
Alvin memasuki vila yang ramai. Mereka semua berkumpul dibawah, termasuk Zea dan kedua sahabatnya. Diantara kumpulan orang orang disana, Rey menjadi sorotan. Pria itu memetik gitar dan menyanyikan lagu dengan suaranya yang terbilang cukup bagus.
Alvin berjalan menghampiri Zea, pergerakan pria itu tak lepas dari pandangan Rey. Kobaran permusuhan sudah tak dapat terelakan.
Saat dia ingin duduk, pintu vila terbuka. Julian dan Satya masuk dengan baju dan celana penuh lumpur. Penampilan kedua orang itu tentu membuat semua orang kaget.
"Julian Satya!" pekik Pak Burhan. Tak habis pikir dengan dua orang itu, apa yang terjadi sehingga mereka bisa menjadi seperti itu.
Julian memandang orang yang menatapnya dengan wajah kaget, lain halnya Alvin yang menatapnya seakan tak peduli. Dirinya menyungging senyum, Ide jail tiba tiba muncul dibenaknya, rasa ingin membalas dan tak ingin menderita sendiri itu muncul.
Julian mendekat ketelinga Satya, membisikan kata kata yang membuat bibir Satya melengkung.
"Ada apa dengan kalian ini?" tanya Pak Burhan sambil berkacak pinggang.
"Kami berdua mau bikin event pak!" timpal Julian dengan mudahnya.
Semua menatap Julian bertanya tanya, "event apa?" tanya pak Burhan mewakili semua orang.
Julian kemudian maju, menerobos kearah orang orang yang ada diruangan. Membuat mereka kaget, lantaran Julian membuat baju mereka kotor terkena lumpur.
Julian menyampirkan lengannya dipundak kedua siswa didekatnya, "Event malam ini semua orang harus kotor! Jangan ada yang lolos Sat!" teriak Julian sambil tersenyum mulai mengejar mereka dengan bantuan Satya. Semua orang berlarian, memekik, bahkan berteriak.
Kejar kejaran pun terjadi didalam vila, layaknya film zombie yang sering mereka tonton. Bedanya disini tidak menggigit ataupun membuat berdarah darah.
Geo dan Kenan menatap dua orang yang sedang mengejar orang yang berlarian itu. Mereka sendiri kaget akan apa yang dilakukan Keduanya.
Zea, Keyla, dan Icha juga ikut kaget akan event dadakan ini ikut berteriak. Bahkan berlarian agar tak terkena lumpur dibaju dan tubuh mereka. Bisa kedinginan mereka jika mandi malam malam begini.
Semua kacau, mereka saling membalas, mengotori baju dan tubuh satu sama lain. Bahkan Geo dan Kenan yang sedari tadi diam juga kena. Kacau sudah suasana malam ini.
Pak Burhan dan Pak Reno selaku pembimbing, gagal sudah mengontrol semua orang. Zea terpisah dengan kedua sahabatnya dan menyisakan dirinya dan Alvin yang berlari naik keatas vila.
Keduanya masuk kedalam sebuah ruangan. Dengan nafas terengah engah Zea menahan pintu dengan Alvin dibelakangnya. Kemudian Zea berbalik.
Seperkian detik ia terpaku. Kemudian ia mendongak memperhatikan wajah Alvin yang menahan pintu. Seketika dia ingat keinginannya melihat wajah Alvin tanpa kaca mata.
Tangannya terulur hendak mengambil kaca mata Alvin. Tapi Alvin menahan tangan Zea dan menatap Zea yang juga menatapnya.
"Kenapa?" tanyanya. Zea menjadi gelagapan ketika mata hitam tajam Alvin dari balik kacamata menatapnya. Saat ditatap seperti itu oleh Alvin membuat nyalinya ciut, hingga Ia menarik uluran tangannya kembali.
"Penasaran gimana kamu tanpa kacamata" jawab Zea mencoba mengungkap rasa penasaran yang terbenak dipikirannya.
Alvin mengantupkan bibirnya rapat. Sisi gelapnya mulai datang dengan pikiran negatif.
__ADS_1
Apakah Zea sudah mulai semakin curiga padaku? Apakah dia akan pergi dariku? Tidak! Hal itu tak akan ia biarkan begitu saja.
Zea terus memperhatikan Alvin yang tak lagi berbicara maupun menjawab pernyataan yang la lontarkan.
Alvin tersadar dari lamunannya lantas ia menampilkan senyumnya. Disela sela senyumnya pada Zea ia mulai mencari cara menghindari pembahasan ini.
"Kalau aku lepas kaca mata yang ada kamu terpesona lagi sama penampilan ku!" goda Alvin mencolek hidung Zea membuat Zea mencebik. Godaan adalah salah satu cara yang ampuh mengalihkan perhatian. Walau begitu cara ini tidak bisa selalu ia gunakan.
Dia harus mulai memikirkan rencana jika Zea mengetahui dirinya yang sebenernya. Bahkan sampai diopsi terburuk sekalipun.
Dirasa kondisi diluar aman. Alvin melepaskan tangannya yang menahan pintu. Ia menggeser sedikit badan Zea untuk tidak menghalangi pintu. Membuka pintu sedikit untuk melihat situasi. Sepi.
