
Acara demi acara terus berlanjut Aldo menyanyi untuk lagu yang kedua. Lagu tersebut dengan tanpa ragu Aldo persembahkan untuk Amel, hal itu membuat David semakin naik darah. Namun, ia masih bisa menahan kekesalannya meskipun dengan susah payah.
"Nyebut Dave, nyebut jangan kebawa emosi,", nasihat Alex terus menerus. Ia melihat David berkali-kali menggertakkan giginya menahan kesal.
"Mas aku ke toilet dulu sebentar ya?" pamit Anes yang merasa kebelet buang air kecil.
"Mas temani!" tawar Alex.
"Oke!" balas Anes.
Alex menunggu di luar toilet, ia melihat Sandra dan temannya masuk ke dalam toilet. Tapi, Alex acuh karena ia tak mengenal mereka.
"Ke toilet aja di temenin, gila udah ganteng, kaya perhatian lagi, mau dong satu yang kayak gitu buat gantiin suami aku," bisik Niken.
"Ssst nanti dia dengar, bisa panjang urusan Ken, diam deh. Ayo cepat masuk!" Sandra menarik tangan Niken yang berhenti mematung saat melintasi Alex.
Di dalam toilet, Sandra dan Niken melihat Anes sedang membernarkan rambut dan riasannya di depan cermin besar.
"Nes, aku mau minta maaf," ucap Sandra.
"Buat?"
"Karena sudah menyinggung perasaan kamu. Aku nggak tahu kalau kamu istrinya tuan muda Parvis. Aku tahu omonganku waktu di salon dan juga tadi keterlaluan Nes, tapi swear, aku nggak ada maksud menghina. Hanya saja aku nggak berpikir kalau kamu itu istrinya tuan kuda Parvis,"
"Iya Nes, aku juga minta maaf soal tadi. Jangan kami masukkan ke hati ya? Dan tolong jangan ngadu ke suami kamu ya?" sambung Niken.
Anes menghela nafasnya panjang lalu tersenyum terhadap kedua orang yang sudah merasa harap-harap cemas tersebut.
"Kenapa kalian minta maaf? Aku nggak marah kok sama kalian," balas Anes. Ya, dia memang tidak memasukkan kata-kata mereka ke dalam hati. Karena tidak penting menurut Anes, membuang-buang waktu hanya untuk hal yang tidak perlu ia pusingkan.
"Tapi kami sudah keterlaluan, kami tidak bermaksud buat ngerendahin kami Nes. Beneran," Sandra masih merasa bersalah. Betapa bodohnya dia, terus saja merutuki mulutnya yang memang lemes itu.
"Hehe beneran Sandra, Niken, aku nggak marah," Anes menyalakan wastafel di depannya dan mencuci tangannya.
"Hanya saja, aku punya sedikit pesan buat kalian,," Anes menjada ucapannya, ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya dan mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya.
Sandra dan Niken diam, menunggu Anes melanjutkan bicaranya.
"Kedepannya, kalian jangan suka menjudge seseorang hanya karena masa lalunya, ataupun penampilannya. Memang benar kadang penampilan bisa mengecoh kita, seperti kata Sandra tadi, tapi ada kalanya penampilan juga menunjukkan jati diri kita itu siapa. Tidak seharusnya kalian mengomentari apa yang bukan menjadi urusan kalian..."
"Toh kalian sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang kalian kasih nilai rendah tersebut. Kadang orang tidak ingin menunjukan siapa dia sebenarnya karena tidak ingin orang merasa minder saat dekat dengannya karena setatusnya. Intinya sih kalian perbaiki mental mulut dan mata kalian aja buat nggak gatel ngomongin dan Mandang rendah orang. Aku permisi dulu ya, suami aku nungguin di luar," Anes mengakhiri kalimat panjang lebarnya dengan tersenyum.
Anes melewati kedua wanita yang masih terdiam mematung di tempatnya tersebut lalu membuang tisu bekas yang ia gunakan ke dalam sampah.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan mengadu pada suamiku kok, dapur kalian masih bisa ngebul, santai," Anes menoleh sebentar dan benar-benar meninggalkan mereka.
