
David terus mendayung perahunya, ponselnya tak mau berhenti berdering. Akhirnya David menyerah, tidak bisa mengabaikannya lagi, apalagi saat dia lihat sekilas nama si pemanggil adalah bosnya.
David segera menepikan perahunya dan mengangkat panggilan Alex.
"Halo bos..." ucap David membuka pembicaraan dengan Alex.
"Akhirnya kamu angkat juga Dav, sekarang kamu ke Jogja beliin aku gudeg Jogja, yang namanya gudeg mbak Ngatiyem, ingat harus yang mbak Ngatiyem," perintah Alex.
"Tapi bos..."
"Ayolah Dav, apa kamu mau anakku ileran nantinya hah? Mau saat kamu gendong, dia mengotori bajumu dengan ilernya? Begini saja, aku akan ikut ke Jogja, nanti kita langsung makan di sana saja, biar lebih dapat feel-nya," kata Alex.
"Baik bos, saya akan menjemput Anda," sahut David tak bisa menolak dan panggilan pun berakhir.
"Mel, aku harus ke Jogja, aku akan antar kamu pulang sekarang ya?" ucap David kepada Amel.
"Kenapa Dav? apa ada urusan mendadak?"tanya Amel.
"Tidak, bos minta ditemenin beli gudeg ke Jogja. Kamu tahu kan dia sedang ngidam, kalau nggak di turuti takutnya bos kecil akan ileran nanti kalau dah lahir," jelas David.
"Ganggu aja sih pak Alex! Kita lagi kencan ini, kalau dia yang lagi me time sama Anes dan di ganggu auto ngamuk kan pasti, nggak lihat sikon main perintah aja," gerutu Amel dalam hati.
"Ya udah deh nggakpapa," Amel bicara dengan nada sumbang.
"Kamu marah?" tanya David.
"Jangan di tanya, ya pasti marahlah,"
"Nggak penting, udah sana urusin aja istri tua kamu itu!" cetus Amel.
"Istri tua?" David tidak mengerti maksud Amel.
"Pak Alex, siapa lagi?" sahut Amel kesal.
"Apa mau ikut aja?" tawar David
"Enggak ah, kalau ke Korea aku mau ikut, biar bisa ketemu opaa-oppa, kalau ke Jogja nggak mau, mau ketemu siapa di sana, Roro Jonggrang?" tolak Amel.
"Aku belum mau pulang," lanjut Amel.
"Terus?"
"Nanti turunin aja aku di mall xxx," ucap Amel.
"Baiklah," sahut David.
__ADS_1
Akhirnya kencan mereka pun gagal. David menurunkan Amel di mall yang di maksud dan ia segera melajukan mobilnya menuju kediaman tuan muda Parvis.
"Bos, nona," sapa David saat masuk ke rumah Alex.
"Apa kita akan berangkat sekarang bos?" tanya David.
"Hem, lebih cepat lebih baik," timpal Alex.
"Pak David, sedang sama Amel kan tadi?" tanya Anes.
"Kok tahu nona?"
"Tadi aku baca sosmednya Amel," sahut Anes.
"Oh," David hanya ber-oh-ria.
"Terus sekarang Amelnya di mana?" Anes celingukan mencari keberadaan Amel, siapa tahu di kantongi David.
"Dia minta turun di mall xxx nona," jawab David.
Anes langsung berbalik badan meninggalkan suami dan juga asistennya tersebut.
"Mau kemana sayang?" tanya Alex sedikit berteriak.
"Bos, ayo kita berangkat!" ajak David.
"Sebentar Dav, tunggu Anes dulu. Dia mau kemana, aku harus tahu. Kamu ingat kan kejadian di cafe, ada orang yang sengaja mengambil gambar Anes bersama pria lain dan mengirimkannya kepadaku, aku takut kalau orang itu masih mengikuti Anes,"
"Maafkan saya bos, saya belum bisa melacak siapa orang itu, tapi saya sudah mengerahkan orang untuk mengikuti nona secara diam-diam kemanapun dia pergi untuk melindunginya, tapi tak ada yang mencurigakan sejauh ini. Sampai kita tahu siapa dan apa motif orang itu sebenarnya," jelas David.
