My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
93. Manja


__ADS_3

Zea kelabakan mendengar ucapan Alvin. Pria didepannya ini seperti tak tahu malu meminta ciuman didepan umum begini.


"Kamu ngomong apa sih!" ujar Zea pura pura lupa.


Kedua orang itu menjadi pusat perhatian saat ini.


"Jangan pura pura lupa kamu!" ucap Alvin mencubit hidung Zea.


"Emang aku janjian apa? Orang aku gak janjiin apa apa! Iya kan Key, Cha!" dusta Zea meminta persetujuan.


Keyla dan Icha saling bersitatap mereka bingung apakah harus menyetujui Zea.


"Tuh mereka diam! Udah mana ciuman aku!" Alvin semakin mendekat kearah Zea mencondongkan wajahnya pada gadis itu tanpa memikirkan sekitar.


"Ekhmm ekhmm! Ada yang mau cium gue juga nggak nih!" ujar Julian menggoda.


Zea tersenyum merona. Alvin semakin melebarkan senyumnya. Tangan Alvin terulur mengacak acak rambut Zea.


"Alvin!" pekik Zea. Matanya membola saat Alvin mencium pipinya dihadapan banyak orang membuat para gadis menjerit.


Alvin tersenyum puas menggenggam tangan Zea, menarik gadis itu meninggalkan Keyla dan Icha yang masih terpaku.


Jam bebas kali ini mereka gunakan untuk bersantai di taman belakang. Alvin sudah mengenakan jersey basket yang semula ia lepas.


Pria itu mendudukan Zea ditempat dimana saat pendekatan keduanya dulu. Zea duduk dibangku itu sedangkan Alvin kini membaringkan tubuhnya dibangku membuat paha Zea sebagai bantal.


Tangan Alvin terulur menyentuh wajah Zea.


"I love you so bad Ze!" ujar Alvin menatap Zea sendu.


Zea terpaku sesaat dengan tatapan Alvin. Bolehkan dia melakukan ini semua? Bagaimana jika perasaannya kembali?


Zea terhenyuk tangan gadis itu terulur mengusap rambut Alvin yang basah. Saat ini ia tak ingin berpikir banyak, ia hanya ingin menikmati moment sesaat ini.


Alvin memejamkan mata menikmati sentuhan tangan Zea. Pria itu tersentuh dengan sentuhan lembut dikepalanya. Ini kedua kalinya dia merasakan sentuhan sesaat ini. Pertama adalah dari mommynya, walau mommynya jarang melakukan hal ini karena sikap protektif sang daddy yang selalu manja pada wanita itu dan tak ingin sang kekasih itu disentuh oleh orang lain termasuk dirinya.


Dada Alvin berdesir. Jantungnya berdentum cepat. Awalnya ia menganggap bahwa ini adalah rasa obsesi terhadap Zea, tapi Alvin selalu menyangkal dan yakin akan perasaan yang ia yakini. Sekarang terbukti bahwa ia mencintai Zea bukan sekedar obsesi semata. Bahkan bukan kali ini saja ia merasakan hal seperti ini.

__ADS_1


"Alvin, Zea!" panggil Icha dan Keyla dari kejauhan. Rupanya kedua gadis itu menyusul mereka.


Zea menatap kearah keduanya, "Al!" panggil Zea agar Alvin segera bangkit. Namun pria itu tak mengindahkan dan masih tetap berbaring dipaha Zea.


"Aku lelah Ze! Biarkan aku seperti ini untuk sementara" keluh Alvin masih memejamkan mata.


Zea tak bisa berbuat apa apa lagi membiarkan Alvin berbaring walau dirinya kini sedang ditatap oleh kedua sahabatnya itu.


Kedua gadis itu duduk didekat keduanya namun berbeda bangku. Senyum dibibir keduanya terlontar begitu saja. Walau mereka tak terlalu suka sikap Alvin yang selalu ingin memiliki Zea untuk dirinya sendiri namun tak bisa di pungkiri bahwa pria itu sangat amat peduli pada Zea. Dan keduanya melihat hal itu dengan jelas. Mau tak mau mereka ikut bahagia jika Zea bisa bersama orang yang memperdulikan sahabatnya itu.


Tangan Alvin terulur saat merasakan Zea tak lagi mengusap kepalanya. Alvin mendekat tangan Zea ke rambutnya. Zea yang peka mengusap rambut Alvin dihadapan kedua sahabatnya itu.


