MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 168


__ADS_3

Alex melihat Amel ketiduran di kursi samping ranjang David, pelan-pelan ia menyentuh pundak Amel untuk membangunkannya.


"Eh pak Alex," ucap Amel setelah membuka matanya.


"Makanlah, Anes sudah masak tadi buat kamu, setelah itu kamu pulang, biar nanti pak Anton yang mengantar," ucap Alex.


"Anes tahu aja kalau saya belum makan pak, saya bawa pulang aja ya makannya, nanti saya makan di rumah. Saya titip David ya pak," ucap Amel.


"Hem, jangan lupa di makan, biar kamu nggak sakit," pesan Alex.


"Iya pak. Dav, aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi," pamit Amel kepada David. Ia menoleh ke arah Alex.


"Cium saja, aku tidak melihatnya," ucap Alex sambil memalingkan wajahnya, seolah ia tahu pikiran Amel. Dan benar saja, Amel mencium kening David, dan satu kecupan mendarat juga di bibir David.


"Titip David ya pak," ucap Amel sembari melangkah pergi.


Setelah Amel pergi, Alex langsung memulai untuk membersihkan badan David dan juga mengganti bajunya. Setelah itu ia duduk dan mengajak David ngobrol.


"Apa kamu belum mau bangun juga Dav? Cepat bangunlah Dav, aku sangat membutuhkanmu. Tidak ada kamu rasanya sama seperti kakiku pincang Dav, aku tidak bisa jalan, bahkan berdiri pun susah. Cepatlah bangun. Kau tahu kan Dav, saudara yang aku punya cuma kamu, apa kamu juga akan meninggalkan aku seperti kedua orang tuaku Dav? Bukankah kamu janji untuk terus berada di sisiku Dav, apa kamu akan mengingkari janjimu?, kau tega meninggalkan aku sendiri Dav? Bangunlah Dav, aku mohon," Alex menggoyang-goyangkan tubuh David, ia terbawa suasana tanpa terasa air matanya menetes dari sudut matanya.


"Aku tahu kau kuat Dav, bangunlah! biar aku bisa bilang terima kasih padamu karena telah menyelamatkan kedua nyawaku Dav, Rania sudah mendapatkan balasannya Dav, kalau kamu bangun, nanti kamu bisa membalas perbuatannya Dav, untuk itu bangunlah," Alex merasa lelah, segala upaya sudah ia lakukan tapi sahabatnya belum juga sadar.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Dua Minggu kemudian...


Di lorong rumah sakit tampak para sahabat Alex sedang berjalan untuk mengunjungi David, ini bukan kali pertama mereka mengunjunginya. Mereka sudah beberapa kali mengunjungi David dan memberi support kepada Alex.


Saat ketiga sahabat tersebut melewati resepsionis rumah sakit, mereka melihat seorang wanita cantik yang sedang bertanya kepada resepsionis.


"Eh lihat tuh bro, bodynya aduhai," celetuk Juna.


"Ya elah Jun, kapan insyafnya sih tuh mata, nggak bisa lihat yang semok-semok. Nunggu koma kayak David baru tobat iya?" Brian menoel kepala Juna.


"Sssst jangan berisik ini rumah sakit, tujuan kita kesini buat ngasih supoort Alex, jenguk David, bukan buat berantem," ucap Baim.


"Iya aku tahu, bawel!" hardik Juna.


Merek bertiga pun melalui wanita cantik dan seksi tersebut begitu saja.


Sampai di ruang rawat David, mereka langsung masuk. Di sana sudah ada Alex, Anes dan juga Amel. Alex sengaja meminta mereka datang untuk mencoba menstimulasi otak David. Karena menurut dokter kata-kata cinta atau sebaliknya bisa merangsang otak seseorang yang sedang koma, dan tidak ada salahnya mereka mencoba.


Alex, Amel dan juga Anes sudah berusaha namun belum mendapatkan hasil.


"Terus kita bisa bantu apa Lex? Kalian saja yang soulmatenya tidak bisa membangunkannya, lalu kami harus bagaimana? Kami juga ingin membantu, tapi tidak tahu harus bagaimana?" Tanya Brian.


