MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 40


__ADS_3

"Pak berhenti disini!" Anes meminta sopir untuk menghentikan mobilnya di persimpangan jalan sebelum sampai kantor.


Sang sopir pun langsung menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Alex.


"Mas, aku turun disini aja ya? aku nggak mau orang-orang kantor curiga kalau aku berangkat semobil sama mas Alex"


"Curiga? apa yang perlu dicurigai, kamu istriku" batin Alex.


"Tapi, ini masih jauh, pak jalan lagi!"


"Nggak usah pak, ini udah dekat kok, jalan juga cuma berapa menit, aku turun disini aja ya mas, mas kan udah janji mau merahasiakan pernikahan kita, please?"


"Kenapa waktu itu aku mengiyakan permintaan konyolnya buat merahasiakan pernikahan ini, hah bodoh" Alex merutuki dirinya sendiri dalam hati.


"Ya udah, terserah kamu saja, aku tunggu dikantor." Kemudian, Anes turun dari mobil dan mobil pun langsung melaju menuju kantor yang sudah cukup dekat jaraknya.


Di depan kantor, David sudah setia menunggu kedatangan Alex sejak beberapa menit yang lalu.


"Selamat pagi bos, nona Anes mana? kenapa tidak bareng?" tanya David lirih.


"Dia memilih jalan kaki kesini dari persimpangan jalan sebelah sana, entahlah, apa yang dia pikirkan sehingga lebih memilih berjalan dari pada ketahuan datang semobil denganku, apa semua wanita seperti itu, malu untuk mengakui sudah memiliki suami, apa begitu mengerikan buat mereka berganti seratus dari single menjadi bersuami? aku tampan, kaya, kenapa dia nggak mau mengakuiku?" celoteh Alex lirih dan David yang mendengarnya hanya mampu menahan tawanya.


"Pagi-pagi dah curhat," batin David


"Karena disini banyak fans girl Anda bos, Anda tahu seberapa menakutkannya para wanita jika cemburu, bisa-bisa mereka menyerang nona Anes dengan ganasnya, mungkin nona Anes hanya berusaha melindungi diri dari mereka.


Ketika memasuki kantor, Alex disapa oleh beberapa karyawan yang berlalu lalang karena jam kerja belum mulai.


"Selamat pagi Pak?" sapa seorang karyawan. Alex hanya sedikit mengangguk untuk membalas sapaan karyawan tersebut.


"Rh lihat deh, si doi makin ganteng aja setelah nikah, auranya semakin terpancar!" ucap salah satu karyawan perempuan bernama Siska.


"Menikah? memang kapan Presdir Alex nikah? kok aku nggak tahu," timpal yang lain yang bernama Vina.


"Ya ampun! kamu kemana aja Vin, beritanya sudah heboh, seantero kantor juga udah pada tahu kalau pak Alex kemarin-kemarin nggak kelihatan karena menikah, tapi pernikahannya diadakan secara privat dan tidak ada yang tahu siapa istrinya yang beruntung itu," jelas Siska.


"Yah, patah hati dong! Presdir tampanku sudah punya bini, tapi nggak masalah sih aku mau jadi yang kedua"


"Yee, itu mah maunya kamu, tapi pak Alex? mana mau sama kamu?"


Banyak karyawan yang bisik-bisik membicarakan soal pernikahan rahasia Presdir mereka. Tentu saja, mereka penasaran siapa sosok wanita yang kini menyandang status istri seorang Alex Abraham Parvis.


"Selamat pagi Pak?" sapa Amel sambil clingak-clinguk mencari seseorang.

__ADS_1


"Anes mana Pak? kenapa nggak bareng pak Alex?" selidik Amel pelan supaya tidak terdengar oleh yang lain.


Alex tidak menjawabnya, ia terus berjalan menuju ruangannya.


🌼🌼🌼


"Akhirnya, sampai juga," gumam Anes sembari menyunggingkan senyuman.


Anes terus berjalan menuju ke kubikel Amel.


"Anes!" Amel yang sedang duduk, langsung berdiri menyambut kedatangan Anes.


"Amel, i miss youb so much!" ucap Anes yang memang sangat merindukan sahabatnya tersebut.


"Ini, aku ada sesuatu buat kamu," lanjutnya lagi.


"Apa ini?" tanya Amel.


"Itu oleh-oleh dari Maldives," bisik Anes.


"Ohhhhh thank you beb!" ucap Amel.


"Sama-sama Amel sayang," sahut Anes.


