
Di kantor Parvis Group...
"Lex bangun woi! di kantor tidur! kerja!" teriak Juna membangunkan Alex yang sedang memejamkan matanya.
"Berisik kamu Jun! Suka-sukalah, mau aku tidur, salto atau joged kek, kantor kantor punyaku, bebas!" sahut Alex tanpa membuka matanya. Merasakan auranya saja ia sudah tahu kalau yang datang adalah Juna. Apalagi setelah mendengar suaranya, Alex semakin yakin itu dia.
"Terserah kamulah Lex! ngapain merem begitu kalau nggak tidur? Lagi bayangin ngeres-ngeres ya? Hayo ngaku!" ucap Juna sambil senyum-senyum menggoda.
"Buat apa bayangin, kalau bisa melakukannya secara nyata, emang situ jomblo hanya bisa berkhayal," sindir Alex. Masih enggan membuka matanya.
"Percaya yang lagi bucin. Eh melek dong, mau curhat nih!" rengek Juna.
"Curhat? sama Mama Dedeh sana!" balas Alex.
"Kalau sama mamah Anes aja bagiamana?" celetuk Juna.
"Jangan macam-macam!" Alex membuka matanya dan duduk.
"Ada masalah apa? Sampai ganggu orang siang-siang begini," tanya Alex judes.
"Aku pusing Lex!" ucap Juna sambil menyilang kan kedua kakinya.
"Minum obat," sahut Alex datar.
"Nggak mempan obatnya," balas Juna.
"Terus?"
"Orang tuaku pengen cepat-cepat punya cucu Lex!" ucap Juna lesu.
"Bukannya udah punya, anak kakak kamu?"
"Mereka pengen cucu dariku Lex, darah dagingku!"
"Kalau begitu buat saja, gampang kan?" ucap Alex dengan santainya.
"Itu masalahnya, aku mau buat sama siapa Lex? pacar aja kagak punya sekarang. Kalau tidak aku mau di coret dari daftar KK, gila nggak tuh!"
"Pusing, tiap hari mereka terus membahas pernikahan dan anak, apalagi setelah mereka tahu kalau kamu sebentar lagi akan punya keturunan, kalang kabut dah tuh mereka, pengen juga punya cucu dariku. Kalau aku nggak nikah-nikah dan ngasih mereka cucu, ya minimal nikah dululah, mereka akan jdohin aku sama anak temannya," lanjut Juna.
"Bukannya waktu itu kamu bilang, mau mempertimbangkan soal ayahmu yang akan menjodohkan kamu sama anak temannya itu? Kalau kamu nggak mau ya udah, balik ke Kanada aja, dan nggak usah kembali ke Jakarta lagi,"
"Itu dia masalahnya, paspor, visa dan lainnya di sita ma papa, bahkan ruang gerak aku di batasi, hais sepertinya aku ini anak tiri. Apa aku terima saja perjodohan itu ya? Tapi ini kan bukan jaman Siti Nurbaya, kolot amat di jodohkan."
Alex yang mendengar kalimat terakhir Juna langsung mengernyitkan dahinya, bukankah dia dan Anes juga di jodohkan? secara tidak langsung Juna menyindir perasaanya.
"Tidak semua perjodohan itu buruk Jun," ucap Alex penuh penekanan. Kedua tangannya ia silangkan di dadanya.
"Santai bro, bukan maksud aku buat ngatain kalau kamu dan Anes itu kolot, bukan!" Juna sudah paham dengan aura dingin yang dikeluarkan Alex.
"Apa di antara barisan para mantan kamu tidak ada yang cocok buat jadi istri kamu?" tanya Alex.
Juna baru mau menjawab pertanyaan Alex, tapi tangan Alex mengisyaratkan kepada Juna untuk diam, karena ia akan mengangkat telepon dari Anes.
"Halo, sayang,"
"Mas nanti pulangnya beliin aku tahu gejrot ya?" ucap Anes di seberang telepon.
