
Alex mengajak Anes ke ruangannya, di ikuti oleh David yang terlihat buru-buru sambil membawa sebuah kotak P3K.
Alex menyuruh Anes duduk di sofa dalam ruangannya. David segera memberikan kotak P3K yang ia pegang kepada Alex.
Alex menyentuh sudut bibir Anes yang berdarah.
"Aw!" pekik Anes.
"Sakit?" tanya Alex lembut.
"Sedikit. Tapi, nggak papa kok mas," jawab Anes.
"Kamu itu tidak bodoh, kenapa tidak melawan saat di tampar seperti itu?" tanya Alex sambil mengobati sudut bibir Anes.
"Aku hanya nggak mau mengotori tanganku dengan membalas tamparannya mas. Kalau aku balas apa bedanya aku sama dia."
"Biar aku yang membalasnya," ucap Alex.
"Mas mau ngapain? Nggak mau menghajar mereka kan, apa kata orang, kalau laki-laki main tangan sama perempuan?" tanya Anes polos.
"Ya nggak gitu juga kali sayang, aku juga nggak mau mengotori tanganku untuk hal seperti itu. Biar David yang mengurusnya," sahut Alex sambil melihat ke arah David. Seperti mengerti maksud dari Alex, David langsung mengangguk.
"Huh, pak David! lihatlah! Anda lebih memahami suami saya. Hanya dengan mas Alex melihat Anda, Anda selalu tahu apa yang di maksud dan di inginkan oleh suami saya. Apakah Anda memiliki indera ke enam?" Anes menatap kesal David.
Alex dan David hanya tersenyum menanggapi ucapan Anes.
"Apakah Anda cemburu Nona? Apa yang Anda takutkan? Bahkan, bos Alex sudah menyerahkan seluruh cinta dan hidupnya untuk Anda. Tenanglah, saya tidak akan merebut cintanya. Jadi, jangan menatapku seperti itu," batin David.
"Cup!" Alex mencium sekilas sudut bibir Anes yang baru saja ia obati.
"Biar cepat sembuhnya," kata Alex dengan senyum menyeringai.
"Mas Alex!" ucap Anes dengan nada protes.
"Kenapa?"
Anes tak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah David.
"Haha biarin aja, anggap dia tidak di sini," Alex kembali mencium sudut bibir Anes.
Anes tampak malu dengan apa yang di lakukan Alex. Karena jelas-jelas David masih berada di sana.
"Hah, lagi-lagi pamer! Lebih baik segera pergi dari sini!" batin David.
"Bos, saya permisi dulu untuk mengurus masalah yang tadi,"
"Hem," sahut Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1
Vanya dan juga yang lainnya, yang tadi ikut menghina Anes, menghampiri David yang sedang berjalan di koridor.
"Ngapain mereka mendekati aku? perasaanku jadi nggak enak," batin David menatap acuh kepada mereka.
"Pak David, tolong jangan pecat kami. Kami mohon pak David," ucap Vanya memelas.
David hanya diam, acuh dan tak bergeming. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana.
"Iya, pak David kami mohon. Kami menyesal, tolong maafkan kami," Siska turut bersuara.
"Iya pak, kalau kami di pecat, bagaimana nasib kami nantinya?" imbuh yang lainnya.
Lagi-lagi David hanya diam, seakan dia menulikan telinganya dari rengekan-rengekan mereka.
"Tolong beri kami kesempatan pak David, kami mohon," rengek mereka.
"Hah, merepotkan sekali!" David membuang nafasnya kasar.
"Seharusnya kalian sudah tahu dari awal, apa akibatnya yang akan kalian terima karena telah berani memfitnah Presdir. Kenapa setelah nasi menjadi bubur kalian baru menyesal?" Akhirnya David mau membuka suara, walaupun tetap dengan nada dingin dan acuh.
"Bukankah, waktu itu saya sudah memperingatkan dan memberi kalian kesempatan, dan itu adalah batas toleransi saya, sekarang terimalah akibatnya. Saya pastikan kalian tidak akan bisa melamar kerja di manapun setelah ini!" lanjut David penuh penekanan.
"Kami tahu kami salah pak David, mohon maafkan kami dan beri kami kesempatan sekali lagi. Lagian ini kan bukan sepenuhnya salah kami, kalau saja nona Anes dan pak Alex tidak merahasiakan pernikahan mereka, kami juga tidak akan berspekulasi sendiri tentang hubungan mereka." Vanya mencoba menggoyahkan hati David dengan mencari kesalahan Alex dan Anes.
"Jadi, sekarang kalian menyalahkan tuan muda Parvis dan nona muda Parvis? Berani sekali kalian!" hardik David.
"Apapun alasannya, kalian tidak berhak memperlakukan orang lain seperti itu. Dan Anda nona Vanya! sepertinya, pemecatan secara tidak hormat saja tidak cukup. Melihat bukti dari rekaman Cctv, itu sudah sangat bisa untuk di bawa ke ranah hukum. Karena, Anda tidak hanya melukai perasaannya, tetapi juga menyakiti fisik nona muda," pandangan David fokus kepada Vanya.
Mendengar ucapan David, tubuh Vanya langsung lemas tak bertenaga. Ia sangat takut kalau sampai masalah ini di bawa ke ranah hukum. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai di penjara.
"Pak David, saya tahu saya salah. Tolong maafkan saya. Saya bersumpah, saya sangat menyesal," ucap Vanya dengan berlutut di depan David.
Melihat Vanya berlutut, yang lainnya juga ikut berlutut dan mohon ampun kepada David.
