My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
50. Undangan


__ADS_3

Zea memasuki kamar dengan perasaan berkecamuk.


"Uhhkk gue kenapa sih?" pekiknya pada diri sendiri. Membaringkan tubuhnya ke ranjang. Kemudian ia bangun, berpindah posisi duduk diatas ranjang.


Zea menghirup nafas dalam, "Zea! Lo tau kan kalok Alvin itu bahaya. Lo udah pernah ngerasain sendiri gimana bahayanya cowok yang berhubungan sama geng. Apa lagi cowok lo yang sekarang, ketua geng Aodra Hahaha! Lo gak bisa Ze, lo gak bisa egois kayak gini!"


"Nggak bisa! Lo gak boleh jatuh terlalu dalem sama Alvin! Dia bahaya. Jangan sampe gara gara keegoisan lo, lo bikin semua orang dalam bahaya"


"Lo harus bisa Ze, lo harus bisa bikin Alvin ngelepasin lo. Lo harus lepas!" Zea menasehati dirinya sendiri.


Kemudian ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya.


...****************...


Alvin sampai dirumah. Ia melepaskan kacamata yang menengger dihidungnya. Bertepatan pula dengan daddy Exel yang baru pulang kantor.


"I am home Mom" pekik keduanya.


Mommy Mira datang dengan tangan bersedekap.


"Tumben pulang!" ujarnya.


"Kok gitu sayang?" tanya Daddy Exel pada Mommy Mira.


"Kan emang gitu! Sekarang ngapain pulang? Baru inget kalau Mommy dirumah?" sindir mommy Mira sinis.


Daddy Exel dan Alvin sama sama menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Like father like son. Kemarin keduanya emang tidak pulang kerumah. Daddy Exel dikantor karena lembur dan tidak bisa ditinggal. Sedangkan Alvin memilih tidur di apartemen.


"Dad!" desis Alvin kepada daddynya untuk membujuk sang Mommy. Daddy Exel mendelik karena sang anak menjadikannya umpan untuk sang macan betina yang sedang ancang ancang menerkam mangsanya.


Mau tak mau Daddy Exel mengalah dan menghampiri Mommy Mira, "Sayang jangan marah dong! Kan aku udah bilang kalok aku lembur" bujuk Daddy Exel memeluk Miranda.


"Iya Mom, kemaren juga Alvin capek. Makanya Alvin tidur diapartemen!" sesal Alvin.


"Ohw gitu! Yaudah!" ujar Mommy Mira membuat senyum keduanya melengkung.


"Kalau gitu kalian berdua gak usah tidur dirumah. Tidur aja sana dikantor dan Apartemen. Jangan balik lagi!"


Duarr, seketika senyum itu hilang. Dan Mommy Mira meronta dalam pelukan daddy Exel pergi meninggalkan kedua laki laki yang terdiam itu.


"Dad! Kok daddy tahan sih sama mommy?!" ujar Alvin melihat sang daddy.


"Dulu Mommy kamu orangnya lemah lembut, makanya Daddy suka. Sekarang Daddy juga heran kok jadi kayak macan betina gitu!" ungkap Daddy Exel berdecak.


"Daddy! Mom denger apa yang Daddy omongin ya! Mommy gak mau tau. Pokoknya gak ada jatah selama seminggu buat Daddy, titik" pekik Mommy Mira dari dalam. Seakan memiliki Indra keenam.


Daddy Exel seketika menegang, 'mampus' benaknya. Daddy Exel tergopoh-gopoh membujuk mommy Mira. Alvin yang melihatnya ingin sekali tertawa melihat wajah pucat sang daddy.


Kemudian ia memilih menaiki tangga untuk berbena diri. Nanti malam dia akan berkumpul bersama para gengnya itu.

__ADS_1


...****************...


Malam hari..


Disinilah dia sekarang basecamp Aodra. Atas usaha keras sang daddy akhirnya mommynya berhasil diluluhkan kembali. Dirinya pun bisa keluar dari rumah tanpa masalah.


"Woy Al!" sentak Julian duduk disamping Alvin. Alvin melirik sekilas.


Sebenernya geng mereka tak memiliki agenda khusus. Hanya berisikan anak anak yang mencari jati diri dan melakukan hal hal keren diusia remaja. Namun karena geng mereka yang rata rata anggotanya adalah orang berada. Menjadikan kualitas mereka menjadi tinggi. Mau dari segi keuangan maupun keahlihan.


Geo duduk didepan Alvin dibarengi Satya dan Kenan.


"Gue dapat ini!" kata Geo melempar undangan ke meja yang berada ditengah tengah mereka.


Undangan berbentuk tengkorak dengan tulisan 'Alegiance' membuat mata mereka tertuju kesana.


"Biar gue yang buka" ujar Satya mengambil undangan membuka isinya. Geo yang ada disebelah Satya ikut membaca deretan kata yang tertera disana.


"Cuma undangan pengingat!" ungkap Satya. Meletakan kembali undangan itu dimeja. Alvin melihat datar kearah undangan itu.


"Itu undangan pengingat acara tahunan antar geng. Dan untuk kali ini acaranya dimarkas Alegiance. Tahun lalu kita gak bisa ikut, jadi untuk tahun ini kita nunggu keputusan lo Al!" jelas Geo lebih detail.


Semua mata tertuju pada Alvin termasuk anggota yang mendengar percakapan dari para ketua mereka itu. Mereka sangat menantikan acara tahunan yang sempat terlewatkan tahun lalu karena Alvin yang berhalangan.