"Tahu apa sayang?"
"Tahu gejrot mas, jangan bilang mas nggak tahu tahu gejrot,"
"Mendengar namanya saja baru kali ini sayang, apalagi wujudnya, mas belum tahu. Mas harus beli di mana?," jawab Alex jujur.
"Nanti pas di perempatan jalan sebelum sampai rumah ada tukang tahu gejrot yang biasa mangkal di sana, ada tulisannya kok, tahu gejrot mang Udin," jelas Anes.
"Kenapa nggak minta bibi aja buat beliin sayang biar cepat?"
"Nggak! aku maunya mas yang beliin, o ya, harus mas sendiri yang yang ngulek," tegas Anes.
"Ngulek apa sayang?" Alex tak mengerti.
__ADS_1
"Ngulek bumbunya mas, awas kalau bukan mas yang bikin. I love you muah muah!" Anes langsung menutup panggilannya.
"Ribet ya punya istri," batin Juna melihat Alex yang sedang menjawab telepon Anes.
Alex meletakkan ponselnya. Sejenak ia diam kemudian, melihat ke arah Juna.
"Teruskan!" pinta Alex.
"Kalau sekedar di atas ranjang sih bisa Lex, Tapi tidak untuk jadi ibu dari anak-anakku. Tahu sendirilah mereka seperti apa. Aku tetap ingin seorang wanita baik-baik untuk anak-anakku," ucap Juna setelah mendapat interupsi dari Alex.
"Dasar! Makanya jadi orang jangan terlalu palyboy! Jadi susah kan cari yang baik. Saran aku sih, kenapa nggak coba aja mencoba membuka diri untuk orang yang akan di jodohkan sama kamu, siapa tahu cocok. Kalau nggak cocok dan nggak mau, kamu bisa bicara baik-baik sama orang tuamu," Alex menasehati sebagai seorang sahabat.
"Lihat nantilah Lex, ngomong-ngomong lapar nih! Delivery makanan dong," ucap Juna mengusap perutnya.
"Ke sini cuma mau numpang makan, dasar!" Alex mencebikkan bibirnya.
Alex langsung menelepon bawahannya untuk memesankan makan siang untuknya dan juga Juna.
Sambil menunggu makan siang datang, mereka terus mengobrol.
🌼🌼🌼
David terus menarik tangan Amel hingga ke parkiran mobilnya. Di belakangnya ada pelayan restoran yang mengejar dan memanggil-manggil David.
"Tuan, tunggu Tuan!!" teriak pelayan.
David menoleh, tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Amel.
"Ada apa?" tanya David tak bersahabat.
"Tuan belum membayar pesanan tuan tadi, saya bisa di pecat kalau tuan tidak membayarnya," ucap pelayan.
David meraba-raba sakunya, dia tidak menemukan apapun di sana, dompet maupun uang. Hanya menemukan sebuah kartu nama.
Ia melihat ke arah Amel. Amel yang masih merasa kesal.karena ulah David, membuang pandangannya.
"Aku tidak mau meminjamkan uangku, lagian aku belum gajian," alasan Amel.
"Dasar! dari penampilan dan mobilnya kelihatan orang tajir, tidak tahunya kismin! mobil dan pakaian sewaan ya? Cepat bayar! tidak menerima alasan apapun, udah pesannya banyak banget lagi, kalau nggak mampu bayar jangan asal pesan aja," sarkas pelayan, yang sepertinya tidak tahu berurusan dengan siapa.
David menghela napasnya kasar mendengar penghinaan pelayan restoran tersebut. Dia menempelkan kartu namanya di jidat pelayan tersebut.
"Nih baca! Jangankan makan tadi, restoran ini juga saya mampu membelinya! Bilang sama manajer kamu,.tidak usah khawatir, datang saja ke alamat ini, saya akan membayar 5 kali lipat, Saya masih ada urusan, permisi!" David langsung membuka pintu mobil dan menyuruh Amel duduk di dalam mobil.