"Eh tapi, kenapa kamu datangnya sendiri-sendiri sama pak Alex?" tanya Amel berbisik dengan penuh curiga.


"Anes, kemana aja kamu, kenapa cutinya lama?" tanya Ricko.


"Ih itu ko, aku ada urusan keluarga di Jogja, keluarga mamaku," jawab Anes berbohong.


"Karena urusan keluarga, atau karena patah hati ditinggal si bos married?" celetuk seorang karyawati bernama Rima.


"Maksud kamu? pak Alex menikah?" Anes pura-pura tidak tahu.


" Ya ampun! kamu juga tidak tahu kalau beliau sudah menikah?"


Anes menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa mereka bisa tahu soal pernikahan itu?" batin Anes.


"Kalian tahu dari mana kalau pak Alex sudah menikah?" selidik Anes.


"Waktu itu, nona Vanya diminta pak Alex untuk menemaninya memilih cincin dan tentu saja nona Vanya senang dipikir buat dia kali ya. Tapi, ternyata itu cincin kawin, dan pak Alex bilang dia akan segera menikah, auto nona Vanya marah dan kecewa," jelas Rima.


"Ohh begitu, terus kalian tahu siapa istrinya?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau mereka tahu, kalau aku istrinya mas Alex?" Anes sedikit was-was.


"Sejauh ini, belum ada yang tahu kayaknya, siapa perempuan yang beruntung itu, mungkin seorang wanita dari kelas atas yang sepadan dengan pak Alex, entahlah, pernikahannya diadakan secara privat dan tidak terendus oleh siapapun,"


"Syukurlah," Anes menghela nafas lega.


"Wah, jadi pada patah hati dong ya?" ucap Anes sebisa mungkin bersikap tidak mencurigakan.


"Tentu saja Nes, apalagi nona Vanya, sekarang uring-uringan terus, sejak berita pernikahan pak Alex tersebar. Dan pastinya kamu juga nggak ada kesempatan buat dekati Presdir lagi dong?"


"Maksudnya?" tanya Anes.


"Iya, waktu itu aku sempat lihat kamu diantar pulang oleh pak Alex, aku kira kamu ada apa-apa sama beliau. Atau kamu sedang berusaha mendekatinya?" jelas Rima.


"Ya nggak mungkinlah pak Alex sama Anes, yang menjadi istrinya pasti jauh lebih kaya, cantik dan berkelas pokoknya yang selevelah sama beliau," sahut Siska cepat.


"Iya benar, mana mungkin ya pak Alex tergoda sama Anes, kayaknya mustahil deh!" timpal Rima lagi.


"Memang aku nggak pantas ya bersanding sama mas Alex?" batin Anes sedih.


"Kalian tidak tahu aja siapa istrinya Presdir sebenarnya?" batin Amel. Dia mulai geram karena mereka mulai berlebihan bicaranya.


"Kalian kenapa bicara seperti itu, memangnya kenapa kalau misalnya pak Alex suka sama Anes, ada masalah sama kalian?" Amel meninggikan suaranya.


"Kamu kenapa Mel, kenapa marah, emang benar kan kenyataannya. Harusnya, Anes sadar dirilah sama seperti kita yang hanya seorang bawahan, supaya nanti dia tidak kecewa."


"Memangnya Anes pernah menggoda pak Alex hem? sampai-sampai kalian bisa berasumsi seperti itu, kalian tidak tahu kan kalau Anes...."


"Amel, udah!" Anes mencegah Amel melanjutkan ucapannya, ia tahu kearah mana ucapan Amel selanjutnya, takutnya Amel akan bilang kalau dia adalah istrinya Alex.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Vanya yang kebetulan lewat.


"Nggak ada apa-apa kok nona Vanya," jawab Anes.


"Ya sudah, kalau tidak ada apa-apa, kembali ketempat kalian masing-masing dan mulai bekerja, jangan hanya bergosip!"


"Baik nona Vanya."


Vanya hanya melirik Anes sekilas dan melanjutkan jalannya.


"Ngeselin banget tu mulut mereka, nggak ada filternya kalau ngomong." Amel merasa kesal.


"Sstt, udah biarin aja Mel."


" Udah Nes, nggak usah diambil hati omongan mereka," Ricko menghampiri dan menepuk pundak Anes.

__ADS_1


"Nggak kok Ko, aku sama sekali tidak terganggu dengan ucapan mereka, toh disini aku cuma bekerja dan berusaha profesional," jawab Anes berbohong, nyatanya hatinya sedikit terusik dengan ucapan teman sekantornya tersebut.


__ADS_2