"Apa-apaan ini! memalukan, bagaiman kalau ada yang lihat. Pasti mereka akan berfikir aku manusia yang kejam. Hah, dasar merepotkan. Mempersulit pekerjaanku saja," umpat David dalam hati.
"Apa yang kalian lakukan? kalian pikir dengan berlutut seperti itu, saya akan dengan mudahnya mencabut omongan saya? Berdirilah! jangan buang-buang waktu kalian untuk sesuatu yang sia-sia," kata David lalu pergi meninggalkan mereka tanpa perasaan.
๐ผ๐ผ๐ผ
Vanya dan yang lainnya tidak kehabisan akal. Mereka mencari Anes untuk meminta maaf sekaligus meminta bantuannya untuk membujuk David ataupun Alex agar tidak jadi memecat mereka.
"Nona Anes, kami mohon maafkan kami!" kini mereka berlutut di depan Anes. Anes merasa risih dengan kelakuan mereka.
"Kenapa kalian berlutut di depanku, cepat bangunlah! aku bukan Tuhan, jangan seperti itu, tidak pantas," ucap Anes.
"Tidak nona, kami tidak akan bangun sebelum nona memaafkan kami, kami sungguh menyesal. Kami tidak tahu kalau nona Anes adalah istri Presdir," sahut Vanya.
" Tidak mau berdiri kalau aku nggak maafin? Kok kedengarannya, kalian seperti mengancam ku ya?" Anes mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Jadi karena saya istri Presdir kalian minta maaf, kalau saya hanya seorang Anes dan bukan siapa-siapa kalian tidak menyesal?" tanya Anes penuh tekanan.
" Tidak, bukan begitu nona. Seharusnya sama siapapun orangnya, kami tidak boleh bersikap seperti itu. Tolong nona, maafkan kami."
Sebenarnya, Anes juga merasa bersalah, karena dari awal tidak mempublikasikan pernikahannya. Tapi, dia tidak menyangka mereka akan seperti itu, karena Anes hanya ingin bekerja profesional. Bukan mengundang masalah.
"Baiklah, saya maafkan. Lagian saya bukan orang pendendam. Sekarang bangunlah. Saya masih ada banyak pekerjaan," ucap Anes.
Mereka lalu bangun dengan wajah yang sedikit lebih enak di pandang. Karena, mereka berpikir kalau Anes memaafkan mereka, mereka tidak akan jadi di pecat. Mereka seperti memiliki secercah harapan kembali.
"Benarkah nona sudah memaafkan kami?" tanya Siska memastikan.
"Bahkan sekarang Mereka memanggilku nona?," batin Anes tak percaya, kekuasan suaminya mampu merubah segalanya.
"Iya, saya maafkan. Kalau begitu saya permisi," sahut Anes datar, lalu melangkahkan kakinya menjauhi mereka.
"Tunggu nona!" Vanya mencegah langkah kaki Anes.
"Apalagi sih?" Anes menoleh.
"Kalau nona memaafkan kami, berati nona bisa membantu kami?" tanya Vanya penuh harap.
"Apa? kalian mau aku melakukan apa hem?" batin Anes.
"Saya harus membantu apa?" tanya Anes.
"Tolong nona membujuk pak Alex untuk tidak memecat kami, kami mohon beri kami kesempatan lagi. Dan tolong jangan masukkan saya ke penjara nona?" Vanya bicara dengan sangat menyesal.
"Penjara? siapa yang akan memasukkan Anda ke penjara sih? Kenapa mikir sampai sana sih? Bahkan saya tidak pernah kepikiran ke arah sana. Ah! Ini pasti ulah pak David." Anes membayangkan ekspresi Vanya ketika David bilang ingin memasukkannya ke dalam penjara.
"Kalau masalah itu, bukan wewenang saya. Maaf," ucap Anes melanjutkan langkahnya. Sebenarnya dia kasihan juga dengan mereka, kalau sampai di pecat dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lagi di tempat lain. Bukankah itu terlalu sadis? menurutnya.
"Nona kami mohon! Hanya nona satu-satunya harapan kami," ucap Vanya yang langsung berlutut kembali di depan Anes dan di susul Siska juga yang lainnya.
Anes terkejut karena mendadak berlutut di depannya saat di berjalan.
"Huh, bikin kaget saja! untung kalian nggak nabrak, main berlutut di depan ku aja! untung rem ku cakram." Anes mengusap-usap dadanya karena kaget.
Anes diam sejenak. Ia benar-benar tidak tega melihat rekan-rekan kerjanya merengek sampai segitunya. Penyesalan sangat jelas terlihat dari wajah mereka. Rasa bangga dalam diri mereka karena bisa bekerja di Parvis Group sirna begitu saja. Begitupun Vanya, wanita yang selalu membanggakan kecantikan dan kedudukannya di kantor, kini berubah menjadi wanita yang memelas. Memohon bantuan kepada Anes, perempuan yang selalu ia benci dan hina.
Anes menarik nafasnya dalam.
"Baiklah, akan saya usahakan. Saya akan mencoba bicara sama Presdir. Tapi, keputusan akhir tetap berada di tangannya. Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kalian. Banyak-banyaklah berdoa. Dan tolong, kalian bangun jangan seperti ini," ucap Anes.
Mereka bangun dan mengucapkan terima kasih kepada Anes. Setidaknya, walaupun sedikit mereka masih memiliki harapan untuk tetap bekerja di Parvis Group.
Anes melanjutkan langkahnya kembali yang dari tadi di hentikan oleh mereka. Setelah berhasil mendaratkan pantatnya di kursi, ia melanjutkan pekerjaannya kembali.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1