David segera melajukan mobilnya, sementara pelayan restoran melongo saat membaca kartu nama yang di berikan oleh David.
🌼🌼🌼
Suasana dalam mobil David hening, sampai akhirnya Amel bersuara.
"Berhenti Dave, aku mau turun di sini!" ucap Amel tanpa menoleh ke arah David.
David tak menggubrisnya, ia terus melakukan mobilnya.
"Siapa laki-laki itu?" tanya David.
"Teman," sahut Amel malas.
"Teman tapi semesra itu Mel? Apa kamu lupa kalau aku pacar kamu? kamu sendiri yang selalu bilang begitu," ucap David.
"Apa? Aku lupa? bukannya kamu yang melupakannya Dave?" sahut Amel di iringi senyum sinis.
"Maaf," ucap David singkat.
"Udahlah Dave, aku juga tidak akan memaksa kamu lagi untuk mengingatku, kalau memang kamu sendiri tidak ingin mengingatku, tidak apa-apa, aku akan mencoba terima. Tidak perlu terbebani hanya karena aku selalu bilang kalau kita pacaran. Karena mulai sekarang aku tidak akan mengatakannya lagi. Aku capek jika aku terus yang berusaha, sedangkan kamu? Kamu tidak ada usaha sama sekali buat mengembalikan ingatanmu,"
"Berhenti Dave!"
"Kenapa? Apa kamu akan kembali ke restoran tadi? menemui laki-laki Tadi?" sarkas David. Ia langsung menepikan mobilnya.
Amel mencoba untuk membuka pintu mobil namun tidak bisa. Ia kesal, Pati David sengaja.
__ADS_1
"Jangan mempermainkan perasaanku Mel, aku tidak ada waktu untuk bermain-main," ucap David serius.
"Hah apa? mempermainkan? Kamu yang mempermainkan perasaanku Dave, kamu yang mengacak-acak perasaanku. Kamu main tarik ulur perasaanku seenaknya saja, sakit Dave sakit," Amel mulai terisak. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan David.
"Maafkan aku Mel, ku mohon jangan menangis. Hatiku sakit melihat kamu menangis," ucap David jujur.
"Kalau begitu aku mau turun Dave, buka pintunya, atau aku tidak mau lagi bicara sama kamu," ancam Amel.
"Bukalah, sekarang udah bisa kamu buka," balas David, ia tak ingin Amel semakin menghindar nantinya.
Amel langsung membuka pintu mobil dan turun. Dengan cepat David melelas seat beltnya dan menyusul Amel turun dari mobil.
David menghampiri Amel dan langsung mencium bibirnya. Tak ada perlawanan namun juga tak ada balasan dari Amel. Yang jelas, Amel merindukannya. Namun, ia tak tahu harus bagaimana.
David menempelkan keningnya dengan kening Amel. Tangannya menangkup kedua pipi Amel.
"Jangan menyerah, jangan lelah menungguku ingat, bersabarlah menungguku, ku mohon," ucap David. Amel bisa merasakan napas David menyapu wajahnya. Membuat tubuhnya merinding. Ingin sekali Amel memeluk laki-laki itu.
"Kamu egois Dave! Kamu cuek dan tidak peduli, tapi giliran aku ingin mundur kamu tidak boleh. Aku tidak mau berjuang dan berusaha sendiri Dave," ucap Amel lirih sambil mendorong pelan tubuh David.
"Aku juga berusaha Mel, selama ini aku konsultasi dengan psikolog terbaik di sela-sela kesibukanku. Aku juga ingin mengingatmu Mel. Aku akui aku memang belum ingat sepenuhnya sama kamu, tapi hatiku tidak bisa berbohong Mel, ada sesuatu yang beda. Mungkin aku jatuh cinta kepadamu yang kedua kalinya, atau memang ini perasaanku yang sebelumnya tidak pernah hilang Mel," ucap David.
