MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 140


__ADS_3

"Ah shit!" umpat David dalam hati.


"Oh my my!" Asisten rumah tangga tersebut menutup mulut dan membulatkan kedua matanya.


"Maaf tuan, saya tidak melihatnya. Silahkan lanjutkan! saya tidak di sini, saya tidak di sini!" lanjut asisten rumah tangga tersebut dan langsung ngiprit pergi seperti di kejar anjing gila.


Amel yang menyadari situasinya langsung mendorong tubuh David menggunakan tenaga dalam sehingga David terpental dan jatuh ke lantai.


"Aw!" pekik david begitu bokongnya mendarat dengan kasar di lantai tanpa persiapan. Lagi-lagi bokongnya harus merasakan sakit.


Amel langsung pergi meninggalkan David tanpa memberinya pertolongan, karena malu.


David tersenyum melihat tingkah Amel yang sangat lucu menurutnya.


"Ingat! mulai sekarang kami milikku!" teriak David masih terduduk di lantai, dengan seutas senyum terukir di bibirnya. Ia mengusap bibirnya yang baru saja ia gunakan untuk menyerang bibir Amel.


"Dasar aneh, dulu ngajak nikah kayak ngajak berantem, sekarang ngajak pacaran juga nggak ada romantisnya," gerutu Amel. Tapi, hatinya berdebar-debar dan di penuhi emoticon love.


Amel terus melenggang dengan senyum yang dia sendiri yang tahu arti dari senyumannya.


Amel kembali duduk ke tempat semula.


"Mel, kenapa muka kamu seperti udang rebus? kamu sakit?" tanya Juna.


" Eh eggak apa-apa tuan Juna, saya baik-baik saja," sahut Amel sambil memegangi pipinya yang merah.


"Aku tadi mendorongnya terlalu keras,sampai terpental dan jatuh begitu pasti sakit, padahal tadi di panggung udah jatuh juga. Sorry Dav, nggak sengaja," batin Amel merasa bersalah.


🌼🌼🌼


Acara pun telah usai, mereka yang hadir sudah mulai membubarkan diri. Panggung juga mulai di bongkar. Bu Ratna dan pak Hari juga ikut pamit pulang.


"Enggak menginap di sini aja ma?" tanya Anes .


"Enggak sayang, lain kali saja," sahut Bu Ratna.


"Ya udah, kalian hati-hati ya, papa jangan ngebut bawa mobilnya,", pesan ane kepada pak Hari.


"Siap tuan putri!" sahut pak Hari dengan memberi hormat menggunakan tangannya.


"Apaan sih pa," ucap Anes manja.


" Kami pulang dulu ya, titip calon cucu mama, jaga dengan baik-baik. Kamu jangan terlalu capek-capek," pesan Bu Ratna.


"Iya ma," sahut Anes.


" Semuanya, Tante sama om pamit dulu ya," bu Ratna berpamitan kepada Juna dan kawan-kawan.


"Iya om Tante, hati-hati!" jawab mereka serentak sambil terus memainkan kartu di ruang keluarga.


Alex dan Anes mengantar pak Hari dan Bu Ratna sampai ke mobil. Begitu mobil melaju meninggalkan rumah, Alex dan Anes kembali masukan ke dalam.


"Kalian nggak mau balik?" tanya Alex.


"Ngusir nih ceritanya?" tanya Juna.


"Bukannya ngusir, tapi tahu diri kenapa. Tuan rumah cepek nih, butuh me time," sahut Alex.


"Eleh, udah jadi embrio juga, masih aja di tembak. Kasihan Anesnya Lex, kasih jeda kenapa, jangan di ajak ngoyo mulu, ntar anakmu kejedot kepala rudalmu kasihan tahu, pasti sakit," timpal Bryan.

__ADS_1


"Maksudnya aku sama Anes mau istirahat, capek mau cepat-cepat tidur, dasar otak mesum!" hardik Alex.


"Udah-udah jangan ribut, kalian bebas mau di sini sampai kapanpun, jangan dengerin mas Alex," ucap Anes.


"Tuh, Anes aja nggak keberatan. Kenapa situ yang sewot," Baim ikut bersuara.


"Terserah dong, rumah-rumahku!" ketus Alex.


"Tapi kalau Anes bilang boleh, Anda bisa apa tuan muda?" skak Juna.


Alex diam. Kalau sudah menyangkut istrinya, ia lebih sering mengalah. Bukan berati lemah, tapi karena Alex sangat mencintai anes, sehingga apapun yang dikatakan Anes, selama masih pada jalurnya, akan Alex iyakan.


"Dia itu kalau sama orang bisa kayak singa, tapi kalau di depan istrinya kayak kucing, meong!" bisik Bryan.


"Aku nggak budeg Bray, aku dengar kamu ngomong apa," Alex mengernyitkan dahinya.


Amel dan David masuk ke dalam dan menghampiri mereka.


"Bos, semuanya sudah beres, saya pamit mau mengantar pacar saya dulu" ucap David.


"Bukan, saya bukan...."


David langsung menarik tangan Amel tanpa memberinya kesempatan bicara.


"Hei Dav, aku kan belum setuju untuk menjadi pacar kamu," ucap Amel sambil terus berjalan mengikuti David.


"Aku tidak butuh persetujuanmu, jangan bawel!" sahut David yang tetap memegang tangan Amel posesif.


"Bagaimana bisa tanpa persetujuanku kamu bilang aku pacarmu Dav, tidak sopan!"


"Nyatanya bisa," jawab David santai.


"Haha Juna sepertinya nggak ada kesempatan lagi buat pedekate sama Amel, udah di sikat David. Good job Dav! biarkan si jomblo tobat ini gigit jari!" teriak Bryan.