'Beginikah rasanya dimanja oleh wanita yang kita cintai. Pantas saja Daddy selalu cemburuan jika mom memanjakan gue!' batin Alvin saat mengingat bagaimana sikap laki laki yang selalu menatapnya tajam jika ia terlalu dekat dengan momnya itu.


Diantara keempat orang itu tidak ada yang saling berbicara. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga suatu suara memecah keheningan mereka.


"Hey yo guys! Pada ngumpul disini!" pekik Julian menghampiri dengan suara lantang.


Alvin membuka mata dan melirik kearah para pria yang mendekat itu. Alvin bangkit dari tidurnya, tangan Zea yang tadinya mengusap rambut Alvin juga ikut terhenti.


Diantara para pria itu juga ada anggota tim basket yang bermain dengan Alvin tadi. Para pria itu seakan bersyukur dengan keberuntungan yang mereka dapat saat ini. Pertama mereka dapat mengenakan jersey basket immanuel yang dikhususkan untuk anak basket terpilih dengan seleksi ketat. Kedua adalah hal yang paling membahagiakan bahwa mereka bisa menang melawan anggota geng Aodra itu walau hampir seluruh point Alvin lah yang mencetak. Dan ini yang terakhir dan paling paling membahagiakan bahwa mereka bisa join alias kumpul bersama dengan anggota geng Aodra yang sangat sulit untuk dimasuki.


Mereka mendekat dan meletakan belanjaan mereka dimeja yang memang sudah tersedia disana. Mereka duduk melingkari meja itu.


"Oyy Cha, Key! Sini! Nih banyak makanan" teriak Satya pada kedua gadis itu.


"Apaan sih lo Sat, pakek teriak teriak segala. Gue gak budek kali" Cebik Icha namun masih mendekat membuka kantong kresek yang berisi makan itu.


Icha memilih milih makanan yang ada di kantong itu.


"Kok ada croffle? Emang dikantin jualan?" tanya Icha penasaran melihat makanan itu.


Gadis itu mengambilnya dan membuka bungkusnya.


"Ada! Itu menu baru dikantin" jawab Niko. Gadis itu mangut mangut.


"Mau Cha" ujar Keyla.

__ADS_1


"Noh ambil aja dikantong. Masih banyak!" tukas Icha.


"Ze! Sini! Ada croffle" seru Keyla lantang.


Zea menatap kearah Alvin yang masih diam.


"Ayo!" Alvin dan Zea bangkit menghampiri mereka ikut duduk bergabung.


"Yang stroberi ada gak?" tanya Zea menatap kearah makanan dimeja itu.


Jika pasal makanan, para gadis itu emang tak tahu malu. Langsung sikat aja! Selagi gratis.


"Ada Ze! Bentar gue cari!" ujar Niko namun mendapat tatapan tajam dari Alvin. Pria itu membeku seketika dan mengurung niat untuk membantu.


Anggota geng Aodra itu hanya bisa menggeleng geleng kepala melihat sikap Alvin yang terlampau posesif.


"Biar aku cariin!" Alvin mencari cari apa yang Zea inginkan tak memperdulikan isi didalam kantong yang berantakan akibat ulahnya itu.


Setelah menemukan Alvin memberikannya pada. Membuka kemasan itu dan menyodorkan pada Zea.


Mereka menikmati makanan yang dibeli anggota geng Aodra itu.


"Padahal lo cakep kalau gak pakek kacamata. Kenapa sih lo harus pakek kacamata segala Al?!" ujar Dimas saat menatap Alvin yang terus tersenyum pada Zea. Dimas sedari tadi menelisik kearah Alvin walau sang empunya masa bodo.


Pernyataan Dimas membuat pandangan kini tertuju pada Alvin seorang. Alvin merubah ekspresi menjadi datar tak menanggapi pertanyaan yang Dimas lontarkan.


Suasana kian mencengkeram.


"Ekhmm Al! Nih kacamata kamu!" ujar Zea memecah keheningan, menyodorkan kacamata Alvin yang sempat dititipkan padanya.


"Hai semua! Kalian kok pada ngumpul disini!"


"Hai semua!"


"Kalian ini pada ngumpul tapi gak ajak ajak!"


Sapa Shasya, Vara, dan kawan kawan datang membuat mereka mendengus kesal. Bahkan memalingkan wajah.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2