MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 89


__ADS_3

Anes tengah sibuk menyiapkan makan malam, sesekali ia menghela nafas jika ingat kesedihan Amel. Ya, tidak ada yang tahu apa yang terjadi kedepannya. Seperti orang tua Amel yang selama ini terlihat baik-baik saja, tiba-tiba akan segera berpisah. Tidak semua apa yang di lihat orang baik di luar pasti baik juga di dalam. Ada kalanya kenyataan tidak sesuai pandangan orang luar.


Kali ini, Anes memasak lebih banyak dari biasanya karena ada Amel dan David yang akan makan malam di sana. Walaupun Anes nggak yakin kalau Amel akan makan dengan kondisinya yang sedang down seperti itu.


Selesai masak, Anes menata makanan di meja makan. Karena ia merasa badannya penuh dengan keringat, Anes memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru memanggil Alex, David dan Amel untuk makan malam. Sebelum naik ke kamarnya, ia mengecek keadaan Amel dan ternyata gadis tersebut masih tidur.


Setelaj mandi dan memakai bajunya, Anes menuju ke ruang kerja suaminya.


"Mas, ayo makan dulu. Makan malam udah aku siapin tuh," ajak Anes. Namun, tidak di respon oleh Alex yang tengah sibuk bermain game di ponsel pintarnya. Begitu juga David, ia menikmati permainan hingga tidak menyadari ada istri bosnya di sana.


"Mas,"


Alex tetap tidak merespon, membuat Anes merasa kesal. Kemudian, ia mendekat ke arah Alex dan David untuk memastikan sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan dengan ponsel mereka.


Mengetahui kalau suami dan asistennya tersebut sedang bermain game hingga lupa segalanya membuat Anes semakin kesal. Ia menatap kedua pria tersebut dengan tatapan mematikan.


"Bos, kok saya merinding ya. Merasa ada sesuatu yang menyeramkan," ucap David yang tetap fokus pada layar ponselnya.


"Ada setan kali!" sahut Alex tanpa memikirkan kalimatnya. Pandangannya fokus terhadap layar ponsel.


"Kampret! aku di bilang setan?"Anes kesal mendengar ucapan suaminya tersebut. Beberapa saat Anes berdiri di sana, namun tetap tidak di sadari oleh kedua pria tersebut.


"Bagus ya, main game terus sampai istri dari tadi manggil-manggil nggak dengar!" Anes menarik telinga Alex dan tangan yang satunya mengambil ponsel Alex.


"Ampun ampun sayang, mas nggak tahu kalau kamu memanggil. Dav, kenapa kamu nggak bilang kalau ada Anes di sini?" mencoba mencari kambing hitam.


"Saya juga tidak tahu bos," sahut David.


"Pantas dari tadi seperti ada aura menyeramkan," gumam David lirih.


"Apa Anda bilang? coba ulangi!" ternyata Anes mendengar ucapan David.


"Ah tidak nona, saya tidak bilang apa-apa kok," kilah David.


"Ck. Pak David pikir saya nggak dengar tadi pak David ngomong apa?" Anes berdecak kesal. Tangannya masih memegang satu telinga Alex.


David bungkam seribu bahasa. Percuma juga berdebat sama istri bosnya itu, pasti dia akan kalah telak karena memang nyatanya tadi di bicara seperti yang Anes dengar.


"Sayang lepasin dong tangan kamu," pinta Alex nyengir. Lagi-lagi, harga dirinya sebagai seorang Presdir yang berpengaruh lenyap saat ini juga.


"Kalian ini ya, tuh temanku lagi galau, karena kedua orang tuanya akan bercerai, eh kalian malah asyik sendiri di sini main game. Sampai lupa segalanya," kesal Anes.


"Apa? cerai?" tanya Alex dan David serentak.


"Iya, kasihan kan Amel," mendadak mukanya berubah dari yang garang menjadi sedih.


"Terus kita harus bagaimana sayang? ikut meratapi nasib sambil menangis bersama kalian begitu?" tanya Alex polos.


"Ya nggak gitu juga mas, tapi..."


"Ya udah, berati kita nggak salah juga kan main game di sini, daripada mengganggu kalian yang sedang curhat?"

__ADS_1


"Tau ah! Pasti pak David kan yang mengajak suami saya main game? jangan pengaruhi mas Alex. Saya tahu Anda jomblo dan game merupakan salah satu pelarian, tapi mas Alex ini punya istri, jangan sampai dia mengabaikan saya hanya kerena main game," ucap Anes pedas.


"Kok jadi aku yang di salahkan? perasaan tadi bos yang mengajak. Hah lagi-lagi mulut anda bicara pedas sekali nona, tidak usah bahas kejombloan saya juga kali, ini suami Anda yang ajak main, suami Anda! bukan saya," batin David tak terima.


"Kenapa diam?" tanya Anes melotot.


"Tapi,,,," kalimat David menggantung.


"Ah iyain aje deh!" batin David.


"Iya nona, saya minta maaf. Terus sekarang keadaan Amel bagaimana?"


"Dia sudah lebih tenang dan sekarang sedang tidur," jawab Anes.


