MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 82


__ADS_3

"Ting tong!" bel berbunyi.


"Bi, tolong bukain pintu ya. Itu pasti Amel sahabat saya yang datang,"


"Baik non," Bi Ani bergegas membukakan pintu.


"Kebetulan kamu udah datang Mel, sini bantu aku nyiapin ini," Anes menarik tangan Amel dan mengabaikan Dimas yang datang bersama Amel.


"Eh lupa! maaf ya dim? aku pinjam Amel sebentar, kamu duduk-duduk santai aja dulu," Anes menoleh ke arah Dimas.


"Ok, tidak masalah," sahut Dimas.


"Nggak papa kan Nes aku ajak Dimas ke sini? soalnya tadi dia jemput aku," Amel merasa tidak enak. Karena walaupun Dimas itu pacarnya, tapi Anes tidak begitu akrab dengan Dimas.


"Nggak papa kali Mel, santai aja. Dia kan pacar sahabat aku yang the best ini. Jadi dia temanku juga," sahut Anes sambil tersenyum.


"Eh, ngomong-ngomong mas Alex tadi masih di kantor kan waktu jam pulang kantor?" Anes memastikan. Siapa tahu pak David bohong pikirnya.


"Iya, tadi pak Alex masih di kantor kok. Soalnya tadi siang pergi dan sore baru balik lagi ke kantor," Amel membantu menyusun makanan di meja makan.


"Iya, tadi pak David bilang dia ke makam mama, wajar kan kali di hari spesialnya dia menemui ibunya," Anes sedikit menyesal karena tidak bisa menemani suaminya ke sana.


"Maaf ma, hari ini Anes tidak ikut mengunjungi mama. Lain kali pasti Anes ke sana, janji," batin Anes.


"Woi malah bengong, ini apa lagi yang bisa aku kerjakan?" Amel membuyarkan lamunan Anes.


"Ah itu, tadi aku buat kue ulang tahun buat mas Alex. Menurut kamu bagaiman?" Anes menunjukkan kue tart yang ia buat dengan penuh cinta.


"Wah bagus banget Nes, ini seriusan kamu sendiri yang buat? niat banget!" Amel membelalakkan matanya.


"Yups, kue ulang tahun ala chef Anes," Anes membusungkan dadanya.


"Tapi, rasanya bagaiman buk? enak nggak? aku cicipi dulu ya? memastikan bagaimana rasanya,"


"Nggak boleh! dasar celamitan," Anes menepis tangan Amel yang hendak memegang kuenya.


"Kalau kamu makan duluan, nanti kuenya kan jadi jelek Paijem?,"


"Hehe bercanda kali, Paiyem?" sahut Amel cengengesan.


"Ting tong!" bel berbunyi lagi.


"Bi, bibi tolong bukain pintu bi!" Anes berteriak.


Tapi, bel terus berbunyi. "Bibi kemana sih? nggak mungkin pulang kan? tadi aku udah minta buat nggak pulang sebelum acara selesai, kali perlu menginap di sini," Anes bicara sendiri.


"Biar aku aja yang buka Nes," Amel menawarkan diri.

__ADS_1


"Makasih Mel,"


"No problem!"


"Sayang, bel bunyi kok nggak bukain pintu sih," ucap Amel yang melewati Dimas.


"Bagaiman aku mau buka, pass codenya aja nggak tahu," sahut Dimas yang tengah asyik dengan ponselnya.


"O iya," tepuk jidat balik kanan.


"Nes, aku kan nggak tahu kodenya, bagaimana mau buka pintu?"


"Ya udah biar aku saja, lagian ini si bibi pada ngilangin kemana sih," Anes mengambil langkah untuk membuka pintu.


"Ceklek!" pintu terbuka.


"Halo nona cantik, kita ketemu lagi. Kejutan!" sapa Juna dan di belakangnya muncul 2 orang laki-laki seperti gayanya cherrybelle yang muncul dari balik punggung Juna sambil melambaikan tangan. Anes duga itu adalah teman-teman Alex.


"Kenalin, aku Juna,"


"Udah tahu!" sahut Anes.


"Hehe, kali yang ini Brian, Brian Atmaja Putra. dan yang ini Baim. Tapi, bukan Baim wong apalagi tolong Baim ya Allah, bukan. Dia Ibrahim Sanjaya," Juna mengenalkan teman-temannya dengan gayanya yang slengekan.


