MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 150


__ADS_3

Setelah Alex pergi, David menuju ke pantry untuk membuat kopi sendiri karena dia tahu biasanya Amel akan ke pantry di jam-jam itu.


Amel dan teman kantornya sedang ngobrol-ngobrol cantik di pantry sambil membuat es teh manis.


"Mel aku udah selesai nih, aku balik dulu ya?"


"Oke, ntar aku nyusul mau telepon mama dulu," sahut Amel.


Amel meletakkan es teh yang baru saja ia buat dan duduk di kursi. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi mamanya, namun tidak diangkat.


"Kenapa nggak di angkat sih?" gerutu Amel.


"Telepon siapa?" tanya David tepat di samping wajah Amel. Amel menoleh dan bibirnya langsung menempel dengan sempurna di pipi David.


"David, modus deh. Ngapain ke sini? ngintilin aku pasti, iya kan kan kan? kangen ya, sini peluk!" ucap Amel manja.


"Ck dasar!" David mengacak-acak rambut Amel.


"Kerjaan udah beres? malah nongkrong di pantry,"


"Udah kelar dong. Tapi baru setengah hehe," sahut Amel nyengir.


"Huh, jangan karena kamu pacar aku jadi bisa kerja seenaknya," ucap David.


"Aku bukan tipe cewek suka memanfaatkan jabatan kekasih ya Dav, catat itu! Tadi aku kesini cuma buat es teh manis dan duduk sebentar buat telepon mama, justru kamu yang buat aku tertahan di sini. Paham?" sungut Amel.


"Idih gitu aja baper. Buatin aku kopi Mel," pinta David.


Amel berdiri dari duduknya untuk membuat kopi. Ia mengambil kopi instan dan hendak merobek bungkusnya.


"Jangan kopi instan Mel, kopi hitam aja," ucap David.


"Aku nggak bisa kalau kopi hitam Dav, nggak tahu takarannya. Kalau yang instan kan langsung jadi, mau kan, mau ya sayang ya?" jawab Amel.


"Kopinya satu sendok, gulanya dua sendok Mel," ucap David.


"Sendok apa? makan, teh atau sayur?"


"Sendok sayur!" jawab David asal.


"Tapi di sini nggak ada sendok sayur Dav, jangan bercanda deh,"


"Aku serius Mel,"


"Hah serius? kalau gitu aku cari sendok sayur dulu ya, biar aku tanya sama OB," ucap Amel dengan polosnya.


"Hedeh, masak nggak bisa, bikin kopi nggak bisa, lalu nanti yang ngurus aku siapa kalau udah nikah?"


"Kan ada embak, nanti kita bawa embak bersama kita, kalau kita udah nikah," jawab Amel.


"Kalau begitu nanti aku nikahnya sama embak aja ya?"


"Ya jangan dong, masa pacarannya sama aku menikahnya sama embak," Amel mengerucutkan bibirnya.


"Lha kamu minta embak buat urus suami kamu. Aku kan maunya nikah sama perempuan yang bisa mengurus suami. Lha kamu bisanya apa?"


"Aku? aku bisa dandan, shopping, bekerja dan yang paling penting bisa mendesah di bawah ataupun di atas kamu," jawab Amel dengan mata genitnya.


"Mel, jangan mulai deh mancing-mancing. Cepat buatkan kopinya,"


"Tapi sendok sayurnya nggak ada David sayang, gimana dong?" Amel balik badan dan membelakangi David dan mengambil cangkir.


"Teh aja gimana?"


David berdiri tepat di belakang Amel, ia membuka lemari tempat menyimpan kopi dan gula lalu mengambilnya.


"Teh celup kan? sama aja bohong," sahut David.


Satu tangan David memegang tangan Amel sedangkan yang satunya melingkar di perut Amel.


"Buat kopi pakai sendok teh Mel, satu sendok kopi dan dua sendok gula, itu takaran yang pas," ucap David sambil menggerakkan tangan Amel mengambil kopi dan gula.

__ADS_1


"Didihkan air di teko biar mendidih," tangan David dengan cekatan menggerakkan tangan Amel supaya mengikuti instruksinya.