"Awas aja kalau berani!" ancam Anes mengepalkan tangan ke arah muka Juna.


"Lagian kamu nggak adil Nes, masa kasih Amel ke David, kenapa nggak buat aku aja?" protes Juna.


"Emang Amel barang? maen aku kasih ke orang seenaknya, dia punya pilihannya sendiri Juna, bukan aku yang memaksanya, lagian kamu telat datang ke hidup Amel. Udah keburu di isi pak David. Cinta mereka tumbuh karena mereka terbiasa bertemu. Waiting tresno jalaran Seko kulino," sahut Anes.


"Iyalah, iyalah, nggak bisa berdebat kalau sama emak-emak," celetuk Juna.


"Juna!" berkacak pinggang dengan mata melotot.


"Benarkan, kamu sebentar lagi jadi emak," tanpa merasa bersalah.


Anes tidak menyahut, karena memang sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Tapi nggak terima aja di katain emak-emak.


"Sepertinya setelah mendengar omonganku tadi, pak David langsung gercep," ucap Anes sambil tersenyum mendengar perdebatan antara Amel dan David yang semakin menjauh.


"Emang kamu ngomong apa sama David?" selidik Anes.


"Ada deh!" seru Anes sambil melenggang.


"Mau kemana sayang?" tanya Alex sedikit berteriak.


"Kamar," jawab Anes singkat.


"Aku mau istirahat, kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Mau nginap juga boleh, pilih kamar sendiri, kalau mau pulang tahu pintunya kan?" ucap Alex dan langsung menyusul istrinya.

__ADS_1


"Dasar tuan rumah nggak tahu diri emang! masih ada tamu di sini main ngamar aja!" teriak Juna. Sedangkan Baim dan Bryan hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan drama yang baru saja terjadi.


🌼🌼🌼


Suasana dalam mobil David hening sejak keluar dari pekarangan rumah Alex tadi. Amel masih diam seribu bahasa yang sulit di artikan oleh David.


"Kenapa diam dari tadi? sariawan? atau panas dalam?" tanya David.


Amel masih diam, wajahnya di tekuk dan cemberut.


"Kamu marah sama aku?" tanya David lagi.


"Hem," jawab Amel singkat padat dan jelas.


"Kenapa?"


"Ih nggak peka amat sih, bagaimana aku nggak marah, kamu seenak jidat mengklaim aku sebagai pacar. Aku juga punya perasaan, punya suara buat menjawab mau atau tidak. Tidak bisa secara sepihak begitu Dav,"


"Emangnya kamu nggak suka sama aku? nggak mau jadi pacarku?" tanya David.


"Bukan begitu Dav, tapi.."


David menghentikan mobilnya. Dia melepas sabuk pengamannya dan menghadap ke arah Amel.


"Jadi?" David menangkupakan kedua tangannya di pipi Amel.


"Aku...aku.." Amel sedikit gugup.


"Baiklah, Amelia Karla Safira, maukah kamu menjadi pacarku? aku tahu aku bukan tipe orang yang romantis, aku kaku dan datar, tapi aku tulus mencintai kamu. Entah rasa itu kapan bersarang di hati aku, tapi aku yakin bahwa kamu adalah seperti lagubpelanhi-pelangi merah kuning hijau di langit yang biru. Ah tidak, tapi pelangi yang penuh warna mejikihibiniu yang akan mewarnai duniaku. Bahkan kamu seperti nabi-nabi yang membuat duniaku ambisi asam asin, ramai rasanya. Kalau kamu setuju, kita resmi pacaran, dan akan melangkah ke jenjang pertunangan hingga akhirnya ke tahap pernikahan," ucap David serius.


"Dav," Amel bingung dengan kata-kata yang diucapkan David. Ia hanya bengong tanpa menjawab.


"Ah sudahlah, lupakan kalau nggak mau!" David melepaskan tangkupannya dan secepat kilat memasang sabuk pengamannya kembali lalu melajukan mobilnya lagi.


"Siapa bilang aku nggak mau?" ucap Amel malu-malu.


"Jadi?"


"Aku mau jadi pacar kamu tuan David," sahut Amel.


David langsung menekan tombol hold on pada mobilnya dan ia langsung menarik tengkuk Amel dan mencium bibir gadis yang sekarang resmi menjadi pacarnya tersebut.


🌼🌼🌼


Alex dan Anes sudah selesai membersihkan diri mereka dan bersiap untuk tidur. Anes merasakan hangat dalam pelukan sang suami. Tangan Alex jail menyusup ke dalam piyama yang Anes kenakan. Ia mengusap-usap perut Anes dan sesekali menggelitikinya.


"Ah mas geli, apa yang mas lakukan?" tanya Anes yang merasa kegelian.


"Mas sedang mengajak anak kita bermain sayang," jawab Alex santai dengan terus mengusap. Sesekali ia memainkan jarinya di luar Anes. Ia menyingkap baju Anes dan menciumi perut Anes.


Tapi sialnya, niatnya yang hanya ingin mengajak anaknya bermain malah membangkitkan gairahnya.


"Kampret, pakai bangun segala lagi nih junior, aku kan lagi puasa, harus segera di beri obat tidur nih!" umpat Alex dalam hati.


Ia langsung menyudahi keisengannya karena takut kebablasan.


"Kamu tidur duluan sayang, mas mau ke kamar mandi sebentar!" ucap Alex langsung melompat dari ranjang menuju kamar mandi.


"Ck.aneh!" Anes menaikkan satu alisnya. Karena merasa lelah, ia menarik selimut dan memejamkan matanya. Tak berniat untuk menunggu Alex keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


🌼🌼🌼


💠Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak, salam hangat author ❤️


__ADS_2