
"Mas besok acara reunian sekolahku, mas bisa hadir nggak?" tanya Anes yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menyusul Alex naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Alex dan menarik selimut untuk menutupi kakinya lalu menyenderkan kepalanya di dada Alex.
"Besok ya? sepertinya mas harus lembur besok sayang, ada pekerjaan yang sangat penting, yang harus segera di selesaikan," jawab Alex.
"Em begitu ya. Ya udah nggak papa, aku berangkat sama Amel aja mas," ucap Anes sambil memainkan jari telunjuknya di dada Alex. Membuat garis tak terlihat berbentuk hati di sana dan diulanginya berkali-kali.
"Atau mas temani kamu saja? pekerjaan tidak lebih penting dari kamu sayang," Alex menggenggam tangan Anes yang bermain-main di dadanya tersebut.
"Nggak usah mas, nggak papa. Lagian Amel juga ke sana sendiri, biar aku sama Amel aja," sahut Anes dengan cepat.
"Emang Amel nggak ngajak David?" tanya Alex dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Anes.
"Mereka sedang diam-diaman mas, kali ini giliran Amel yang nyuekin bang David," ucap Anes.
"Seperti anak kecil saja," celetuk Alex.
"Eleh kayak mas enggak aja," goda Anes.
"Hehehehe, sini mas pijitin kakinya, pasti pegal kan tadi habis jalan-jalan?" Alex berpindah posisi, menyingkap selimut yang menutupi kaki Anes, wanita tersebut mengenakan piyama dress selutut.
"Sayang, apa tidak sebaiknya Dila di suruh tinggal di hotel atau apartemen saja? Biar nanti mas yang bayarin," Alex tiba-tiba membicarakan Dila.
"Emang kenapa mas? di sini kan ada banyak kamar nganggur nggak terpakai, lagian letak rumah kita juga lumayan dekat dengan kantor, nggak enak juga sama Abang, kalau tiba-tiba kita usir dia mas,"
"Tapi sayang,"
"Udahlah mas, berapa kali kita bahas hal ini, dan aku tetap ingin dia tinggal di sini selama dia di Jakarta. Aku jadi ada teman ngobrol kalau mas sedang lembur atau ke luar kota bahkan ke luar negeri, Apalagi akhir-akhir ini kan mas bolak-balik ke luar negeri," sahut Anes.
"Kan ada bibi sayang, bisa suruh mama Ratna dan juga papa.buat menginap di sini kalau mas pergi, lagian Ama pergunakan paling cuma sehari dua hari,"
"Udah ya mas, aku nggak mau ributkan hal ini lagi," ucap Anes, dia meminta Dila tinggal sebenarnya karena dia merasa berhutang Budi kepada David yang telah menyelamatkan nyawanya, Anes ingin berbuat baik kepada keluarga David tanpa terkecuali.
"Ya udah terserah kamu saja sayang, tapi kalau nantinya ada hal-hal yang tidak diinginkan jangan salahkan mas, siniin kaki kaki, mas belum selesai mijitnya," ucap Alex sambil meraih satu kaki Anes untuk di pijat.
"Kok mas bilang begitu?" tanya Anes penuh selidik.
"Ya mas cuma mewanti-wanti kamu saja sayang, biar bagaimanapun Dila itu orang luar, yang tinggal satu atap dengan kita yang sepasang suami istri," jelas Alex.
"Aku yakin Dila itu baik mas, dia nggak akan macam-macam," sahut Anes percaya diri. Ia beringsut mendekati Alex dan menciumnya.
"Nyatanya hanya membicarakannya saja sudah membuat kita hampir ribut," batin Alex.
"Nakal ya kamu sayang, minta di hukum nih," ucap Alex dengan senyum menyeringai.
"Apaan sih mas, cuma nyium doang aku," goda Anes.
Alex mendorong tubuh Anes. Ia bersiap-siap untuk mel*m*t bibir istrinya tersebut, tapi suara ketukan pintu menggagalkan niatnya.
"Buka mas, siap tahu penting," ucap Anes.
"Buka baju sayang? oke!" Alex bersiap membuka bajunya.
"Jangan bercanda deh, buka pintunya maksudnya mas, bukan baju," sahut Anes menabok lengan Alex.
"Oh buka pintu, biar mas gampang masuk begitu?" lagi-lagi Alex menggoda Anes. Ia mendaratkan tangannya di paha Anes.
"Mas Alex!" kesal Anes.
