
"Hallo Dav, cancel semua meeting hari ini," Alex langsung bicara saat David mengangkat panggilannya.
"Tapi bos, meeting hari ini sangat penting. Apa Anda tidak bisa datang?"
"Istriku sedang sakit, bagaimana bisa aku meninggalkannya sendirian? Atau kamu saja yang datang sebagai wakilku?"
"Masalahnya klien kita ini, dua-duanya ingin bos langsung yang menemuinya,"
"Hah merepotkan! kalau bisa di undur. Kalau mereka menolak, cancel saja. Anes lebih penting dari apapun!" ucap Alex tegas.
"Baiklah bos, akan saya urus," sahut David.
"Tut!" Alex langsung mematikan ponselnya.
"Hah, ada-ada saja. Sekarang bagaimana aku bisa membuat mereka setuju untuk memundurkan jadwal meeting tanpa membuat mereka marah. Klien kali ini bukan orang sembarangan. Salah bicara, bisa-bisa gagal proyek kerja sama besar ini," gumam David dalam hati. Ia melempar ponselnya ke meja kerjanya lalu melonggarkan dasinya yang ia pakai.
Sementara itu, Alex langsung kembali ke kamar dan mengecek kondisi Anes.
"Kenapa demamnya belum turun juga? padahal sudah minum obat, apa obatnya tidak bekerja?" batin Alex ketika meletakkan tangannya di kening Anes.
"Mas dingin," ucap Anes dengan suara menggigil karena demam.
Alex naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk tubuh Anes dengan erat. Ia merasakan hawa panas dari tubuh Anes. Tapi, ia tidak peduli, yang ia pedulikan hanya membuat Anes merasa lebih hangat.
Alex terus menjaga dan merawat Anes dengan telaten hingga demam Anes berangsur turun.
"Syukurlah, demam kamu sudah turun sayang," ucap Alex sambil mengecek termometer yang baru saja ia ambil dari ketiak Anes.
"Bagaimana? apa udah enakan?" imbuh Alex.
"Sudah mendingan mas. Ini udah larut malam, mas Alex tidurlah!" Anes bisa melihat rasa kantuk yang di tahan oleh Alex karena hari sudah larut malam. Lebih-lebih dari pagi Alex terus menunggui dan merawat Anes sampai lupa mengurus dirinya sendiri. Alex melihat jam di tangannya ternyata sudah jam 2 dini hari.
"Iya sayang, habis ini mas akan tidur," sahut Alex yang kini sedikit lega karena Anes sudah tidak demam.
"Makasih mas sudah merawat aku dengan tulus, mas pasti sangat capek dari pagi terus merawat aku," Anes merasa bersalah
"Itu udah jadi kewajiban mas sayang, mas nggak capek kok, yang penting kamu cepat sembuh, sekarang kamu tidur lagi ya?"
Anes mengangguk dan memejamkan matanya. Alex segera memeluk dan menyusul Anes tidur karena ia juga sudah merasa sangat lelah dan mengantuk.
🌼🌼🌼
Paginya, Anes bangun dengan kondisi yang lebih baik. Ia merasa ada sesuatu yang menindih perutnya yang ternyata adalah tangan Alex yang memeluknya.
Anes menoleh, memandang wajah Alex yang terlihat sangat tampan bahkan ketika ia sedang tidur.
"Mas bangun," Anes membangunkan Alex dengan pelan.
__ADS_1
"Kenapa sayang?kamu butuh apa biar mas ambilkan. Minum? atau mau ke kamar mandi? atau ada yang sakit? atau demam lagi?" Alex yang baru saja membuka matanya refleks langsung menempelkan tangannya ke seluruh wajah Anes karena panik.
"Enggak mas, aku udah mendingan kok. Hanya saja ini sudah pagi, bukannya mas harus ke kantor? ini udah telat! lihat udah jam berapa ini?" Anes memegang tangan Alex yang dari tadi menempel kemana-mana untuk memastikan kalau Anes baik-baik saja.
"Hah syukurlah kamu udah nggak demam sayang, mas kira ada apa. Mmm hari ini mas nggak ke kantor lagi," Alex langsung memeluk Anes.
"Kenapa? aku kan udah baikan hanya perlu istirahat sebentar lagi juga pulih. Mas nggak usah khawatir. Jadi, pergilah ke kantor,"
"Nggak sayang, mas nggak akan ke kantor sebelum memastikan kamu benar-benar sehat," ucap Alex sambil bersandar di ranjang.
Anes menggeser tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada Alex.
"Aku beneran udah nggak papa mas," ucap Anes sambil mengetuk-ngetuk dada Alex dengan jarinya.
"Mas tetap nggak akan ke kantor hari ini," kekeh Alex.
