
Zea, Keyla, dan Icha sudah lepas dari tangisnya masing-masing. Hati mereka kian lega setelah menangis.
Mereka kini mencicipi gelato yang ada dimeja.
"Ekhm!" deheman Alvin datang menghampiri mereka. Pria itu sudah tak lagi menggunakan jersey basket. Ia sudah menggantinya dengan seragam olahraga.
"Al!" panggil Zea saat Alvin duduk disebelahnya.
"Gimana? Udah selesai?" tanyanya.
Mereka mengangguk. Rupanya Alvin peka dan membiarkan para gadis itu saling berbicara.
"Makasih gelatonya, nanti uangnya kita ganti" ucap Icha.
"Nggak usah" jawabnya.
Alvin menatap kearah Zea yang menyuap gelato ke dalam mulutnya. Merasa Alvin memperhatikan ia, Zea menyendok dan menyodorkan ke mulut Alvin. Dengan senang hati Alvin menerimanya.
"Enak?!" tanya Zea pada Alvin.
"Enak" jawab Alvin.
"Kamu suka?!" lanjut Alvin balik bertanya.
"Iya" Zea menjawab singkat.
Zea menyuapkan gelato ke dalam mulutnya dan sesekali menyuapi Alvin. Alvin terus memperhatikan Zea dan semakin dilihat, kedua mata Zea berbeda dengan tadi. Mata gadis itu sembam.
Kemudian Alvin melirik kearah Keyla dan Icha sekilas. Rupanya mata ketiga gadis itu juga sama sama sembam. Untuk saat ini Alvin tak bertanya dan lebih memilih diam. Ia kembali menatap kearah Zea, terus memandangi wajah Zea yang sangat menarik baginya. Apalagi saat gadis itu memejamkan mata karena menikmati rasa gelato yang ia makan dengan mata sembamnya itu.
Bibir Alvin tak dapat menahan senyum melihat Zea berekspresi seperti itu. Keyla dan Icha menyadari senyuman Alvin.
"Gue sampai lupa gara gara keganggu Julian tadi!"
"Lo itu sebenarnya siapa sih Al?!" tanya Keyla angkat bicara.
Zea dan Alvin sontak menoleh menatap keduanya. Ternyata kedua sahabatnya itu mempertanyakan kembali siapa Alvin. Zea mengulum bibirnya memperhatikan jawaban apa yang akan Alvin lontarkan! Apakah Alvin akan jujur soal identitasnya?
"Gue?" keduanya mengangguk.
"Gue Alvin!" jawabnya. Keduanya berkedip cepat.
"Ngelawak nih cowok!" ujar Icha memincingkan mata dengan senyum smirk.
"Kita tau lo itu Alvin, yang kita maksud itu identitas lo yang sebenarnya. Lo itu siapa?" Keyla menghembuskan nafas.
"Kalian penasaran soal identitas gue?"
"Iya" jawab keduanya mengangguk cepat.
"Alvin Exelino Immanuel, itu nama gue!" ujar Alvin.
Alvin merasa tak ada gunanya lagi menyembunyikan identitasnya. Walau sebenarnya ia juga tak ingin menyembunyikan, ia hanya tak berbicara, maupun menyebarkan soal dirinya sendiri.
"Wait wait!" ujar Icha mengernyit dahi.
"Immanuel?!" tanya keduanya membelak mata.
"Yap" seru Alvin. Sedangkan Zea sudah tak karuan saat Alvin mengatakan identitasnya, bukankah selama ini Alvin merahasiakan identitasnya?
"Cha, lo gak mikirin seperti yang gue pikirin sekarang kan?" ujar Keyla menatap kearah Icha.
__ADS_1
"Kayaknya pikiran kita sama deh Key!" ungkap Icha.
"Gila!" seru keduanya kemudian menatap kearah Zea.
"Lo dapet jackpot Ze!" seru Keyla, Icha mengacungkan jempol pada Zea.
"Keren" ungkapnya.
Zea mengulas senyum mendengar hal itu. Ia canggung.
"Tapi tunggu dulu! Kenapa lo rahasia-in identitas lo sendiri?" Keyla mengernyit heran. Icha juga sama herannya dengan Keyla.
"Hanya mencari kesenangan baru" jawab Alvin mengendikan bahu acuh berbeda dengan apa yang ia katakan pada keluarga Zea.
Alvin kemudian bersikap cuek dan menoleh kearah Zea.
"Suapin aku" ujar Alvin pada Zea. Zea mengangguk dan menyuapi Alvin.
Keduanya mengerjap seakan tak puas dengan jawaban Alvin tapi mereka keduanya tak lagi ingin bertanya lebih jauh.
Mereka kembali melanjutkan memakan gelato masing masing. Kecuali Alvin yang kini makan berdua dengan Zea.
"Mau lagi?" tanya Alvin saat melihat gelato yang ada di tangan Zea sudah habis.
Zea menggeleng, "Udah kenyang" jawabnya.
"Ahh! Enak banget" desah Icha meletakan cup gelato yang kosong dimeja.
"Makasih Al!" lanjutnya.
"Makasih" sahut Keyla mengangkat cup gelatonya yang masih belum habis.
"Sama sama" jawab Alvin.
"Akan ku belikan!" ujar Alvin tanpa mendengar jawaban mereka.
Pria itu lantas pergi memesankan lagi untuk mereka.
Zea, Keyla, dan Icha kemudian saling bertatapan.
"Emm" gumam Zea bingung harus bicara bagaimana.