"Sepi Ze" ujar Alvin. Mereka keluar dari sana berjalan melihat sekitar sampai dilantai bawah yang ramai.
Mereka dikumpulkan menjadi beberapa barisan. Dipisahkan menjadi dua, dengan mereka yang berhasil melarikan diri dan mereka yang baju juga badannya terkena lumpur. Hampir 80 persen mereka sudah terkena lumpur.
Zea dan Alvin ikut kebarisan yang masih bersih. Zea melihat sekitar, ketika menemukan keberadaan Icha dan Keyla yang berada dibarisan kotor. Rupanya kedua temannya itu tak berhasil melarikan diri.
Pak Burhan memberikan ceramah, "lihat kekacauan yang terjadi, aishh. Gak tau lagi bapak harus ngomel gimana!"
"Ya gausah ngomel lah pak" sahut Julian kelepasan. Satya disampingnya lantas menginjak kaki Julian membuat pria itu meringis.
"Aduh, sorry kelepasan!" serunya.
"Sebagai hukumannya, kalian bersihkan seisi vila yang kotor karena perbuatan kalian ini" tunjuk Pak Burhan pada Satya dan Julian.
"Siap pak" jawab keduanya enteng.
"Saya ada perlu sama kepala desa sini, Pak Reno yang akan mengawasi kalian. Pak Reno, tolong pastikan mereka mengerjakan hukumannya!!" ujar Pak Burhan lagi
"Baik pak!" jawabnya.
Hukuman? Membersihkan? Jangan dikira mereka akan melakukan hukuman mereka, sudah jelas mereka akan menyuruh yang lain untuk menjalankan hukuman mereka.
"Sudah kalian semua kembali dan bersih bersih, setelah itu istirahat" perintah Pak Burhan membuat mereka bubar.
"Gue balik dulu ya Al" pamit Zea. Alvin mengangguk membiarkan Zea pergi menghampiri kedua sahabatnya.
Sampai dikamar Zea merebahkan tubuhnya karena lelah, kedua sahabatnya sudah masuk ke kamar mandi.
Zea yang sudah diatas kasur tak dapat lagi menahan kantuknya. Mulai memejamkan mati.
Keyla dan Icha keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian. Memperhatikan Zea yang sudah terlelap.
__ADS_1
"Yeh ni anak! Kalau ketemu kasur langsung udah kayak sleeping beauty (putri tidur)" Keyla merangkak ketempat tidur, tidur disamping Zea.
Icha ikut berbaring disamping Zea. Keyla dikanan, Icha dikiri, Zea ditengah tengah mereka.
"Kerjain yuk Key!" seru Icha. Keyla mengangguk.
Icha beranjak dari tempat tidur menuju tasnya. Mengambil pounch makeupnya. Dia berbalik menuju kasur, membuka pounch makeupnya mengambil lipstik.
Mereka mencorat coret wajah Zea yang tertidur sambil cekikikan. Membuat wajah Zea seperti badut. Puas mengerjai Zea, mereka merebahkan tubuh ikut Zea kealam mimpi.
...****************...
Zea bangun dari tidurnya tak mendapati dua sahabatnya dikasur. Dia dibuat keheranan, tak biasanya kedua orang itu bangun awal.
Zea mengecek seisi kamar. Tak ada suara air dikamar mandi menandakan kedua temannya tak berada dikamar mandi.
"Kemana ya mereka?" gumam Zea.
Dia membuka pintu kamar bertepatan dengan Shasya yang lewat. Saat Shasya melihat wajah Zea gadis itu tertawa. Zea mengeryit aneh.
"Kenapa tuh cewek!" menatap kepergian Shasya dengan bahu bergetar karena tawa.
Tak mau ambil pusing Zea menyelusuri vila hendak menuju kebawah. Semua orang yang berpapasan dengannya tertawa, ada yang tertawa tertahan ada yang sampai meledak ledak.
Zea menuruni tangga tangga sambil menggaruk lehernya, bingung dengan situasi saat ini. Kemudian dia melihat Alvin dilantai bawah dengan orang orang yang sudah berkumpul disana.
"Alvin!" panggil Zea. Membuat semua orang menoleh. Yang dipanggil siapa yang noleh siapa.
Mereka memperhatikan wajah Zea, karena tak dapat menahan tawa mereka semua tertawa terbahak bahak, meledak sudah tawa mereka.
Zea dibuat semakin kebingungan berjalan mendekat menuju Alvin dengan langkah cepat.
"Al, mereka pada ngetawain apa sih?" tanya Zea berbisik. Tak tahu saja bahwa Alvin kini ikut menahan tawa.
"Ehm, sebaiknya kamu lihat wajah kamu deh" jawabnya.
Zea bingung, "wajah?!" gumamnya. Kemudian dia meraba wajahnya menemukan noda merah yang membuatnya membelak.
Malu Zea detik itu juga, ia berlari menuju kamar masuk kedalam kamar mandi. Memperhatikan wajahnya dicermin.
"Icha!! Keyla!!" teriak Zea geram.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