
Anes dengan tergesa-gesa menuju ke apartemen setelah Alex memarkirkan mobilnya.
"Sayang pelan-pelan!" pinta Alex.
"Takutnya Amel dan pak David sudah menunggu mas, ayo cepat!" Anes menarik tangan Alex menuju lift.
Sesampainya di apartemen, Anes belum melihat adanya Amel maupun David yang menunggu mereka di depan pintu.
"Tuh kan, apa mas bilang, mereka pasti belum sampai," ucap Alex.
"Ya udah sih, tinggal tunggu aja di dalam," sahut Anes.
"Amel kenapa ya mas? jangan-jangan di apa-apain lagi sama pak David," Anes curiga.
"Jangan negatif thinking dulu, lebih baik nanti tanya langsung sama orangnya," Alex mengusap rambut lurus Anes.
"Iya juga sih, tapi awas aja kalau semua ini gara-gara pak David!" Anes mengepalkan tangannya.
"Kan sudah mas bilang, jangan negatif thinking dulu. Tolong ambilkan mas minum sayang, haus," Alex menyentuh lengan Anes sambil tersenyum.
"Ok!" Anes bergegas ke dapur dan mengambilkan Alex minum.
"Nih mas!"
"Makasih sayang," ucap Alex, dan di balas senyuman hangat oleh Anes.
"Ting tong!" suara bel berbunyi.
""Itu pasti mereka," Anes langsung menuju ke arah pintu.
"Ceklek!" Anes membuka pintu dan benar saja, yang memencet bel adalah David.
"Anes!" Amel langsung menghambur ke pelukan Anes sambil terus terisak.
Anes menatap tajam ke arah David yang berada di belakang Amel seolah matanya mewakili Anes untuk bertany, "apa? kenapa? apa yang terjadi?"
Namun hanya di jawab dengan sebuah gelengan kepala dan kedua bahu yang di angkat oleh David, membuat Anes berdecak kesal.
"Ayo masuk dulu Mel," Anes mengajak Amel masuk supaya lebih enak bicara.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu di sini ya, aku ambilin minum sebentar," ucap Anes sambil memapah Amel untuk duduk di kursi ruang tamu. Amel hanya mengangguk.
"Nona, bisa tolong ambilkan saya minum juga?" pinta David tanpa merasa canggung karena telah menyuruh istri bosnya.
"Ya," jawab Anes singkat.
"Ck. dasar beraninya di memerintah Anes di depanku!" batin Alex.
"Bos," David menyapa Alex yang sedang duduk bersedekap di sofa berseberangan dengan Amel.
Alex menatap David lalu beralih ke Amel dan kembali menatap David lagi dengan sedikit mendongakkan kepalanya. Lagi-lagi David hanya bungkam dan mengamati kedua bahunya.
"Nih pak David!" Anes menyodorkan minum kepada David.
"Terima kasih nona," David langsung menenggak habis minuman yang di berikan oleh Anes.
"Mel, ini minum dulu biar sedikit tenang," Anes menyodorkan minum kepada Amel sambil duduk di samping sahabatnya tersebut. Amel langsung meminumnya walaupun hanya sedikit.
"Haus Dav?" tanya Alex melihat David seperti seseorang yang baru saja menemukan oase di tengah Padang pasir.
"Iya bos," jawab David santai.
"Dav, ikut aku ke ruang kerja!"
"Baik bos!" sahut David.
"Sayang, mas ke ruang kerja dulu, kalian bicaralah!" ucap Alex yang mengerti maksud dari tatapan sang istri.
David mengikuti langkah kaki Alex menuju ke ruang kerjanya.
"Sebaiknya kita ke kamar tamu aja yuk Mel, biar lebih leluasa ceritanya," Amel Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Kamu apakan tuh anak gadis orang sampai nangis kayak gitu?" tanya Alex kepada David setelah ia mendaratkan pantatnya di sofa ruang kerjanya.
"Kalau tidak mau bertanggung jawab, jangan macam-macam. Kasihan kan anak orang. Eh tapi kamu tidak menghamili dia kan?" imbuh Alex sebelum David sempat menjawab pertanyaan pertamanya.
