
Amel duduk sendiri di sebuah taman tempat biasa ia menghabiskan waktu jika sedang sedih. Ia terus menangis. Tak tahu harus cerita sama siapa. Amel mencoba menghubungi Dimas, berharap kekasihnya tersebut ada di saat dia sedang dalam keadaan kalut seperti sekarang. Tapi, nyatanya tidak sesuai harapannya. Dimas beralasan sangat sibuk sehingga tidak bisa menemui Amel. Tentu saja Amel merasa kecewa, karena orang yang berstatus pacarnya tersebut tidak peka terhadap perasaannya saat ini.
Amel mencoba menghubungi Anes, namun tak ada jawaban dari Anes. Ya, bagaimana bisa Anes menjawabnya, ponselnya tertinggal di dalam mobil sedangkan orangnya tengah sibuk melihat-lihat rumah baru yang akan segera ia tempati dengan Alex.
"Mungkin Anes juga lagi sibuk," batin Amel sambil terus menyeka air mata yang tak berhenti keluar dari matanya.
Amel sudah menghubungi kakaknya dan ngomongin soal kedua orang tuanya yang akan berpisah, dan jawaban kakaknya sangat mengejutkan Amel. Ternyata makanya tidak terkejut dengan keputusan orang tuanya. Pasalnya, Aksa dulu pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar. Bukan hanya pernah melihat tapi sering. Mereka selalu membicarakan soal perceraian. Dan mungkin sekarang adalah puncak dari semua perselisihan tersebut.
"Jadi? selama ini hanya aku yang kelihatan bodoh, yang tidak mengetahui apa-apa?atau aku yang terlalu naif?" batin Amel semakin sakit.
Kemudian, Amel bangun dari duduknya dan berjalan kaki menyusuri jalan. Ia tak tahu harus membawa langkah kakinya kemana, karena untuk pulang, saat ini ia masih belum siap. Ibu dan ayahnya terus berusaha menghubunginya namun selalu di reject oleh Amel.
"Amel tahu, selama ini kalian juga tidak mudah menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan kepalsuan, tapi Amel perlu waktu untuk menerima semuanya ma, pa," batin Amel sambil terus berjalan dengan menunduk lesu dan air mata yang masih sesekali keluar dari pelupuk matanya.
Entah kebetulan atau memang takdir, David mengendarai mobilnya melewati jalan di mana Amel sedang berjalan di trotoar sambil meratapi nasibnya.
"Itu kan Amel? kenapa di berjalan menunduk lesu begitu? Ah dia menangis? apa baru saja putus cinta?" gumam David yang melihat Amel. Entah kenapa kalau tebakannya benar Amel menangis karena baru putus cinta, ia merasa sedikit senang. Walaupun ia tahu tak seharusnya ia senang di atas penderitaan orang.
David menepikan mobilnya dan membuka kaca jendelanya.
Menyadari ada mobil yang berhenti di sampingnya, Anes menoleh ke arah mobil tersebut.
"Pak David?" ucapnya lirih. Jujur ia malu karena ketahuan oleh David di saat-saat rapuhnya seperti ini.
"Dia beneran menangis? kenapa rasanya dadaku sesak melihatnya menangis seperti itu?" batin David.
"Amel, masuklah. Tidak baik berjalan sendiri sambil menangis seperti itu," ucap David.
Karena tak tahu harus kemana dan bagaimana, akhirnya Amel masuk ke dalam mobil David.
๐ผ๐ผ๐ผ
Selesai melihat-lihat selurub ruangan yang ada di rumah tersebut, Anes merebahkan badannya di kamar yang nantinya akan menjadi kamar utama. Kamar tersebut lebih luas dari kamar yang ada di apartemen.
"Bagaimana sayang? apa kamu suka dengan ruang ini?" Alex memastikan kembali perasaan Anes. "Kalau kamu nggak suka, kita bisa cari rumah yang lain. Atau kamu bisa pilih desainnya sendiri," lanjutnya.
"Nggak mas, rumah ini sangat bagus dan besar. Aku sangat menyukainya. Jadi selama ini mas diam-diam menyiapkan semua ini?"
"Hehem, mas sengaja mendominasi rumah ini dengan warna putih, warna kesukaan kamu. Kalau nanti ada yang ingin kamu ubah atau bagaimana, kamu tinggal bilang saja, nanti mas akan bilang sama mereka (para pekerja) untuk mengubah sesuai dengan keinginan kamu."
"Nggak mas, semuanya sudah bagus kok. Tapi apa semua ini nggak berlebihan? aku nggak masalah kok kalau harus tinggal di apartemen terus,"
"Mas yang masalah sayang kalau kita terus tinggal di sana, mas ingin nanti anak-anak kita tumbuh seperti anak-anak lainnya, bermain dan berinteraksi dengan tetangga dan juga kehidupan sosial, yang mungkin tidak akan kita jumpai kalau kita terus tinggal di apartemen. Pokoknya kamu jangan membantah, keputusan mas sudah bulat, kita tetap akan pindah ke sini setelah semuanya beres,"
"Hem ya ya ya, baiklah terserah mas aja, sebagai istri yang baik, aku ikut apapun keputusan mas," Anes tidak mau berdebat dengan Alex untuk rumah yang sudah di siapkan oleh Alex dengan susah payah.
__ADS_1
"Tapi kok kelihatannya nggak senang begitu?" selidik Alex.
