
Alvin mengantar ketiganya pulang ke rumah Zea setelah dirasa sudah waktu yang tepat untuk pulang.
"Den Alvin gak ikut masuk non?" Mbok Jum bertanya seraya menutup pintu.
"Alvin ada urusan Mbok" Zea menjawab.
Mereka masuk ke dalam rumah lantas merebahkan diri di sofa ruang keluarga.
Saat mereka turun dari mobil Alvin. Alvin tak mengikuti mereka turun. Hanya bilang 'Aku pergi!' pada Zea dan langsung melajukan mobilnya entah kemana karena pria itu tak memberi penjelasan.
"Nih neng diminum dulu. Lelah banget kayaknya!" ujar mbok Jum datang dari dapur membawakan mereka tiga gelas minuman berwarna hijau ditambahi lemon beserta isian timun serut, biji selasih, dan nata de coco yang sebelumnya telah dibuatnya.
"Makasih mbok" ujar ketiganya.
"Sama sama neng" Mbok Jum berlalu pergi kembali kebelakang.
"Seger" ujar Keyla menikmati minumannya.
Zea tersenyum menyendok isian didalamnya. Kemudian matanya teralihkan pada Icha.
"Lo udah gak papa kan Cha?" tanya Zea memastikan ekspresi wajah Icha apakah masih ada guratan sedih dan masam.
"Iya! Gak papa kok, cuma gue agak risau aja, dikit" tutur Icha.
Zea dan Keyla meletakan minuman mereka dimeja dan mendekat kearah Icha.
"Ada kita Cha! Lo gak sendiri. Kalau sampe Satya ngeremehin lo, gue yang akan maju!" ujar Keyla memberikan dukungan.
"Bener Cha! Kita hajar Satya rame rame. Dia pasti kalah sama kita Cha! Percaya deh ama kita" seru Zea.
"Makasih" ucap Icha tersenyum kearah keduanya dengan haru.
Keduanya mengangguk dan memeluk Icha erat. Icha membalas pelukan keduanya tak kalah erat. Beban Icha seakan berkurang saat itu juga. Ia mencoba percaya bahwa semua baik baik saja.
Mereka melepaskan pelukan, kembali meminum es timun serut hingga habis.
"Ke kamar yuk! Gerah gue, mau mandi!" ujar Zea. Diangguki keduanya.
Mereka menatap kedalam. Lantas mereka lari dengan tergesa-gesa. Saling berdesak desakan satu sama lain.
"Gue dulu!"
"Gue dulu"
"Gak gue dulu"
Para gadis yang satu frekuensi itu saling berebut satu sama lain.
"Kalian dibawah lah, biar gue dulu" ujar Zea.
"Gak gue dulu Ze, Lo aja dibawah kayak tadi pagi!"
"Dih gak bisa gitu, gantian lah!" bantah Zea tak terima.
"Mending gue dulu, gue kan yang paling akhir! Gue juga lagi galau!" tutur Icha.
"Nggak nggak, nggak bisa!" tolak keduanya berseru.
Mereka kembali saling berdesak desakan satu lain. Saling waspada dan berebut satu sama lain, tak ada yang mau mengalah.
"Mending hompimpa aja, siapa menang, siapa duluan! Deal?" ujar Zea melerai.
"Oke setuju, siapa takut!" seru Keyla melipat lengan bajunya.
__ADS_1
"Skuyy!" Icha ikut berujar.
"Hompimpa alaium gambreng"
"Si Icha pakai baju rombeng!" lanjut Keyla dan Zea bersamaan.
"Lah kok gue?" seru Icha tak terima memberhentikan tangannya.
"Ya gak papa lah Cha" seru Keyla.
"Hooh! Biar seru!" lanjut Zea.
"Nggak nggak ulang, hompimpa aja gak usah pakek lanjut lanjutan segala" keluh Icha tak terima.
"CK, gak asik lu mah!" Cebik Zea.
Zea dan Keyla saling bersitatap mengkode satu sama lain.
Mereka melanjutkan permainan siapa yang akan menggunakan kamar mandi duluan.
Mengayunkan mengayunkan tangan, "Hom pim pa ala ium, gam breng!" hingga saat berhenti mereka saling menunjukan telapak tangan.
"Gambreng!" ujar mereka lagi. Tangan mereka dihentekan kembali lalu berhenti.
"Yes! Gue menang hahahaha" tawa Icha menunjukan telapak tangannya dengan senyum lebar kepada keduanya.
"Cih! Beruntung banget sih lo!" keluh Keyla berdecih kesal.
"Ha-ha-ha, inilah namanya kekuatan keberuntungan" ujar Icha menyombongkan diri.
"Udah sana sana" usir keduanya.
"Byeee, gue duluan!" seru Icha, melambaikan tangan kepada keduanya mulai bergerak kearah kamar mandi.
"Iye iye sono lo!" mereka mendorong Icha pelan.
'Gue harap lo bisa terus ceria kayak gini cha' ujar Zea dan Keyla dari hati terdalam.