"Pantas dari tadi dia hanya menangis terus, ternyata orang tuanya akan berpisah. Meskipun dia sudah dewasa, tapi tetap saja perpisahan orang tua adalah hal yang menyakitkan," David menghela nafas panjang.


"Yaudah, kalian cuci tangan dan ke meja makan. Aku udah nyiapin makan malam. Aku mau membangunkan Amel buat makan, pasti dia dari tadi belum makan," ucap Anes sambil meninggalkan Alex dan David.


"Sayang ponsel mas?"


"Mas mau hp ini, tapi nggak aku kasih jatah sebulan mau?"


"Nggak, nggak sayang, mas nggak mau hpnya Silahkan bawa pergi hpnya, atau buang saja nggakpapa," Alex menyunggingkan senyumnya semanis mungkin.


"Hish dasar!" Anes meninggalkan Alex dan David.


David terkekeh dengan ketidak berdayakan bosnya di depan sang istri.


"Tidak bos, tidak ada yang lucu," sahut David, namun tetap saja ia terkekeh.


"Ayo cepat kita cuci tangan dan makan, dari pada kena omel nyonya yang punya apartemen ini," ajak Alex. David hanya mengiyakan ajakan bosnya.


🌼🌼🌼


Anes membuka pintu kamar tamu pelan-pelan agar tidak mengagetkan Amel.


"Mel, bangun! ayo makan dulu!" Anes menggoyang-goyangkan badan Amel dengan pelan.


Amel mengerjapkan mata lalu menguceknya karena pandangannya sedikit kabur karena bangun tidur dan mungkin juga efek dari menangis.


"Jam berapa ini Nes?" tanya Amel dengan suara setengah mengantuk.


"Jam tujuh lebih Mel, cuci muka kami dan ayo kita makan. Pasti dari pagi kami belum makan kan?"


"Iya Nes, mana ada aku selera makan seharian ini?" sahut Amel.


"Makanya ayo cepat cuci muka terus makan, sedih boleh tapi jangan menyiksa diri dengan tidak makan Mel. Mas Alex dan pak David pasti udah menunggu,"


"Pak David masih di sini Nes?"


"Iya, dia masih di sini, kenapa memang?"

__ADS_1


"Nggak papa sih Nes, hanya saja, aku nggak enak sama pak David. Tadi aku hanya diam dan menangis tanpa mempedulikan dia yang terus bertanya sama aku Nes,"


"Udah nggak papa, pak David pasti bisa mengerti kok, ngomong-ngomong apa Dimas tahu kalau kami lagi ada masalah kayak gini?"


Amel menggelengkan kepalanya.


"Berkali-kali aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban Nes, akhir-akhir ini juga di bilang lagi sibuk sampai nggak ada waktu buat aku," ucap Amel.


"Ya udah buruan cuci muka, aku juga udah lapar banget nih," Anes mengelus perutnya.


Amel mengangguk dan meluncur ke kamar mandi yang ada di kamar tamu tersebut.


Di meja makan, Alex dan David sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Anes. David sesekali mencoba untuk mengambil makanan yang sudah terhidang dengan rapi di meja makan. Namun di tepis oleh Alex.


"Heh, tahu malu dikit kenapa? yang punya rumah belum mempersilahkan buat makan ini," ucap Alex sambil menepis tangan David.


"Keburu lapar bos, lagian ini kelihatannya enak sekali," sahut David tanpa dosa.


"Aku juga lapar kali, tapi nunggu Anes dan Amel dulu lah, menghormati wanita. Kesenangan ya kamu, bisa makan masakan istri saya lagi?"


"Amel, apa kamu baik-baik saja?" bukannya menyahut bosnya, David malah menyapa Amel yang baru saja datang ke ruang makan.


"Iya pak David, saya nggak baik-baik saja kok. Sudah mendingan dari pada tadi,"


"Sok perhatian!" celetuk Alex dan langsung di cubit oleh Anes.


"Biarin aja kenapa sih? cemburu? mau di perhatiin juga sama pak David?" Anes mulai melayani Alex dengan mengambilkan nasi, sayur dan lauknya.


"Nggak sayang, mas hanya butuh perhatian dari kamu," Alex mengusel-uselkan wajahnya di lengan Anes yang baru saja meletakkan piring berisi nasi dan pelengkapannya di depan Alex.


David dan Amel hanya bisa menyaksikan kemesraan dua sejoli tersebut.


"Udah cepat makan, jangan berisik!"


Mereka mulai makan dengan khidmat tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka.


Selesai makan, David dan Amel berpamitan kepada Alex dan Anes.


"Kamu nggak menginap di sini saja Mel? biar besok berangkat kerjanya barengan sama aku dan mas Alex? mas nggak keberatan kan kalau Amel menginap di sini?"


"Nggak sayang, kapanpun Amel boleh menginap di sini," sahut Alex.


"Asal nggak ganggu saja kalau kita sedang olah raga malam," batin Alex.


"Nggak ah Nes, aku balik aja," sahut Amel.


"Biar saya yang mengantarkan Amel, kalau begitu kami permisi dulu,"


"Baiklah, kalian hati-hati ya. Nitip Amel ya pak David?"


"Baik nona,"

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2