Sandra dan Niken mendesah lega.
"Untung saja, aku udah was-was nasib kita bakal kayak Jesica," Sandra mengelus+Elis dadanya.
__ADS_1
"Ayo mas!" ajak Anes kepada Alex.
"Kok lama sih sayang? Mas hampir nyusul ke dalam loh, kirain kamu pingsan di dalam," goda Alex.
"Mas bisa aja, tadi ada urusan sebentar dengan dua teman aku di dalam," jawab Anes yang kini sudah menggandeng lengan Alex berjalan menuju ke Amel dan David yang masih saling diam. Amel lebih memilih menikmati lagu yang Aldo nyanyikan dari atas panggung. Sedangkan David diam dan terus memandangi Amel.
Anes dan Alex duduk kembali.
"Urusan apa emangnya sayang? Dua orang wanita yang masuk tadi? Apa mereka membuat masalah? Apa mereka menyakitimu?" Alex menginterogasi Anes khawatir.
"Enggak mas, kita cuma ngobrol sebentar tadi," jawab Anes. Ia tak ingin mengadu kepada Alex, atau Alex tidak segan-segan menghancurkan mereka jika sampai Anes buka mulut.
"Ada apa sih Nes?" bisik Amel penasaran.
"Nanti aku ceritain," balas Anes berbisik.
๐ผ๐ผ๐ผ
Acara selanjutnya adalah acara dansa. Para tamu sudah berpindah tempat ke aula di mana dansa akan di laksanakan. Pembawa acara meminta Aldo untuk memulai berdansa. MC memintanya untuk memilih seorang wanita untuk menjadi teman dansanya, dan nanti pasangan lain bisa menyusul mereka berdansa.
Banyak wanita yang histeris berharap di pilih oleh Aldo. Mereka tidak menghiraukan pasangan masing-masing yang mereka bawa dari rumah.
"Ini acara reuni kok gini amat ya? pakai acara dansa segala, kayak acara apa gitu?" bisik Amel kepada Anes.
"Bagi yang mau Amel, nggak mau dansa juga nggak papa, kita tinggal menyaksikan mereka yang berdansa nanti," balas Anes.
"Emang kamu nggak mau dansa Nes?"
"Hehe, ya nggakpapa kali Nes, jadi kalian dansa bertiga," celetuk Amel.
"Em, kamu mau dansa sama Abang?" Anes bertanya balik.
"Enggak deh kayaknya Nes, kalau dia nggak ngajak ya aku nggak mau ngajak duluan,"
Tanpa Amel sadari, Aldo menghampirinya dia mengulurkan tangannya dengan tersenyum dan mengajak Amel untuk menemaninya berdansa. Membuat yang ada di sana heboh dan iri.
Deg!
Amel bingung harus bagaimana, ia menoleh ke arah David yang raut wajahnya terlihat datar namun hatinya sudah mendidih. Laki-laki itu berdiri di samping bosnya sambil memegang sebuah gelas di tangannya.
Amel ingin menolaknya, tapi ia tidak enak kepada Aldo. Tidak ingin membuat Aldo malu di depan umum. Dan juga mereka kan teman, mungkin tidak ada salahnya Amel menerima ajakan Aldo, toh Aldo juga pernah membantunya, pikir Amel.
Akhirnya Amel menyambut uluran tangan Aldo dengan ragu. Walaupun hatinya menolak, ia takut membayangkan kecemburuan David.
Aldo dan Amel pun berdansa sebagai pembuka dan akhirnya di susul oleh beberapa pasangan yang juga ikut berdansa.
Anes melihat ke arah Alex dan mengangkat alisnya, seolah bertanya, "bagaimana ini, lihat Abang!"
Alex mengangkat kedua bahunya. Anes kesal dengan respon Alex.
__ADS_1
Anes menggeser tubuhnya menjadi di tengah, yang awalnya David di tengah, di antara Anes dan Alex.
"Abang baik-baik saja kan?" tanya Anes khawatir dengan hati abangnya tersebut.
