
Alex sedang fokus terhadap pekerjaannya ketika David memasuki ruangnya,
"Bos," sapa David.
"Dari mana kamu Dav?" tanya Alex dengan tidak melihat ke arah David sama sekali.
"Habis dari pantry bos, ngopi sebentar," jawab David.
"Ngopi apa ngapel?" sindir Alex.
"Dua-duanya Bos, ngopi sekalian ngapel hehe," ucap David cengengesan.
"Ck, dasar! Bantuin nih, masih banyak yang harus di periksa," Alex menunjukkan dokumen yang belum ia sentuh.
"Baik bos," sahut David.
"Bos, dari tadi ponsel Anda bergetar, angkat saja dulu, siapa tahu ibu negara yang telepon," ucap David yang merasa terganggu dengan getaran ponsel Alex.
Alex mengambil ponselnya,
"Ah kamu benar Dav, ibu negara yang telepon, untung aja kamu ingatkan, kalau nggak bisa nggak di kasih jatah deh. Masa iya harus main solo lagi," ucap Alex, ia segera mengangkat teleponnya.
"Halo sayang,"
"Mas Alex! hiks hiks,"
"Sayang, kamu kenapa? kamu nangis? ada apa?" tanya Alex panik.
"Kenapa nggak diangkat sih teleponku dari tadi hem? mas nggak sayang lagi ya sama aku hiks setelah semalam kita hiks,, dasar habis manis sepah di buang! Tadi juga nggak bangunin aku, aku kan nggak mau di tinggal, kalau mas ke kantor, aku juga mau ikut. hiks hiks hiks, mas jahat, jahat jahat,!" ucap Anes sedih.
"Sayang dengerin mas, tadi kamu pulas banget mas nggak tega bangunin kamu, bukan berati mas nggak sayang, mas dari tadi sibuk sayang, ini baru sempat angkat. Maaf ya?"
"Tahu ah!"
Tut...Tut..Tut..Anes langsung mengakhiri panggilannya.
Alex meletakkan ponselnya kembali, ia memijat pelipisnya karena pusing dengan tingkah labil sang istri.
"Ada apa bos? apa ada masalah?" tanya David.
"Entahlah Dav, akhir-akhir ini Anes begitu labil, emosinya benar-benar tidak stabil. Kadang marah-marah dan langsung baik begitu juga sebaliknya. Semalam dia sangat manis, eh barusan dia udah ngambek lagi aja. Bahkan kemarin cuma gara-gara bingung mau pakai baju yang mana, dia marah sama aku, padahal bajunya kan seabrek tinggal pilih, katanya karena gendut jadi pada nggak muatlah, apalah, aku lagi yang di salahkan," ucap Alex curhat.
"Perempuan emang selalu benar bos, tidak mau di salahkan, apalagi lagi kalau sedang hamil, lebih parah lagi, moodnya mudah berubah-ubah. Saran saya sih, bos sering-sering aja minta maaf, walaupun nggak salah tetap minta maaf. Pasti ampuh, harus lebih sabar menghadapinya," David memberi masukan kepada Alex.
"Terus sekarang aku harus bagaimana?"
__ADS_1
"Mmm coba kirim hadiah buat nona Anes bos, kirim pakaian ibu hamil yang lucu-lucu dan modis, sesuai usia kandungannya, mungkin akan berhasil," saran David.
"Boleh juga tuh Dav, tapi yakin berhasil? Hah kamu tahu, video yang kamu kirim itu ketahuan sama dia, untung aja marahnya nggak lama," ucap Alex.
"Mati gue! ketahuan? bisa kena amukan calon macan nih, sama bos nggak marah, tapi pasti merutuki aku terus semalaman, pantas telingaku terasa panas tadi malam," batin David.
"Akan saya atur bos, saya akan segera kirim paket untuk nona," David segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan...
"Sudah bos, saya sudah mengirimi nona paket dan juga buket bunga atas nama Anda," ucap David.
"Ck, cepat sekali kamu bertindak, padahal aku saja belum mengiyakannya," ucap Alex.
"Hehe maaf bos, lebih cepat lebih baik. O ya, kira-kira apa jenis kelamin bos kecil bos?" tanya David.