"Ehm, gue cuma mau ngingetin agar kalian paham konsekuensinya jika ikutan, karena setiap acara tahun dimulai, akan terjadi hal hal yang berbahaya. Bisa aja hal ini mengincar nyawa kalian masing masing. Lo harus pertimbangkan hal itu juga Al!" ujar Kenan memberi pertimbangan lain.


"Bener tuh!"


"Siapa juga yang ngundurin diri bego! Ya jelas kita ikut lah! Cemen lo! Bener kan king?!" tanya Satya masih menanti jawaban Alvin.


Mereka diam menatap Alvin karena keputusan mutlak ada ditangan pria itu.


"Kita ikut!" ucapnya menyeringai mengambil undangan dimeja, mengangkatnya tinggi.


"URAA"


Mereka semua bersorak gembira untuk keputusan Alvin. Dan Alvin juga tak sabar untuk acara kali ini, setelah sekian lama dia tak merenggangkan tubuhnya dengan puas. Akhirnya dia bisa melepaskan penatnya yang selama ini tertahan.


...****************...


Pagi ini berbeda dengan hari hari biasanya saat pergi kesekolah. Entah apakah Alvin sudah tak memperdulikan jika identitasnya ketahuan membuat pria itu menjemputnya menggunakan mobil. Walaupun bukan mobil mewah seperti yang waktu itu.


Saat ingin berangkat kesekolah, Alvin mengatakan niatnya bahwa ia ingin mengajak Zea membolos. Zea yang di ajak membolos tiba tiba bingung untuk menjawab apa.


Setelah mendengar segala rayuan Alvin tentang tempat yang akan mereka kunjungi membuatnya mengangguk menyetujui permintaan pria itu.


Disepanjang perjalanan tak jarang Alvin berhenti dan membeli sesuatu. Saat ditanya "untuk apa?" pria itu hanya tersenyum dan menjawab "Kamu bakal tahu nanti" Zeapun tak lagi bertanya.


Dan disinilah mereka sekarang. Disebuah tempat yang jauh dari kota yang mereka tinggali. Setelah 3 jam perjalanan melelahkan, mobil yang mereka naiki masih belum berhenti.

__ADS_1


"Masih belum sampai?" tanya Zea mulai lelah.


"Bentar lagi" jawabnya dengan menampilkan senyum. Zea mendengus kesal membuang muka kesamping jendela, namun rasa kesal itu tak bertahan lama ketika melihat pemandangan disekitar mereka yang terbilang asri dan nyaman membuat rasa lelah Zea selama perjalanan menghilang.


Zea membuka kaca mobil menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Mobil mereka masuk kedalam sebuah wilayah dekat dengan pedesaan.


"Ngapain kita kesini Al?" tanya Zea. Alvin hanya tersenyum tak menanggapi Zea sampailah mereka kesebuah bangunan dengan tulisan 'Yayasan kasih' membuat Zea semakin heran.


"Ayo turun!" ajak Alvin. Zea mengikuti pria itu masuk kedalam, Zea melihat lihat keadaan sekitar. Tempatnya bagus dan nyaman, begitulah pendapatnya setelah melihat keadaan didalam bangunan.


"Kok sepi Al?" tanya Zea bingung lantaran tidak ada siapapun sejak mereka masuk tadi.


"Mereka belum datang, kayaknya bentar lagi" jawab Alvin. Zea semakin bingung.


Tiba tiba derapan langkah kaki kecil memasuki bangunan. Zea menoleh kearah sumber suara. Alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang ada didepannya.


"Kakak Zea!" pekik keduanya berlari menghampiri Zea. Mereka berpelukan.


Zea menoleh kearah Alvin yang tersenyum kearahnya. Sekarang Zea tahu untuk apa barang barang yang dibeli Alvin tadi.


"Mia, Cika, udah lama ya gak ketemu!" ujar Zea pada keduanya, mengelus lembut surai hitam keduanya.


"Mana kakak Wily?" tanya Zea tak melihat keberadaan Wily.


"Kakak masih sekolah, kak Zea sama kak Alvin kok gak bilang mau kesini?" tanya Cika mentautkan kedua jemarinya.


"Biar jadi kejutan" timpal Alvin dari belakang mendekati Zea.


"Ekhm, permisi. Perkenalan saya pengurus yayasan disini, panggil saja Bunda Sinta!" kata wanita paruh baya itu. Zea tersenyum dan menjabat tangan Bunda Sinta dan memperkenalkan diri.


"Saya Zea dan ini Alvin, terima kasih karena sudah mau menerima mereka bertiga!" ucap Zea dengan senyum manisnya yang khas.


"Sama sama memang tugas saya" balasnya.


"Kalau begitu Mia, Cika ganti baju dulu sama teman teman yang lain! Saya permisi dulu ya nak Zea, nak Alvin!" tutur Bunda Sinta mengarahkan anak anak yang lain.


"Silahkan!" ujar Zea. Zea melihat kepergian Cika dan Mia dengan sendu namun bahagia.


"Gimana? Suka?" ujar Alvin disampingnya.


"Kok gak bilang kalau mau ketemu mereka?" tanya Zea sedikit sebal dengan Alvin namun bahagia.


"Kejutan!" ujarnya.


"Ish" desis Zea mencubit Alvin membuat keduanya tertawa riang.


Hancur sudah apa yang sedari pagi ia rencanakan untuk lepas dari Alvin.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2