"Ih dasar keras kepala!" Anes mencubit pinggang Anes.
"Berani ya menggoda mas, kalau nggak ingat kami sedang sakit, udah mas makan kamu," Alex mengecup puncak kepala Anes.
"Drtttt, drrt ,drrt." Tiba-tiba ponsel Alex bergetar.
"Telepon dari pak David," kata Anes sambil menyerahkan ponsel milik Alex yang baru saja ia ambilkan dibatas nakas samping ia tidur.
"Halo, ada apa cepat katakan!"
"Cancel saja kalau begitu!" perintah Alex tanpa basa-basi.
"Tapi bos, kalau di cancel kita akan menderita kerugian yang sangat besar,"
Anes mendekatkan telinganya ke arah ponsel yang sedang dipegang oleh Alex. Ia juga ingin mendengar apa yang di bicarakan oleh David.
"Sayang, sebentar mas lagi telepon," ucap Alex karena merasa terganggu dengan tingkah Anes.
"Halo bos, apakah Anda mendengarkan saya?" tanya David karena ia mendengar Alex berbicara dengan orang lain yang di tebaknya sudah pasti itu adalah Anes.
"Sedang penting begini malah asyik sendiri sama istri. Benar-benar cinta memang bikin pusing," batin David.
"Aku tidak peduli! berapa kali aku harus bilang kalau istriku lebih penting!" sahut Alex kemudian.
"Apakah nona Anes belum sembuh bos? kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja,"
"Tidak, dia sudah baikan, tapi aku tetap tidak bisa meninggalkan dia sendiri. Jadi, kalau cancel saja kerja sama dengan mereka!"
Anes merebut ponsel Alex dan bicara kepada David.
"Halo pak David, atur saja jadwal meeting hari ini. Mas Alex akan datang kok," ucap Anes kepada David.
__ADS_1
"Tapi nona,"
"Sudah, percaya sama saya. Saya pastikan mas Alex hari ini ke kantor,"
"Baiklah kalau begitu nona, saya akan atur meetingnya. Nona tolong atur suami nona ya?" sahut David.
"Beres!" Anes langsung mematikan teleponnya.
"Sayang, kenapa kamu bilang begitu sama David? mas kan udah bilang mas nggak akan pergi!" Alex duduk bersila di depan Anes dan meminta penjelasan darinya.
"Kalau mas nggak pergi aku bakal mogok bicara sama mas. Titik!" Anes ikut bersila di depan Alex dengan kedua tangannya ia silangkan di dada.
"Ah kamu ini. Walaupun mas pergi mas tetap tidak akan konsentrasi. Badan mas ada di sana tapi pikiran mas ada di rumah. Jadi percuma saja kalau mas pergi. Meeting juga nggak akan berjalan dengan baik,"
"Harus berapa kali sih aku bilang, kalau aku udah baik-baik aja. Aku udah sembuh mas Alex sayang. Atau benar-benar mau aku mogok bicara sama mas hem?"
"Ah kenapa kamu mengancam mas begitu sih. Ok mas akan pergi," akhirnya Alex setuju buat pergi meeting daripada Anes mogok bicara dan mendiamkannya. Ia paling tidak bisa jika harus di acuhkan dan di diamkan oleh Anes.
"Tapi, dengan satu syarat," imbuh Alex.
"Apa?" tanya Anes.
"Mas mau bikinin kamu sarapan dulu baru ke kantor. Terus nanti mas akan suruh Amel ke sini buat nemenin kamu. Jadi, kamu tidak akan sendirian di rumah."
" Iyain aja deh, daripada harus berdebat lagi,"
"Baiklah, terserah mas aja gimana baiknya,"
Alex langsung menghubungi David lagi.
"Aku akan ke kantor tapi setelah selesai membuatkan sarapan buat Anes dan juga suruh Amel ke sini buat menemani Anes selama kita meeting. Pekerjaan Amel hari ini limpahkan ke karyawan lain yang satu divisi dengan dia. Kamu antar dia ke sini sekalian jemput aku," selesai bicara Alex langsung mematikan teleponnya.
"Puas sekarang hem?" Alex mengacak-acak rambut Anes.
"Hehe bukannya begitu mas. Kalau mas rugi besar gara-gara kerja samanya di cancel kan aku juga yang repot kalau suami aku jadi bangkrut," canda Anes dengan manjanya.
"Ck. dasar kamu ini! Ya udah mas bikinin sarapan buat kamu."
Anes mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Alex melangkah ke arah pintu untuk keluar.
"Mas!" panggil Anes. Alex yang sudah sampai depan pintu pun menoleh.
"I love you!" seru Anes dengan membentuk tanda hati dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"I love you too!" balas Alex, ia tersenyum lalu menghilang di balik pintu.
🌼🌼🌼
__ADS_1