Ya, David bukanya cuek dan tidak berusaha, diam- diam dia sering menemui seorang psikolog yang sudah Alex sediakan untuknya. Ia yang akhir-akhir ini memang sibuk harus membagi waktunya untuk pekerjaan dan juga konsultasi.
"Apa aku bilang, aku akan buat kamu jatuh cinta kepadaku kedua kalinya sekalipun kamu lupa," batin Amel girang. Namun, ia tetap pura-pura biasa saja.
"Kalau begitu mantapkan hati kamu dulu Dave, aku takut kamu akan melupakan aku lagi. Kembalikan semua ingatan kamu tentangku, baru kita bicara tentang hubungan kita lagi Dave. Kalaupun kamu cinta sama aku, tapi aku tidak mau menjadi orang yang di lupakan Dave, jadi ingatlah aku Dave. Sebelum kamu ingat biarkan semua seperti ini dulu," ucap Amel, ia ingin David lebih berusaha lagi.
"Baiklah kalau itu mau kamu Mel, tapi aku minta kamu jangan pernah dekat-dekat dengan laki-laki lain selama aku mencari ingatanku," pinta David.
Amel menatapnya heran dan tajam.
"Aku cemburu," ucap David lirih. Sungguh, Amel ingin tertawa bahagia, ingin jingkrak-jingkrak di sana mendengar David mengakui kecemburuannya, namun ia gengsi.
"Dia cuma temanku, yang waktu itu menolong aku dan Anes, saat insiden di restoran waktu itu. Dan kami hanya menyambung silaturahmi.
"Tapi tadi kalian..?"
"Ah udahlah, ayo kembali ke kantor bersama, waktu makan siang sudah hampir habis," ajak David, ia tak meneruskan kalimatnya, dan malah mengajak Amel kembali ke kantor.
"Aku bisa balik ke kantor sendiri!" seru Amel.
"Jangan keras kepala," balas David.
David membuka pintu mobilnya dan mendorong Amel untuk masuk. Tak lupa ia memakaikan seat belt kepada Amel.
David mengitari mobil dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aldo itu artis Dave, mukanya adalah aset penting bagi dia, tadi kamu memukulnya sampai bonyok dan berdarah, dia bisa saja menuntut kamu," ucap Amel dalam perjalanan mereka kembali ke kantor.
"Aku tidak peduli, tidak ada yang bisa menuntut ku. Jangankan memukul, manajemennya bisa aku beli, aku bisa mengobrak Abrik karirnya," ucap David tak main-main.
"Tadi dia juga memukulku Mel, bahkan bibirku masih terasa perih, tapi kamu hanya memikirkan laki-laki itu," batin David kecewa.
Amel diam, dia melirik sekilas ke arah David. pipinya memar dan di sudut bibir David juga ada noda darah. Ia ingat kalau tadi Aldo juga membalas memukulnya.
"Siapa suruh tadi kamu mukul dia duluan, pasti sakit kan itu Dave," batin Amel. Kalau saja hubungan mereka lebih baik dari sekarang, pasti Amel sesudah membelai pipi David dan mencium lukanya. Amel hanya membuang nafasnya kasar. Kemudian ia melihat ke arah jendela mobil. Tak ada lagi obrolan di antara keduanya.
David menoleh ke arah Amel sekilas.
"Ingatan itu mulai kembali satu per satu. Aku akan mengingat semuanya, secepatnya Mel, aku janji," janji David dalam hatinya.
🌼🌼🌼
Visual outfit babang David dan Amel hari ini..jika tidak sesuai silahkan menghayal sendiri..
🌼🌼🌼
__ADS_1
💠Jangan lupa like votenya kakak, yang banyak dan ikhlas hehe, terima kasih. Salam hangat author❤️❤️❤️💠