MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 148


__ADS_3

"Dav, kita mau kemana?" tanya Amel yang kebingungan karena dia dan David kini berada di dalam perjalanan tapi tidak tahu mau kemana.


"Nanti kamu juga akan tahu," sahut David yang tetap fokus pada kemudinya.


"Ish, kenapa nggak jujur aja sih mau kemana," ucap Amel cemberut.


David tidak menanggapinya.


"Dav, ada lagu K-Pop nggak?" tanya Amel sembari mencari-cari kaset di dasbor.


"Tidak ada Mel, aku punyanya genre rock," sahut David.


"Astaga dav, nggak nyangka kamu menyukai genre musik yang menurutku kurang manusiawi itu, teriak-teriak bikin sakit telinga, mendingan K-Pop, romantis,"


"Aku bukan kamu Mel, dan itu memang kesukaanku, berasa hidup aja nih jiwa kalau dengar musik rock," tukas David.


"Ya udah deh, stel radio aja ya," ucap Amel kemudian.


"Hem," sahut David singkat.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Anes sedang duduk di sofa sambil bermain-main dengan kuku-kukunya.


"Kamu sedang ngapain sayang?" tanya Alex.


"Ini aku sedang pakai cat kuku, cantik kan?" sambil menunjukkan kedua tangannya yang kuku-kukunya sudah berwarna pink.


"Bagus, mas boleh nyoba?"


"Mas mau pakai kutek?" tanya Anes menegaskan.


Alex mengangguk. Entahlah, apapun yang di lakukan atau di makan istrinya kadang sangat menggiurkan dan membuatnya pengen mencoba.


"Kerasukan titisan Roro Jonggrang nih kayaknya kemarin pas ke Jogja, makanya jadi tralala, masa mau pakai kutek? pink lagi,"


"Ini kutek mas, masa laki-laki mau pakai kutek sih? Anda sehat pak?" Anes menempelkan telapak tangannya ke jidat Memastikan.


"Mas cuma gemas aja sama warnanya, lucu. Bolehlah ya? satu aja di jempol, please? Ntar anak kita ngiler bagaimana kalau nggak keturutan?" rengek Alex.


"Harusnya aku yang ngomong gitu mas, aku yang hamil, ah sudahlah lagian mas yang ngidam bukan aku," ucap Anes


"Ya udah sini duduk, jempol kaki aja ya? biar nggak terlalu mencolok," lanjutnya.


"Tangan," sahut Alex.


"Mas,"


"Nanti cepat-cepat di hapus kok, ya?"


akhirnya Anes mengalah, ia memakaikan cat kuku ke kuku jempol Alex.


"Udah, cepat hapus," kata Anes.


"Biar kering dulu dong, yang ini belum?" sahut Alex.


"Katanya jempol doang?"


"Yang lainnya iri kalau cuma jempolnya yang di warnai sayang,"

__ADS_1


"Terserahlah!" kesal Anes dengan kelakuan suaminya yang semakin ajaib itu. Ia meninggalkan Alex menuju ke taman belakang.


"Sayang, jangan marah-marah nanti anak kita takut sama mommynya, kalau takut sama mommynya dan nggak mau keluar dari perut kamu bagaimana?" teriak Alex. Namun tak ditanggapi oleh Anes yang terus saja melangkahkan kakinya.


"Sayang, apa kamu benar-benar memiliki dendam pribadi dengan daddymu? Jangan siksa daddymu dengan tingkah konyolnya sayang," gumam Anes sambil mengusap perutnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan melelahkan, kini sampailah mobil yang di kendarai David dan Amel di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil.


"Dav, ini rumah siapa?" tanya Amel mengamati rumah di depannya.


"Rumah adik-adikku," sahut David.


"Adik?" Amel tak mengerti.


"Bukannya kamu tidak punya adik?" lanjut Amel.


"Ya, mereka adik beda ayah dan juga ibu," sahut David. Amel masih tak mengerti.


"Ayo!" ajak David. Amel mengikuti langkah David.


"Abang!" seru seorang gadis dari dalam rumah. Dan di ikuti beberapa anak remaja menyapa David.


"Kalian apa kabar?" tanya David kepada para penghuni rumah singgah miliknya. Ya tidak banyak yang tahu sisi lain dari seorang David Sebastian August. Dia memiliki sebuah rumah singgah yang di tinggali beberapa anak yang memiliki nasib sama dengannya dulu, tidak memiliki orang tua dan tempat tinggal.


David beruntung karena sebelum ke Australia, Alex bertemu dengannya secara tidak sengaja. David menolongnya dari keroyokan para preman suruhan teman sekampus Alex karena mantan kekasihnya lebih memilih mengejar-ngejar Alex daripada balikan dengannya. Ya meskipin Alex tidak mempedulikan gadis itu sama sekali. Yang ada dalam hatinya saat itu hanya Rania.


Dan karena kecerdasan otaknya, setelah kejadian itu, tanpa ragu Alex membawanya ikut ke Australia dia menjadi orang paling di percaya oleh Alex. Bahkan mereka sudah seperti saudara.


Awalnya David tidak mengetahui sosok Rania. Tapi ketika di Australia, Alex menceritakan semua masalahnya yang membuatnya memilih ke sana dan mengajak David bersamanya.


Waktu di Australia, David sesekali mengunjungi rumah singgah tersebut ketika dia kembali ke Indonesia untuk perjalanan bisnis. Sedangkan Alex selama enam tahun tidak pernah kembali karena tak ingin bertemu Rania.


