MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 65


__ADS_3

Anes membuka pintu ruangan Alex. Dilihatnya, Alex sedang sibuk dengan setumpuk pekerjaan.



"Sepertinya dia sedang sibuk, kalau aku menyela buat ngomongin masalah tadi, ganggu nggak ya?" batin Anes. Ia ragu untuk melanjutkan langkahnya masuk.


"Sayang, kenapa di situ? sini!" ucap Alex yang melihat Anes mematung di depan pintu.


Dengan ragu-ragu, Anes melangkahkan kakinya hingga sampai di depan meja kerja Alex.


"Mas," Anes memanggil Alex ragu-ragu.


"Hem, kenapa sayang? apa ada masalah?" tanya Alex yang tetap fokus dengan pekerjaannya.


"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Dia sedang sibuk sekali, aku takut malah akan tambah mengacaukan moodnya."


"Mmm, nggakpapa mas, nggak jadi. Sepertinya mas sedang sibuk, lain kali saja aku ngomongnya. Aku keluar dulu ya?" ucap Anes. Namun, ia tak langsung keluar. Ia masih masih menunggu respon dari sang suami.


Alex langsung menghentikan pekerjaannya setelah mendengar ucapan Anes.


"Sayang, ada apa sih? apa ada masalah penting?" Alex mendongak menatap ke arah Anes yang berdiri di depannya.


"Sesibuk apapun mas, kalau buat kamu mas akan meninggalkannya, katakan ada apa hem?" lanjut Alex sambil meraih tangan Anes dan menariknya pelan hingga Anes duduk dalam pangkuannya.


"Em itu, anu,"


"Duh bagaimana ngomongnya ya? mengingat kemarahan mas Alex tadi pagi aku kok sanksi kalau dia bakal dengerin permintaanku ya,"


"Itu apa hem?" tanya Alex sambil menciumi leher jenjang Anes, membuat Anes menggeliat karena geli.


"Mas geli"


"Makanya cepat katakan apa yang ingin kamu katakan, atau mas nggak akan berhenti mengerjai kamu," sahut Alex yang kini sudah meletakkan dagunya di bahu Anes.


Sebenarnya Anes ragu untuk bilang sama Alex untuk memikirkan kembali keputusannya untuk memecat orang-orang yang tadi menghinanya bahkan akan mempersulit mereka jika mereka ingin melamar kerja di tempat lain. Tapi, dia juga sudah berjanji kepada mereka untuk mencoba berbicara kepada Alex. Walaupun mungkin tidak akan membantu. Anes menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Tapi mas janji nggak akan marah sama aku?" Anes


"Emang apa sih yang mau kamu omongin sama mas, kayaknya serius banget. Jadi penasaran."


"Janji dulu!" rengek Anes.


"Iya iya janji," sahut Alex gemas.


"Mmm ini masalah para karyawan yang tadi pagi itu. Apa tidak sebaiknya mas mempertimbangkan lagi untuk tidak memecat mereka?" ucap Anes dengan sedikit ragu dan takut. Takut, kalau perkataannya akan memancing emosi Alex lagi.


Alex mengendurkan pelukannya setelah mendengar Anes berbicara.


"Tu kan, dia pasti marah."


"Sayang dengerin mas. Kamu nggak usah mikirin hal itu. Biarkan David yang mengurusnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan."


"Tapi mas?"


"Keputusan mas sudah bulat. Mas nggak bisa terima atas sikap dan perilaku mereka terhadap kamu. Bukan hanya kamu yang terluka jika ada yang menyakitimu. Tapi mas juga merasakan sakit sayang. Mas masih bisa terima dan ngga peduli kalau mereka hanya menggosipkan mas. Tapi, mas nggak bisa terima mereka menyakiti kamu. Jangan memohon untuk mengempukkan mereka. Kamu tahu kan, mas nggak bisa menolak permintaan kamu. Jadi mas mohon, mengertilah keputusan mas kali ini."


"Sebenarnya aku merasa bersalah juga mas. Kalau saja dari awal aku jujur sama mereka, mungkin mereka tidak akan sejauh ini,"


"Mereka tidak seharusnya seperti itu, terhadap orang lain sekalipun. Percayalah sama mas, walaupun kamu jujur sekalipun mereka tetap akan seperti itu. Karena itu memang sifat mereka yang sukanya iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Coba kalau mereka di tawari untuk menjadi simpanan mas sekalipun, pasti mereka tidak akan menolak. Jadi, jangan merasa bersalah lagi."


Lagi-lagi, ucapan Alex membuat Anes bungkam seribu bahasa. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Dan hati nuraninya membenarkan setiap kata itu.


"Begini saja, keputusan mas sudah bulat, tapi mereka hanya akan di pecat dan jika mereka ingin melamar kerja di tempat lain, mas tidak akan mempersulit. Itu sudah batas toleransi akhir dari mas," lanjut Alex lagi.


