
Alex yang mendengar bahwa David sudah sadar langsung masuk ke dalam tanpa menunggu persetujuan dokter.
"Dav, akhirnya kamu sadar juga. Kau tahu, bagaimana putus asanya diriku selama kamu koma? Ku pikir kamu akan meninggalkan aku dan menyusul orang tuaku," ucap Alex yang begitu senang dan terharunya melihat sahabatnya tersebut sudah melewati fase komanya.
"Bos, di mana nona Anes? Bagaimana keadaannya? Nona dan bayinya baik-baik saja kan?" David langsung menanyakan kondisi Anes.
"Saya baik-baik saja pak David, semua berkat pak David. Terima kasih sudah melindungi saya dan anak saya, dan terima kasih sudah bangun kembali," ucap Anes yang baru saja menyusul Alex masuk dan mendekati David. Tanpa terasa air mata harunya jatuh begitu saja.
"Kenapa, kenapa pak David mengorbankan diri pak David demi saya? Bagaimana kalau pak David tidak tertolong? Bagaimana saya akan hidup jika pak David..hiks hiks hiks,"
"Nona tolong jangan menangis, sekarang lihatlah, saya baik-baik saja. Saya melakukannya bukan karena saya mau jadi sok pahlawan. Anda adalah nyawa dan dunia bos Alex, dan saya tidak akan membiarkan bos kehilangan nyawa dan dunianya," balas David dengan tulus.
"Dengan mengorbankan nyawamu sendiri begitu maksudnya Dav? Dasar bodoh! Kamu pikir aku nggak takut kehilanganmu juga, begitu?" ucap Alex.
"Sudahlah bos, yang penting kan sekarang saya sudah sadar dan baik-baik saja kan?" balas David sambil tersenyum.
"Ya aku tahu, kau itu seperti kucing, yang punya banyak nyawa," balas Alex membuat David tersenyum mendengarnya.
Mereka tidak mengindahkan pesan dokter untuk tidak mengajak David bicara terlalu banyak. Mereka terlalu senang atas sadarnya David.
"Lagian mana mungkin kamu rela meninggalkan bosmu yang ganteng ini kan?" lanjut Alex.
"Ck.dasar! narsisnya kumat!" celetuk Anes.
"Awas mas, jangan di monopoli sendiri pak Davidnya, ada yang lebih ingin pak David lihat dari pada mas Alex," lanjut Anes.
"Siapa? siapa yang berani menjadi sainganku?" tidak mau kalah.
"Ah kamu Lex, cepat minggir!" Juna menarik Alex, dan Amel langsung memeluk David.
"David! akhirnya kamu bangun juga sayang, kamu hampir membuatku gila tahu nggak, terima kasih sudah kembali hiks hiks hiks," ucap Amel sambil memeluk David.
Namun, raut wajah David berubah seketika ketika Amel memeluknya. Ia merasa ada yang aneh pada sikap Amel terhadapnya.
"Tolong lepasin Mel, tidak enak dengan yang lain. Bisa menimbulkan salah paham kalau kamu memeluk saya dawn memanggil saya seperti itu, kamu tidak perlu berlebihan seperti itu Mel, tidak enak juga sama pacar kamu, kalau dia tahu," ucap David sambil mendorong tubuh Amel pelan.
Deg! Amel terkejut mendengar ucapan dan penolakan David terhadap pelukannya.
"Pacarku itu kamu Dave, kenapa kamu bilang seperti itu?"
"Kamu jangan asal Mel, bagaimana bisa kamu bilang aku pacarmu kamu, dan sejak kapan kamu memanggil namaku tidak sopan begitu? Apa kita seakrab itu sebelumnya?" tanya David.
"Maksud kamu apa Dave? Nggak lucu tahu nggak?" tanya Amel yang kini sudah mundur satu langkah dan merasa lemas.
Semua yang ada di ruangan tersebut terkejut dengan apa yang David katakan, termasuk Juna, Brian dan Baim. Bukankah Amel pacarnya, tapi kenapa dia bilang seperti itu?
"Dave, tidak lucu bercandaku bro. Kasihan Amel, kamu tahu bagiamana sedihnya dia saat kamu koma. Begitu bangun, eh malah di kerjain kayak gini. Garing tahu nggak!" ucap Juna.