Belum Alex menjawab pertanyaan Brian, ada seorang wanita yang membuka pintu ruangan tersebut.


"Permisi, benarkah ini ruang perawatan David?" tanya wanita tersebut yang masih menyembunyikan badannya di balik pintu, dan hanya kepalanya saja yang melihat masuk.


"Evelyn?" ucap Alex lirih.


Melihat Alex di dalam, Evelyn langsung masuk.


"Hai Lex, Aku kesini buat menjenguk David, Aku baru saja pulang dari Singapura dan mendengar kabar kalau David mengalami musibah, jadi aku langsung ke sini," ucap Evelyn.


Alex melihat ke arah Anes, ia takut istrinya akan cemburu kepada Evelyn karena Anes tahu Evelyn pernah menyukai suaminya.


Anes tersenyum kepada Alex sebagai tanda bahwa hatinya baik-baik saja.


"Cewek yang tadi bro!" bisik Juna.


"Terus kenapa kalau cewek yang tadi? nggak dengar apa dia kesini buat jenguk David, bukan ketemu kamu, jadi berhenti narsis," sahut Brian berbisik juga.


"Ya, siapa tahu jodoh," ucap Juna berharap.


"Sssstt!! kalian ini, kalau ketemu adu mulut terus, bisa diam enggak sih," Baim selalu menengahi kedua sahabat tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kalian pada diam? Apa aku mengganggu? Apa aku tidak boleh menjenguk David? aku hanya ingin menjenguknya, bagaimanapun juga dia sahabatku, apalagi sekarang perusahaan papaku juga menjalin kerja sama dengan Parvis Group. Tapi kalau kehadiranku mengganggu, aku akan pergi," ucap Evelyn yang merasa canggung karena di lihatin oleh mereka yang ada di sana.


"Ah tidak nona Evelyn, maaf kami tadi sedikit terkejut, tentu saja nona boleh menjenguk pak David, iya kan Mel?" Anes menoleh ke arah Amel meminta persetujuannya.


"Eh iya nona, tentu saja kami tidak keberatan, David pasti juga senang karena di jenguk oleh orang-orang yang menyayanginya," sahut Amel dengan menyunggingkan senyumnya.


Anes dan Amel sebenarnya sedikit tidak nyaman akan kedatangan Evelyn, karena bagi Anes, Evelyn pernah menyukai Alex dan mungkin masih sampai sekarang, sementara Amel juga masih ingat kedekatan Evelyn dan juga David waktu itu.


Namun, karena niat Evelyn yang tulus, mereka mengesampingkan perasaan cemburu mereka. Anes dan Amel tau harus menempatkan rasa cemburu pada tempatnya.


Evelyn menghampiri David. Ia meletakkan buket bunga dan juga keranjang buah di meja dekat ranjang tempat David berbaring.


"Hai Dav, Maaf baru sempat jenguk kamu, aku habis perjalanan bisnis ke Singapura, aku dengar kau sudah jadian sama Amel? selamat ya, akhirnya sahabatku yang jomblo ini sudah tidak trauma dan takut pacaran lagi. Tapi kamu harus cepat bangun biar bisa cepat-cepat halalin Amel, jangan sampai di dahului cowok lain,, bukankah ada istilah yang berani macarin akan kalah sama yang berani melamar, ntar Amel keburu di lamar orang loh, kalau Amel lelah menunggumu bisa saja kan dia lari ke pelukan laki-laki lain? Jadi cepatlah bangun ya?" ucap Evelyn, ia berusaha menstimulasi otak David dengan ucapannya.


"Namanya Evelyn Bray, im," bisik Juna kepada Brian dan Baim.


"Diam!" bisik Brian dengan nada membentak.


"Jangan galak-galak Bray, ntar anakmu begitu mau lahir masuk lagi ke perut mommynya kalau dengar suara bentakan kamu," timpal Juna.


"Berisik kamu Jun, lihat itu, Evelyn sedang mengajak David bicara," Brian menununjuk ke arah Evelyn.