"Iya nona," jawab David singkat, ia terus menatap tajam ke arah Amel dan Aldo.
"Hai, mau dansa denganku?" tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri David dan mengajaknya berdansa.
"Tidak, terima kasih," jawab David datar.
"Ayolah, aku ke sini tidak ada pasangan, aku janda. Aku lihat kamu juga tidak ada pasangan, dansa sama aku aja yuk?" wanita tersebut mengulurkan tangannya.
David membalas uluran tangan wanita tersebut, tapi tidak untuk berdansa. Melainkan, ia mengajak wanita itu ke arah laki-laki gendut dan berewokan.
"Maaf tuan, nyonya ini ingin berdansa dengan Anda," David menyerahkan tangan wanita tersebut ke laki-laki gendut tesebut. Kemudian, David langsung kembali ke tempat semula.
Laki-laki gendut tersebut menatap aneh ke David, sedangkan wanita janda tersebut menatapnya kesal.
Alex dan Anes terkekeh melihat tingkah konyol David.
David kembali fokus kepada Amel dan Aldo. Semakin lama, Amel dan Aldo semakin dekat dan dekat, dan itu kelewatan menurut David. Ia sudah tidak bisa mentolelir lagi, kecemburuannya sudah di ambang batas kesabaran. Tanpa ia sadari gelas yang ia pegang dari tadi, di genggamnya hingga pecah sebagai pelampiasan amarahnya.
"Astaga!" pekik Anes lirih, ia terkejut dengan apa yang di lakukan David. Anes langsung beringsut memegang lengan Alex dengan erat.
"Tidak papa, tidak usah khawatir," ucap Alex mengelus-elus tangan Anes yang memegangnya.
"Gelasnya sampai pecah mas, Abang ngeri juga kalau cemburu," bisik Anes sambil menggedikkan bahunya.
Alex hanya tersenyum. Ya, dia sudah tahu hal ini akan terjadi, dan dia tahu seperti apa David. Notabennya mereka berdua itu sama-sama menakutkan kalau sudah cemburu, hanya saja cara mengekspresikannya yang mungkin berbeda.
"Bagaimana kalau tangannya terluka?"
"Lihat kan, tangannya baik-baik saja? Hatinya jauh lebih sakit menahan cemburu," balas Alex.
Alex melihat ke arah David, ia berbicara dengan matanya, entah apa maksud dari tatapan mata Alex kepada David, namun David dengan cepat menghampiri Amel yang masih berdansa dengan Aldo.
David menarik tangan Amel dan mencium bibirnya. Tentu saja hal itu membuat semuanya kaget dan tak percaya, adegan romantis apa ini? Ada seorang laki-laki tampan, yang menarik wanitanya saat berdansa dengan laki-laki lain dan menciumnya di depan umum? Sungguh membuat para wanita yang ada di sana merasa lemas.
Amel menepuk-nepuk dada David yang masih terus menciumnya. Ia tidak mempedulikan Amel yang terus meronta dan menepuk-nepuk dadanya.
Beberapa saat kemudian, David melepas ciumannya, dan menarik tangan Amel keluar melewati kerumunan orang yang menyaksikan adegan romantis dan menegangkan tersebut.
"Astaga! Anak itu! aku mengisyaratkan kepadanya buat menghentikan dansa mereka dan membawa Amel pergi, kenapa di tambahi dengan ciuman segala sih? Parah emang, Dave Dave!" batin Alex geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol sahabatnya tersebut.
"Sial! Dasar kakak tua! besok pasti akan heboh di media sosial, dengan head line saat berdansa pasangan dansa Aldo Pratama di rebut dan di cium di depan umum oleh kakak tua yang tidak tahu malu! Mau di taruh di mana mukaku?" batin Aldo.
๐ผ๐ผ๐ผ
ekspresi David saat sedang cemburu, tetap ganteng ya ๐๐
__ADS_1
๐ Jangan lupa buat like, komen dan votenya. Terima kasih ๐ salam hangat authorโค๏ธโค๏ธ๐