
Cukup lama David dan Amel berciuman, hingga akhirnya mata David melihat ke arah pintu dan...
"Aw!!" Pekik Amel yang kembali di dorong oleh David.
"Jahat banget sih Dave, kamu mendorongku lagi, untuk nggak jatuh lagi," kesal Amel.
"Bos," David tak menanggapi ucapan Amel, dia justru menyapa Alex yang masih berdiri di depan pintu. Amel menoleh ke arah pintu, dan hanya tersenyum nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Udah mas?" tanya Anes dengan wajah masih terbenam di dada suaminya.
"Udah sayang," sahut Alex. Anes langsung menjauhkan wajahnya dari dada Alex.
"Kalian ini benar-benar ya," hardik Alex seraya berkacak pinggang.
"Ini ide konyolnya Anes bos, dia yang mencium saya duluan," David mencoba beralasan.
"Tapi kamu menikmatinya kan Dave? Buktinya tubuh kamu tidak menolak," Amel membela diri.
David hanya berdecak kesal, " Lain kali jangan kayak gitu lagi Mel, jadi perempuan punya harga diri sedikit," ucap David.
Deg! rasanya sakit mendengar David bicara seperti itu, seperti itukah Amel di mata David saat ini? mata Amel mulai memanas menahan air mata yang akan keluar.
"Maaf permisi, saya mau ke toilet," ucap Amel yang langsung ngeloyor ke dalam toilet yang ada di ruangan tersebut.
Di sana ia menangis, menumpahkan rasa sakit hatinya. Sampai kapan David akan melupakannya, akankah Amel mampu bertahan jika David terus menolak ingat.
"Udahlah Dave, jangan di perpanjang lagi, cuma kayak gitu doang, wajar kali Amel seperti itu, kalian kan sepasang kekasih," Alex mencoba untuk menengahi, ia tahu saat ini hati Amel pasti sakit.
"Kenapa semua orang bilang aku ini pacarnya sih? Sejak kapan? kapan jadiannya? Arrrgghh kenapa aku tidak ingat sama sekali," umpat David dalam hati. Ia terus memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Anda baik-baik saja pak David?" tanya Anes khawatir melihat David menjambak rambutnya sendiri.
"Tidak apa-apa nona, saya hanya merasa sedikit pusing," sahut David.
"Udahlah Dave, jangan di paksakan kalau memang belum ingat, nanti lama-lama kamu juga akan mengingatnya, dan semoga itu tidak lama, takutnya Amel akan menyerah menunggumu," ucap Alex.
"Mas jangan bicara seperti itu ih, doain dong semoga mereka kembali seperti dulu lagi, saling mencintai kekurangan masing-masing,"
"Dia itu pasti sayang, tapi jika dalam hati David yang paling dalam masih menyimpan trauma soal hubungan percintaan, mas takut ingatannya akan lama pulihnya, dan saat itu tiba, Amel sudah menautkan hatinya pada laki-laki lain," sahut Alex mencoba berlogika dengan pikirannya.
Deg! dada David terasa sesak mendengar ucapan Alex. Apa benar dia begitu mencintai Amel? kalau benar kenapa dia sampai melupakannya. David kembali memegangi kepalanya karena pusing.
Amel yang baru saja keluar dari toilet, dalam keadaan baik-baik saja karena ia sudah menghapus air mata dan merias kembali wajahnya dengan make up tipis serta merapikan rambutnya, melihat David yang menjambak rambutnya sendiri.
"Kamu kenapa Dave? Apa kepalamu sakit?" tanya Amel panik.
"David kenapa Nes? kenapa kalian diam saja?"
"Dia merasa pusing Mel, dia mencoba mengingat semuanya, tapi tidak berhasil," sahut Alex.
"Udah Dave, jangan paksakan, tidak apa-apa, kamu jangan banyak pikiran, yang paling penting kamu harus sembuh dulu," ucap Amel.
"Setelah gara-gara saya, maafkan saya pak David, Amel, hiks hiks hiks," Anes merasa bersalah akan hilangnya ingatan David. Semua berawal dari David yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Anes dan berujung amnesia seperti sekarang.
"Sayang," Alex memeluk erat Anes.
