
Zea yang sudah bersiap sarapan dikejutkan oleh suara dari luar rumah.
"Zea...Oh Zea!" teriak orang orang yang gak ada akhlak, mengganggu makannya saja. Padahal didepan rumah ada bel, masih aja suka teriak teriak.
"Zea...Yuhuuuu" teriak mereka lagi.
"Siapa Ze?" tanya Mama Tia kebingungan.
"Biasalah mah!! suara dua kucrut, siapa lagi?!" Zea berdiri dari duduknya, menghampiri suara teriakan yang ada diluar rumah.
Jglekk
Pintu rumah terbuka, nampak kedua orang yang sudah cengengesan entah apa yang lucu.
"Nah nih dia orangnya" kata Icha melihat Zea didekat pintu.
"Eh Maimunah, bisa gak sih gak usah teriak teriak. Lo kira rumah gue hutan!" tegur Zea pada mereka. Mereka malah ketawa mendapat teguran Zea dan menyerobot masuk kerumah. Zea tak menghentikan mereka.
Langkah kaki mereka masuk kedalam rumah dan berakhir dimeja makan. Ketiga orang sahabat tersengklek itu sudah duduk dikursi dengan sikap sempurna, seakan menunggu sesuatu.
Zea yang tadinya akan sarapan, menunda makannya.
"Tumben udah kemari, masih jam segini juga!" seru Zea ke kedua orang itu.
"Biasalah, kangen kita sama masakan Mama Tia terendul" tukas Keyla.
"Bisa aja lo! bilang aja kalok mau numpang sarapan"
"Nah itu bonusnya!" lanjut Icha dengan gelak tawa.
Kemudian muncul Mama Tia dari arah dapur membawakan 2 piring berisi nasi goreng menghampiri mereka.
"Nih sarapan dulu!" ujar Mama Tia meletakan dua nasi goreng kehadapan Keyla dan Icha.
"Makasih Tan" ujar keduanya.
Kedua orang itu mulai menyuapkan nasi goreng kemulut masing masing. Zea yang melihat kedua sahabatnya yang sudah mulai makan, melanjutkan aksi sarapannya yang sempat tertunda.
Saat mereka sedang asik asik makan, datanglah sosok pengganggu yang mengintrupsi ketiganya.
"Wih para bocah udah makan aja pagi pagi!" celetuk Bang Arka.
"Enak bang!"
"Mantap!" Sambil mengacungkan jempolnya.
Bang Arka yang mendapat jawaban dari Keyla dan Icha tertawa. Mulai bergabung di meja makan.
"Mama! punya Abang mana?!" teriak Bang Arka supaya didengar oleh Mama Tia.
Dari arah dapur datanglah Bi Jum meletakan tiga gelas teh hangat untuk mereka masing masing kecuali Bang Arka.
"Makasih Bi" ucap Ketiga sahabat itu lirih. Bi Jum mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sama sama neng"
"Loh loh! punya Abang mana?" tanyanya.
"Nih punya Abang" Dari arah dapur datanglah Mama Tia dengan sebuah piring plus teh hangat, menyajikan dihadapan Bang Arka.
"Makasih Ma, mamaku ini emang terluv" Sambil menautkan jari telunjuk dan jempol kehadapan mama Tia.
"Sama sama, dimakan!" ucap Mama Tia sambil mengusap rambut putra sulungnya, sebelum berbalik kedapur bersama Bi Jum.
Diantara mereka tak ada yang bersuara, hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring. Menyuapkan butir butir nasi dengan telur dan sosis didalamnya kedalam mulut. Sambil menikmati cita rasa dalam makanan yang mereka makan.
glek glek glek glek
Suara teh hangat yang mengalir ke tenggorokan melegakan rasa hausnya. Teh hangat yang dibikin Bi Jum tidak terlalu panas, membuat mereka bisa minum seperti biasa tanpa takut lidah mereka melepuh.
"Ah lega, enak banget! Gak sia sia gue bangun pagi terus cus kemari" kelakar Icha, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Bener, kenyang banget gue" tambah Keyla menanggapi Icha. Bersamaan dengan Zea yang selesai makan plus menghabiskan teh hangatnya.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Zea.
"Bentar Ze, masih pagi juga. Masih kenyang nih gue" jawab Icha.
Suara langkah kaki seorang pria paruh baya berjalan menghampiri kearah keempat anak yang sedang asik sendiri itu.
"Loh, udah pada sarapan aja nih!" seru Papa Hendra duduk di kursi.
Papa Hendra dan Bang Arka yang selesai makan dibuat tertawa oleh kedua sahabat Zea itu. Mereka kemudian berbincang bincang singkat.
"Berangkat sekarang yuk gengs!" ajak Zea lagi ke tiga sahabatnya itu.
"Ayo!"