"Kenapa nggak pakai air dispenser aja Dav, tadi aku buat teh pakai itu loh, panas kok,"


"Lebih nikmat kalau air mendidih Mel," jawab David semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi ada yang lebih nikmat Dav,"


"Apa?"


"Bercinta denganku," sahut Amel nyengir.


"Mel, jangan coba-coba membangunkan tongkat saktiku punyaku deh, atau aku akan bikin kamu mendesah beneran di sini,"


"Tongkat sakti apa?"


"Ada deh, pokonya yang bisa bikin kamu merem melek nanti," ucap David di telinga Amel. Membuat telinga Amel memerah.


"Dav, jangan begitu bikin aku gagal fokus tahu nggak," ucap Amel. Ia melepaskan pelukan David dan menuangkan air yang baru saja mendidih ke dalam cangkir.


"Bukannya kamu duluan tadi yang mulai Hem?" David kembali duduk di kursi.


"Aku bercanda Dav, kita kan belum nikah. Jangan rusak kepolosan ku," ucap Amel. Sambil mengaduk-aduk kopi lalu meletakkan di depan David.


"Tapi kata-kata kamu tadi tidak menunjukkan kalau kamu sepolos itu Mel. Bagaimana kalau kita buktikan sekarang, kamu beneran bisa mendesah enggak," goda David.


"David, otak kamu ya, ngeres! aku emang belum pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Ciuman pertamaku aja kamu yang nyuri,"


"Otak ku ngeres juga karena kamu yang mengotorinya," ucap David lalu menyerupai kopinya.


"Di ajak nikah belum mau, tapi mancing-mancing tongkat sakti ku terus, sampai kapan aku harus menahannya Mel? takutnya jebol sebelum sah," batin David lalu kembali menyerupai kopi panasnya.


"Ya udah, aku balik dulu ya, mau lanjutin kerjaan," Amel berdiri dan mengambil gelas es tehnya.


"Tunggu," David memegang pergelangan tangan Amel.


"Apa lagi Dav? tadi katanya aku nggak boleh seenaknya kalau kerja, aku mau balik,"


"Oh itu, aku mau minta duit sama mama, buat bayar ini itu keperluan rumah dan juga mau aku kasih ke embak. Kasihan anaknya sakit butuh uang buat berobat. Mama belum transfer, mungkin sedang sibuk," jelas Amel.


"Huh udah besar juga masih minta uang sama mama. Yang ada harusnya kamu yang ngasih duit buat mama kamu Mel. Kamu kan kerja, gajimu juga cukup kalau cuma buat jajan bahkan aku yakin masih ada sisa yang cukup banyak. Gaji di parvis group kan lumayan gede daripada perusahaan lain. Kalau mama kamu nggak ngasih, pakailah uang kamu,"


"Uangku sudah aku ambil Dav Minggu lalu. Mbak Eri, teman satu divisi aku sedang butuh uang buat pengobatan adiknya yang mengalami kecelakaan dan butuh banyak biaya. Jadi aku kasih pinjam, kasihan. Dan sisa di ATM tinggal 2 juta, itu aku cukup-cukupin buat sampai gajian lagi Dav, itu aja aku udah ngincar tas di mall xxx belum kebeli. Rencananya ini juga mau minta mama buat beli hehehe," curhat Amel. Ia menengguk habis es teh yang niatnya tadi mau ia bawa ke kubikelnya.


Amel berdiri hendak menaruh gelas ke wastafel untuk nanti di cuci oleh OB atau OG.


David ikut bangun dari duduknya, memegang kedua pundak Amel dan mendorongnya hingga mentok ke dinding.


"Jangan minta lagi uang sama mama kamu, bawa dan pakai kartu ini kalau kamu butuh uang," David memberikan platinum card ATM kepada Amel.


Amel menerimanya.


"Kenapa bukan kartu kredit yang waktu itu?" tanya Amel.


"Sama aja, itu platinum card, kamu bisa menggunakan itu sesuka kamu, tapi aku harap masih dalam batas kewajaran. Jangan terlalu boros," jawab David.


Amel langsung membuka ponselnya dan gogling apa itu platinum card. Saat ia menemukan pencariannya, ia tak percaya dengan membuka mulutnya dan membulatkan matanya.


