
"Tap tap tap," dengan langkah pelan tapi pasti, Alex menghampiri pak Arya yang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pesakitan.
Melihat Alex masuk dan mendekatinya, pak Arya melepaskan alat bantu pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Lex,,," ucap pak Arya lirih sambil mengulurkan tangannya kepada Alex. Seketika cairan menetes dari pelupuk matanya.
"Pa, Syukurlah papa sudah sadar," Alex menggenggam erat tangan pak Arya.
"Maafkan papa Lex," ucap pak Arya sambil terisak.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa papa minta maaf padaku?" batin Alex.
"Papa tidak salah apa-apa sama Alex, tidak perlu minta maaf. Sudah, papa jangan banyak bicara dulu, dokter bilang papa harus banyak istirahat," ucap Alex pelan. Sebenarnya ia masih menerka-nerka apa yang membuat pak Arya tiba-tiba minta maaf.
"Papa salah sama kamu Nak, maafkan papa, karena papa telah egois. Papa menyesal Lex, selama ini papa tidak tahu kalau Rania,,," ucap pak Arya dengan nafas tersengal-sengal.
"Rania? Apa yang wanita itu katakan kepada papa?" batin Alex geram, rahangnya seketika mengeras namun buru-buru ia menutupi kekesalannya di hadapan pak Arya.
"Pa, jangan banyak bicara dulu, apapun yang ingin papa katakan, katakan nanti kalau papa sudah sembuh. Dan juga jangan banyak berpikir," sahut Alex sebelum pak Arya melanjutkan ucapannya.
"Tidak Nak, papa harus mengatakannya sekarang. Papa takut kalau papa sudah tidak memiliki waktu lagi,"
"Papa jangan bicara seperti itu, papa pasti sembuh. Dokter bilang papa sudah melewati masa kritis. Papa jangan khawatir, Alex akan mencari dokter terbaik buat papa. Papa harus sembuh, biar kelak kalau Alex sudah memiliki anak, papa bisa bermain dengan mereka,"
"Tidak Nak, selama ini papa sudah berjuang melawan penyakit papa, namun semua kembali kepada kehendak Tuhan. Papa benar-benar minta maaf sama kamu, soal Rania. Kalau saja sejak dulu papa tahu kalau Rania adalah pacar kamu, papa tidak akan pernah merebutnya dari kamu Lex. Papa tahu, kamu pasti sangat membenci papa kan? Seharusnya papa menyadari ada yang salah dengan pernikahan papa sama Rania sampai kamu bisa sangat membenci dia," ucap pak Arya dengan susah payah. Nafas pak Aryan mulai tidak stabil. Derai air mata membanjiri wajahnya.
"Pa, jangan bicara apa-apa lagi," Alex mengusap air mata pak Arya.
"Maafkan kebodohan papa Lex, papa terlalu buta selama ini hingga dengan mudahnya ditipu oleh wanita seperti Rania. Papa menyesal, tolong jangan benci papa Lex,"
"Pa, Alex mohon berhenti menyalahkan diri papa sendiri, papa tidak bersalah dalam hal ini. Alex tidak pernah membenci papa. Sudah papa jangan bicara lagi," sahut Alex yang mulai cemas dengan kondisi pak Arya.
"Maafkan papa, papa menyesal," pak Arya menggenggam erat tangan Alex. Kondisinya semakin tidak stabil. Nafasnya tersengal-sengal begitu berat, hingga dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya.
"Pa, papa!" seru Alex ketika melihat pak Arya mulai kehilangan kesadarannya kembali.
"Dokter! Cepat panggil dokter!" teriak Alex frustasi.
Tak berselang lama, dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan pak Arya.
"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa papa bisa begini?" Alex meminta penjelasan.
"Tuan tolong Anda keluar terlebih dahulu, biar dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien," ucap salah seorang perawat kepada Alex.
__ADS_1
Alex menurut, ia keluar ruangan dengan lemah tanpa tenaga.
"Mas, apa yang terjadi?" Anes menghampiri Alex, ia juga kelihatan sangat cemas karena melihat beberapa perawat keluar masuk ruangan pak Arya.