Mereka berpamitan pada orang tua Zea dan kakak Zea.
"Udah mau berangkat aja nih para kacrut!" seru Bang Arka saat mengantar kepergian ketiga orang itu kedepan pintu.
"Berangkat dulu Bang!" pamit Zea sekali lagi meninggalkan Bang Arka masuk kedalam mobil Keyla yang selalu siap sedia.
Mobil itu melaju menelusuri jalan dengan gurauan gurauan ketiganya disepanjang jalan kenangan menuju kesekolah.
Kendaraan yang mereka tumpangi sampai diparkiran sekolah yang dapat dilihat masih sepi, hanya ada beberapa kendaraan saja yang dapat dihitung jari.
Ketiga orang itu bukannya masuk kekelas, kini mereka malah beralih ke kantin. Mereka duduk di bangku yang disekitar mereka kosong tak ada orang sama sekali. Paling-paling orang kantin yang sedang sibuk menyiapkan dagangannya.
Saat Zea sedang asik berbincang bincang dengan kedua sahabatnya. Sebuah suara riuh dari sebrang menampakan orang orang yang ia kenal.
Disana terlihat para anggota geng Aodra memasuki kantin, namun pandangannya kini tertuju oleh pria dengan kacamata yang ikut bergabung dengan mereka.
Zea menatap kearah pria itu lekat, entah secara sadar bahwa ada yang menatapnya. Pria itu balik menatap kearah Zea, kemudian menghampiri gadis itu.
"Ze!" sapa Alvin duduk disebelah Zea tanpa meminta persetujuan dari sang gadis.
__ADS_1
"Lo kok bisa bareng mereka sih?" tanya Zea tanpa ekspresi hanya sekedar bertanya karena sering kali dia melihat kejanggalan di diri Alvin yang membuatnya terbiasa.
"Motor aku mogok, jadinya aku disuruh bareng sama mereka karena satu arah" jawab Alvin menjelaskan. Zea hanya beroria saja, tak ada maksud bertanya lebih.
"Kamu kok datangnya pagi banget gini? gak biasanya!" Alvin melontarkan pertanyaan.
"Lagi pengen aja" jawab Zea seadanya.
Keduanya saling terdiam, tak ada yang bersuara. Alvin diam merenung karena fakta yang sudah jelas adanya, namun terus dia coba sangkal kenyataannya. Begitu juga Zea yang entah kenapa didekat Alvin sekarang dia merasa canggung. Mungkin sudah muak dengan alasan dan kebetulan saat berada didekat Alvin membuat Zea merasa ragu mengenai pria disampingnya ini.
"ehm! kok pada diem diem aja" tegur Keyla membuat Zea menampilkan senyumnya kepada Keyla. Beda dengan Alvin yang pandangannya tak lepas dari Zea.
"Hubungan kalian ini udah sejauh mana sih?" tanya Keyla kepo, sehabis menegur keduanya.
Alvin melihat raut wajah bingung Zea, tak tahu harus menjawab bagaimana, membuat ia mentautkan tangannya dan tangan Zea. Memperlihatkan kepada dua sahabat Zea.
"Gue sama Zea udah resmi pacaran" jawabnya membuat kedua sahabat Zea melongo.
"What? sejak kapan?" tanyanya.
"Belom lama kok, baru baru ini" jawab Zea cepat, menampilkan senyumnya.
"Wah wah, gak bisa dibiarin. Parah lo Ze!" seru Keyla.
"Tauk nih, udah jadian gak ngasih tahu!!"
"Kan ini udah gue kasih tau!"
"Telat pe..ak!"
Zea mengusap belakang kepalanya serba salah. Kemudian sebuah suara membuat mereka semua serempak menoleh.
"Hallo everyone, boleh gabung gak" Julian datang menghampiri kursi mereka dengan heboh.
"Nggak!" jawab keempat orang itu serentak. Namun tak digubris boleh Julian dan main duduk sembarang.
"Makasih" Menunjukan senyumannya tanpa tahu malu.
"Yehh nih orang! dibilang nggak malah main duduk aja" cibir Icha mendumel.
"Hey kamu! perempuan pengintip!" seru Julian menunjuk Icha membuatnya kicep, tak bisa berkata kata.
"Manis banget sih pagi pagi" rayuan maut Julian dipagi hari tak lepas begitu saja.
"Wahh ada orang modus nih pagi pagi, bubar aja yok bubar!!" papar Keyla berdiri, diikuti Icha, Zea dan Alvin. Meninggalkan Julian sendiri.
"Lah lah! kok gue ditinggalin,, Woy!!" teriak Julian memanggil. Anggota geng Aodra yang ada dibangku lain tertawa melihat Julian ditinggalkan begitu saja.
"Sialan!!" kesal Julian kembali ke teman temannya yang jelas menertawakannya.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1