"Terus kita harus menunduk seperti mengheningkan cipta begitu mendengarkannya bicara? yang di ajak bicara itu David bukan kita," balas Juna.


"Kalian diamlah! jangan bikin kepalaku tambah pusing dengan kelakuan kalian," perintah Alex.


Ketiga sahabatnya tersebut langsung diam, dan saling sikut mengikut satu sama lain.


Anes dan Amel yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Beberapa saat kemudian, Evelyn pamit. Sepertinya usahanya untuk membujuk David bangun juga tidak berhasil. Jangankan Evelyn, Amel saja yang pacarnya dan juga Alex yang soulmatenya enggak bisa.


"Nona mau saya antar?" tawar Juna.


"Tidak, terima kasih tuan. Saya bawa mobil sendiri," sahut Evelyn yang hanya melirik sebentar ke arah Juna.


"Usaha Bray, usaha," balas Juna.


Akhirnya Evelyn benar-benar pamit dan meninggalkan ruangan tersebut.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan Lex?" tanya Baim mulai serius.


"Entahlah aku juga bingung harus bagaimana lagi, dokter juga sudah melakukan berbagai cara," Alex duduk di sofa sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Apa masih belum ada perkembangan kata dokter sejak terakhir kami ke sini beberapa hari yang lalu?" Baim ikut duduk dan memegang bahu Alex.


Alex hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Baim.


"Semua pasti akan cepat berlalu Lex, David akan segera bangun, percayalah, dia tidak akan meninggalkanmu," Lagi-lagi Baim menepuk pundak Alex, seolah memberi energi positif untuk sahabatnya tersebut.


"Rania, wanita itu benar-benar! otakku nggak bisa berpikir, kenapa dia bisa berubah menjadi rubah betina yang sangat jahat seperti itu. Ngidam apa dulu emaknya," celetuk Juna sambil geleng-geleng kepala.


"Emang kapan otak kamu bisa berpikir Jun?" ledek Brian.


"Diam Bray! aku lagi mikir nih!"


"Eleh kayak orang benar aja pake mikir segala, Mikirin apa sih?" tanya Brian penasaran.


"Emm, kalian keluar dulu, aku mau bicara sama David," ucap Juna yang seperti mendapatkan sebuah ide dari berpikirnya barusan.


"Eh kamu mau ngapain? jangan macam-macam Jun," ucap Alex tegas.


"Tenang Lex, aku cuma usaha, siapa tahu berhasil, cepat kalian keluar dulu," pinta Juna.


"Ya udah mas, ayo kita keluar dulu, aku yakin Juna nggak akan apa-apain pak David kok," ujar Anes.

__ADS_1


"Awas kalau macam-macam!" ancam Alex.


Dan mereka semua pun menuju ke pintu untuk keluar.


"Amel tetap di sini!" ucap Juna.


"Sebenarnya apa yang mau tuan Juna lakukan?" Amel penasaran.


"Udah cepat kalian keluar kecuali Amel," pinta Juna.


"Dasar aneh!" kata Alex, Brian dan Baim bersamaan.


Juna mengajak Amel mendekati ranjang David. Dia menggenggam tangan Amel. Awalnya Amel memberontak, tapi mata Juna mengisyaratkan Amel supaya menurut.


"Apa kamu benar-benar tak ingin bangun Dav? lihatlah! Baru dua Minggu kamu koma, aku sudah berhasil menggandeng tangan Amel. Jangan salahkan aku kalau lama-lama aku akan menggandeng tangan Amel ini ke pelaminan," ucap Juna.


"Pak Juna apaan sih, nggak lucu!" Amel berusaha melepaskan genggaman Juna, tapi tangan Juna cukup kuat untuk menahannya.


"Amel bukan gadis bodoh Dav, yang akan selalu menunggumu, dia juga butuh kepastian, butuh laki-laki yang bisa melindunginya, bukan laki-laki lemah tak berdaya seperti kamu sekarang ini. Katanya kamu mencintainya, tapi mana buktinya? Kamu bahkan tak ingin berusaha untuk bangun demi dia bukan? Kalau kamu masih tak ingin bangun juga, aku akan merebut Amel dari kamu Dav,"


"Maaf Dav, aku berbicara seperti ini sama kamu, aku hanya tidak tega melihat Alex dan Amel yang terus-terusan bersedih," batin Juna.