"Tidak nona, semua bukan salah Anda, jika memang saya tidak bisa mengingatnya, mungkin kami memang tidak berjodoh," sahut David.
"Iya kan Mel?" David menoleh ke arah Amel.
__ADS_1
"Eh iya," jawab Amel dengan senyum terpaksa.
Entah kenapa David tidak suka dengan jawaban dari Amel, ia berharap gadis itu tidak mendukung ucapannya. Anes mendekati Amel, ia tahu Amel berusaha menahan kekecewaannya.
"Mel,"
"Aku nggak apa-apa Nes, aku tahu dia sedang tidak sadar dengan kata-katanya sendiri, aku akan terus nempelin dia, hingga dia lupa caranya berpisah dariku," bisik Amel.
"Eh bos, nona, kenapa kalian ke sini pakai pakaian sedan hitam sih, saya masih hidup bos," David mengalihkan pembicaraan.
"Kita habis mengubur Rania," sahut Alex tanpa ekspresi.
"Nyonya Rania meninggal?" tanya David terkejut.
"Hem, dia bunuh diri," jawab Anes.
"Bunuh diri?" David sedikit tak percaya.
"Iya, tidak usah kaget begitu, bukan aku yang membunuhnya, dia bunuh diri sendiri. Ya walaupun aku sempat bilang kalau dia mati sekalipun aku tidak peduli, tapi seharusnya itu tidak menjadikannya alasan buat mati beneran kan?" ucap Alex.
"Aku belum cerita ya, kalau dalang di balik penusukan kamu itu Rania, dia menyuruh orang untuk menghabisi Anes dan anakku, dan sekarang dia dengan suka rela menebus dengan nyawanya sendiri," lanjut Alex.
"Cinta memang buta, bikin gila! Itu yang bikin saya trauma dengan yang namanya cinta," ucap David.
"Tidak semua cinta begitu Dave, buktinya cintaku dan Anes, sangat manis, iya kan sayang?" menarik pinggang Anes ke dekatnya.
"Iya pak David, sebelumnya juga pak David merasakan indahnya jatuh cinta kok," sambung Anes.
David melirik sekilas ke arah Amel yang terus menunduk.
"Kalau kami pernah jatuh cinta Mel?" tanya David.
"Hem," sahut David singkat, tidak tahu harus berkata apa.
"Ck.dasar! Rasanya pengen aku jedot-jedotin tuh kepala kamu ke tembok Dave, siapa tahu jadi bener tuh otak," sungut Amel, menyembunyikan kesedihannya, berusaha tetap tegar.
"Yang ada geger otak Mel, tambah parah amnesianya," timpal Alex.
" Jika memang kita ada hubungan, bersabarlah menungguku Mel, aku akan berusaha mengingatnya, pelan-pelan," ucap David.
"Tidak janji Dave, kadang cinta juga akan merasa lelah menunggu," sahut Amel bohong, ia sudah janji akan terus menunggunya.
"Aku tahu, jika kamu lelah menunggu, kamu boleh pindah ke lain hati, aku juga tak bisa memaksamu untuk selalu menungguku, kamu berhak bahagia, tidak hanya terpaku kepadaku yang masih belum bisa ingat tentang kita," ujar David.
"Kenapa kamu bilang begitu sih Dave, aku hanya ingin bahagia bersama kamu," ucap Amel dalam hati.
"Kita lihat saja nanti Dave, kamu yang akan ingat aku duluan atau aku yang akan menyerah duluan," sahut Amel kemudian.
Suasana menjadi hening seketika dengan pikiran mereka masing-masing. David yang masih bingung dengan kenyataannya, Amel yang merasa sedih, Alex dan Anes yang merasa bingung harus bagaimana untuk menyatukan keduanya kembali.
Keheningan itu di buyarkan oleh kedatangan pak Hari dan Bu Ratna yang baru saja tiba.
"Kalian kenapa pada bengong begitu?" tanya pak Hari.
"Eh papa mama, ngagetin aja," sahut Anes yang baru saja tersadar dari lamunannya karena mendengar suara pak Hari.