Anes merasa sedikit lega. Setidaknya, mungkin mereka masih bisa bekerja di tempat lain. Itu juga udah untung daripada tidak dapat bekerja lagi.


"Cup," Anes mencium bibir Alex sekilas sebagai tanda terima kasihnya.


"Sayang, berani ya kamu menggoda mas?"


"Siapa yang menggoda? aku hanya mengungkapkan rasa terima kasihku," sahut Anes dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Awas ya, kalau saja mas sedang tidak sibuk sekarang, pasti udah mas makan kamu di sini sekarang juga."


"Ya, udah aku keluar dulu. Mas lanjutin kerjanya. Aku juga masih banyak pekerjaan," ucap Anes sambil beranjak dari pangkuan Alex.


Sebelum membuka pintu, Anes menoleh ke arah suaminya.


"Jangan lupa, bilang sama pak David, untuk tidak mempersulit mereka setelah di pecat. Dan jangan laporkan nona Vanya ke polisi!" Anes mengingatkan Alex kembali untuk memastikan


"Hem, tapi semuanya tidak gratis," sahut Alex.


"Maksudnya? mas minta imbalan? minta duit?" tanya Anes polos tak mengerti.


"Iya, aku tidak butuh duit dari kamu. Duitku sudah banyak. Nanti aku tagih imbalannya di rumah," jawab Alex dengan senyum menyeringai.


Anes tersenyum mengerti maksud dari ucapan Alex. Lalu ia membuka pintu dan menghambur keluar ruang Presdir.


🌼🌼🌼


Ricko tampak sedang melamun di kubikelnya. Ia masih sedikit syok dan tak percaya jika Anes benar-benar sudah menikah. Dengan bosnya lagi. Padahal, selama ini dia tidak pernah mendengar Anes memiliki seorang kekasih. Terlintas jelas dalam lamunannya, saat-saat yang ia lewati bersama Anes selama mereka bersahabat. Memorinya membuka kembali betapa dia selalu mengagumi gadis itu. Ricko yang diam-diam mencuri pandang saat gadis itu bicara, tertawa ataupun bercanda. Bahkan setiap gerak gerik Anes mampu membuatnya senyum-senyum sendiri.


Melihat Ricko melamun sedih, membuat Amel merasa kasihan. Lalu, ia mendekatinya.


"Ko, kamu masih mikirin soal Anes?" tanya Amel yang membuyarkan lamunan Ricko.


"Iya Mel, aku masih tak percaya kalau sebenarnya Anes sudah menikah. Jadi, itu alasan utama kenapa dia menolak ku, Bahakan sebelum aku menyatakan perasaanku terhadapnya. Dia sudah lebih dulu mengambil inisiatif untuk menolak ku,"


Ricko menerawang dan mencoba menata hatinya yang hancur. Walaupun itu tidak akan mudah. Bagaimana pun, dia menyukai Anes kurang lebih selama dua tahun, dan tentu saja tidak mudah baginya untuk langsung melupakan perasaannya seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Kalau bisa semudah itu, tentu saja tidak akan ada orang patah hati karena cinta.


"Aku tahu Ko, emang tidak mudah untuk menerima sebuah kenyataan pahit. Cinta tak pernah bisa di paksakan. Tapi percayalah, ini semua sudah takdir. Siapa jodoh kita, Tuhan yang menentukan. Mungkin memang Anes tidak berjodoh sama kamu. Tapi, pasti Tuhan sudah memiliki jodoh sendiri buat kamu. Hanya saja, mungkin Tuhan masih menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan kalian. Patah hati boleh, tapi jangan terpuruk dan kecewa terlalu lama untuk sesuatu yang memang bukan menjadi takdir kita."


Entah dari mana Amel bisa berbicara bijak seperti itu. Ia sendiri tak mengerti jin apa yang sedang merasukinya, hingga mulutnya itu bisa mengeluarkan nasehat yang cukup bijak. Padahal, jika dia yang mengalaminya pasti akan terus mewek sepanjang hari dan merutukinya nasibnya karena patah hati. Memang menasehati itu lebih mudah daripada mengalaminya sendiri.


"Iya Mel, aku mengerti kok. Lagian aku sadar, tidak mungkin aku bisa bersaing dengan pak Alex. Mungkin akan butuh sedikit waktu untuk menata hatiku kembali. Tapi, aku memutuskan untuk menghilangkan perasaan ini secepatnya agar tidak berlarut-larut. Kamu benar, Tuhan pasti sudah menyiapkan orang lain untukku. Dan aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk orang itu," sahut Ricko dengan lapang dada dan mencoba tetap tersenyum.


"Nah! gitu dong senyum. Life must go on. Semangat!" Amel mengangkat satu tangannya kemufian menepuk bahu Ricko untuk menyemangatinya.

__ADS_1


Ricko hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Amel. Walaupun kadang berisik, tapi sebenarnya Amel orang yang sangat baik, peduli terhadap sesama dan sangat setia kawan.


__ADS_2