"Papa kehilangan kesadarannya kembali," jawab Alex lesu tak bertenaga.
"Mas duduk dulu," Anes memapah Alex untuk duduk. Mereka berjalan melewati Rania.
Alex menatap wanita itu penuh kebencian. Rasanya ia ingin memakinya.
"Mas minum dulu, biar sedikit tenang. Papa pasti baik-baik saja," Anes membukakan tutup botol air mineral dan memberikannya kepada Alex. Hatinya juga cemas dan takut kalau terjadi sesuatu yang paling tidak di inginkan pada pak Arya, mertua kesayangannya. Tapi, ia juga harus menguatkan hati suaminya.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan pak Arya di rawat.
"Bagaimana papa saya dok?" tanya Alex.
"Maaf Tuan, saat ini kondisi pak Arya sangat buruk. Beliau koma," jawab dokter dengan takut-takut.
"Apa? Bagaiman bisa papa koma? Dokter jangan mempermainkan saya, tadi dokter bilang kalau papa sudah melewati masa kritisnya. Apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar hah?" Alex mencengkeram kerah kemeja dokter. Sebenarnya dia tidak marah dengan dokter, dia hanya merasa sangat sedih dan tidak tahu harus bagaimana melampiaskannya.
"Maafkan kami Tuan muda Parvis, kondisi tuan Arya sendiri yang tidak memiliki semangat untuk bangun. Beliau yang ingin menyerah atas semuanya. Sekarang hanya bisa berharap sebuah keajaiban,"
"Apa yang Anda katakan? sebuah keajaiban? Lakukan apapun untuk membuat papa sadar dan sembuh, atau saya akan tutup rumah sakit ini!" ancam Alex.
"Alex mendekat ke arah dinding kaca, disana dia melihat papanya tergolek tak berdaya.
"Pa, Alex mohon bertahanlah. Alex akan mendatangkan dokter-dokter yang tebaik, papa harus kuat, dan memiliki semangat. Kenapa dokter bilang papa ingin menyerah? Apa papa tega sama Alex? Alex masih butuh papa," ucap Alex.
"Semua gara-gara kamu, apa yang kamu katakan sama papa sampai papa seperti ini? katakan!" teriak Alex sambil melihat Rania penuh kebencian.
"Aku, aku tidak tahu Lex, sungguh aku tidak mengatakan apapun sama papa kamu, aku menemukannya sudah tidak sadar. Percayalah Lex, aku juga sangat sedih hiks hiks hiks," sahut Rania sambil terus menangis.
"Simpan air mata palsumu itu! papaku tak butuh kau tangisi!" hardik Alex.
"Mas, sudah. Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Kita harus banyak-banyak berdoa semoga papa Arya cepat sadar dari komanya," ucap Anes sambil mengelus-elus dada suaminya.
Suasana menjadi hening, tak ada yang bersuara. Mereka diam dengan kesedihan dan pikiran masing-masing.
🌼🌼🌼
Flashback on
Saat sedang tidur, pak Arya meraba-raba tempat tidur di sampingnya, kosong tak ada sosok Rania di sana. Perlahan pak Arya membuka matanya dan mengambil kaca mata yang ia letakkan di atas nakas.
__ADS_1
"Kemana Rania?" gumam pak Arya. Kemudian, ia turun dari ranjang untuk mencari keberadaan Rania. Samar-samar ia mendengar suara orang sedang bicara di telepon di balkon kamarnya.
"Rania? Siapa yang malam-malam begini meneleponnya?" batin pak Arya. Ia berniat untuk memanggil Rania kembali masuk ke kamar karena di luar dingin.
Namun, belum sempat memanggil, pak Arya mendengar dengan jelas apa yang sedang Rania katakan pada orang di seberang teleponnya.
