
Karena hari sudah lumayan agak sore dan Anes juga sudah merasa capek, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan cukup jauh untuk menuju ke parkiran.
"Tunggu mas!," seru Anes.
"Ada apa sayang?" tanya Alex karena Anes menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Itu seperti Dimas, iya itu Dimas!" ucap Anes dengan sedikit berteriak.
"Hah Dimas lagi Dimas lagi! dari tadi otaknya di penuhi nama Dimas. Dia pacar Amel atau kamu sih?"
"Beneran kali ini aku nggak bohong mas, itu lihat dia sama seorang perempuan dan anak kecil!" ucap Anes sambil menunjuk sebuah arah.
"Mana? nggak ada," sahut Alex datar, karena nyatanya yang di tunjuk Anes kini tidak ada seorang pun.
"Ada kok tadi, beneran!" ucap Anes dengan percaya diri. Ia yakin penglihatannya kali ini tidak salah.
"Tadi kamu bilang lihat dia di Cafe, sekarang lihat dia di sini. Kebetulan macam apa ini? Lagian kamu bilang Dimas pacarnya Amel tapi kenapa sama perempuan lain. Mungkin juga itu saudaranya, atau kamu salah lihat kali," Alex bicara panjang lebar. Tapi, ternyata yang di ajak bicara sudah tidak mendengarkan. Anes malah mengendap-endap mencoba mencari tahu.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Alex yang ikut mengendap-endap di belakang Anes.
"Ssstttt! jangan keras-keras, aku sedang memastikan benar nggak itu Dimas," ucap Anes sambil menoleh ke arah suaminya.
"Yaaahhh kan hilang, aku belum lihat dengan jelas, mas sih ganggu aja!" ucap Anes ketika ia menoleh ke depan lagi, orang yang ia curigai sudah tidak ada di tempatnya.
" Kita ke sini buat kencan, bukan buat jadi mata-mata. Ayo pulang!" ucap Alex sambil menarik ujung baju Anes dengan jari telunjuknya.
"Kalau benar itu Dimas bagaimana? terus kalau ternyata itu anak sama istrinya bagaimana? kan kasihan Amel di bohongi," Anes mendadak melow.
"Jangan berpikir terlalu jauh, mungkin aja kamu salah lihat. Udah jangan di pikirin. Berdoa saja semoga itu bukan Dimas pacarnya Amel," ucap Alex sambil menyentuh pipi Anes dengan lembut.
Anes mengangguk dan tersenyum.
"Sebaiknya aku tidak usah kasih tahu Amel, sebelum memastikannya. Takutnya aku salah orang, dan sangat berharap kenyataannya tidak seperti yang aku pikirkan," batin Anes.
"Ayo sini naik!" ucap Alex yang kini sudah berjongkok membelakangi Anes.
"Kamu pasti capek, naiklah!" lanjutnya.
"Nggak ah, mas pasti juga capek," tolak Anes.
"Mas nggak capek sayang, cepetan. Justru mas semangat kalau gendong kamu," sahut Alex.
Kemudian, Anes naik ke punggung Alex. Mereka menuju ke parkiran mobil.
"Mas makasih ya buat hari ini," ucap Anes tulus.
"Apa kamu senang?" tanya Alex
"Tentu saja!" sahut Anes.
"Mas bahagia kalau kamu senang," ucap Alex sambil menoleh ke belakang dan....
"Cup!" Anes mencium bibir Alex sekilas.
__ADS_1
"Ucapan terima kasih," ucap Anes kemudian.
Alex langsung menurunkan Anes karena sudah sampai di mobil dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Anes. Dan mereka berciuman beberapa detik.
"Balasan ucapan terima kasih," ujar Alex sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut Anes.
🌼🌼🌼
Alex dan Anes sampai di apartemen jam 7 malam. Anes dan Alex bergegas ke kamar dan membersihkan diri karena mereka merasa akan lebih segar kalau sudah mandi. Seharian berada di luar membuat mereka merasa lengket dan tidak nyaman karena keringat.
