
Saat jam makan siapngpun tiba, Anes sudah berada di kantor beberapa saat yang lalu dengan di antar oleh pak Anton. Wanita yang sedang hamil tersebut sedang sibuk membaca buku tentang parenting yang ia bawa dari rumah untuk mengusir rasa bosannya ketika menunggu suaminya bekerja.
Alex melihat sekilas jam mewah yang bertengger di tangan kanannya, lalu ia menutup berkas yang baru saja ia periksa dan menghampiri Anes yang tengah duduk di sofa.
Alex mengambil buku yang tengah di pegang oleh Anes tersebut, membuat Anes mendongak.
"Mas ah! Siniin bukunya!" ucap Anes dengan nada memerintah.
"Sudah waktunya makan siang sayang, yuk!" Alex meletakkan buku tersebut dan mengulurkan tangannya ke arah Anes.
Anes mengambil tas kecilnya lalu menyambut uluran tangan Alex. Kemudian, mereka mencari keberadaan Amel dan David yang ternyata sudah menunggu di lobby kantor.
" Nona," sapa David. Ia langsung berdiri begitu melihat sosok adik angkat kesayangannya tersebut mendekat ke arah ya dan Amel.
"Abang, sudah lama menunggu? maaf tadi aku kesyikan baca buku jadi sedikit lupa waktu.
" Enggak kok Nes, kita jug baru duduk sebentar di sini. Yuk berangkat. Kasihan pasti bumil sudah kelaparan!" Amel menggandeng tangan Anes, mengajaknya jalan dan mengabaikan dua laki-laki yang mengekori mereka seperti dua bodyguard tampan.
"Enggak mungkinkah istriku kelaparan, dia udah selalu kenyang dengan cintaku," celetuk Alex dan di dengar oleh David.
"Makan cinta doang mana bisa kenyang, yang ada malnutrisi bos. Bos kecil juga butuhnya nutrisi yang baik dan cukup bukan cinta. Karena dia belum tahu apa itu bucin, seperti daddynya yang bucin akut, dengan cinta aja udah cukup bikin perut kenyang," timpal David.
" Berisik! Mau nih aku ngadu sama calon macan, kalau tadi kamu menyebalkan karena mau mengundurkan diri? Sayang tahu nggak tadi... " Alex kemudian sedikit berteriak ke arah istrinya.
" Ehek hem!!!" David berdehem dengan keras supaya Alex tidak melanjutkan kalimatnya.
Alex melirik David sekilas lalau terkekeh.
" Alex di lawan!" gumam Alex sambil mencebikkan bibirnya.
" Ck, dasar! Bos bos! coba aku ngundurin diri beneran, udah mewek-mewek ria pasti dah sekarang," gumam David dalam hati. Tatapan matanya seakan mengejek Alex. Dan di balas Tatapan tajam oleh Alex.
"Kalian mau masuk ke mobil atau berdiri di sana terus? Heran deh, kalian saling cinta, tapi kayak Tom Jerry aja kalau jadi satu," ucap Amel.
__ADS_1
"Cintaku Just for you beb," sahut David dengan mata nakalnya.
"Uwuuuuu!" Amel langsung klepek-klepek di buatanya.
"Huek!!! Buang gombalan jangan di sini bung! Tong sampah ada banyak! Ada anak di bawah umur ini," Alex yang sudah berada di samping Anes untuk membuatkan pintu mobil untuk Anes, mengelus-elus perut sang istri.
Amel dan David tidak peduli.
"Mel, bisa buka pintu sendiri kan? Nggak perlu aku bukain? kamu kan nggak manja, aku juga nggak bucin-bucin amat," ucap David bermaksud menyindir Alex.
"Ih abang nyindir aku ya, aku manja gitu?" Anes memanyunkan bibirnya. Kini mereka sudah berada di dalam mobil. David yang akan mengemudikan mobil terbaru milik Alex dan amel duduk di sampingnya. Sementara Alex dan Anes duduk di belakang.
"Tidak Nona, bukan begitu," timpal David cepat, karena ia salah sasaran. Niatnya mau nyindir bosnya, eh malah yang di sindir bermuka tembok, di lihatnya dari kaca Alex sedang sibuk menunduk dan mencium perut Anes tanpa memperdulikan sekitar.