"Bangun Dav! jangan jadi laki-laki pengecut kamu! bilang cinta tapi tidak mempertanggung jawabkan omonganmu! bangun bodoh!"


"Pak Juna cukup! tidak usah bicara lagi, bagaimanapun saya akan tetap mencintai David, dalam kondisi apapun. Bapak tidak berhak bicara seperti itu sama David. Kalaupun akhirnya David meninggalkan saya, saya akan tetap mencintainya dan tidak akan berhenti mencintainya, tidak akan pernah mencari Penggantinya! kalau perlu aku akan menyusulnya!" teriak Amel sambil terisak. Ia tak terima dengan ucapan Juna.


"Dengar kan Dav? dia lebih memilih menjadi perawan tua jika kamu meninggalkannya! Dasar pengecut! Apa pantas perempuan sebaik ini menyia-nyiakan hidupnya hanya karena laki-laki tak bertanggung jawab sepertimu! bangun Dav! Atau aku akan paksa Amel buat menjadi istriku, aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak. Cinta bisa tumbuh seiringnya waktu, asal aku tulus memberikan cintaku untuknya, aku yakin lambat laun, dia juga akan mencintaiku,"


Secara refleks tangan David memegang tangan Juna dengan erat. Juna dan Amel yang melihatnya terkejut. Mereka saling melempar pandang.


"Kenapa Dav? tak terima? Makanya bangun!"


"Cukup pak Juna, tolong jangan bicara omong kosong lagi, saya mohon," ucap Amel, kemudian dia langsung memanggil dokter karena ada pergerakan pada tangan David.


Dokter masuk ke dalam ruangan dan meminta Juna dan Amel untuk keluar supaya dokter bisa memeriksa keadaan David.


"Apa yang terjadi? Kenapa dokter tiba-tiba masuk? Apa yang kalian lakukan di dalam?" Alex menginterogasi Juna dan Amel.


"Entahlah, pak Juna hanya omong kosong tadi di dalam," sahut Amel yang merasa kesal dengan Juna.


"Sorry Mel, jangan masukkan ke hati omonganku tadi, aku cuma berusaha," ucap Juna, karena tujuannya hanya ingin mencoba membuat David bangun, dia ingin semua keceriaan sebelumnya kembali lagi di antara mereka.


"Udah apa pak Juna? jelas-jelas kata-kata Anda tadi sangat tidak sopan!"


"Kita tunggu saja dokter keluar, apakah saya berhasil atau tidak," ucap Juna.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak.


"Apa yang terjadi dokter?" tanya Alex.


"Sungguh kuasa Tuhan itu nyata tuan Parvis, tuan David baru saja sadar dari komanya," ucap dokter.


Mendengar ucapan dokter membuat semua yang ada di sana yang tadinya tegang menjadi lega. Mereka secara bersamaan berucap syukur kepada Tuhan.


"Bolehkah kami masuk dok?" tanya Amel yang sudah tidak sabar.


"Boleh nona, tapi kondisi tuan David masih sangat lemah, tolong jangan mengajaknya bicara terlalu banyak. Kami permisi dulu," pamit dokter.


"Metode Anda sepertinya berhasil pak Juna, terima kasih," ucap Amel lalu menyusul Alex yang sudah masuk sejak dokter bilang David sudah sadar tadi.


"Emang apa yang kamu lakukan Jun?" tanya Brian penasaran.


"Ada deh!" sahut Juna.


"Kalau kalian mendengar apa yang aku bicarakan tadi, pasti aku sudah di hajar sampai babak belur sama kalian, apalagi Alex, bisa-bisa di bunuh aku," batin Juna.


Mereka pun menyusul yang lainnya ke dalam ruangan David di rawat.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ Jangan lupa bahagia dan jangan lupa votenya. Terima kasih ๐Ÿ™๐Ÿ’ 


__ADS_2