
Sudah 3 hari Alex tidak mendengar kabar dari Anes. Ia terus mencarinya sepulang kerja sampai larut malam tapi tidak ketemu. Ia bahkan tidak bisa tidur memikirkan istrinya.
Suasana rumah benar-benar sunyi. Para pelayan tidak ada yang berani bertanya tentang apa yang terjadi. Yang jelas mereka tahu kalau kedua majikannya sedang ada masalah.
Di kantor...
"Tok tok tok"
"Masuk!" perintah Alex ketika pintu ruangannya diketuk.
"Bapak memanggil saya?" tanya Amel.
"Bagaimana? apa kamu mendapatkan kabar dari istri saya?" tanya Alex.
"Em itu, belum pak, dia tidak menghubungi saya sama sekali," jawab Amel terpaksa bohong, ia sudah berjanji kepada Anes untuk tidak memberitahu Alex di mana dia sekarang. Amel juga kesal dan marah dengan Alex karena telah menyakiti hati sahabatnya. Bahkan Amel juga mendiamkan David, sebagai tanda protesnya.
"Kalau begitu kamu boleh keluar," ucap Alex kemudian.
"Baik pak," Amel langsung berbalik badan menuju ke pintu keluar.
"Tunggu! kalau Anes menghubungi kamu, tolong kasih tahu saya," pinta Alex.
"Nggak janji!" batin Amel.
"Baik pak," ucapnya kemudian.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Mel ikut aku," David memegang pergelangan tangan Amel dan menariknya ke koridor kantor.
"Lepasin Dav," berontak Amel.
"Kenapa dari kemarin kamu diemin aku Mel? Aku mau jelasin sama kamu,"
"Tidak perlu! aku sudah tahu semuanya," menepis tangan David.
"Terus kenapa kamu diemin aku kayak gini?"
__ADS_1
"Karena aku kecewa sama kamu, kenapa kamu mendukung pak Alex untuk menutupi semua ini dari Anes?" Amel berkacak pinggang sambil melotot David saat bicara.
"Aku tidak pernah mendukungnya" protes David.
"Huh, sebel!" Amel menendanh junior David dan langsung pergi.
"Aw! Mel ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" ucap David sedikit berteriak sambil meringis menahan ngilu.
"Hah lagi-lagi aset masa depan kita yang jadi korban," batin David.
Sepulang kerja, Amel melihat tukang rujak, ia langsung membelinya karena ingat Anes sedang hamil, dan mungkin akan suka jika ia memberikannya.
"Nih, aku tadi lihat tukang rujak, aku beliin buat kamu. Biasanya kan orang hamil suka yang asem-asem," ucap Amel sambil menyodorkan rujak buah yang tadi ia beli.
"Makasih Mel," Anes menerimanya. Tiba-tiba mukanya berubah sedih, ia ingat suaminya yang akhir-akhir ini bertingkah seperti orang ngidam.
"Mas Alex apa kabar, apa dia bisa makan dengan baik? tidur dengan baik? apa dia masih mual? " batin Anes.
"Kenapa Nes?"
"Aku ingat mas Alex Mel, sepertinya kan dia yang sedang ngidam Mel. Bagaimana kondisinya sekarang, apa masih sering mual dan bersikap aneh-aneh. Bagaimana dia mengurus dirinya sendiri," Anes mengkhawatirkan suaminya.
"Terus?"
"Ya, aku jawab aja enggak. Dia tampak tampak frustasi nes, kacau deh pokoknya,"
mendengar ucapan Amel, Anes menjadi diam dan melamun. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Malah bengong, makan ini rujaknya apa cuma mau di lihatin doang?"
"Iya aku makan, makan bareng yuk!" ajak Anes.
Mereka berdua pun memakan rujaknya bersama.
"Ngomong-ngomong, kapan Tante Mira pulang Mel? aku nggak enak kalau numpang lama-lama," tanya Anes.
"Udah nggak usah di pikirin, mama pulangnya paling minggu depan, karena dia mau buka cabang di kota X," sahut Amel.
