MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 193


__ADS_3

Sekelompok orang tersebut terus saja mengobrol dan saling membicarakan masa lalu, masa-masa ketika mereka sekolah dulu. Ada yang suka tidur di kelas, suka nyontek, suka pacaran di kelas. Nikmatnya di hukum, di jemur di tengah lapangan karena terlambat datang dan lainnya, mereka kenang dalam benak mereka masing-masing.


"Hah, kalau mengenang masa-masa dulu seperti tidak ada beban yah? Yang paling menakutkan hanya pelajaran matematika yang gurunya super super killer. Itu beban paling berat saat itu. Beda dengan sekarang setelah lulus bahkan selesai kuliah, hidup yang sesungguhnya baru di mulai saat itu, beban hidup baru terasa," Ucap Doni.


"Menurut kamu aja kak matematika menakutkan, kalau menurut siswi berprestasi kayak Anes mah, santuy. Nggak ada yang dia takuti," timpal Amel bangga kepada Anes.


"Iya juga sih, pas ujian untung aja si Rangga kasih contekan ke aku, kalau nggak kayaknya aku nggak lulus deh!" ujar Doni sambil garuk-garuk kepala.


"Karena isi dalam kepala kak Doni tuh cuma pacaran doang, nggak niat sekolah, berangkat ke sekolah juga demi uang saku, iya kan?" ledek Amel.


"Hahaha tahu aja kamu Mel," mereka pun tertawa mengingat kejadian-kejadian lucu di masa lalu yang bikin senyum-senyum sendiri kalau diingat-ingat.


"Eh tahu nggak, acara ini ngundang bintang tamu spesial loh," ucap Sandra tiba-tiba keluar dari topik obrolan.


"Siapa emang? Pak Agus? guru killer yang nggak tumbuh rambut itu?" celetuk Samuel.


"Bukanlah, pak Agus mah sudah almarhum kali," sahut Niken.


"Eh serius kamu Ken? kapan meninggalnya? kok kita nggak tahu?" tanya Amel dan yang lainnya juga ikut menatap ke arah Niken.


"Serius aku, waktu itu kan dia menikah sama salah satu teman kita, tak lama setelah itu beliau meninggal," sahut Niken.


"Teman kita? siapa?" desak Sandra.


"Itu si Mitha, gadis yang cukup pintar itu, sama kayak Anes dapat beasiswa. Padahal kan ya pak Agus itu udah tuwir, mau ya dia nikah sama orang yang pantas jadi kakeknya. Tak lama setelah mereka punya baby, pak Agus meninggal, kasihan deh Mitha jadi janda muda, dan sekarang anaknya udah SD,"


"Terus sekarang kabar Mitha bagaimana?"


"Kabarnya sih dia udah menikah lagi, dan tinggal di luar negeri bersama suaminya yang baru. Anaknya di urus sama neneknya," sahut Niken.


"Wah kamu tahu banget ya Ken kabar-kabar teman seangkatan," celetuk Amel bermaksud menyindir, apakah Niken emang kebetulan tahu, atau jiwa gosip dan keponya yang tinggi masih ada sampai sekarang.


"Kebetulan kan rumahku dulu dekat sama rumahnya Amel. Rumah Mitha kan di gang belakang rumahku, jadi sedikit tahulah," jelas Niken.


"Udah-udah nggak baik ghibahin orang yang udah nggak ada, kita doakan saja supaya almarhum pak Agus tenang di sisiNya. Ngomong-ngomong siap tamu spesial itu San? Artis?" Anes mengalihkan pembicaraan, ia sungguh tidak nyaman berada di antara mereka yang suka bergosip.

__ADS_1


"Iya betul, itu loh Nes, aktor sekaligus penyanyi yang lagi viral, Aldo Pratama," jawab Sandra antusias.


"What?" Amel menyemburkan minuman yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.


Amel dan Anes saling lempar pandang, kenapa dunia sempit sekali sih, beberapa hari ini Amel tidak ada ketemu dan komunikasi dengan Aldo, ia pikir Aldo hanyalah seseorang yang Tuhan kirim saat ia butuh pertolongan.


"Kenapa kamu Mel?"


"Eh nggak apa-apa cuma keselek aja," sahut Amel.


