MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 225


__ADS_3

Mendengar Anes akan melahirkan, Amel langsung panik.


"Yang benar kamu Dave, aih dasar kamu, kalau Anes mau lahiran kenapa bertele-tele sih, pakai nyuruh aku mandi dan dandan segala, keburu bayinya brojol Dave," Amel terus menabok lengan David karena kesal.


"Ya nggak apa-apa dong kan yang bantu lahiran dokter bukan kamu," jawab David dengan wajah tanpa dosanya.


"Benar juga, eh tapi kan baru tujuh bulan, udah mau lahiran? Dokter salah prediksi atau bagaimana? Atau Anes kenapa-napa? Bayinya akan prematur? Cepat Dave nyetirnya, ngebut!" seru Amel yang sudah semakin khawatir, ia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap sahabatnya.


David hanya santai menanggapi ocehan demi ocehan Amel di sepanjang perjalanan.


" Perasaan rumah sakitnya jauh amat, Anes lahirannya di mana sih? " tanya Amel dengan polosnya dan David hanya diam dan terus menyetir.


Hingga akhirnya, mereka tiba di suatu tempat. David memarkirkan mobilnya lalu turun. Ia membukakan pintu mobil untuk Amel.


Amel yang sudah tidak sabar ingin melihat Anes langsung turun begitu David membukakan pintu untuknya.


Amel melihat sekeliling, gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, apalagi rumah sakit tempat bersalin.


"Dave, ini di mana? Kenapa gelap sekali, rumah sakitnya mana?" tanya Amel.


"Ayo ikut aku!" bukannya menjawab, David malah mengajak Amel buat jalan. David mulai mengajak Amel berjalan menapaki jalan yang gelap tanpa penerangan tersebut. David menggunakan ponselnya untuk menerangi jalan.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Sementara itu di suatu tempat, tepatnya di balik pohon yang rimbun dengan cahaya remanga-remang, terdapat empat pria yang sedang menunggu kedatangan David dan Amel.


"Ngung ngung ngung... Plak!!!" terdengar suara tangan seseorang yang menepuk nyamuk di pipinya sendiri.


"Sssttt! Jangan berisik," bisik yang lain.


"Mana ini targetnya, kenapa belum datang juga sih? Darahku lama-lama habis nih dihisap nyamuk!" tanya Juna kepada tiga sahabatnya.


"Sebentar lagi juga sampai sini jun, sabar kenapa, demi sahabat," sahut Alex.


"Demi sahabat ya demi sahabat, tapi ini malam pertamaku Lex, harusnya sekarang aku enak-enak belah duren bukannya di sini, digigitin nyamuk sial*n! Harusnya aku yang sedang gigit Evelyn! Bukan digigit nyamuk, pokoknya kalau sampai darahku habis kamu tanggung jawab Lex!" umpat Juna kesal.


"Ssst jangan berisik Jun! Yang ikhlas kalau bantu teman Jun. Lagian belum tentu evelyn mau di belah durennya sama kaku malam ini, siapa tahu sekarang di lagi tidur nyenyak dan merasa damai karena kamu nggak ada di sana," ucap Bryan.


"Ah berisik kamu bray!"


"lagian kasihan juga Evelyn Jun kalau kamu gempur malam ini, dia pasti capek karena acara tadi siang. Berilah dia waktu untuk bernapas dulu Jun, aku dulu juga begitu sama Anes, nggak langsung main tancap gas aja," ucap Alex.


"Emang gitu lex? Serius kamu?" tanya Juna, ia anggap Alex lebih berpengalaman.


"Hem, biar nanti saat malam pertama istriku staminanya kuat, dan bisa berkali-kali di gempur. Aku bahkan melakukannya ketika sedang bulan madu di Maldives, Kasihan kalau buru-buru. Dia istrimu Jun, bukan seperti para mainanmu dulu," Alex mencoba mempemgaruhi Juna, supaya laki-laki itu tidak marah.


"Tapi aku menundanya karena Anes datang bulan waktu itu hihihi," batin Alex tertawa.


"Udah-udah nggak usah bahas aneh-aneh ada Baim yang belum cukup umur, kasihan dia belum nikah," ucap Anes yang terlihat duduk di belakang para lelaki yang sedang memantau tersebut.


"Tahu istri lagi hamil gede kenapa kamu ajak sih lex, segitu lengketnya sampai Kemana pun istri di bawa," bisik Juna.


"Dia yang maksa ikut Jun, aku nggak bisa menolak pesona macan yang satu itu, apalagi kalau sudah merengek, nggak tahan iman akunya, " jawab Alex.


"Sayang, nggak digigtin nyamuk kan?" tanya Alex pada Anes sambil melempar senyum tetmanisnya.


"Enggak mas, kan aku udah pakai lotion anti nyamuk," jawab Anes.


"Baguslah, kalau digigit nyamuk bilang sama mas, biar mas gigit balik tuh nyamuk!" balas Alex.


Ketiga sahabatnya hanya mencibir melihatnya.