"Baik bang," sahut mereka serentak.


"Tumben Abang kesini? biasanya Abang tidak punya waktu menengok kami, cuma ngirim uang buat keperluan kami, tapi tidak pernah ke sini," ucap gadis bernama Dila tersebut.


"Aku sibuk akhir-akhir ini," jawab David to the poin.


Dila melirik ke arah Amel. David mengerti arti lirikan Dila.


"Ini kak Amel, dia calon istriku," ucap David memperkenalkan Amel.


Mendengar David menyebutnya calon istri membuat Amel girang bukan main.


"Hai, aku Amel," Amel mengulurkan tangannya sambil tersenyum renyah.


"Dila," jawab Dila singkat.


Dan para penghuni rumah singgah tersebut memperkenalkan diri mereka satu persatu, lalu membubarkan diri ke aktivitas masing-masing.


"O ya, bagaiman kuliah kamu?" tanya David kepada Dila.


"Lancar bang, Sekitar 3 bulanan lagi aku harus magang, kalau boleh aku ingin magang di Parvis grup bang,"


"Terserah kamu mau magang di mana, asal gunakan kemampuan kamu sendiri," sahut David.


"Baik bang," ucap Dila. Sesekali ia melirik sinis ke arah Amel yang duduk di sebelah David dan mendengarkan mereka bicara.

__ADS_1


"Bang, Dila harus pergi karena ada janji sama teman, Nggak apa-apa kan bang?" tanya Dila.


"Pergilah," sahut David.


David mengajak Amel keliling rumah dan berhenti di sebuah gazebo di halaman rumah tersebut. Ia mengajak Amel duduk di sana.


"Jangan di ambil hati sikap Dila tadi, dia memang seperti itu anaknya, cuek kalau sama orang yang baru kenal," ucap David.


"Aku mengerti, jangan khawatir," sahut Amel sambil tersenyum.


David menceritakan bagaimana dulu ia harus berjuang untuk kuliah dan bekerja demi untuk kelangsungan para penghuni rumah tersebut. Hingga akhirnya bertemu Alex sehingga dia bisa menghidupi mereka dengan lebih layak.


Walaupun jarang ke sana, tapi David selalu mengirim uang untuk kebutuhan mereka, ada yang sudah kuliah sambil bekerja seperti Dila, dan juga tidak jarang Alex juga mengirim uang untuk mereka.


Amel semakin kagum dengan sosok pria di sampingnya itu. Ternyata dia memiliki hati yang sangat baik dan tulus. Tidak hanya menampung mereka, tetapi juga menyekolahkan mereka hingga kuliah.


Masih banyak yang belum Amel ketahui tentang kekasihnya tersebut. Ia hanya berpikir berapa besar sih gaji yang di berikan oleh Alex kepadanya, karena laki-laki itu sekarang tampak tidak seperti orang miskin, tapi justru sebaliknya.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti tambah cinta sama aku. Kan bahaya kalau cintanya overdosis," ucap David.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Anes sedang menikmati camilan sambil menonton televisi. Namun ia tidak fokus kepada layar televisi di depannya, melainkan dengan layar ponselnya. Ia menerima chat dari Amel. Amel mengiriminya photonya yang sedang berada di rumah singgah tersebut.


"Ah, Amel. Kenapa ngga ajak-ajak sih?" gumam Anes.


Alex yang tiduran di pangkuan Anes sambil usil dengan perut Anes pun mendongak.


"Kenapa sayang?"


"Ini mas, Amel di ajak pak David ke rumah singgah milik pak David. Kenapa pak David nggak pernah cerita ya kalau dia sedermawan itu," ucap Anes.


"Jangan salah, suami kamu ini juga tak kalah dermawan ya sayang, rumah itu mas yang beli, mas juga suka kirim uang untuk mereka," ucap Alex.


"O ya? kenapa mas nggak pernah cerita?"


"Itu punya David sayang, mas hanya membelinya dulu, sebagai tanda terima kasih David karena telah menolong mas dari keroyokan preman, mas kasih rumah itu kepada David. Dulunya rumah itu di sewa oleh David untuk menampung mereka,"


"Kamu nggak marah kan? mas juga sering kirim uang untuk keperluan anak-anak itu?" lanjutnya.


"Tentu saja enggak dong mas, justru aku malah senang, punya suami seperti mas Alex," sahut Anes bangga.


"Eh, tapi dimana orang tua pak David?"


"Entahlah, setahu aku David tumbuh di panti asuhan, dan ketiak menginjak dewasa, ia memutuskan untuk meninggalkan panti dan hidup mandiri," jelas Alex.


"Owh," sahut Anes. Ia tidak menyangka ternyata seperti itu hidup seorang David. Diam-diam dia juga mengagumi sosok pria yang sangat setia dengan suaminya tersebut. Bahkan kadang kesetiaannya membuat Anes iri.


"Ah udahlah nggak usah bahas David lagi, Mas mau bermain dengan anak kita," Alex menyingkap kaos yang di pakai Anes dan mengusel-uselkan kepalanya di perut Anes yang membuat Anes merasa geli.


"Mas udah, geli tahu," ucap Anes.


"Ayo ikut aku,!" ajak Anes.


"Kemana?"


Alex hanya menurut. Mereka masuk kamar dan ternyata Anes mengajaknya ke kamar untuk mencukur bulu jenggot Alex yang mulai tumbuh dan membuatnya kegelian setiap kali laki-laki itu mencium atau ngusel-usel Anes.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


__ADS_2