Kemudian Zea dan Keyla saling bersitatap mengendikan bahu masing masing.
"Lo duluan aja Key, mandi dibawah" ujar Zea.
Keyla mengangguk. Akhirnya Zea menyuruh Keyla untuk mandi duluan dibawah dan dia akan menunggu salah satu diantara keduanya. Siapa yang paling cepat?!
...****************...
Di tempat Alvin berada.
Alvin melajukan mobilnya kearah basecamp Aodra. Saat ia mengantar Zea dan sahabatnya itu pulang, para temannya itu juga ikut pergi meninggalkan apartemen Alvin pergi ke basecamp.
Dan disini Alvin sekarang memasuki gedung luas yang ramai. Ntah apakah para anak buahnya ini tidak pernah berangkat sekolah dan terus menetap di basecamp, Alvin tidak peduli. Karena baginya yang penting selama mereka tidak melanggar aturan yang ada, mereka bebas.
Brumm brumm brumm
Suara deruan deruan motor dan mobil saling sahut bersautan. Benda benda besi itu tak bergerak karena dalam tahap modifikasi. Yap! Didalam gedung itu juga tersedia bengkel yang dibuat oleh Julian.
Tak seperti fasilitas lainnya yang digratisi oleh Alvin. Bengkel Julian ini berbayar karena benda benda yang mereka pakai untuk memperbaiki maupun memodifikasi kendaraan mereka itu sangat menguras kantong. Hal ini dijadikan bisnis bagi Julian sebagai pria penyuka kendaraan mewah dan juga suka mengotak atik kendaraan. Walau bisnis ini tak Julian kelola sendiri, ia dibantu orang orang dibawahnya yang sesama anggota geng Aodra namun dalam posisi berbeda.
"King!" seru mereka melihat kedatangan Alvin.
Alvin mengangguk dan mendekat kearah Julian dan Satya yang sedang mendandani sebuah mobil.
"Woy Al" sapa keduanya saling berpegang tangan, bertos ria ala laki laki.
__ADS_1
"Kok cepet banget, nggak nginep dulu!" canda Julian terlontar.
Alvin diam tak menjawab lebih memilih melihat mobil yang di rias oleh Julian dan Satya itu.
"Bro!" sapa Geo mendekat beserta Kenan.
"Widih cakep nih mobil!" puji Geo pada mobil yang dilihat Alvin.
"Yoii, siapa dulu dong!" ujar Julian sombong.
Alvin berbalik menghadap Geo. Ia merogoh sakunya mengeluarkan kunci mobil yang ia letakan disana, menyerahkan pada Geo. Geo menerima.
"Sttt, oii!" seru Geo melemparkan kunci yang diterima dari Alvin pada orang yang ia panggil.
Hap
Kunci itu berhasil di tangkap.
"Simpan!" titah Geo diangguki pria itu.
"Coba lo tambahin warna pink Jul, pasti banyak cewek yang ke goda" ucap Kenan menyarankan.
"Dih ogah! Nggak ditambahin pun gue banyak yang nggoda apalagi ditambahin! Habis digeruduk dah gue!" ujar Julian.
Geo, Kenan, dan Satya terkekeh.
"Kan lo suka tuh di godain para cewek!" Kenan kembali berucap.
"Cih, gue udah tobat kali sekarang!" bantah Julian bersidekap.
"Serius" ujar ketiganya kaget bersamaan. Ekspresi Julian tak ada wajah bercanda sama sekali. Alvin diam namun juga memincingkan mata mendengarkan percekapan ketiganya.
"Becanda kan lo?" ujar Geo tak percaya.
"Gue serius" balas Julian.
"Wah! Kerasukan apa lo?!" cetus Satya bertanya seraya menepuk nepuk bahu Julian.
"Kerasukan jin tomang! puas lo!" amuk Julian berdecak sebal menyingkirkan tangan Satya.
Ketiganya cekikikan, "Serius amat sih lo Jul, kayak gadis perawan aja lo!" sahut Kenan semakin membuat Julian sebal.
"Awas aja lo pada minta modifikasi mobil, motor kalian ke gue!" ancam Julian menunjuk.
Ketiganya lantas mendekati Julian merangkul leher dan bahu pria itu.
"Si tuan Julian yang hebat dan Keren ini ngambek ternyata permirsa!" ujar Geo masih menggoda.
"Oyy kalian lepas!" seru Julian merasa tercekik.
"Sat!" umpat Julian ditengah cekikan ketiganya.
"Al, tolong!" pinta Julian mencoba meraih Alvin.
"Sat!" panggil Alvin kearah pria itu. Keempatnya diam seketika. Mereka merasa Alvin menegur.
"Ikut gue" ujar Alvin tanpa basa basi meninggalkan tempat itu.
Kenan dan Geo melepaskan rengkuhan Julian menatap satu sama lain.
"Kenapa?" Julian bertanya.
Satya menggeleng mulai mengikuti Alvin. Sedangkan ketiganya saling bersitatap penasaran. Mereka juga mengikuti dari belakang.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