"Hah kalau status Anda bukan sebagai bos dan hanya sebagai teman, rasanya ingin aku sumpal tuh mulut yang asal bicara, seenaknya aja bilang menghamili anak orang," umpat David dalam hati.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu bos dia kenapa, tadi saya menemukan dia sedang berjalan sambil menangis. Karena tidak tega saya menyuruhnya masuk ke mobil. Di mobil dia hanya menangis terus tidak bicara sepatah katapun," jelas David.
"Yakin?"
"Seratus persen yakin!" sahut David karena dia memang tidak bersalah dalam hal ini.
"Ah sudahlah, sebaiknya kita main game yang saja, sudah lama kita nggak main bareng,"
"Baik bos!"
Alex dan David malah asyik bermain game di ponsel pintar mereka, seperti bernostalgia ke masa-masa di mana dulu Alex belum menikah sebagai pengisi kekosongan waktu mereka yang sama-sama jomblo. Karena setelah menikah, fokus Alex hanya di tujukan kepada pekerjaan dan juga Anes. Ya, dunianya sudah di penuhi oleh Anes sehingga ia tidak butuh game untuk pelarian.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sementara di kamar tamu, Amel yang sedikit bisa menguasai dirinya mulai bercerita tentang orang tuanya yang bertengkar dan akan bercerai.
"Aku nggak tahu Nes, aku yang terlalu naif atau bagaimana. Kenapa bisa selama ini aku tidak melihat kalau di antara mereka tidak pernah ada rasa cinta, pikiranku masih belum bisa menerima. Jika memang tidak cinta karena mereka dulu di jodohkan, kenapa bisa sampai lahir kak Aksa dan aku? atas dasar apa mereka memiliki kami Nes? nafsu semata?" air mata Amel kembali membanjiri wajahnya.
"Dan ternyata, papa memiliki istri dan anak lain di luar sana Nes, bagaimana bisa mama yang mengetahui itu hanya diam dan menerima. Walaupun awalnya mereka tidak cinta, tapi bukankah waktu yang sudah mereka habiskan selama ini, harusnya cukup untuk saling menyayangi dan mencintai. Sebagai seorang wanita, mama pasti sangat berat menjalani dan menghabiskan waktunya dengan orang yang tidak mencintainya selama ini. Kecuali mama memang sudah mati rasa terhadap papa,"
"Ya ampun, aku nggak nyangka Mel, om dan tante akan berakhir ke sebuah perceraian seperti ini. Selama ini aku melihat mereka harmonis dan baik-baik saja, kamu yang sabar ya. Mungkin ini sudah jalan yang terbaik yang di berikan oleh Tuhan, dari pada mereka terus bersama tapi saling menyakiti dalam diam," Anes memeluk Amel, ia juga merasakan sakit yang Amel rasakan.
"Itu dia Nes, mereka berhasil menipu mata kita semua selama ini,"
"Kak Aksa sudah tahu hal ini?" tanya Anes.
"Aku sudah meneleponnya tadi, tapi dia bilang tidak kaget mendengar kalau papa mama akan berpisah. Karena kak Aksa bilang dulu dia diam-diam sering melihat mereka bertengkar dan bilang ingin pisah tapi tidak kunjung berpisah juga. Mungkin ini adalah puncak dari semau itu Nes," Amel terus menyeka air matanya yang tak mau berhenti.
"Sudah jangan menangis terus, mata kamu sampai bengkak begini," Anes menyeka air mata Amel dengan kedua tangannya. Anes juga tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia yang berada di posisi Amel, mungkin dia akan menangis lebih histeris dari pada sahabatnya tersebut.
"Terus, kapan sidang pertama mereka? biasanya kan ada mediasi dulu?"
"Minggu depan Nes, ternyata papa sudah lama memasukkan gugatan ke pengadilan. Dan dia bilang sudah mantap dengan keputusannya sehingga tidak perlu untuk mediasi lagi, dan lebih memilih untuk melanjutkan hidupnya bersama istri dan anaknya yang lain,"
Karena kelelahan menangis terus Amel akhirnya tidur. Anes membenarkan posisi tidurny agar dia lebih nyaman tidurnya. Anes menarik selimut hingga dada Amel. Ia memandang wajah sahabatnya yang sembab akibat menangis terus.
"Aku tahu ini berat buat kamu Mel, tapi aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, Amel yang aku kenal adalah Amel yang kuat,"
Anes meninggalkan Amel yang sudah tidur pulas dan menuju ke dapur untuk memasak.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