"Hehehe, seneng deh lihat kamu manyun begitu," Alex mengecup bibir Anes yang mengerucut dan langsung turun dari atas tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Alex setelah membuka pintu dan ternyata bi Ina yang mengetuk.
"Itu tuan, di bawah ada tuan David," ucap bi ina takut-takut, karena ia tahu kalau majikannya pasti sedang tidak ingin di ganggu.
"Hem baiklah, aku akan turun," jawab Alex dan langsung menutup kembali pintu kamarnya.
"Ada apa mas?" tanya Anes.
__ADS_1
"Ada David, huh sudah rindu saja dia sama aku, padahal baru beberapa jam yang lalu kita masih ketemu," jawab Alex.
"Lanjut yuk sayang," lanjut Alex
"Jangan ngawur deh mas, itu Abang sudah menunggu, cepat sana turun, siapa tahu ada yang penting," Anes mendorong pelan tubuh Alex yang sudah bersiap menempel padanya.
"Baiklah-baiklah, huh," sahut Alex.
"Aku ikut ya mas?"
"Ayo," Alex mengulurkan tangannya dan di sambut oleh tangan Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
Di ruang tamu, tampak David sedang mengobrol dengan Dila.
"Bos," sapa David berdiri dari duduknya.
"Ada apa kemari? apa ada masalah? Mengganggu saja kamu ini Dave," tanya Alex sarkastik.
"Maaf bos, ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Anda," jawab David.
"Ayo ke ruang belajar!" ajak Alex dan di ikuti oleh David.
Sementara Anes dan Dila tetap berada di ruang tamu dan mengobrol.
Dalam obrolan mereka, Dila sering sekali mengakan perihal tentang Alex, dan itu sempat membuat Anes merasa aneh. Namun, segera ia tepis rasa curiganya tersebut.
"Sebentar ya Dil, aku mau buatin minum buat mas Alex dan Abang,"
"Lho kak Anes yang buatin minum? Kan ada bibi?" tanya Dila.
"Mas Alex lebih suka minum kalau aku yang buat,", sahut Anes tanpa ingin menyombongkan diri.
"Oh begitu ya, ya udah sana Kaka buatin aja dulu," ucap Dila kemudian.
"Emang kenapa sih apa-apa harus istrinya, sehebat apa kak Anes sampai pak Alex segitunya," batin Dila.
"Mas, bang, ini aku buatin teh dan kopi," ucap Anes yang baru saja masuk. Ya, dia membuatkan teh untuk Alex yang memang tidak suka minum kopi, dan membuat kopi untuk David yang memegang suka kopi.
"Terima kasih sayang," ucap Alex.
"Terima kasih nona," ucap David menyusul ucapan Alex.
"Sama-sama," sahut Anes tersenyum.
"Kalian lanjutkan ngobrolnya, aku keluar dulu ya, mau ngobrol sama Dila?" pamit Anes.
Mendengar Anes ingin mengobrol dengan Dila, Alex langsung menyahut.
"Baiklah ke atas dan tidur sayang. Susu yang mas buatkan tadi belum di minum kan?"
"Oh iya, ya udah aku ke kamar dulu aja dan minum susunya," balas Anes.
"Dan langsung tidur, atau besok mas nggak ijinin kamu pergi ke acara reunian," ucap Alex tegas.
"Em baiklah," sahut Anes tanpa protes karena dia juga sudah mengantuk dan merasa lelah.
David merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Alex.
"Kenapa bos? Apa ada sesuatu? apa Dila membuat masalah?" Tanya David, dia tahu Alex pasti menyembunyikan sesuatu.
"Sementara tidak! udahlah ayo lanjutkan obrolan tadi," Alex tidak ingin David merasa tidak enak dengan mengatakan kelakuan Dila yang sudah menunjukkan tanda-tanda tidak baik.
"Dila, maaf ya, ngobrolnya lanjutin lain kali saja, aku mau ke atas dulu, lupa belum minum susu yang di buat mas Alex. Aku juga capek pengen segera istirahat," ucap Anes jujur.
"Ya kak, nggak papa, aku juga mau tidur setelah ini," jawab Dila.
__ADS_1
"Susu aja di buatin suami," batin Dila iri.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Kata Anes kamu dan Amel saling diam-diaman Dave?" tanya Alex.
"Lebih tepatnya Amel yang sengaja menghindari saya bos," jawab David setelah menyeruput kopi buatan Anes.
"Enak sekali kopinya," gumam David.
