MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 96


__ADS_3

Taksi yang ditumpangi oleh Anes sampai di depan rumah mewahnya. Setelah memastikan yang ada dalam taksi adalah Anes, para penjaga gerbang membuka gerbang dan menyilakan taksi yang di tumpangi Anes tersebut masuk.


Anes membayar taksinya sebelum ia turun.


"Ambil saja kembaliannya pak!" ucap Anes sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Terima kasih nona," sahut sopir taksi yang masih tak percaya kalau penumpang yang tadi dikiranya orang gila ternyata tinggal di rumah semewah dan sebesar itu.


Anes langsung masuk dari pintu utama rumahnya. Para pelayan yang melihat penampilan nyonya mereka pun terperangah. Namun, tak ada yang berani bertanya. Bi Ina yang kebetulan lewat dan melihat Anes masuk rumah langsung menghampirinya.


"Astaga nyonya, kenapa bisa seperti ini? apa yang terjadi?" tanya bi Ina kaget.


"Ceritanya panjang bi, di mana mas Alex?" tanya Anes.


"Tuan muda ada belakang nyonya, sedang bermain biliar dengan pak David," jawab bi Ina.


Tanpa bicara lagi anda langsung menuju tempat suaminya berada.


"Mas Alex!" Anes memanggil Alex yang sedang fokus pada stik biliar yang ia arahkan ke sebuah bola biliar yang ada di depannya. Dengan posisi kuda-kuda dan membelakangi Anes.


Mendengar ada yang memanggil Alex langsung mengurungkan niatnya untuk menyodokkan stik ke bola biliar di depannya. Ia tahu yang memanggilnya adalah istri tercintanya.


"Sayang, kamu udah balik, sebentar lagi baru mau mas jem...." ucap Alex sambil berbalik badan dan seketika kalimatnya menggantung karena syok melihat penampilan Anes yang kacau.


"Astaga! sayang? ini beneran kamu? bukannya kamu baru jalan sama Amel kenapa bisa jadi seperti ini? Kamu nggak pergi ke planet lain dan diusir dengan tidak terhormat dari sana kan? kamu nggak habis main di selokan kan? atau habis dari salon dan itu gaya rambut baru? kamu nggak..."


"Mas cukup! dari tadi udah banyak orang yang ngetawain aku sekarang mas Alex juga mau tertawa kan lihat aku yang menyedihkan seperti ini? hah?" kesal Anes. Tak terasa bulir bening jatuh dari sudut matanya. Ya, dari tadi ia menahan malunya karena ia tak ingin merasa bersalah. Anes bisa merasakan, dia yang salah di tuduh saja begitu malu dan sakit hati bagaimana dengan Amel yang menjadi tersangka utamanya.


"Bukan, bukan seperti itu sayang, mas mana mungkin ngetawain istri mas sendiri. Tadi siapa yang berani ngetawain kamu? bilang sama mas, biar mas kasih pelajaran ke mereka. Berani-beraninya menghina istri Alex Abraham Parvis yang cantik ini," Alex mendekati Anes dan menarik istrinya tersebut ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Mas lepasin! aku kan bau!" Anes memberontak.


"Nggak papa, mas nggak keberatan. Mas kan juga bau, berkeringat habis olah raga,"


David yang baru saja keluar dari kamar toilet yang ada di ruang biliar tersebut juga kaget melihat kacanya penampilan istri bosnya tersebut.


"Apa? pak David juga mau ngetawain saya iya?" tanya Anes sinis.


"Mau ketawa tapi takut dosa!" batin David.


"Tidak nona," jawab David berusaha sedapat mungkin.


"Sekarang kamu cerita sama mas, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa rambut kamu bisa seperti ini. Dan baju kamu juga bisa kotor seperti ini?" ucap Alex.


"Aku mau bersihin diri dulu, udah nggak enak banget ini rasanya. O ya, pak David cepat pergi ke taman yang dekat cafe SS,"


"Saya? kenapa saya harus ke sana nona?" David tak mengerti kenapa Anes menyuruhnya ke taman.