"Hah, kamu jangan membahas pak tua Arya itu. Aku malas membahasnya. Kamu tahu, aku sekarang terjebak dalam pernikahan dengan laki-laki tua itu. Kalau saja dulu aku tahu Alex adalah anaknya, aku lebih memilih menjadi menantunya dari pada harus menjadi istrinya. Hah aku memang bodoh, meninggalkan Alex untuk laki-laki paruh baya seperti itu. Semua demi menjamin masa depanku. Sekarang Alex sudah menikah, dan aku malah terjebak dengan ayahnya," ucap Rania, ia tak sadar kalau pak Arya menguping pembicaraannya.
"Apa maksud ucapannya? Jadi selama ini dia hanya menginginkan hartaku. Dan apa maksudnya dia lebih memilih menjadi menantuku? Apa hubungannya dengan Alex?" batin pak Arya.
"......" entah apa yang di katakan lawan bicara Rania, yang kemungkinan adalah temannya itu.
"Hah, apa kamu sudah gila? kalau aku bilang sama mas Arya kalau aku adalah mantannya Alex, dan waktu itu aku meninggalkan Alex demi menikah dengannya, pasti aku akan di buang sama mas Arya. Dia memang sangat mencintaiku, tapi dia lebih mencintai putranya itu. Dan aku tidak punya alasan untuk tidak pergi kalau di usir dari sini. Kamu tahu sendiri kan, sampai sekarang laki-laki itu tidak bisa membuatku hamil. Coba saja kalau aku punya anak dari dia, mungkin bisa di jadikan senjata," keluh Rania pada temannya.
"Jadi dia dan Alex dulu ada hubungan? dan aku merebutnya dari anakku sendiri? Ayah macam apa aku ini," pak Arya merutuki dirinya sendiri setelah mendengar semua uang di bicarakan Rania.
Tak lama kemudian, Rania mengakhiri teleponnya. Ia hendak masuk kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pak Arya sudah berdiri di hadapannya.
"Mas," ucap Rania kaget.
"Apa dia mendengar obrolanku tadi?" Rania bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kenapa mas bangun? ayo tidur lagi, ini masih malam," ajak Rania.
"Katakan yang sejujurnya padaku Rania," ucap pak Arya dengan suara merendah.
"Ma maksud mas?" Rania pura-pura tidak mengerti.
"Aku sudah mendengar semuanya, katakan padaku sejujurnya. Aku ingin mendengar langsung dari mulut kamu," sahut pak Arya datar. Ia berusaha menahan sesak di dadanya.
"Mas, dengarkan aku dulu, semua tidak seperti yang mas dengar, aku bisa menjelaskan semuanya," Rania berusaha mengelak.
"Katakan Rania, apa benar dulu kamu adalah kekasih Alex sebelum kita menikah? Dan kamu mencampakkannya demi untuk menikah denganku hah? Jawab!" pak Arya sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Iya! aku memang cinta pertamanya Alex, aku rela meninggalkannya dan menikah dengan kamu mas padahal anak kamu itu sangat mencintaiku dan aku, aku juga mencintai dia. Sekarang mas sudah tahu semuanya kan?" sahut Rania jujur. Ia merasa percuma juga berbohong untuk saat ini, karena faktanya pak Arya sudah mendengar semuanya.
"Bagaimana perasaan mas sekarang? sudah menyakiti anak kandung mas sendiri? sakit bukan? Sama sakitnya ketika aku tahu, Alex di jodohkan dengan wanita sialan itu. Dan lebih sakit lagi ketika aku mendengar kalau mereka saling mencintai. Aku muak setiap kali mendengar kata itu karena sampai sekarang aku masih mencintai Alex, aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Rania dengan lantang namun air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Kurang ajar kamu, berani sekali kamu menipuku selama ini Rania, dasar wanita nggak tahu diri," pak Arya mengangkat satu tangganya ingin menampar istrinya tersebut. Tapi tiba-tiba ia merasakan sakit yang amat sangat di dadanya. Ia memegangi dadanya, perlahan-lahan ia tersungkur dan tak sadarkan diri.
"Mas, mas Arya bangun mas!" Rania mencoba menggolek-golek tubuh pak Arya, tapi percuma, suaminya sudah tidak sadar.
Flashback Of
__ADS_1
🌼🌼🌼