"Baiklah, lakukan yang terbaik. Tapi jangan sampai Anes mengetahuinya, aku tidak ingin dia khawatir," ucap Alex.
"Baik bos,"
Tak lama kemudian, Anes sudah rapi dan siap untuk pergi.
"Mas aku pergi dulu ya?" pamit Anes.
"mau kemana sayang?" tanya Alex.
"Mau mempertanggung jawabkan ulahmu mas?"
Alex dan David hanya saling memandang tak mengerti.
"Kamu udah merusak kencan orang mas, pasti sekarang Amel sedang kesal dan aku akan tanggung jawab untuk itu, aku pergi dulu mau cari Amel," Anes mencium punggung tangan Alex dan di balas dengan ciuman di keningnya oleh Alex.
__ADS_1
"Hati-hati. Minta pak Anton buat antar, jangan suruh dia pulang duluan, atau nanti akan mas pecat dia. O ya, mau di bawain pulang gudeg nggak?"
"Nggak, bawain pulang candi Prambanan aja!" sahut Anes sambil berlalu.
🌼🌼🌼
Akhirnya Alex dan David sampai juga di Jogja, begitu sampai, mereka langsung mencari warung gudeg mbak Ngatiyem. Setelah mencari-cari akhirnya mereka menemukannya.
"Yah bos, warungnya tutup, sepertinya kita datang tidak di waktu yang tepat," ucap David.
"Ah kampret! jauh-jauh ke sini malah tutup. Anakku bakal ileran beneran kalau gini Dav, harus bagaimana sekarang?" Alex mulai resah, takut jika ngidamnya nggak keturunan anaknya bakal ileran beneran.
"Kalau kita cari gudeg yang lain bagaimana?" saran David.
"No! aku maunya gudeg ini, bukan yang lain!" saran di tolak.
"Ini laki-laki rewelnya kebangetan! melebihi emak-emak komplek. Semoga hamil yang kedua nanti yang ngidam nona Anes saja, sepertinya akan lebih manusiawi kalau nona yang ngidam," Batin David.
"Ya udahlah, kita ke candi Prambanan aja," ucap Alex kemudian.
"Mau ngapain bos ke sana?" tanya David.
"Apa kamu lupa tadi Anes minta di bawain pulang candi Prambanan? mungkin dia juga ngidam," sahut Alex.
David tepok jidat, lalu menghela nafas gemas, segemas-gemasnya.
"Bos, jangan bilang Anda berpikir untuk membawa pulang candi Prambanan?"
"please! please! waras sedikit bos! saya yakin nona Anes tidak serius, kenapa anda menanggapinya seserius ini sih?" batin David.
"Itu Dav, masalahnya, nggak mungkin kan kita bawa pulang candi Segede itu, lagian itu peninggalan sejarah, aset negara, mana mungkin bisa di bawa pulang. Mustahil!" sahut Alex lesu.
"Syukur masih ada kewarasan," David menghela nafas lega.
"Terus sekarang mau bagaimana?" tanya David.
"Aku juga tidak tahu, kalau anakku beneran ileran bagaimana Dav? generasi penerus Parvis ileran? Oh no!" Alex tidak bisa membayangkan.
"Berdoa saja semoga tidak bos," sahut David, yang sebenarnya juga khawatir. Mereka duduk bersandar di depan warung seperti orang hilang. Ya, dua laki-laki yang sebenarnya cerdas itu mendadak plin-plan dan cemas hanya karena masalah ileran.
Akhirnya mereka pulang dengan wajah kecewa. Warung gudeg mbak Ngatiyem tutup dan juga tidak bisa membawa pulang candi Prambanan. Alex juga tampak kepikiran dengan mitos kalau ngidam tidak keturutan, nanti anaknya bakal ileran. Orang seperti Alex yang cerdas, nomor satu dalam dunia bisnis dan juga terkenal cuek dan datar terhadap wanita itu bisa juga kemakan mitos.
🌼🌼🌼
💠Jangan lupa like n votenya setelah membaca. O ya, author minta maaf kalau ceritanya terlalu lebay atau santai tanpa konflik yang berat dan berarti. Di sini memang author sengaja membuat cerita yang simpel dan ringan, tanpa harus terlalu menguras emosi dengan banyak konflik yang berat. salam hangat author ❤️❤️💠
__ADS_1