MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 181


__ADS_3

Dua hari kemudian..


Pagi sekali, Anes tampak sibuk memasak di dapur seperti biasa. Tak lama kemudian, Alex menyusulnya dan langsung memeluk istrinya tersebut yang sedang memasak dari belakang.


"Kenapa udah di sini sih sayang, ini baru jam berapa?" ucap Alex yang sudah menjatuhkan dagunya di bahu Anes.


"Biasanya juga jam segini aku udah bangun mas, awas ih aku lagi masak. Nggak enak kalau bibi lihat," ucap Anes mencoba melepas pelukan Alex.


"Biarin aja mereka lihat! Udah lanjutin aja masanya, mas nggak akan ganggu," sahut Alex.


"Huh, tapi kalau ada yang lihat, malunya tanggung sendiri ya?" ucap Anes menoleh ke arah wajah Alex sambil mengacungkan pisau.


"Ih seram amat sayang, turunkan pisaunya, mau bunuh suami kamu yang ganteng ini? Hehe iya-iya mas bakalan nanggung malu kamu juga," canda Alex sambil melihat ke arah pintu di mana ada bi Ina yang hendak masuk ke dapur dan melihat kemesraan kedua majikannya. Alex mengisyaratkan kepada asisten rumah tangganya tersebut untuk pergi menggunakan mata dan satu tangannya. Kepala Art itu pun mengangguk dan langsung pergi.


"Ada apa Bi? Kenapa nggak jadi ke dapur, katanya mau bantu nyonya masak,? tanya art yang lainnya.


"Nggak apa-apa, bilangin sama yang lain, di larang mendekati apalagi memasuki area dapur sebelum tuan dan nyonya keluar dari sana," perintah bi Ina.


Mengerti maksud Bu ina tersebut, anak buahnya hanya mengangguk, mengiyakan perintah bi Ina.


"Baik bik," sahutnya.


"Sayang," ucap Alex lirih di telinga Anes.


"Apa mas? Jangan macam-macam ya, aku lagi masak nih,"


"Di dapur enak kali ya,"ucap Alex ambigu.


"Apanya mas?"


"Olah raga," Alex mencium pipi Anes.


"Ih dasar, ini dapur mas, bagiamana kalau ada yang masuk ke sini tiba-tiba, mau di taruh mana muka kita?" sahut Anes masih sibuk dengan acara masaknya.


"Ayolah, nggak akan ada yang lihat, mas jamin," Alex membalik badan Anes, dan menyingkap piyama dress yang Anes kenakan.


"Jangan macam-macam, atau mau aku goreng anaconda mas, biar jadi sosis goreng, buat sarapan?" ancam Anes.


"Sayang, dosa tahu nolak suami kayak gitu,"


"Tuh kan, mas mah gitu, terus bagaimana aku bisa menolak, huh,"


"Udah kamu lanjutin masuknya, biar mas yang bekerja, jangan mendesah kencang-kencang ya biar nggak kedengaran dari luar," ucap Alex membalikkan badan Anes untuk membelakanginya.


"Makasih sayang," ucap Alex sambil membenarkan celana kolornya

__ADS_1


"Udah sana, buruan mandi, bau tahu! sebentar lagi aku nyusul," ucap Anes.


"Lanjut lagi di kamar?"


"Enggak mas, udah cukup buat pagi ini, sana! Atau aku nggak akan kasih jatah lagi sebulan!"


Alex langsung ngacir menuju ke kamarnya untuk mandi begitu mendengar ancaman Anes.


"Dasar suami omes, nggak pernah lihat tempat dan waktu," gerutu Anes.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di meja makan, Anes mengingatkan kepada Alex kalau hari ini Dila akan mulai bekerja, dan pulangnya akan langsung ke rumah mereka.


"Apa nggak sebaiknya dia tinggal di kosan atau hotel saja sayang?" ucap Alex.


"Nanti biar mas yang nanggung semua biayanya," lanjutnya.


"Tapi aku kan udah bilang sama Abang mas, nggak enak kalau nggak jadi, lagian Dila juga udah setuju buat sementara tinggal di sini, mas nggak suka ya, kalau Dila tinggal di sini?"


"Kamu tahu sendiri kan mas kayak gimana? Mas nggak suka ada orang lain mengganggu," ucap Alex tegas.


