
Makan malam sudah selesai di siapkan. Rania memanggil pak Arya, Alex serta Anes untuk beralih ke meja makan. Sengaja pak Arya meminta para pelayan untuk memasak begitu banyak makanan untuk menjamu anak dan menantu kesayangannya.
"Kapan mereka memasak ini semua? padahal kan aku bilang mau ke sini mendadak tadi. Atau mereka beli di restoran? ah nggak penting juga mikirin sampai sejauh itu Anes. Tinggal makan aja kenapa sih?" gumam Anes dalam hati ketika melihat begitu banyak makanan yang tersaji berjejer di meja makan.
"Sayang ayo duduk!" Alex memundurkan kursi untuk tempat duduk Anes.
"Eh iya mas," sahut Anes.
Mereka memulai acara makan malam. Rania mengambilkan nasi dan teman-temannya untuk pak Arya, ia juga berinisiatif untuk mengambilkannya buat Alex.
"Tidak usah!" Alex menolak dengan tegas ketika Rania hendak mengambil piring di depan Alex.
"Sayang kamu saja yang ambilkan nasi buat mas, biasanya kan juga kamu yang melayani mas," Alex bicara dengan Anes tanpa menghiraukan Rania sama sekali.
Seperti biasanya, Anes meladeni Alex dengan sabar dan telaten.
"Terima kasih sayang," ucap Alex sambil tersenyum.
Pak Arya tak henti-hentinya mengukir senyum bahagia di bibirnya.
"Sepertinya Anes merawat kamu dengan sangat baik ya Lex? Papa jadi tidak khawatir jika nanti sudah waktunya untuk pergi menyusul mama kamu," ucap pak Arya pada Alex.
"Papa bicara apa sih," Alex mengernyitkan dahinya mendengar ucapan pak Arya.
"Haha papa senang sekarang ada yang menjaga dan merawat kamu Lex. Semenjak mama kamu meninggal, papa jarang memiliki waktu buat kamu karena sibuk. Kamu tumbuh menjadi anak yang mandiri. Terbiasa melakukan semuanya sendiri. Papa sadar papa tidak bisa menggantikan waktu yang papa sia-siakan untuk bersama kamu, menemani dan melihat kamu tumbuh menjadi dewasa. Tapi sekarang sudah ada seseorang yang akan selalu menemani kamu, setidaknya itu membuat papa merasa tenang dan senang," ucap pak Arya panjang lebar.
Tanpa terasa, air matanya hampir saja jatuh karena mengingat penyesalannya yang kurang memiliki waktu untuk Alex. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Padahal ia sadar betul waktu itu Alex masih sangat membutuhkan perhatian dari orang tuanya, apalagi setelah mamanya meninggal. Namun, Alex anak yang baik. Ia selalu mengerti kesibukan ayahnya. Ia tak pernah menyalahkan pak Arya, karena ia tahu sesungguhnya pak Arya juga sangat menyayanginya sama seperti dia menyayangi sang ayah. Hanya saja, kadang ia merasa kesepian.
"Sudahlah pa, semua sudah berlalu. Alex juga tidak pernah menyalahkan papa. Seperti yang papa lihat, Alex tumbuh dengan baik bahkan sekarang sudah menikah dengan perempuan yang Alex cintai," sahut Alex sambil memegang tangan Anes.
__ADS_1
Anes tidak menyangka ternyata dulu suaminya itu sangat kesepian. Mungkin karena itu sikap Alex menjadi cuek dan tanpa ekspresi. Tapi, di luar sikapnya yang acuh dan datar tersebut, sebenarnya Alex memiliki hati yang sangat baik dan tulus.
"Mas Alex memang laki-laki yang baik, bahkan dia tidak marah sama sekali sama papa yang bisa di bilang lebih sibuk dengan pekerjaannya dari pada menghabiskan waktu bersamanya."
"Sudah-sudah ayo kita mulai makan, ngobrolnya bisa di lanjutkan nanti," ucap Rania.
"Ah iya, papa sampai lupa. Ayo kita makan makan, kasihan makanannya udah menunggu untuk dinikmati," ucap pak Arya.
Mereka makan tanpa suara. Menikmati setiap hidangan yang di sajikan.
"Ayo cobain ini Nes, ini adalah makanan kesukaan Alex loh!" Rania tiba-tiba membuka suara.
"O ya, ini makanan kesukaan mas Alex?" tanya Anes dengan lugunya.
"Iya, masa kamu sebagai istrinya tidak tahu. Apa Alex tidak pernah memberitahu kamu?"
"Mama Rania aja tahu apa kesukaan mas Alex, padahal katanya setelah papa dan mama Rania menikah mas Alex pergi ke Australia.Tapi, nyatanya mama lebih memahami mas Alex. Hah apakah aku yang kurang mengerti dan memahami orang yang kini berstatus suamiku ini?" desah Anes dalam hati. Mendadak ia merasa belum benar-benar mengenal sosok Alex.