"Belum tahu, ngapain kamu tanya hal itu?"
"Tidak apa-apa bos, hanya penasaran saja, saya menyiapkan nama yang mungkin cocok buat bos kecil nanti, ada cowok dan cewek, tinggal pilih bos," David menunjukkan ponselnya yang sudah ada daftar nama calon bayi laki-laki dan perempuan.
Alex memicingkan matanya ke arah David.
"Aku yang tanam saham, aku yang nyumbang kecebong, aku yang ngidam dan istriku yang hamil, kenapa kamu yang ribet soal nama?" kesal Alex.
"Hehe nggak ada salahnya kan bos saya nyumbang nama," sahut David nyengir.
"Sekalian saja kamu nyumbang dana untuk biaya persalinan istriku Dav," kesal Alex.
Mereka terus mengobrol sambil bekerja.
๐ผ๐ผ๐ผ
Di rumah Alex...
Anes yang baru saja selesai mandi dan merias diri di depan cermin merasa badannya lebih segar dari sebelumnya. Ia berencana akan menyusul Alex ke kantor, untuk mengajaknya makan siang.
Tok...tok..tok..Ada yang mengetuk pintu kamar Anes.
"Ada apa Bi?" tanya Anes ketika membuka pintu, dan ternyata bibi sudah membawa kotak besar dan juga bunga di tangganya.
"Ini nyonya muda, ada paket dan juga bunga dari tuan muda," sahut bibi.
"Mas Alex," gumam Anes.
"Tolong bawa masuk ya Bi,"
"Baik nyonya Muda," bibi langsung membawa masuk.
__ADS_1
"Taruh saja di meja bi," perintah Anes.
Bibi melakukan apa yang di perintahkan Anes.
"Kalau begitu, saya permisi nyonya muda," pamit bibi setelah meletakkan paket dan bunganya.
"Iya bi, o ya Bi, tolong siram bunga-bunga di taman belakang ya, saya sebentar lagi mau ke kantor mas Alex soalnya," pinta Anes.
"Baik nyonya," sahut bibi sebelum akhirnya meninggalkan Anes di kamarnya.
Anes mengambil buket bunga mawar dan menciumnya.
"Mas Alex, romantis banget sih," gumam Anes dengan wajah berseri-seri. Ia meletakkan bunga itu kembali dan membuka kotak yang cukup besar di depannya tersebut.
" Wah, bagus-bagus sekali bajunya, aku jadi bisa tetap cantik pakai baju ini walaupun perutku semakin buncit," gumamnya lagi.
Anes mengambil ponselnya sang kembali menelepon Alex.
"Halo mas, makasih ya kirimannya, aku suka sekali, muah muah muah," ucap Anes senang.
"Udah nggak marah lagi kan, nggak terasa sayang ciumnya kalau lewat telepon?" sahut Alex dari seberang telepon.
"Hehe, aku nggak marah mas, tadi sedikit kesal aja, oke tunggu aku ya, aku akan ke sana, nanti aku kasih yang terasa, sekalian nanti kita makan siang bareng," ucap Anes.
"Baiklah, minta pak Anton mengantar kamu," kata Alex.
"Siap bos," sahut Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Ternyata ide kamu bagus juga Dav, berhasil. Istriku senang, bahkan dia akan menyusul ku kesini," ucap Alex.
"Syukurlah kalau begitu bos, saya senang jika bos dan nona selalu bahagia dan rukun. Kalau begitu saya permisi dulu, ada yang harus saya urus," pamit David.
"Tunggu Dav!"
"Ya bos?"
"Terima kasih," ucap Alex.
"Bukankah kita sahabat bos? dalam kamus sahabat tidak ada kata terima kasih," sahut David tulus.
"Tidak, tapi kita saudara," ucap Alex tak kalah tulusnya dari David.
David tersenyum lalu meninggalkan Alex di ruangannya.
__ADS_1
"Aku nggak tahu bagaimana jadinya hidupku kalau nggak ada kamu yang selalu membantuku Dav," batin Alex. Ya, David memiliki peran yang sangat penting dalam hidup Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