"Biarin aja sayang, manja juga nggak masalah, sama suami sendiri ini. Lagian dia nggak sadar sama mulutnya, tanya aja Amel kalau mereka lagi berdua, gimana bucinnya David, pasti juga sampai luber-luber tuh bucin," ucap Alex kemudian, ternayata dalam masa bodohnya itu, Alex juga menyimak.
🌼🌼🌼
"Dave, kamu nggak balik kantor? Kerjaan kamu masih banyak tuh," ucap Alex. Ia tak ingin David ikut ke rumah sakit, takutnya David akan melihat perut Anes saat di periksa nanti.
"Pekerjaan bos yang banyak, punya saya mah udah selesai," jawab David santai.
"Saya sudah janji sama nona buat menuruti kemauannya hari ini, jadi apapun buat nona," lanjutnya tanpa mempedulikan ekspresi Alex yang dahinya sudah berkerut.
"Iya mas, kenapa sih kalau mereka ikut? Lagian habis ini aku ka taman hiburan, mau ke rumah hantu, ya nggak Mel?"
"Yups! Seru Amel karena memang tadi dia dan Anes sudah mengagendakannya.
" Rumah apa?" David yang emang dasarnya penakut dengan hal-hal berbau horor langsung membulatkn matanya.
" Rumah hantu Dave, kenapa? Takut?" tanya Alex. Ya, ia tahu betul kalau David memang takut hantu, sama seperti dia.
"Ah enggak siapa juga yang takut," jawab David berbohong.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung masuk ke dalam ruangan dokter Irene.
Alex dan David tampak berebut untuk masuk menyusul Anes dan Amel yang sudah masuk duluan.
"Kamu tunggu di luar Dave!" ucap Alex, ia mempersulit David yang ingin masuk dengan merentangkan kedua tangannya di di pintu.
"Saya juga mau lihat ponakan saya bos, penasaran cowok atau cewek," jawab David sambil terus berusaha menerobos masuk.
"Enggj boleh, nanti kamu lihat perut Anes lagi,"
"enggak bos janji, saya akan fokus ke layar USGnya,"
"Tetap tidak! Bisa saja kamu mencuri kesempatan melirik perutnya,"
"Please deh bos, posesif dan cemburuan ya di kurang-kurangi! Saya juga tidak bernafsu kali melihat perut hamil punya istri orang,"
Alex menatap tajam ke arah David. Maksudnya istrinya tidak nafsuin gitu? Tidak menarik? Pikiran Alex sudah merembet kemana-mana.
"Selamat datang tuan dan nyonya muda Parvis!" sapa dokter Irene. Ia melihat kekonyolan kedua laki-laki tersebut namun tak mendengar aa yang mereka bicarakan, karena keduanya hanya beribisik.
Alex yang mendengar sapaan dokter iren langsung kembali ke mode jaim dan datarnya. Tak lupa wajah yang berkarisma dan wibawanya, ia ikut sertakan. Sungguh setelah proses ngidamnya yang absurd, Alex berusaha memeperbaiki reputasi ya di depan dokter Irene. Ya, walaupun kepolosannya tentang kehamilan Anes terkadang tetap membuat hara dirinya jatuh, bukan jatuh lagi tapi nyungsep.
Akhirnya David bisa masuk karena Alex sibuk dengan harga dirinya dan sudah masuk menemani sang istri.
"Oh, ada tuan David dan istri juga ternyata, apa kalian ingin konsultasi untuk program momongan?" pandangan dokter Irene beralih ke arah David dan Amel.
"Tidak dokter, kami masih santai belum terlalu kejar target," jawab David asal dan tidak berniat menjelaskan kepada dokter Irene kalau dia dan Amel belum menikah. Sementara Amel hanya diam tak ingin berkomentar juga.
"Oh, begitu, jadi ke sini hanya untuk menemani tuan dan nyonya Parvis ya?" ucap dokter Irene tetap selalu ramah dengan senyum di bibirnya.
"Tumben periksa rutin kehamilannya bawa pasukan, biasanya kan banyak syarat ini itu, nggak boleh ada dokter laki-lakilah, nggak boleh inilah, onolah, apalah-apalah," batin dokter Irene dengan bibirnya tetap tersenyum.
🌼🌼🌼
__ADS_1