"Ada apa lagi dengan gadis itu?" batin David.


"Sayang, memang Amel kenapa? apa yang terjadi sama kalian sebenarnya?" Alex menjadi bingung, Anes pulang dengan keadaan kacau, tapi dia meminta David buat menghibur Amel.


"Nanti aku ceritain mas, tapi sekarang yang paling penting suruh pak David pergi ke taman. Sekarang!"


"Dav..." Alex menatap tajam ke arah David.


"Tapi kenapa harus saya bos? kita kan masih ada pekerjaan yang harus di bicarakan setelah ini,"


"Ya udah dan kalau nggak mau! Amel baru saja putus, aku kasih kesempatan pak David buat mencoba menempati hati Amel yang sedang kosong, eh malah nolak! berati aku salah, kirain pak David menaruh perasaan sama Amel. Mas tolong hubungi Juna gih! sepertinya dia juga suka sama Amel, dia masih di Indonesia kan?" ucap Anes dengan kesal.

__ADS_1


"Iya nona, sebaiknya Anda meminta tuan Juna saja, sepertinya mereka lebih cocok," ucap David tanpa ekspresi.


"Dasar maunya apa sih nih orang? jelas suka malah ngumpanin ke orang lain? ntar giliran Amel sama cowok lain beneran baper, benar-benar susah di mengerti seperti mas Alex dulu selalu tanpa ekspresi," batin Anes hanya melirik tajam ke arah David.


"Tentu masih dong sayang, kan baru kemarin dia kesini, oke mas akan telepon dia, mas ambil ponsel mas di kamar dulu ya?" Alex menyahut ucapan Anes.


"Nggak usah pakai ponselku aja mas, aku kan juga punya nomornya," sahut Anes sambil melirik kesal ke arah David. Ia tahu sebenarnya David memiliki perasaan lebih kepada sahabatnya itu, dan Amel juga sering merasa nyaman kalau sedang bersama David.


Alex menerima ponsel yang di sodorkan Anes dan mulai mencari kontak milik Juna, sebenarnya ia juga hanya pura-pura buat memanggil Juna, ia tahu kalau sekarang Anes sedang mengajaknya berakting supaya si keras kepala David itu berubah pikiran.


"Halo Jun, kamu suka kan sama Amel temennya Anes? sekarang dia lagi sedih karena baru putus. Ini kesempataan bagus buat kamu, cepat datang dan hibur dia di taman...."


"Halo tuan Juna, bos Alex bohong, dia hanya mengerjai Anda, mohon maaf dan terima kasih", sebelum Alex menyelesaikan kalimatnya, David sudah meraih ponsel yang di tempelkan di telinga Alex dan mengambil alih pembicaraan.


"Maaf bos, tapi biar saya saja yang ke sana. Bos kan tahu tuan Juna itu playboy, dia tidak bisa serius dengan wanita, sedangkan Amel itu masih polos," ucap David sambil menyerahkan ponselnya kembali kepada Alex dan langsung pergi meninggalkan Alex dan Anes berdua di ruang biliar.


"Hah, emangnya kamu bisa serius sama dia?" teriak Alex, namun tak di jawab oleh David yang sudah tak terlihat bayangannya karena ia menggunakan langkah seribu untuk menuju mobilnya.


"Hahaha, TOS!" Anes dan Alex tertawa bersama sambil ber-tos-ria.


"Dia nggak sadar kalau tadi aku nggak menghubungi Juna, lihat kan ekspresinya tadi gimana?" ucap Alex sambil berkacak pinggang melihat arah David pergi.


"Hehe iya, kok mas tahu sih kalau aku tadi cuma bercanda minta mas buat hubungin Juna? habisnya pak David suka aja gengsinya minta ampun!"


"Apa sih yang nggak mas ngerti tentang kamu?" Alex memencet hidung Anes.


"Hehe makasih sayang," Anes memeluk erat Alex.


"Udah, ayo sekarang ke atas, mandi dan kamu berhutang cerita sama mas," Alex mengajak Anes menuju kamar utama untuk membersihkan diri.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2