"Tapi dia kan salah satu anak asuhnya bang David mas. Bagaimana aku bilangnya, aku udah nawari buat tinggal di sini. Nggak enak juga, kakau tiba-tiba menyuruhnya tinggal di hotel atau kosan, lagian juga rumah ini terlalu besar, banyak kamar yang tidak terpakai, aku juga senang akan ada teman ngobrol nantinya, kalau mas lagi sibuk misalnya,"


"Mas nggak marah kan?" tanya anes memastikan.


"Enggak kok," sahut Alex, terlihat dari wajahnya kalau dia tidak setuju dengan keputusan Anes kali ini. Tapi demi istrinya yang sedang hamil tersebut, Alex mengalah.


Anes mengantar Anes sampai depan ke mobil.


"Sayang daddy kerja dulu ya, jangan bandel, kalau mommy galak, nanti bilang Daddy, biar Daddy hukum kalau Daddy udah pulang," Alex sedikit membungkuk dan mengajak calon anaknya bicara.


"Dia gerak sayang," Alex mendongak ke arah wajah Anes


"Anak Daddy pintar," ucap Alex langsung mencium perut Anes.


"Mas berangkat ya?" Alex mengulurkan tangannya untuk di Salami Anes, lalu mengecup kening sang istri dan masuk ke mobil.


"Hati-hati!" seru Anes dan di sambut anggukan dan senyuman dari Alex.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di kantor..


David tampak masuk ke loby dengan seorang wanita muda yang cantik, siapa lagi kalau bukan Dila. Mereka datang ke kantor bersama, karena Dila menginap di apartemen David malamnya. David tidak enak hati jika harus mengantar Dila ke rumah Alex malam-malam, jadi ia menurutnya untuk menginap di apartemennya terlebih dahulu.

__ADS_1


Di belakangnya, tampak Amel juga baru masuk dengan senyum cerianya, menyapa orang-orang yang ia lewati.


"Siapa itu yang bersama pak David?" bisik salah satu karyawan.


"Nggak tahu, pacar barunya kali," sahut temannya.


"Emang sama Amel udah putus? Kok udah jalan aja sama yang lain,"


"Nggak tahu tuh, tapi akhir-akhir ini mereka kan emang kayak lagi ada jarak gitu, perhatiin nggak sih? sejak pak David masuk kantor lagi, sikapnya ke Amel seperti dulu lagi, bahkan lebih cuek,"


"Kerja! Jangan ghibah mulu neng," celetuk Amel yang mendengar bisik-bisik tetangga tersebut.


"Dia itu Dila, adik angkatnya David yang tinggal di rumah singgah milik David. Dia kesini buat magang, kalian jangan mikir yang aneh-aneh," lanjut Amel.


"Tapi kalian masih pacaran kan Mel?"


"Ya gitu deh, otak David lagi traveling. Tapi seratus kita masih pacaran kok," ucap Amel yang langsung ngeloyor meninggalkan rekan satu kantornya.


"Maksud Amel apa sih? nggak ngerti deh,"


"Apa pak David sedang selingkuh? Sama adik angkatnya itu? ih beruntung banget sih gadis itu, aku juga mau dong jadi selingkuhannya,"


"Hus ngaco kamu! kalau pak David dengar ****** kamu! masih mau kerja di sini kan?"


"Ya masih dong,"


"Makanya jaga bicaramu!" temannya memperingatkan.


"Mel, tolong antar Dila ke divisi perencanaan ya, dia akan bekerja di sana, saya harus ketemu bos." pinta David yang melihat Amel yang berjalan ke arahnya.


"Oke, Hai Dila, apa kabar?" sapa Amel.


"Baik kak," sahut Dila.


"Aku antar ke tempat kerjamu yuk,"


"Hem," sahut Dila.


Dan Amel pun mengantar Dila ke divisi perencanaan sesuai perintah David.


"Dil, aku balik ya, semoga betah dan suka magang di sini, kalau kinerjaku bagus saat magang, nanti bisa jadi karyawan di sini setelah magang selesai, semangat!" ucap Amel dengan ramahnya.


"Iya kak, terima kasih," sahut Dila lebih ramah dari saat dulu pertama kali mereka bertemu.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


__ADS_2