"Ah minggir, biar aku kenalan sendiri," Brian mengulurkan tangannya kepada Anes. "Brian, panggil saja Bray!"


"Giliranku!" Baim tak mau kalah, ia juga mengulurkan tangannya. " Baim, panggil saja Baim,"


"Anes!" Anes menyambut uluran tangan Baim.


"Oh ya, ayo masuk!" ajak Anes.


"Siapa yang datang Nes," Amel langsung membelalakkan matanya karena kini di depannya ada 3 laki-laki yang tampan.


"Mereka teman mas Alex Mel," sahut Anes. dan mereka saling memperkenalkan diri.


"Jangan macam-macam, ingat Dimas ada di sini," bisik Anes memperingatkan Amel.


"Iya, iya aku tahu. Kalau satu macam boleh dong?"


"Ish, dasar genit!" Anes menarik tangan Amel membawanya masuk menjauhi para laki-laki itu.


Akhirnya semua sudah beres tinggal menunggu target pulang. Anes sudah deg-degan tidak sabar.


"Ini sebenarnya acara apa sih? kata david ngumpul aja buat ngenalin istrinya, tapi kenapa di hias begini? perasaan jadi horor," ucap Brian lirih.


"Mana ku tahu, udahlah nikmati aja, kapan lagi kan kita bisa kumpul. Tapi ingat pesan David. Jangan bahas masa lalu Alex. Biar nanti Alex pilih waktunya sendiri untuk bilang sama Anes," Juna mengingatkan.

__ADS_1


"Ye, biasanya kan situ yang ember," Baim melempar bantal sofa kepada Juna.


🌼🌼🌼


David mengirim pesan kepada Anes kalau mereka sudah sampai parkiran apartemen.


"Tumben kamu mau mampir, perasaan jadi nggak enak. Pasti ada maunya," alex.sedikit curiga.


"Mau numpang makan bos, pasti non Anes sudah masak. Dan masakannya bikin ketagihan," sahut David sekenanya.


"Enak aja! Hanya aku yang boleh bilang begitu, dia istriku!" posesif.


"Tahu tahu dia istri Anda, tidak perlu selalu di ingatkan!" batin David


Sementara itu, lampu di ruang tamu apartemen sudah di matikan.


"Kok, pakai di matiin segala lampunya?biar Alex terkejut dengan kedatangan kita gitu? alay," protes Juna.


"Berisik! tinggal ngikut aja kenapa sih? kamu tuh yang alay!" Brian membungkam mulut Juna.


"Heh kunyuk! ini mulut aku, Baim" salah sasaran.


"Sorry sorry, habis gelap," sahut Brian tanpa merasa bersalah.


Mereka semua sudah berada di depan pintu menunggu Alex datang. Anes sengaja belum mengeluarkan kue ulang tahunnya, biar teman-teman Alex tidak curiga. Karena menurut David, jika mereka tahu mereka di suruh ke sana untuk ulang tahun Alex, dengan tegas mereka menolak. Mereka tahu betul bagaimana Alex. Tapi, Anes hanya berusaha yang terbaik.


Alex dan David sudah sampai di lobby apartemen dan langsung menuju lift.


"Semoga tidak marah, semoga tidak marah, semoga tidak marah," David ketar-ketir mulutnya terus komat-kamit seperti Mbah dukun.


"Kamu kesurupan? dari tadi komat-kamit tuh mulut, eling Dav eling,"


"Tidak bos, siapa yang kesurupan?"


Alex tak menyahut karena pintu lift sudah terbuka. Ia melangkah keluar dan dengan berat hati David mengikuti langkahnya menuju pintu apartemen.


"Semoga habis ini, aku masih bisa mencari beras di Parvis Group. Tuhan tolong aku," wajah David sudah berubah pucat.


Alex memasukkan kode dan membuka pintu.


"Kok gelap? nggak mungkinkan apartemen semewah ini mati lampu?"


Byak! lampu menyala dan, "Surprise!!!" teriak Juna dan yang lainnya kompak.


🌼🌼🌼


💠Jangan lupa like komen dan votenya ya sayang? serta pencet ❤️nya setelah kalian membaca, karena dengan begitu author jadi lebih semangat lagi dalam menulis cerita receh ini. Salam hangat author ❤️❤️💠

__ADS_1


__ADS_2