Setelah selesai acara bersih-bersih diri, Anes menuju dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.
"Sekarang biar mas yang masak untuk tuan putri Aneska. Silahkan tuan putri duduk dan melihat saja," ucap Alex yang mengikuti Anes sampai ke dapur.
"Mas yakin mau masak? emang bisa masak?" Anes meragukan kemampuan memasak suaminya. Pasalnya, ia tak pernah melihat suaminya tersebut memegang pisau.
"Kamu nggak percaya sama kemampuan mas? akan mas tunjukkan keahlian mas di dapur," sahut Alex.
"Bukannya begitu. Kalau urusan pekerjaan dan lainnya sih aku percaya. Tapi, kalau urusan perut, aku sedikit sanksi,"
" Udah jangan banyak protes. Tunggu saja di sini. Duduk yang manis sambil liatin mas masak. Mas yang akan menyiapkan makan malam. Ok?" Alex menggiring Anda ke kursi yang ada di dapur. Anes hanya menuruti permintaan suaminya. Ia ingin tahu sejauh mana kemampuan suaminya memasak. Ia juga penasaran seperti apa ekspresi Alex ketika memasak di dapur.
"Anak pintar!" seru Alex sambil mengacak-acak rambut Anes. Kemudian, ia memakai celemek. Benar-benar citranya sebagai seorang pengusaha kaya, dingin dan tanpa ekspresi ia tanggalkan saat ini. Yang terlihat hanya sebagai seorang suami yang sayang istri. Hehe.
Saat Alex memegang pisau dan memotong sayuran, Anes merasa takjub. Dengan cekatan Alex memotong sayuran seperti seorang chef.
"Apa dia dulu pernah kursus jadi chef, pegang pisaunya sangat luwes sekali," batin Anes sambil terus memperhatikan Alex.
Setelah di rasa semua selesai, Alex membangunkan Anes pelan.
"Sayang bangun, makanannya udah siap. Ayo kita makan sekarang," ucap Alex.
"Maaf mas aku ketiduran," ucap Anes sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Mas yang minta maaf karena lama. Ayo sekarang ke meja makan kamu pasti udah lapar kan?" Alex menuntun Anes menuju ke meja makan.
Melihat begitu banyak makanan yang ada di meja makan membuat Anes kehilangan rasa kantuknya.
"Ini semua mas yang masak?" tanya Anes seakan tak percaya.
"Iyalah, siapa lagi kalau bukan mas, di sini kan hanya ada kita berdua," jawab Alex bangga.
"Ya kali aja kan, pas aku ketiduran mas delivery dari restoran," ucap Anes.
"Huh dasar! kamu terlalu kreatif mikirnya sayang," sahut Alex sambil menyentil jidat Anes, membuat Anes sedikit meringis.
"Heeem dari visual dan baunya sih menggoda sekali. Tapi, nggak tahu deh kalau dah sampai mulut bisa di terima atau nggak," celetuk Anes meremehkan.
"Udah, jangan banyak komentar, ini bukan ajang lomba memasak yang harus di kritik pedas. Cobain dulu baru tahu rasanya, tinggal makan aja apa susahnya sih?" ucap Alex gemas.
"Hehe iya iya aku makan, awas saja ya kalau nggak enak, mas nggak dapat jatah seminggu!" tantang Anes.
__ADS_1
"Tapi, kalau enak seminggu full ya jatahnya? full service! Sanggup?" Alex balas menantang Anes dengan senyum penuh arti.
"Seminggu full? alamat nggak bisa jalan nih kalau seminggu nggak ada jedanya," batin Anes.
"Sayang bagaimana? deal?" lanjut Alex.
"Ok deal!" Anes menjawab dengan sedikit ragu.
Kemudian, Anes mulai makan dan rasanya tidak seperti perkiraannya.