"Wah, Tante Mira hebat ya, kenapa kamu nggak bantu mama kamu aja sih Mel?"
__ADS_1
"Aku tidak tertarik dengan dunia masak memasak Anes, aku tahunya makan, lagian nggak asyik kerja sama mama sendiri, lebih asyik kerja di Parvis group," jawab Amel.
"Ya iyalah asyik, apalagi sekarang ada pak David, iya kan?" goda Anes.
"Kamu Nes, kalau ngomong suka benar dah haha," sahutan Amel.
Obrolan mereka pun berlanjut hingga akhirnya rujak yang mereka makan habis tak tersisa.
๐ผ๐ผ๐ผ
Malam harinya, Anes tidak bisa tidur, ia terus melihat photonya bersama Alex dari ponselnya. Tanpa terasa air matanya jatuh.
"Sebenarnya kalian masih berhubungan nggak mas sampai sekarang? aku takut kamu mengkhianati aku, tapi kenapa aku tidak bisa percaya jika kamu dan mama Rania masih berhubungan. Hati kecilku terus saja menolaknya. Aku sangat merindukan kamu mas, tapi untuk bertemu, aku belum bisa, aku masih ragu dan takut. Bukan karena aku tidak mencintai kamu. Justru karena cintaku yang begitu dalam, hingga aku tak sanggup jika bertemu kamu dan meluapkan emosiku ke kamu, lebih-lebih aku takut tidak bisa menahan rasa kecewaku dan akhirnya aku akan mengambil keputusan yang salah. Aku juga ingin memastikan hubungan kalian sekarang seperti apa," batin Anes. Ia melihat Amel sudah tertidur pulas. Kemudian dia mendekati jendela dan menatap langit yang bertabur bintang.
Di kediaman Alex...
Hal yang sama juga di lakukan oleh Alex, dia melihat photo-photo Anes yang kadang ia ambil secara diam-diam.
"Sayang, kamu di mana? mas udah menyuruh orang-orang mas buat cari kamu tapi tidak ketemu," gumam Alex. Dia tidak pernah berpikir kalau Anes sedang berada di rumah Amel. David bilang kalau Anes tidak di rumah Amel dan dia percaya.
Bukannya David menyembunyikan fakta kalau dia tahu di mana Anes, tapi ini demi kebaikan mereka berdua menurutnya.
Mereka saling mencintai dan saling membutuhkan, itu tidak bisa di pungkiri lagi.
David hanya ingin memberikan mereka waktu untuk sama-sama berpikir, supaya Alex bisa lebih terbuka lagi ke depannya, dan Anes bisa lebih memahami cinta Alex yang sesungguhnya.
"Maafin mas, ini semua salah mas, kalau saja dari awal mas cerita sama kami, pasti semua tidak akan seperti ini. Mas tahu, kamu pasti benci sama mas sekarang. Tidak, bukan cuma kamu, bahkan mas membenci diri mas sendiri, bukannya mas tidak ingin cerita. Tapi, mas benar-benar sudah tidak ingin membahas dan menyebut nama wanita itu lagi. Bagi mas Rania yang dulu mas kenal sudah mati," monolog Alex sambil terus memandangi potret istrinya, di balkon kamarnya. Ia mendongak menatap langit dan mengucapkan seutas doa, semoga di manapun istrinya berada saat ini, dia baik-baik saja.
Anes dan Alex saling memandangi langit yang sama, tapi tak saling menyapa. Terlihat jelas rasa rindu dari keduanya. Hanya mampu saling mendoakan dari tempat mereka berdiri masing-masing berdiri saat ini.
Jika bisa memilih, mereka tidak ingin melewati ujian hidup yang seperti ini, mereka lebih memilih untuk hidup lempeng tanpa batu sandungan. Namun, begitulah kehidupan berumah tangga, sedikit batu sandungan untuk memperkuat ikatan cinta yang sudah mereka bangun dan jaga selama ini.
Bukannya mereka tak yakin akan cinta yang di berikan satu sama lain, tapi terkadang ego masih saja menguasai hati. Menyendiri sejenak untuk berpikir lebih dewasa mungkin jalan yang terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