MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 101


__ADS_3

Empat bulan kemudian...


Anes tampak sibuk dengan hobby barunya yaitu menanam dan merawat bunga-bunga yang ada di taman belakang.Tangannya dengan terampil menyulap taman belakang menjadi sangat indah. Anes turun tangan sendiri untuk merawat bunga-bunganya. Setiap hari ia meluangkan waktu untuk merawat dan mengurus taman yang kini menjadi tempat favoritnya tersebut, untuk mengisi waktu luangnya setelah ia resign dari kantor.



(source:pinterest)


Sore itu Anes sedang asyik menyirami bunga-bunga, sehingga saat mobil Alex sampai di rumah, ia tidak menyadarinya.


"Di mana nyonya?" tanya Alex pada salah satu pelayan di rumah itu.


"Nyonya muda ada di taman belakang tuan, apakah tuan mau saya panggilkan nyonya sekarang?"


"Tidak usah!" jawab Alex sambil melangkahkan kakinya.


"Baik tuan!" sahut pelayan tersebut.


"Rupanya nyonya muda Parvis sangat sibuk dengan hobby barunya ya, sampai suami pulang tidak tahu. Apa kamu tidak merindukan mas? Hem?" Alex memeluk Anes dari belakang. Wangi khas istrinya membuatnya sangat nyaman.


Sejak mereka pindah ke rumah tersebut, panggilan untuk Anes otomatis berubah menjadi nyonya muda, hanya David yang masih saja memanggilnya nona.


"Mas Alex,,," Anes langsung meletakkan selang yang ia gunakan untuk menyiram bunga dan balik badan memeluk suaminya dengan erat.


"Tentu saja aku sangat merindukan mas. Maaf aku terlalu fokus sama bunga-bunga ini jadi tidak tahu kalau mas sudah pulang," lanjutnya sambil mengalungkan tangannya di leher Alex.


"Oh begitu ya rupanya? karena bunga-bunga ini mas menjadi di lupakan?"


"Tidak! bukannya begitu mas, maaf," Anes merasa bersalah. Lalu ia berinisiatif mencium bibir Alex.


"Cup!" satu kecupan mendarat bebas di bibir Alex.


"Suami baru pulang, kamu udah menggoda. Awas ya," Alex mengusap hidung Anes dengan jari telunjuknya.


"Siapa yang menggoda sih? Ayo masuk ke dalam! Aku akan siapkan air buat mas mandi," Anes menggandeng dan menarik tangan Alex.


"Mandiin!" ucap Alex.


"Maunya!" sahut Anes


"Emang mau!" ucap Alex dengan senyum devilnya.


"Manja!"


"Enggak masalah dong manja sama istri sendiri. Daripada manja sama istri orang. Boleh?"


"Sana kalau berani!" tantang Anes.

__ADS_1


"Ok siapa takut!" sahut Alex percaya diri.


"Mas Alex!"


"Hahaha bercanda sayang, cepat sana siapkan airnya,"


Anes pun langsung menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Malam hari....


Alex sedang sibuk mengecek email yang baru saja ia terima dari David.


"Mas ini aku buatin teh," Anes menghampiri Alex sambil membawa nampan berisi secangkir teh di atasnya.


"Terima kasih sayang," Alex menerima teh yang di sodorkan oleh Anes, lalu meminumnya sedikit dan menyerahkan kembali cangkir teh tersebut kepada Anes.


"Kenapa? Apa ada masalah mas?" tanya Anes yang melihat mimik muka Alex sedikit aneh.


"Iya, sepertinya ada masalah di perusahaan yang di Australia sayang," jawab Alex, tatapannya kembali fokus pada notebooknya.


"Drtttt,,,drrt,,,drrt!" suara getaran ponsel Alex.


"Sayang tolong ambilkan ponsel mas dong!" pinta Alex.


Anes mengambilkan ponsel milik Alex yang terletak di atas nakas.


"Halo Dev,,,"


"Bos, apakah Anda sudah membaca email yang baru saya kirim?" tanah David di seberang telepon.


"Hem, aku sudah mengeceknya," jawab Alex.


"Sepertinya masalah kali ini cukup serius Bos. Kali ini Anda harus turun tangan sendiri ke sana untuk menyelesaikannya," balas David.