"Mau Key!" pinta Icha kearah gelato Keyla yang masih tersisa. Keyla menyuapkan pada Icha dan Icha menerimanya.
Keyla meletakan cupnya yang telah habis ke meja
Kemudian Alvin datang kembali ke meja mereka. Beberapa saat kemudian pelayan membawakan pesanan Alvin juga tiba. Ketiganya sontak membelak Alvin membeli 3 kue yang berbeda. Itupun masih dalam bulat-tan utuh.
"Silahkan!" ujar pelayan itu meletakan kue tersebut beserta piring kecil, garpu, dan pisau untuk memotong kue. Membuat meja penuh.
"Banyak amat?" tanya Keyla pada pria itu.
"Hooh! Kalau gini siapa yang habisin coba!" keluh Icha.
"Kalian makan aja, kalau gak habis bisa dibungkus" ujar Alvin menjawab pertanyaan keduanya.
"Mau yang mana?" tanya Alvin mengambil pisau roti.
Zea yang ditanyai memandang kearah kue kue dimeja. Dia sendiri bingung harus memilih yang mana.
"Yang ini!" pilihan Zea jatuh pada rainbow cake. Dengan sigap Alvin memotongnya, meletakan di piring kecil yang disediakan dan memberikannya pada Zea.
__ADS_1
Jika masalah kue, kalaupun ia sudah kenyang tapi jika dihidangkan seperti ini, ia tak bisa menolak. Lanjut aja!!
"Makasih!" ujar Zea menerima kue dari Alvin.
"Lo kalau terus ngedate sama Alvin bisa bisa lo gendutan Ze, karena makan mulu. Sekali pesen segini banyaknya" ujar Keyla menatap nanar kearah kue didepannya.
"Emang sekarang gue gendutan?!" tanya Zea menatap tubuhnya. Orang Zea pikir tubuhnya masih sama. Setiap dia mengaca dicermin, ia melihat tubuhnya yang masih aduhai. Tak terlalu kurus juga tak terlalu gemuk. Dan tubuhnya pun masih membentuk indah.
"Nggak! Kamu masih cantik. Udah makan aja! Gak usah dipikirin! Kalaupun kamu gendutan, aku juga gak masalah kok" jawab Alvin.
"Bucin" gumam Keyla dan Icha bersamaan.
Mereka kemudian menikmati kue dipiring mereka. Setelah menunggu saat yang tepat akhirnya Alvin kini menatap kearah Icha.
"Lo!" ujar Alvin menatap kearah Icha.
"Gue?" tanya Icha menujuk dirinya sendiri.
"Ada masalah apa?" tanyanya. Kini kedua matanya menatap serius kearah Icha, membuat Icha menelan ludah dan meletakan kembali piringnya dimeja.
"Al!" panggil Zea merasakan ketegangan akan terjadi. Ia dan Keyla ikut meletakan piring mereka dimeja.
"Gu-Gue" ujar Icha gugup.
"Lo gak perlu tahu Al, ini masalah Icha!" tukas Keyla membantu Icha berbicara.
"Gue tau itu masalah dia. Tapi masalah dia mempengaruhi Zea dan gue gak suka itu" ujar Alvin dengan wajah datarnya.
"Al!" panggil Zea lagi kini tangan Zea terulur memegang lengan Alvin. Alvin menoleh.
"Diam!" tatapan mata Alvin seakan perintah untuk Zea. Alvin menatap Zea tegas membuat Zea tak bisa lagi ikut campur.
"Lo udah bikin Zea nangis! Lo mau gue biarin gitu aja walau lo sahabat cewek gue!" Keyla dan Icha diam tak bisa menjawab akan tatapan Alvin yang kini mengintimidasi.
"Gue kasih lo kesempatan untuk cerita sekarang! Dari pada gue cari tau langsung dan jelas Satya juga akan tau apa yang terjadi sama lo!" Alvin mengancam Icha. Icha sontak membelak, ia menggeleng dengan cepat.
"Jangan!" ujarnya.
"Al! Kamu gak bisa maksain Icha cerita gitu aja dong!" marah Zea seakan tak terima Alvin mengancam sahabatnya.
"Ini masalah yang membuat mu menangis dan aku harus tau itu!"
"Aku gak nangis Al!"
"Siapa yang coba kamu bohongi?!" sentak Alvin dengan pandangan dingin kearah Zea. Membuat ia membeku.
"Lo bisa ngasih tau gue sekarang. Dan gue akan pertimbangkan apa gue harus ngasih tau Satya atau nggak! Bisa aja gue selesaikan sendiri tanpa harus Satya tau. Lo sudah tau kan siapa gue?!" Alvin berbalik kembali kearah Icha.
"Cha!" Keyla yang ada disamping Icha menggenggam tangan gadis itu.
"Gue gak mau masalah ini berlarut-larut dan berakibat sama Zea!" ujar Alvin lagi.
Icha menunduk mencoba berpikir dan mempertimbangkan ucapan Alvin. Kemudian ia menatap kearah pria itu.
"Akan gue katakan!" putus Icha.
"Lo serius?!" tanya Keyla. Icha mengangguk.
"Good, ceritakan sekarang!" titah Alvin.
Icha kemudian mulai bercerita dan Alvin mendengar dengan seksama. Saat ia bercerita tak jarang Zea kembali menitihkan air mata, walau segera ia hapus air mata itu agar Alvin tak melihatnya. Begitu juga Keyla yang mencoba untuk menguatkan diri.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