"Wah sepertinya kamu harus banyak belajar lagi tentang Alex ya," ucapan Rania bagaikan sebuah tamparan buat Anes. Ia memang mencintai suaminya itu dengan sepenuh hatinya tapi nyatanya itu saja tidak cukup untuk memahami Alex.
"Iya ma," sahut Anes dengan tersenyum getir.
Pak Arya senang karena menurutnya walaupun Alex selalu bersikap dingin terhadap Rania, tapi Rania tetap perhatian dan peduli terhadap Alex. Sampai makan kesukaan Alex pun ia tahu.
Sedangkan Alex merasa geram karena menurutnya Rania sengaja memojokkan Anes.
"Sayang, mas tidak pernah kasih tahu kamu makanan yang mas suka karena buat mas, apapun yang kamu masak mas menyukainya. Semuanya menjadi kesukaan mas. Bahkan mas sendiri sudah lupa kalau mas dulu pernah menyukai makanan seperti itu. Sekarang, hanya melihatnya saja mas sudah tidak memilik selera untuk mencicipinya apalagi memakannya," ucap Alex sambil menggenggam tangan Anes erat. Ia melirik sinis ke arah Rania. Kemudian ia mencium punggung tangan Anes mesra.
Anes tersenyum mendengar ucapan suaminya. Perasaan yang tadinya canggung kini berangsur hilang. Yang ada kini hanya perasaan yang nyaman. Alex selalu berhasil membuat dia merasa istimewa.
__ADS_1
"Iya, tapi tidak perlu juga bilang tidak selera untuk memakannya. Aku kan jadi nggak enak sama mama Rania," batin Anes.
"Sial! malah aku yang terpojok sekarang. Kenapa sih mereka malah kelihatan lebih romantis. Seharusnya kan setelah apa yang aku katakan di acara amal waktu itu membuat Anes menyadari posisinya dan menjauhi Alex. Tapi kenapa malah sebaliknya begini sih? Mereka kelihatan bahagia sekali. Sedangkan aku masih terjebak dengan laki-laki tua ini! aku benar-benar muak melihatnya. Ah aku tidak peduli! aku yakin kalau aku masih memiliki tempat spesial di hati Alex, " Rania merasa cemburu melihat kedekatan Alex dan Anes. Ruangan yang ber-AC pun terasa sangat panas bagi Rania.
"Sudah-sudah ayo lanjutin lagi makannya!" ucap pak Arya yang memahami situasi yang semakin canggung di antara mereka bertiga.
Selesai makan malam, Alex mengajak Anes untuk pamit. Tapi pak Arya mencegahnya. Ia meminta mereka untuk menginap di sana karena di luar sedang hujan lebat.
Awalnya Alex menolak untuk menginap. Tapi, karena bujuk rayu Anes akhirnya ia luluh juga. Ia setuju untuk menginap. Alex memang selalu tidak bisa menolak jika Anes sudah merengek-rengek manja meminta sesuatu kepadanya. Itu adalah kelemahan terbaru dari seorang Alex.
"Kenapa sih kamu selalu menggemaskan seperti itu, kalau tidak sadar ada orang lain di sini, pasti sudah mas makan sekarang juga," batin Alex ketika Anes mengeluarkan jurus merayunya.
"Baiklah-baiklah sayang mas kalah, kita akan menginap di sini malam ini," kalimat yang terucap dari mulut Alex sebagai akhir dari negosiasi yang penuh romansa antara Alex dan Anes. Ia mengusap lembut rambut Anes.
"Yes!" seru Anes senang sambil memeluk alex. Ia yakin pak Arya akan lebih senang jika mereka menginap di sana.
Pak Arya terkekeh melihat tingkah sepasang suami istri tersebut.
"Ehem! ya ya ya, memang ya dunia ini hanya milik kalian berdua, papa dan mama sepertinya hanya ngontrak ya disini. Iya kan sayang?" pak Arya menoleh ke arah Rania.
"I iya mas," sahut Rania dengan memaksakan senyumnya.
"Tuh kan! mas Alex sih, jadi malu kan," ucap Anes sambil memukul lirih dada suaminya.
"Tapi nanti mas tetap dapat jatah kan? ingat kamu masih punya hutang sama mas," bisik Alex. Anes merespon ucapan Alex dengan sebuah cubitan di pinggang Alex.
Rania semakin sakit hati melihat kemesraan mereka berdua. Sesekali ia meremas jari-jarinya sebagai pelampiasan kekesalannya.
💠Jangan lupa like, komen dan votenya setelah membaca ya. Serta pencet ❤️nya biar author lebih semangat lagi upnya, Salam hangat author ❤️❤️💠
__ADS_1