Tak berselang lama, Aldo datang dengan di kerubuti sebagian besar para wanita yang hadir di sana.


"Itu kayaknya artisnya datang, bisa minta photo nih nanti, semoga ada kesempatan," ujar Sandra.


"Photo sama kita aja San, nggak perlu antri," celetuk Doni.


"Ogah!" sahut Sandra.


Suami Sandra hanya geleng-geleng kepala melihat kehebohan Sandra karena kedatangan Aldo.


Aldo yang baru saja hadir sebagai bintang tamu tersebut, matanya langsung tertuju ke arah dua wanita yang tak asing untuknya.


🌼🌼🌼


Di kantor..


Alex terus kepikiran dengan Anes yang mengenakan pakaian terbuka bagian atasnya tersebut, dia membayangkan bagaimana laki-laki lain menatap buas ke arah Anes.


Alex melihat jam di tangannya sekilas,


"Seharusnya acaranya baru di mulai," gumam Alex. Ia langsung mengambil jasnya dan menghampiri David yang masih kelihatan sibuk di ruangannya.


"Dave, ayo berangkat, masih ada waktu!" ajak Alex. David tidak mengerti dengan ucap Alex. Berangkat kemana dan masih ada waktu untuk apa, pikirnya. Dahinya mengernyit menatap aneh ke arah Alex.


"Pekerjaan saya belum selesai bos," ucap David kemudian.

__ADS_1


"Udahlah, lanjut besok lagi. Sekarang ayo berangkat!" ajak Alex lagi.


"Kemana?" tanya David singkat.


"Ke acara reunian sekolahnya Anes dan Amel," jawab Alex.


"Emangnya mereka ada acara reuni?" David tampak kebingungan.


"Astaga! jangan bilang kalau kamu nggak tahu Dave? Amel nggak minta kamu buat nemenin dia ke sana? Bahkan kamu nggak di kasih tahu tentang acara itu?"


David hanya menggelengkan kepalanya.


"Separah itu ya hubungan kalian sekarang?" menatap tajam ke arah David dan David hanya mengangkat kedua bahunya enggan berkomentar. Dia sudah cukup pusing dengan pekerjaan dan di tambah lagi Amel.


"Kenapa Amel nggak mengajak aku ya? apa dia benar-benar udah nggak peduli?" batin David.


"Ah udah! Ayo perjuangkan cinta kamu, kita berangkat. Kasih kejutan, pasti mereka senang kita datang. Bukankah ingatanmu juga sudah pulih?"


"Tapi bos, apa Amel tidak akan marah jika kita ke sana?"


"Jangan-jangan Amel pergi dengan pria lain," batin David ia mengepalkan kedua tangannya. Memikirkan Amel pergi dengan pria lain saja membuat cemburunya naik level.


"Baiklah bos, ayo kita berangkat!" lanjut David sebelum Alex sempat membalas ucapannya tadi.


"Tapi kita tapi-tapian dulu lah bos, jangan. datang ke acara seperti itu dengan. penampilan yang begini, yang ada nona dan Amel malu," saran David.


"Kenapa memang? Kita tetap keren walaupun begini," timpal Alex percaya diri.


"Mau tidak?" tawar David. Dia melihat Alex yang tampak kusam, dengan rambut yang awut-awutan. Begitupun dirinya, ia merasa penampilannya berantakan, walaupun mereka tetap tampan sih.


"Ya udah ayo kita ganti kostum dan penampilan. Biar wanita kita bangga, memiliki laki-laki seperti kita," Alex menyetujui saran David.


Dua laki-laki bucin tersebut akhirnya pergi ke rumah Alex terlebih dahulu untuk membenahi penampilan mereka.


Setelah merasa penampilan mereka sudah oke, sudah lebih fresh dan kadar ketampanan mereka meningkat hingga level sempurna, mereka melajukan mobil mereka masing-masing menuju ke tempat acara.

__ADS_1


🌼🌼🌼


💠Ayo vote yang kenceng, biar author tambah semangat, Vote dari kalian itu mood booster lhoh buat author, tapi yang ikhlas yaa,, terima kasih🙏 salam hangat author ❤️❤️❤️💠


__ADS_2