"Hem, aku mengerti. Siapkan dua tiket ke sana besok!" perintah Alex.


"Dua? Apakah Anda akan ke sana dengan nona Anes?"


"Tentu saja denganmu dasar! Apa kamu sudah berhenti menjadi asistenku hah?" Alex mengernyitkan dahinya.


"Hehe iya bos iya, jangan baper! Akan saya atur jadwal ke sananya," sahut David.


Alex langsung mematikan panggilannya.


"Sayang,,," Alex mengubah posisi duduk menghadap ke Anes. Ia menggenggam jari jemari Anes dengan kuat.

__ADS_1


"Ada apa sih? Apa yang terjadi? Kok aku jadi takut ya?" batin Anes melihat wajah serius suaminya.


"Kenapa mas, ada apa?" selidik Anes.


"Besok mas harus terbang ke Australia. Mas harus menyelesaikan masalah yang terjadi di sana. Apa kamu enggak apa-apa mas tinggal?"


"Enggak apa-apa mas. Emm berapa hari kira-kira mas di sana?" tanya Anes.


"Paling cepat satu Minggu mas usahain, tapi mungkin bisa sampai dua atau tiga Minggu," jawab Alex.


"Tiga Minggu ya?" Anes mendadak tidak semangat. Pasalnya, selama mereka menikah belum pernah sekalipun mereka LDR. Selalu bersama nempel satu sama lain seperti amplop dan perangkonya.


"Itu kemungkinan paling lama sayang, tapi mas akan usahakan secepatnya mas pulang. Atau kamu ikut saja sama mas bagaimana?"


"Em, enggak ah mas, yang ada nanti malah mas enggak konsen kerjanya kalau aku ikut," tolak Anes.


"Bener juga sih, yang ada malah kita honeymoon kedua di sana nanti," Alex memeluk erat Anes. Ia langsung menghujani Anes dengan ciumannya.


"Bakal jadi malam yang panjang nih kalau udah begini," batin Anes yang tidak bisa menolak ciuman Alex yang di layangkan kepadanya bertubi-tubi.


Dan benar saja kini Alex sudah membuka tiga kancing piyama yang Anes kenakan.


"Tuh kan benar!"


"Mas mau ngapain?"


"Mau minum susu!" jawab Alex dan langsung melahap bukit kembar milik Anes bergantian.


"Mmmph mas," Anes hanya mampu menikmati perlakuan suaminya tersebut.


"Bekal buat mas nanti selama mas di Australia. Walaupun tetap saja pasti akan mas rindukan," ucap Alex dengan nada serak dengan satu tangannya mengusap area sensitif milik Anes.


Anes mengerti apa yang di maksud suaminya. Tidak munafik, kalau dia juga pasti akan sangat merindukan sentuhan-sentuhan lembut dari Alex. Ia langsung mengambil inisiatif untuk mencium bibir Alex dengan tangannya mencoba melepaskan baju yang Alex kenakan.


"Wah sepertinya nyonya muda Parvis ini sudah tidak sabar ya? Kalau sampai di anggurin selama tiga Minggu beneran apa tidak karatan ya?" sempat-sempatnya Alex menggoda Anes di sela-sela ciuman panas mereka.


"Mas Alex! Emangnya apaan karatan. Punya mas tuh yang bakal kelimpungan cari sarang kalau lagi bangun," balas Anes.


"Kan ada sabun," jawab Alex menyeringai dan langsung kembali mencium bibir Anes dan menindihnya. Menyatukan kedua tubuh mereka menjadi satu. Berkali-kali ia mengguyur rahim Anes dengan cairan cintanya hingga Anes merasa kewalahan.


"Mas emang enggak capek?" tanya Anes ketika Alex hendak mengganti posisinya.


"Kalau urusan begini mas enggak ada capeknya," jawab Alex.


Anes hanya merasa takjub dengan stamina sang suami yang tidak ada lelahnya saat mengerjainya.


Hingga ronde terakhir pun Alex selesaikan dengan desahan panjang. Dan mereka langsung berpindah ke alam mimpi sambil berpelukan di bawah sebuah selimut tebal.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ Jangan lupa votenya ya ๐Ÿ˜๐Ÿ’ 


__ADS_2