Juna kembali melihat ke arah Anes yang tengah duduk di kursi lipat yang ia bawa dari rumah dan sedang ngemil strawberry yng di tarus di dalam wadah tupperw*re dengan lahapnya tanpa merasa masam sama sekali. Kaki mulusnya ditutupi jas yang tadi Alex kenakan.


Juna yang melihatnya hanya menggedik, membayangkan betapa masamnya strawberry tersebut hingga membuat air liurnya semakin banyak.

__ADS_1


"Istrimu aneh lex, malam-malam begini ngemil strawberry," ucap Juna.


"Sudah biarin aja, itu memang kesukaan dia, kalau udah ada strawberry dia anteng dan jinak, tidak rewel," sahut Alex.


"Macan? Macan apa sih? Dari kemarin ngomongin macan terus, mana macannya?" tanya baim.


"Tuh macannya!" Alex, Juna dan Bryan serempak menjawab sambil menoleh ke arah Anes yang asyik dengan ngemilnya.


Baim mengikuti arah mata ketiga sahabatnya ke arah Anes, dan ia hanya diam dan geleng-geleng kepala, dalam pikirannya wanita secantik dan sebaik itu kok di katain macan.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


David dan Amel sudah semakin dekat dengan tempat persembunyian empat laki-laki tersebut. David mengernyit, seharusnya jika dia dan Amel sampai tempat tersebut, lampu akan menyala memerangi jalan di depannya, tapi karena sibuk berdebat hingga mereka lupa akan tugas mereka malam ini.


David terus berdehem untuk memberi kode tapi lampu tak kunjung nyala.


"Kenapa lampunya belum menyala juga, kemana mereka? Apa mereka tidur?" batin David, ia sudah mulai kesal, tak ingin apa yang sudah ia rencanakan gagal.


"Ehek hem!!!" David kembali berdehem, kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Eh itu mereka sampai. Cepat nyalakan lampunya!" seru Anes yang kini menyadari kedatangan Amel dan David karena melihat ada cahaya dari ponsel David. . Alex dan kawan-kawan pun bersiap menyalakan lampu.


"Dave, kamu mau membawaku kemana sih, ini menakutkan, gelap dan sepi, kamu nggak akan macam-macam sama aku kan?" mendadak Amel menjadi merinding, bisa saja di tempat gelap dan sepi itu, David akan berbuat yang tidak-tidak.


Namun, sebelum David menjawab, lampu di sepanjang jalan yang ada di depan mereka kini sudah menyala. Seketika Amel terkejut, melihat begitu banyak lampu yng berbaris rapi di sepanjang jalan di depannya sehingga jalannynkini menjadi terang, cahaya lampu-lampu tersebut membuat jalan semakin cantik dan suasana semakin romantis. Pohon-pohon di sekitarnya juga terlihat sangat cantik dengan lampu-lampu yang menghiasinya.


"Indah sekal!"



"Dave, apa ini?" Amel menoleh ke arah David, laki-laki tersebut hanya tersenyum.


"Ayo jalan lagi, ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu," ucap David yang semakin erat menggenggam tangan Amel.


"Sekarang kamu boleh membuka mata kamu Beb," ucap David.


Amel menutup mulutnya yang menganga karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Di depannya terdapat lampu yang menyala dengan membentuk tulisan "Will You Marry Me"



"Dave? Apa maksudnya ini?"


David langsung berjongkok berlutut dengan bertumpu satu kaki di depan Amel.


"Dave, apa yang kamu lakukan?"


David tersenyum untuk menutupi kegugupannya, ia menarik napasnya dalam dan pelan-pelan membuangnya. Tak berjarak jauh dari tempat mereka Alex dan yang lainnya menunggu dan juga harap-harap cemas, terutama Anes.


Detik kemudian, David meraih dan menggenggam tangan Amel da mulai mengeluarkan suara,


"*Sebelumnya aku tak pernah tahu rasanya rasanya takut kehilangan, tak pernah tahu rasanya di cintai dan aku tak pernah tahu kalau ternyata mencintai seseorang tak seburuk pikiranku,apalahi mencintai orang yang juga mencintai kita, rasanya tak bisa aku ungkapkan hanya dengan kata-kata...


Semnejk mengenalmu, begitu banyak rasa yang dulu tak pernah aku tahu kini menjadi candu bagiku. Dengan berjuta cara kamu membuat hidupku menjadi penuh warna, membuatku bahagia...


Kamu adalah alasan kenapa aku masih bernapas sampai detik ini. Kaku adalah jawaban atas segala pertanyaan dalam doa-doaku selama ini. Hanyabkamubyang sampai detik ini selalu setia dan ada untukmu dalam keadaan apapun...


Aku ingin kamu menjadi orang yang pertama kali aku lihat, saat aku membuka mataku di pagi hari. Aku ingin kamulah yang akan menjadi rumah untukku pulang, aku ingin kamu menjadi alasan untuk setiap napas yang aku hembuskan. Aku ingin kamu menjadi yang pertama terakhir*...." David melepas genggaman tangannya pada Amel, ia mengeluarkan kotak kecil dari saku celana ya, kalau membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah cincin berlian. Amel hanya mematung dan menunggu aksi David selanjutnya, tentu saja dengan perasaan yang tak menentu dan mata berkaca-kaca, ia speechless.