Alex mengerutkan dahinya mendengar pujian David terhadap kopi buatan Anes.
"Iya saya tahu dia istri Anda, dan hanya Anda yang berhak berkata seperti itu," David mengucapkan kalimat yang ingin Alex ucapkan.
Alex kembali menetralkan raut mukanya mendengar ucapan David, tidak jadi menghardik sahabatnya tersebut.
"Kenapa Amel menghindari kamu?" tanya Alex kemudian.
"Semua memang salah saya bos, saya terlalu dingin dan cuek sama dia, dia mungkin merasa lelah, dia bilang tidak mau menunggu lagi dia menyerah, Dia pikir hanya dia yang berusaha dalam hubungan kami," jawab David.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu juga berusaha keras buat kembali mengingatnya?" sahut Alex.
"Saya tidak ingin dia berpikir itu hanya alasan saya bos. Alasan karena saya tidak ingin dia menjauh, padahal sebelumnya saya bersikap acuh terhadapnya, tapi di saat dia mau menyerah saya menahannya,"
"Di kantor dia selalu menghindari saya, kalaupun bicara karena tidak sengaja bertemu hanya seperlunya saja," lanjut David.
"Bukankah dia yang bilang akan tetap menunggumu?"
"Iya bos, tapi namanya manusia dan apalagi makhluk yang bernama perempuan, mungkin akan ada saatnya dia lelah, bukankah mereka juga butuh di perjuangkan bukan hanya berjuang? Mungkin Amel merasa dia berusaha sendiri dan itu sia-sia menurutnya," David mencoba mengerti isi hati Amel.
"Huh rumit sekali kalian ini, kalau saling cinta ya jujur saja, kenapa malah sekarang seperti ini?"
"Saya sudah bilang kalau saya cinta sama dia, tapi dia bilang tidak ingin saling cinta tapi masa lalunya saya lupakan, dia ingin cinta saya yang lama, David yang lama,"
"Terus?"
"Tadi saya ke rumahnya, ada hal penting yang ingin saya sampaikan padanya perihal hubungan kami, tapi dia menolak menemui saya, makanya saya kemari. Saya bingung harus bagaimana lagi bos,"
"Emang apa yang ingin kamu bicarakan?" Alex kepo.
"Say sudah mengingat semuanya bos," jawab David.
"Sungguh? kalau begitu telepon dia, atau lewat pesan saja kamu bilang sama Amel, pasti dia senang karena kamu sudah pulih,"
"Nomor saya di blokir bos," sahut David lesu.
Alex menghela nafasnya kasar, dan mengusap wajahnya.
"Benar-benar ya kalian ini, seperti anak kecil, nomor pakai di blokir segala,"
"Nggakpapa bos, ini memang salah saya. Biar Amel memiliki waktunya sendiri dulu. Saya tahu kalau dia mencintai saya, hanya saja mungkin dia terlalu kecewa," David pasrah.
"Eh ngomong-ngomong ingatan kamu bisa kembali karena apa? Apa karena merasa tertekan dengan sikap Amel atau bagiamana?" Alex kepo lagi.
"Em itu saya juga kurang tahu bos, tapi akhir-akhir ini ingatan saya berangsur kembali satu persatuan, akhirnya tadi semuanya sudah jelas dan saya sudah ingat semuanya," jawab David.
"Mungkin terapinya berhasil, atau mungkin karena saya tadi tidak sengaja kejedot pintu kamar mandi atau bisa juga karena Amel sendiri, saya juga tidak tahu," lanjut David.
"Apapun penyebabnya, yang jelas aku senang Dave, akhirnya kamu bisa ingat semuanya, sekarang hanya harus berusaha untuk menarik Amel kembali, tetap semangat!" ucap Alex menepuk bahu sang sahabat.
Mereka pun melanjutkan mengobrol hingga tak terasa waktu sudah larut dan akhirnya David pamit pulang.
"Tidak menginap di sini saja Dave?" tawar Alex.
"Tidak bos, o ya kalau Dila berbuat sesuatu di luar batas, tegur saja dia bos!" David ingat tadi ekspresi yang tidak biasa dari Alex saat Anes membicarakan Dila.
"Kamu tidak usah khawatir, aku bisa mengatasinya," jawab Alex yang membuat David malah bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya permisi," David membungkukkan sedikit badannya dan berbalik melangkahkan kakinya meninggalkan Alex di ruang belajarnya.
๐ผ๐ผ๐ผ