"Maaf tuan Juna, saya tidak bercanda," sahut Amel.
"Wah parah nih orang, bangun dari koma otak jadi soak! pacar sendiri nggak di akui," sarkas Juna.
"Jun, tadi kamu apain dia? kenapa bisa bangun tapi lupa sama Amel begitu?" tanya Brian penasaran.
"Aku nggak ngapa-ngapain Bray, kamu pikir aku ambil otaknya yang isinya Amel semua itu?"
__ADS_1
"Ya kali aja Jun, kamu kan juga suka sama Amel,"
"Plis deh Bray! punya otak di pakai sedikit, bagiamana bisa aku buat dia amnesia sama pacar sendiri? itu di luar kuasaku,"
"Kamu benar-benar lupa sama aku Dave?" Air mata Amel sudah mulai membanjiri wajah cantiknya.
"Aku tidak lupa Mel, kamu karyawan Parvis group sekaligus sahabat nona Anes," jawab David.
Amel tidak bisa berkata-kata lagi, bagaimana bisa David bicara seperti itu, rasanya sakit sekali di dalam dadanya.
"Pak David ini Amel kekasih pak David, kenapa pak David lupa?" Anes mencoba meyakinkan David.
"Maaf nona, tapi seingat saya, saya dan Amel belum menjadi kekasih, bukannya dia sudah punya pacar?" sahut David masih dalam kondisi lemah.
"Mas,," Anes melihat ke arah Alex.
Alex yang merasa ada yang aneh dengan sikap David langsung keluar untuk mencari dokter.
"Ini benar-benar nggak lucu Dave! kenapa sama yang lain nggak lupa, tapi sama setatus hubungan kita kamu lupa?" ucap Amel lalu memutar badan untuk pergi.
"Mel," cegah Juna dengan memegang tangan Amel. Entah kenapa David yang melihat itu merasa tak suka.
"Maaf pak Juna, saya ingin sendiri, tolong lepaskan saya, melihat David, eh pak David sadar sudah cukup membuat saya bahagia, permisi," Amel langsung membuka pintu dan keluar.
"Aneh, melihatnya menangis seperti itu kenapa dadaku rasanya sakit?" batin David.
"Biar saya yang mengejarnya, kalian temani pak David di sini," ucap Anes yang langsung mengejar Amel.
"Oke, kalau kamu nggak mau mengakuinya sebagai kekasihmu Dave, aku bakal ambil Amel darimu!" ancam Juna.
"Diam Im, mana mungkin aku merebut Amel. Aku bukan laki-laki yang nggak ada akhlak Im, yang tidak tahu malu merebut kekasih teman sendiri," balas Juna dengan berbisik juga.
"Ya kirain Jun,"
David hanya membuang pandangannya ke arah jendela, mengingat Amel yang tadi keluar dengan derai air matanya. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya, namun ia sendiri tidak tahu kenapa.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex yang menemui dokter langsung menceritakan apa yang terjadi pada sikap David, dan meminta penjelasan dari dokter kenapa David bisa lupa akan setatus hubungannya dengan Amel, tapi dengan yang lainnya masih ingat.
"Begini tuan muda Parvis, sepertinya tuan David mengalami amnesia disosiatif," ucap dokter.
"Amnesia disosiatif?" Alex tidak mengerti maksud dokter.
"Amnesia yang tidak seperti pada umumnya, beliau kehilangan ingatannya hanya sebagian tertentu saja misalnya hubungan dengan seseorang, biasanya itu di akibatkan trauma atau stress berat. Dan bisa juga karena faktor genetik.
"Sepertinya tidak mungkin dia trauma dengan Amel dok, mereka baru saja menjadi sepasang kekasih dan sedang dalam masa cinta-cintaannya. Atau mungkin karena trauma terhadap seseorang wanita di masa lalu? karena di trauma dengan sebuah hubungan percintaan di masa lalu?" ucap Alex.
"Tapi kenapa bisa amnesia dok? bukankah perutnya yang terluka tapi kenapa otaknya yang eror?" tanya Alex.
"Begini tuan, karena kehilangan banyak sekali darah, membuat oksigen yang masuk ke dalam otak terhambat atau berkurang. Hal ini bisa menyebabkan seseorang kehilangan ingatannya.