"Senang sayang, senang banget malahan. Makasih suamiku sayang, emmuah!" sahut Anes dengan menunjukkan gigi putihnya yang tertata rapi lalu mencium pipi Alex.
Mendengar Anes memanggilnya sayang, membuat Alex senang bukan main, ia terus menghujani pipi Anes dengan ciuman.
"Mas hentikan, geli tahu!" Anes mendorong tubuh Alex dengan pelan.
"Biarin, habis mas gemas sih," Alex menelangkupkan kedua tangannya di pipi Anes dan menekannya sehingga bibir Anes tampak seperti bebek.
"Dasar my sweety duck!" imbuh Alex dan langsung mengecup bibir Anes.
"Yah mas ponselku ketinggalan di mobil!" seru Anes setelah membuka tasnya dan ingin mengambil ponselnya, tapi tidak ada.
"Udah nggak papa biarin aja," sahut Alex santai.
"Mmm pulang aja yuk, aku juga udah capek nih," ajak Anes
"Nggak mau mencoba kamar ini dulu? Kasurnya lebih enak sepertinya dipakai buat enak-enak," senyum devilnya muncul.
"Nggak ah, besok aja kalau udah pindah ke sini mencobanya," Anes mengedipkan matanya.
"Tuh kan, berani menggoda mas di sini, awas ya?"
"Haha ampun ampun, ayo kita pulang sekarang saja, nanti enak-enaknya di apartemen aja,"
"Nggak janji hehehe,"
Setelah masuk ke dalam mobil, Anes langsung mengambil dan mengotak-atik ponsel mahalnya. Ya, ponsel yang waktu itu Alex belikan setelah hari ulang tahunnya karena rusak akibat hempasan tangan Alex yang kasar sehingga menyebabkan ponselnya berdering di pegang oleh Anes jatuh ke lantai.
Anes melihat ada begitu banyak panggilan dari Amel. Ia langsung menghubungi Amel kembali. Namun Amel tidak menjawabnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Dari masuk mobil hingga David sudah melakukan mobilnya sampai muter-muter berkali kali melewati jalan yang sama, Amel hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. David menjadi bingung sendiri tidak tahu harus bagaimana, karena setiap ia tanya mau kemana selalu tidak di jawab oleh Amel. Seolah-olah amel.sibuk sendiri dengan pikirannya dan tidak menghiraukan keberadaan David di sampingnya. Bahkan, ponselnya yang terus bergetar karena panggilan dari Anes pin ia abaikan. Ya dia asyik dengan perasaan sedihnya sendiri sambil sesekali mengusap sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening.
"Amel, dari tadi ponsel kamu bergetar, mungkin itu telepon penting," ucap David.
"Ah iya?" amel.masih belum fokus dengan ucapan David.
"Itu ponsel kamu dari tadi bergetar terus, mungkin itu telepon penting," David mengulangi kata-katanya.
"Anes," ucap Amel lirih ketika melihat nama pemanggil di layar ponselnya.
"Halo Mel, dari tadi kamu menghubungi aku? maaf ponselku ketinggalan di mobil tadi. Ada apa? apa ada hal yang penting ingin kamu omongin sama aku?"
__ADS_1
Amel tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, ia malah diam dan terus berurai air mata.
"Halo Mel, kamu menangis? ada apa? apa.yangbterjadi Mel? kenapa kamu menangis?" Anes mulai panik karena Amel tidak bicara tapi malah menangis.
"Nes, aku aku,,,aku nggak tahu mesti cerita sama siapa," akhirnya Amel buka suara tapi dengan sambil terus terisak.
"Kamu tenang dulu Mel, sekarang kamu di mana?"
"Aku sekarang sama pak David," jawab Amel.
"Berikan ponselnya sama dia,"
Amel menyodorkan ponselnya kepada David. mengerti maksud Amel, David langsung menerima dan menempelkan ponsel Amel ke telinganya.
"Halo nona, ini saya," ucap David.
"Udah tahu, sekarang kalian di mana? apa.yang terjadi? kenapa Amel bisa sampai menangis seperti itu?" Anes sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Sayang, ada apa?" tanya Alex yang bingung dengan sikap istrinya ia mendekatkan telinganya ke ponsel Anes, ingin tahu apa yang dibicarakan David.
"Sssst mas diam dulu!" sahut Anes sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Alex.
"Aw, sakit tahu!" pekik Anes karena Alex malah menggigit jari telunjuknya.
"Masa sih sakit? padahal mas pelan loh menggigitnya,"
Anes menatap tajam Alex seolah matanya menyuruh laki-laki itu untuk diam.
"Halo pak David?"
"Hah bos bos, kalau sedang enak-enak kenapa membiarkan istrinya angkat telepon sih, bikin salting aja," batin David yang gagal paham dengan suara pekikan Anes.
"Iya nona, saya masih di sini,"
"Cepat bawa Amel ke apartemen, sekarang!" perintah Anes.
"Baik nona, saya akan mengantarkannya ke sana," David langsung mematikan panggilan Anes dan memutar arah mobilnya.
"Cepat kita pulang ke apartemen mas," ucap Anes sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Emang ada apa sih?"
"Nggak tahu, yang jelas sekarang Amel sedang menangis dan dia sedang bersama dengan pak David," jelas Anes.
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Ya, mana aku tahu. Lebih cepat lagi mas, biar cepat sampai," Anes sudah tidak sabar lagi. Ia khawatir dengan Amel.
๐ผ๐ผ๐ผ