" Maukah kamu menjadi nyonya august? Menjadi ibu dari anak-anak? AMELIA KARLA SAFIRA, Will you marry me?" kalimat proposal yang mengakhiri kalimat panjang David untuk melamar sang kekasih.


David berhasil mengucapkan setiap kata yang sudah ia hapalkan dari sore tadi meskipun dengan perasaan gugup dan panas dingin.


Amel benar-benar masih tak percaya, jadi ini adalah alasan kenapa David tadi siang menolaknya? Betapa bodoh nya dia yang tidak sabaran menunggu aksi dari David, bukankah David sudah berjanji akan menjadikannya nyonya august, lalu kenapa tadi siang dia malah hampir merusak semua rencana yang sudah David siapkan ini, sebuah lamaran romantis impiannya.


Amel mengusap air mata bahagianya lalu mengulurkan tangannya dan berkata,

__ADS_1


"Yes, i do!" ucap Amel mantab.


David tersenyum bahagia lalu menyempatkan cintin di jari manis Amel. David langsung memeluk Amel dengan erat.


"Terima kasih, dan maaf buat yang tadi siang," ucap David dengan perasaan harunya.


"Harusnya aku yang berterima kasih dan minta maaf, aku..."


Belum juga Amel menyelesaikan ucapannya, David sudah mendaratkan bibirnya di bibir Amel dan Melum*tnya dengan lembut.


Alex dan teman-temannya yang tidak bisa mendengar apa yang David dan Amel bicarakan, apakah Amel menerimanya atau menolaknya sedang sibuk dengan nyak-nyamuk yang mengganggu aksi intip-mengintip mereka. Kecuali Alex yang sudah di pakaikan lotion oleh Anes.


David mengajak Amel pindah tempat di mana makan malam romantis sudah ia siapkan.



Lagi-lagi Amel spechless tak tahu mesti bagaimana mengutarakan kebahagiannya saat ini, lamaran romantis yang ia impikan menjadi kenyataan. Amel tak menyangka David bisa seromantis itu. Mereka mulai makan malam romantis di bawah sinar bulan dan juga bintang-bintang yang bertebaran di langit.


"Dave, apa kamu menyiapkan semua ini sendiri?" pertanyaan Amel membuat David ingat dengan para sahabatnya yang sedang menunggunya untuk memberi tahu apa mereka sudah bisa kembali ke rumah dan tidur dengan nyenyak. Mereka terus merutuki David yang tak kunjung menyuruh mereka pulang.


"Astaga, aku lupa," David menepuk jidatnua sendiri.


"Kenapa?"


David menarik tangan Amel dan mengajakanya berdiri, ia mengajak Amel mendekati tempat tadi ia melamarnya.


"She said yes!!!" teriak David lalu memeluk Amel dengan erat.



Alex dan lainnya langsung muncul dari balik pohon yang berjarak beberaa meter dari telat mereka berdiri tersebut.


"Akhirnya! Lama amat sih Dave, emang ngapain aja, tinggal bilang ajak nikah, banyak nyamuk nih, darahku sampai mau habis" ucap Juna yang selalu tak tahu tempat asal mangap.


"Maaf tuan Juna, Saya lupa. Tapi terima kasih atas bantuan kalian semua, sekarang kalian bisa pulang," ucap David yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Mereka pun mengucapkan selamat kepada David dan Amel yang kini satu langkah lebih maju, dan tinggal selangkah lagi akan menjadi suami istri, sebelum akhirnya mereka balik badan dan meninggalkan David dan Amel yang masih akan melanjutkan dinner romantis mereka tentunya.


"Bos, terima kasih," ucap David tulus kepada Alex. Alex menepuk pundak David dan tersenyum.


"Cepat temui orang tuanya, dan aku akan menyiapkan pernikahan untuk kalian," ucap Alex seperti seorang kakak yang bertanggung jawab kepada adiknya. David mengangguk, air mata tertahan dari sudut matanya, karena terharu akan sikap bos kesayangan ya tersebut.


Alex menyusul Juna, Bryan dan Baim.


"Tunggu, sepertinya tadi kita berlima Lex, tapi kenapa sekarang hanya berempat," ucap Juna.


"Berlima sama David kali yang kamu maksud Jun," balas Bryan.


"Ya Nggaklah, David kan datangnya nggak sama kita tadi,"


Alex langsung menghentikan langkahnya dan berbaik arah.


"Macanku ketinggalan!" Seru Alex sambil berjalan cepat, ia ingat tadi Anes ketiduran di tempat mereka bersembunyi.


Juna, Bryan dan Baim terkekeh mendengarnya.


"Sadar umur bro, makin tua makin pelupa! Telmi!" Teriak Juna.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Mau juga dong bang di lamar๐Ÿค—



๐Ÿ’ Jangan lupa like komen dan votenya yang banyak dan ikhlas, kalau nggak ikhlas jangan ๐Ÿ˜…, terima kasih ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ salam hangat author โค๏ธโค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ 

__ADS_1


__ADS_2