pulang dulu, habis itu terserah mau antar Amel pulang, atau mau mengajaknya berkencan," kata Alex.
David menautkan kedua alisnya, "Baik bos," sahut David datar.
__ADS_1
🌼🌼🌼