"Apa dia sekaya itu? kartu kreditnya tidak unlimited tapi hampir mendekati unlimited, dan ini atmnya platinum card, dan sepertinya dia masih punya banyak yang seperti ini, Padahal harus membiayai anak-anak di rumah singgahnya," batin Amel, ia jadi merinding sendiri.


David mencium bibir Amel.


"Dav,"


"Makanya mingkem Mel, untung lidahku yang masuk, kalau tongkat saktiku, bagaimana?" ucap David.


"Ih jorok!"


"Tongkat saktinya sun go kong maksudnya Mel, kamu tuh yang jorok pikirannya," menyentil kening Amel.


"Aw!" mengusap-usap keningnya sendiri

__ADS_1


"Dav, kamu nggak melihara tuyul kan? kartu kamu yang kayak gini banyak, belum kartu kredit yang kata kamu aku nggak bisa habisin itu,"


"Dari mana kamu tahu aku punya banyak?"


"Aku pernah ngintip dompet kamu waktu di restoran,"


"Jangan suka ngintip, nanti matamu belekan Mel,"


"Bukan belekan Dav kalau suka ngintip tuh, tapi kutilan,"


"Yang benar trimbilan Amel," memencet hidung Amel.


"Ya terserahlah apa namanya, terus gimana? kamu nggak memelihara tuyul kan Dav?" Amel bertanya sekali lagi.


"Bukan tuyul Mel, tapi **** ngepet,"


"Astaga Dav, musyrik itu namanya,"


"Ck.dasar, itu hasil kerja kerasku, bukan hasil kerja ****," sahut David.


"Emang pak Alex gaji kamu berapa Dav? jadi penasaran aku,"


"Jangan penasaran Mel, kayak arwah aja penasaran, yang jelas kamu akan pingsan kalau tahu bos gaji aku berapa. Nggak usah pusing mikirin, tugas kamu hanya mikirin bagaimana menggunakan uang itu,"


"Baiklah tuan David ," Amel mengalungkan tangannya di leher David.


"Mel, ngapain?"


"Cium" memonyongkan bibirnya.


"Kan tadi udah,"


"Yang ini sebagai ucapan terima kasih Dav,"


"Tidak perlu berterima kasih," tolak David.


"Huh ya udahlah, minggir! aku mau balik ke kubikelku, jangan halangi aku lagi," Amel melepaskan tangannya dari leher David dan mendorong pelan tubuh David supaya geser dan di berjalan melewati David.


Namun David menariknya dan kembali mendorongnya ke dinding samping pintu, lalu melum*t bibir Amel lembut.


"Udah," ucap David.


"Lagi!" rengek Amel. Ia melingkarkan tangannya di leher Amel.


"Woi, kalau mau mesum jangan di sini, ini pantry bukan hotel. Nanti kalau pak Alex atau pak David tahu kalian bisa end," ucap seorang office boy yang baru saja masuk bersama dengan seorang office girl. Mereka tidak tahu kalau yang sedang berciuman itu namanya yang ia sebut tadi karena terhalangi pintu yang baru saja mereka buka.


"Ah sial, lagi-lagi tercyduk!" gumam David kesal.


David mendorong pintu yang menempel di punggungnya tersebut menggunakan kakinya, dan berbalik badan.


"Oh hareudang, hareudang!" ucap office girl tersebut sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti orang kepanasan,begitu dia tahu orang yang berada di balik pintu adalah David. Orang yang paling di incar para wanita di perusahaan tersebut setelah Alex. Dan di salah satu fans berat David.


"Pak David," ucap office boy tersebut langsung menciut nyalinya. Ternyata yang dia pergoki adalah orang yang berpengaruh di perusahaan tersebut.


Amel menutup wajahnya karena malu.


"Apa? mau aku cium juga?" tanya David dengan nada arogan.


"Mau mau mau!" jawab office girl tersebut antusias.


"Bukan kamu, tapi aku menawari dia!," David menunjuk office boy yang yang tadi meneriakinya.


"Ti tidak pak, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau itu pak David," jawab OB tersebut.


David menarik tangan Amel keluar dari pantry.


David melepaskan tangan Amel dan menyuruhnya kembali bekerja. Amel mengangguk dan langsung buru-buru ke kubikelnya.


Sementara David kembali ke ruangannya dengan rasa malunya.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2