"Enak! enak sekali rasanya. Masakan kuliner aja kalah sama masakan mas Alex. Bahkan rasanya bisa di bilang seperti seorang chef profesional yang masak," batin Anes sambil terus mengunyah makanan yang sudah berada di dalam mulutnya.
"Bagaimana? enak kan? Haha berati mas menang dong! yes! jatah seminggu full service tanpa jeda," ucap Alex girang, seperti sedang memenangkan sebuah undian berhadiah.
"Mau bilang nggak enak, bohong dosa. Mau jujur bilang enak nggak ngebayangin bagaimana remuknya nih badan."
"Iya iya mas menang, masakan mas enak. Sangat enak malahan, nggak nyangka mas bisa mask juga." Akhirnya Anes mengakui keahlian suaminya di dapur.
"Haha siapa dulu dong Alex!" ucap Alex bangga. "Berati jadi dong di jatah terus selama seminggu?" lanjutnya.
Anes menggaruk-garuk kepalanya sambil meringis lalu mengangguk.
"Yes!" seru Alex
"Hem aku jadi penasaran apa sih yang nggak bisa mas lakukan. Semuanya bisa mas lakukan dengan baik,"
"Ada kok yang nggak bisa mas lakukan," sahut Alex.
"Apa?" tanya Anes penasaran.
"Berpaling dari kamu," lagi-lagi Alex mengeluarkan gombalan recehnya.
"Apaan sih mas, sekarang jadi pintar ngegombal ya?"
"Serius sayang, mas paling nggak bisa kalau harus jauh dari kamu, apa lagi kalau harus kehilangan kamu. Mas nggak sanggup. Kamu dunia mas, kamu itu segalanya buat mas. Selama masih dalam kemampuan mas, apapun akan mas lakukan agar kamu bahagia." ucap Alex tulus sambil menggenggam tangan Anes.
Anes terharu dengan ucapan suaminya. Hingga tak terasa air matanya lolos begitu saja.
"Hei, sayang kenapa menangis?" tanya Alex bingung dan khawatir melihat istrinya tiba-tiba terisak. Ia langsung menyeka air mata Anes menggunakan tangannya.
"Aku merasa mas terlalu baik buat aku. Terlalu sempurna buat aku yang sangat banyak kekurangan ini. Mas selalu mengerti aku tanpa aku bicara pun mas tahu apa yang aku mau. Aku takut kalau suatu saat mas ninggalin aku, bagaiman aku akan menjalani hidupku yang sudah terlanjur bergantung sama mas. Hiks," ucap Anes dengan terbata karena menangis terharu.
"Ssst jangan bilang seperti itu. Kamu tahu, justru kamu yang membuat hidup mas yang tidak ada apa-apanya ini menjadi terasa sempurna. Bahkan mas berhutang nyawa sama kamu. Mas nggak akan ninggalin kamu sayang, jadi jangan bicara seperti itu. Percayalah kita akan selalu bersama," Alex memeluk Anes dengan erat sambil sesekali menyapu air mata Anes.
"Udah ya, kita lanjutin makannya, kok malah jadi melow begini," lanjut Alex dan di sahut dengan sebuah anggukan oleh Anes.
"Mas makasih ya untuk kencan hari ini, dan makasih juga untuk semuanya," ucap Anes tulus.
"Sama-sama sayang, mas juga mau berterima kasih karena waktu itu kamu sudah menolong dan menyelamatkan mas dengan tulus ikhlas. I love you so much!," Alex memandang lekat wajah istrinya.
"I love you too," balas Anes dengan senyum mengembang dari bibirnya.
Mereka pun melanjutkan makan malam. Dan acara kencan hari itu pun berakhir di ranjang. Mereka menjadikan malam itu sebagai malam yang panjang dengan memenuhi kamarnya dengan suara kenikmatan mereka.
__ADS_1
🌼🌼🌼