"Tapi David masih bisa sembuh dan mengingat semuanya kembali kan dok?" tanya Alex mulai cemas.
"Jika benar tuan David mengalami amnesia tersebut, sebenarnya ingatannya bukan benar-benar hilang tuan, ingatannya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran tuan David. Dan ingatan itu akan pulih sendiri seiring berjalannya waktu, atau di picu dengan sesuatu yang ada di sekitar beliau," jelas dokter.
__ADS_1
"Untuk lebih jelasnya tentang kondisi tuan David, kami akan memeriksanya lebih lanjut dan akan mengadakan evaluasi terhadap kondisi tuan David.
Setelah mendengar penjelasan dokter, Alex kembali ke dalam ruang perawatan David.
"Di mana Anes dan Amel?" tanya Alex.
"Amel tadi keluar karena tidak tahan dengan sikap acuh David, dan Amel mengejarnya," jawab Juna.
"Aku akan cari mereka. Dav, percayalah cepat atau lambat kamu akan ingat siapa Amel buat kamu," ucap Alex.
David tidak menanggapi omongan Alex, dia hanya diam dan berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex mencoba menelepon Anes untuk mencari tahu keberadaannya.
" Sayang, kalian di mana?" tanya Alex ketika Anes sudah mengangkat panggilannya.
"Aku sama Amel sedang di taman rumah sakit mas, ada apa? apa terjadi sesuatu dengan pak David?" tanya Anes.
"David baik-baik saja, tunggu mas akan ke sana," jawab Alex.
"Hem," Anes langsung mematikan teleponnya.
"David kenapa Nes?" tanya Amel khawatir.
"Pak David baik-baik saja Mel, mas Alex mau ke sini. Kita tunggu aja di sini," sahut Anes.
Tak berselang lama, Alex datang.
"Mas, bagaimana? Apa yang dokter katakan? Kenapa pula David bisa seperti itu?" tanya Amel.
"Biar mas bernafas dulu sayang, baru mas cerita," sahut Alex yang ngos-ngosan, ternyata dia berlari menuju ke taman tersebut.
Setelah berhasil mengatur napasnya, Alex menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter kepadanya. Dengan begitu, Alex berharap Amel tidak salah paham dan tidak marah ataupun sedih.
"Percayalah, David akan segera mengingatmu Mel, ingat kalau kamu adalah wanita yang sangat ia cintai, hanya saja mungkin butuh sedikit waktu. Bersabarlah dan jangan menyerah," ucap Alex.
"Benar Mel, pasti kamu masih menempati hati David, buktinya tadi saat aku bilang mau memaksa kamu buat nikah sama aku kalau dia nggak bangunin, dia langsung bereaksi kan? Itu artinya di masih sangat mencintai kamu, hanya otaknya saja yang sedang konslet dan butuh sedikit servis," ucap Juna yang baru saja tiba bersama dengan Brian dan Baim.
"Kenapa kalian kesini?" tanya Alex.
"David mau istirahat, jadi kita tinggal deh, kayaknya dia galau karena udah buat Amel nangis tadi," jawab Brian.
"Mel, kamu nggak akan marah dan benci sama David kan? Jangan nyerah, perjuangkan cintamu Mel," ucap Anes..
Amel tampak berpikir lalu menghela napasnya dalam-dalam.
"Aku tidak akan menyerah, aku akan menunggu sampai David mengingatku kembali, kalaupun ingatannya tidak pulih, aku akan buat dia jatuh cinta lagi kepadaku. Bukan Amel namanya kalau menyerah begitu saja," ucap Amel dengan mantap, sambil menghapus air matanya. Ia ingat apa yang dikatakan oleh David di koridor kantor, apapun yang terjadi, Amel harus ingat bahwa David sangat mencintainya, dan Amel meyakini hal itu adalah benar.
"Kalau begitu pelet terus David Mel, jangan kasih kendor, semangat!" ucap Juna.
"Semangat! terima kasih semuanya atas supportnya," sahut Amel yang kini mulai menunjukkan senyum di bibirnya. Ya, baginya melihat David, orang yang sangat ia cintai itu sudah sadar dari koma saja sudah membuatnya sangat bahagia, meskipun kini David sedikit melupakannya, namun bagi Amel yang penting David masih hidup dan dia masih bisa melihat laki-laki tersebut.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1