"Lagian kalian kenapa bisa kompak begitu bengongnya,"
"Ah tidak kok pa, kita baru saja ngobrol kok, dan baru diam sejenak," Alex menyalami kedua mertuanya bergantian, begitu juga Anes dan Amel.
__ADS_1
"Pak David, bagaimana keadaan Anda? Mamad kamu baru bisa datang, saya harus menunggu Bapak pulang kerja dulu," ucap Bu Ratna.
"Saya baik-baik saja nyonya Ratna, berkat doa Anda berdua juga," sahut David.
"Terima kasih pak David, sudah menolong anak kami, kami tidak tahu harus membalasnya seperti apa," ucap pak Hari.
"Tidak perlu sungkan tuan, ini sudah kewajiban saya, kalian cukup menganggap saya seperti anak kalian saja sudah membuat saya senang, dan tolong panggil saja say David, tidak usah terlalu sopan," sahut David.
Pak hari dan Bu Ratna saling bersitatap, mereka sangat senang dengan ucapan David yang sangat tulus tersebut.
"Kita tambah punya anak lagi pa," ucap Bu Ratna terharu.
"Iya ma," sahut pak Hari.
"Kalau begitu kami juga jangan panggil kami tuan dan nyonya, bukankah kita keluarga? panggil kami seperti mereka bertiga," pak Hari menunjuk ke arah Anes, Alex dan Amel.
"Terima kasih pa, ma," sahut David. Ia merasa sangat terharu juga, untuk pertama kalinya ia merasa memiliki orang tua yang lengkap.
"Sama-sama Dave, jangan sungkan, apalagi kamu nantinya kan akan menikah dengan Amel, kami sudah menganggap Amel seperti anak kami sendiri juga," sahut Bu Ratna.
Bu Ratna dan pak Hari belum tahu kondisi David yang sebenarnya.
"Itu ma, pa David..." Amel ingin menjelaskan kondisi David kepada pak Hari dan Bu Ratna namun langsung di sela oleh David.
"Iya ma, saya tahu," ucap David, ia melirik ke arah Amel. Membuat Amel mengernyitkan dahinya.
"Maunya apa sih nih orang, main tarik ulur aja, kayak layangan. Giliran aku bilang akan terus menunggu dia seperti mendorongku untuk menjauh, tapi giliran aku bilang mau menjauh kalau tidak sanggup lagi dia seakan dua tidak rela. K**enapa juga menyela, aku kan mau jujur sama papa dan mama, bukannya tadi dia yang bilang kalau aku tak harus menunggunya?" batin Amel tak mengerti.
"Pak David jadi kakak Anes dong!" seru Anes.
"Tidak nona, anda tetap menjadi nona saya, bagaimana bisa saya lancang menjadi kakak Anda?"
"Huh sebel deh, aku kira bakal punya kakak, impian terbesar saya punya kakak tahu, kayaknya enak gitu punya kakak yang selalu melindungi kita,"
"Kan ada mas sayang," Alex unjuk diri.
"Beda mas, kakak sama suami memiliki peran masing-masing,"
"Kalau begitu nona boleh anggap saya kakak nona," ujar David.
"Benarkah?" Anes sangat antusias.
"Iya nona," balas David tersenyum tulus.
"Amel tidak keberatan kan?" Anes meminta persetujuan Amel.
"Tentu saja tidak Aneska sayang," sahut Amel tersenyum tak kalah tulusnya.
Anes hendak memeluk David secara spontan Namun, langsung di tarik oleh Alex.
"Peluk mas saja, jangan peluk laki-lakinya on, sekalipun itu papa," ucap Alex yang sudah mendekap Anes ke dalam pelukannya.
Pak Ahri yang mendengarnya tak terima.
"Heh dasar kamu Lex, udah bucin posesif pula. Sama papa juga cemburu. Ingat, kalau nggak ada papa, nggak bakal ada tuh istri kamu, dia kan ada berkat benih yang papa tanam, untung bibit unggul makanya jadi cantik begini, kalau jelek mana mau kamu peluk-peluk dia begitu," ucap pak Hari bercanda.
Semua yang ada di sana pun terkekeh melihat kekonyolan Alex.
🌼🌼🌼
__ADS_1